
Selama pelajaran Setya, masih terus mengkhawatirkan Intan, walaupun sebelumnya Intan mengatakan tidak apa-apa sendiri.
Apa yang harus ku lakukan agar kamu bisa melupakan trauma itu?
Aku juga tersiksa melihatmu seperti itu Intan..
Bayu melirik pada Setya disebelahnya yang tampak murung dan tidak fokus ke pelajaran. Bayu bisa mengerti apa yang dirasakan Setya. Namun, dia sendiri kali ini juga tak bisa membantu Setya.
Beberapa jam kemudian, saat jam pelajaran akan mendekati menit akhir Intan memutuskan untuk mencoba kembali pergi ke gedung olah raga. Walaupun, dokter menyarankan agar ia berdamai dan menerima ingatan mengerikan itu terlebih dulu, namun Intan tetap memaksa dirinya untuk kesana. Ia masih belum memahami maksud dari dokter jaga, ia hanya memaksa dirinya untuk berani agar dia tidak selalu merepotkan orang-orang disekitarnya.
Intan melangkah dengan perlahan, dari jauh sudah mulai terlihat gedung olah raga itu. Entah, kenapa melihat itu jantung Intan berdebar lebih cepat, tangannya juga sudah berkeringat dingin, ia meremas rok seragamnya dengan kuat mencoba menghilangkan ketakutannya.
Sampai ketika dia berdiri di depan pintu gedung olah raga itu. Ia menatap pintu gedung olah raga yang tertutup. Tanpa ia sadari tubuhnya mulai gemetar ketakutan. Namun, ia terus memaksa untuk bertahan.
Tidak apa-apa.. Cowok gila itu sudah dikeluarkan dari sekolah.. Sekarang aman.. Kejadian itu sudah berlalu.. Aku baik-baik saja.. Kamu pasti bisa Intan!!
Intan terus mengulang kata-kata itu dalam hatinya. Mencoba membangun keberanian dalam dirinya. Perlahan ia mendorong pintu gedung olah raga itu hingga terbuka. Ia menatap ke dalam gedung yang sepi dan gelap.
Bagus Intan, kamu sudah sampai disini. Tadi, bahkan kamu hanya bisa sampai depan saja. Teruskan lagi, kamu pasti bisa Intan!!
Seru Intan menyemangati dirinya sendiri dalam hati. Intan akan melangkahkan kakinya memasuki gedung olah raga, namun tiba-tiba ada yang menariknya.
"Hentikan Intan! Jangan memaksa dirimu seperti ini.!" Seru Setya sambil menarik Intan ke dalam pelukannya. Nafasnya masih tak beraturan karena telah berlari mengejar Intan.
Sebelumnya, saat bel pulang sudah berbunyi Setya langsung bergegas menuju ke UKS. Tapi, saat sampai disana Setya tak menemukan Intan. Kata dokter jaga Intan sebelumnya bilang akan kembali ke kelas saja.
Tapi, saat Setya mencari Intan di kelasnya dia tak menemukan Intan. Akhirnya, ia bernisiatif sendiri untuk mencari Intan di gedung sekolah, karna sebelumnya dokter jaga sempat memberitahukannya kalau tadi Intan sempat bertanya bagaimana jika dia memaksakan dirinya untuk mendekati sumber traumanya. Tanpa pikir panjang Setya langsung menuju ke gedung olah raga.
Saat ia semakin dekat dengan gedung olah raga, ia melihat Intan yang berdiri di depan gedung olah raga. Pintunya terbuka dan Intan akan masuk. Setya segera menghentikan Intan dan memeluknya dengan erat. Ia lega karna Intan baik-baik saja.
Namun, ia juga bisa merasakan tubuh Intan yang gemetar dalam pelukannya. Ia menyadari bahwa Intan sudah berusaha dengan keras untuk melawan rasa takutnya. Setya, senang jika Intan memang berusaha, namun tidak dengan memaksakan diri seperti yang Intan lakukan saat ini.
"Kenapa kamu memaksakan diri seperti ini? Kenapa kesini sendirian dan tidak menungguku? Kita bisa pergi bersama, aku akan menemanimu!" Seru Setya sambil melepaskan pelukannya untuk menatap mata Intan.
Intan yang melihat Setya begitu khawatir bertanya padanya dengan nada bicara yang terdengar tegas pun membuatnya merasa bersalah. Ia memang memaksakan dirinya, tanpa memikirkan orang lain. Ia mengira bahwa keputusannya memaksakan dirinya adalah benar. Namun, melihat Setya yang sangat mengkhawatirkannya, Intan sadar kalau keputusannya itu salah.
Melihat Setya ada dihadapannya, kekuatan yang berusaha ia bangun daritadi juga mendadak menguap begitu saja. Kakinya lemas, bahkan Intan juga baru menyadari bahwa seluruh tubuhnya bergetar ketakutan. Ia pun jatuh merosot terduduk. Setya dengan sigap menopang tubuh Intan agar tak jatuh.
"Intan! Kamu gak apa-apa?" Tanya Setya panik sambil menatap Intan khawatir.
__ADS_1
Intan tak menjawab, ia hanya menatap mata Setya dengan dalam. Perlahan air mata mulai membasahi kedua pipinya.
"Maaf.." Ucap Intan lirih.
Setya yang melihat Intan menangis dan mengucapkan maaf padanya hanya bisa menghembuskan nafas pajang. Ia langsung mengangkat tubuh Intan mencari bangku disekitar sana. Setya mendudukkan Intan di bangku dengan perlahan, ia juga duduk disebelah Intan dan masih memeluknya.
"Kamu jangan memaksakan dirimu sendiri seperti ini. Aku bisa menemanimu. Kita hadapi bersama, oke?" Ucap Setya lembut. Intan pun mengangguk di dalam pelukan Setya.
Ifa dan Bayu sedari tadi melihat itu dari jauh. Ifa terlihat sedih dengan keadaan Intan. Bayu pun sama, namun yang ia bisa lakukan adalah merangkul bahu Ifa agar ia bersandar padanya.
Setelah itu Setya mengantarkan Intan pulang. Saat makan malam Intan menceritkan apa yang terjadi padanya pada kedua orang tuanya. Ayah dan bunda juga merasa sedih untuk putrinya. Mereka ingin membantu Intan, namun mereka juga tak bisa. Benae kata dokter, yang bisa mengeluarkan Intan dari traumanya adalah dirinya sendiri.
Waktu pun terus berlalu, sudah satu minggu lebih Intan berusaha melawan rasa takutnya. Ia juga masih izin pelajaran olah raga, karna dia masih belum berani masuk ke dalam gedung olah raga. Intan juga masih terus memikirkan perkataan dokter untuk berdamai dan menerima ingatan buruk itu. Namun, Intan masih tak kunjung menemukan caranya.
Hari ini adalah pelajaran olah raga kedua setelah kembalinya Intan masuk sekolah. Namun, lagi-lagi dia izin dan hanya berdima diri di kelas. Ifa sudah mendapat izin untu melakukan panggilan video pada Intan agar Intan tetap bisa mengikuti pelajaran walaupun tidak langsung.
Materi hari itu adalah futsal dan yang mendapatkan bagian pertama untuk praktek adalah para murid laki-laki. Kelas Setya melawan kelas Intan. Intan dari kelas terlihat antusias melihat perminan Setya dari panggilan videonya Ifa.
Kak Setya keren sekali ...
Sorak Intan dalam hati dan senyum lebar. Namun, tiba-tiba ada teman dari kelasnya yang tak sengaja melakukan pelanggaran dan membuat Setya terjatuh. Setya nampak kesakitan pada kakinya, sampai-sampai dia dikelilingi oleh teman-teman dan gurunya.
"Kak Setya!!" Seru Intan sembari berlari ke arah Setya.
"Kakak gak apa-apa? Apa sangat sakit?!" Tanya Intan panik, sambil mengenggam tangan Setya yang memegang pergelangan kakinya.
Setya, Ifa, Bayu dan yang lainnya cukup terkejut melihat kedatangan Intan. Mereka tahu, bahwa Intan akan kembali merasa ketakutan saat berada di dalam gedung olah raga. Tapi, saat ini Intan terlihat baik-baik saja dan bahkan dia lebih mengkhawatirkan orang lain.
"Aku tidak apa-apa. Mungkin, hanya sedikit terkilir saja. Tapi, kamu gak apa-apa?" Tanya Setya pada Intan.
Intan seakan tersadar kalau dirinya sedang berada di dalam gedung olah raga. Ia juga bisa melihat tatapan bingung dari orang-orang disekitarnya.
"Ak-Aku gak apa-apa ... Yang penting sekarang harus bawa kak Setya ke UKS!" Seru Intan tegas.
Akhirnya, Setya dibantu oleh Intan dan Bayu menuju ke UKS, sedangkan yang lain kembali melanjutkan pelajaran olah raga. Setya segera diobati oleh dokter jaga. Ia terus menatap Intan bingung.
"Aku kembali dulu ya. Titip Setya." Pamit Bayu dan diangguki oleh Intan.
"Kakimu terkilir, jadi untuk beberapa hari ini jangan terlalu banyak menggerakkannya. Dan jangan naik motor sendirian." Ucap dokter jaga mengingatkan.
__ADS_1
"Baik dokter, terima kasih." Ucap Setya, Intan juga tersenyum lega mendengarnya.
"Apa masih sakit?" Tanya Intan dan duduk disamping Setya sembari menatap kaki Setya yang diperban.
"Sedikit, beberapa hari lagi pasti akan sembuh ... Tapi, apakah kamu benar tidak apa? Kamu tadi di gedung olah raga loh?!" Tanya Setya yang masih ingin memastikan keadaan Intan.
"Aku tidak apa-apa. Melihat kak Setya terluka tadi, aku tanpa pikir panjang langsung ke sana. Dan sampai di sana aku tidak merasakan ketakutan sama sekali, karna yang aku pikirkan hanya kak Setya. Lagian disana juga ramai tadi." Jawab Intan menjelaskan kejadian tadi.
"Maaf membuatmu khawatir." Ucap Setya merasa bersalah.
"Tidak apa. Kan karna kejadian tadi untuk pertama kalinya aku berani ke gedung olah raga." Ucap Intan lembut dengan senyum diwajahnya.
"Kamu benar, ada juga hal positif dari terlukanya aku." Ucap Setya sembari menyentuh pipi Intan dengan lembut sembari tersenyum bangga.
"Tapi, jangan sekali-kali menjadikan ini alasan supaya kakak terluka lagi. Tidak ada lain kali." Seru Intan tegas dengan tangan dilipat didada.
"Baik-baik. Aku akan sangat berhati-hati." Jawab Setya sambil mencubit gemas pipi Intan.
"Tapi kak, aku rasa sekarang pun sepertinya aku akan baik-baik saja kalau ke gedung olah raga ... Belakangan ini, aku sudah memikirkan perkataan dokter jaga padaku untuk berdamai dan menerima ingatan buruk itu. Sepertinya, aku sudah berhasil melakukannya." Seru Intan senang.
"Bagaimana caranya?" Tanya Setya bingung, namun ia juga penasaran.
"Hmm.. Sebenarnya biasa sih, hanya perlu megikhlaskan saja kalau memang benar aku megalami kejadian itu. Menerimanya dengan lapang dada, karna bagaimanapun kejadian itu adalah bagian dari hidupku. Selama ini aku terus berlari, sehingga aku merasa selalu dikejar dan dihantui. Tapi, ketika aku bisa menerimanya, aku merasa jauh lebih lega. Aku gak merasa terbebani lagi ...
... Lagipula, benar yang kak Setya katakan padaku waktu itu. Kalau kejadian itu sudah berlalu. Aku sudah gak berada disaat itu lagi. Hidupku terus berjalan. Apalagi, disekitarku ada kak Setya dan orang-orang yang menyangiku. Aku akan menjadi kuat untuk diriku dan orang-orang yang menyayangiku." Ucap Intan dengan senyum yang terus terukir indah dibibirnya. Ia terlihat lega, seperti beban berat dalam pundaknya diangkat begitu saja.
"Makasih, karna kak Setya sudah selalu mendampingi Intan ... Buka hanya kakak yang menganggap Intan sebagai kekuatan kakak ... Kak Setya juga adalah kekuatan bagi Intan.." Ucap Intan dengan mata berbinar memancarkan ketulusan.
Setya balas tersenyum dan menarik Intan dalam pelukannya. Ia sangat bersyukur karna Intan sudah berhasil keluar dari traumanya.
Terima kasih, karna sudah selalu berada disampingku dan menjadi kekuatanku, kak Setya..
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1