
Setelah keluar dari perusahaan Setya, Widia terlihat sangat malu. Dia benar-benar merasa sudah dipermalukan, apalagi oleh Intan.
"Huh, sial.!! Ternyata dia pria yang sudah beristri." Gerutu Widia disepanjang perjalanan.
Karna, suasana hatinya sedang tak baik. Dia memutuskan untuk tak kembali ke kantor dan memilih untuk menghubungi teman-temannya untuk makan siang bersama. Sayangnya, siang itu yang bisa menemani Widia hanya Syifa. Karna, teman-temannya yang lian sedang sibuk.
"Kenapa tiba-tiba kau mengajak makan siang bersama?" Tanya Syifa yang baru saja sampai. Dia melihat Widia sedang menyesap kopinya dengan anggun.
"Perasaanku sedang kacau sekarang. Aku gak mood untuk kembali ke perusahaan." Jawab Widia dengan ekpresi yang sangat jelas menunjukkan kalau dia merasa kesal.
"Memangnya apa yang terjadi?" Tanya Syifa penasaran.
"Kau masih ingat pemuda waktu itu?!"
"Pemuda mana? Kau kan selalu mudah tertarik dengan pemuda tampan." Jawab Syifa sinis.
"Haha. Dan mereka semua adalah pria sampah! Tapi, saat aku sudah menemukan pria yang pas kenapa dia sudah berkeluarga?!" Seru Widia kesal.
"Apa maksudmu?! Tunggu. Apakah yang kau maksud adalah pemuda yang sedang makan malam bersama seorang gadis kapan hari itu? Yang katamu dia bekerjasama dengan perusahaanmu?" Tebak Syifa mengingat sosok Setya.
"Ya. Dan ternyata gadis yang bersamanya itu bukanlah kekasihnya. Melainkan istrinya!" Seru Widia yang masih terlihat kesal.
"Wow. Gadis itu pakai pelet apa sampai bisa membuat pemuda itu memilihnya. Padahal, dari segi manapun aku lihat, kau lebih cocok dengannya." Ucap Syifa memanas-manasi.
"Kau sendiri saja juga berpikir begitu kan?! Huh! dia itu gak lebih dari wanita penggoda. Dia pasti hanya mengharapkan harta dari Setya!" Seru Widia yang sudah terpancing perkataan Syifa.
"Hm, Widia. Dia kan bekerjasama dengan perusahaannmu. Bagaimana jika kau gunakan alasan itu untuk mendapatkan pemuda itu?! Tunjukkan posisimu kalau kamu lebih baik dari gadis itu. Gadis itu gak ada apa-apanya dibandingkan denganmu." Seru Syifa menyarankan dengan seringai diwajahnya. Widia diam dan tampak berpikir.
"Tapi, wanita itu kan istri sahnya. Aku jadi pelakor dong?!"
"Hahaha, Widia. Kamu jangan terlalu polos. Jaman sekarang, siapa yang kuat dia yang menang. Kalau gadis itu kalah, berarti Setya memang takdirmu kan?!" Ucap Syifa dengan senyum licik diwajahnya. Widia kembali terdiam dan memikirkan perkataan Syifa.
__ADS_1
"Kau benar. Aku Widia. Aku gak akan mudah menyerah begitu saja!" Seru Widia bertekad.
...****************...
Keesokan harinya, Widia mengirim pesan pada Setya untuk mengajaknya makan siang di sebuah restoran mewah dengan alasan untuk membicarakan pekerjaan. Akhirnya, mau tak mau Setya harus mengiyakan permintaan itu. Dan sesuai janjinya dengan Intan, Setya mengajak Bayu bersamanya.
"Kenapa anda mengajak pak Bayu?" Tanya Widia setelah Setya dan Bayu sampai di restoran tersebut.
"Maaf bu Widia. Saya tidak nyaman jika harus mekan berdua saja. Ini janji saya pada istri saya. Lagipula, Bayu bukan orang luar. Jika, ingin membicarakan masalah proyek itu tak masalah di depannya." Jawab Setya dengan tenang.
"Baiklah. Tapi, saya ingin pak Bayu makan di meja yanh berbeda dengan kita. Ada yang ingin saya bicarakan hanya berdua dengan anda." Ucap Widia terlihat anggun.
Akhirnya, Setya menyetujui permintaan itu. Namun, Bayu duduk tak jauh dari meja Setya dan masih bisa mengawasi apa yang dilakukan Setya dan Widia.
"Apa yang ingin anda bicarakan dengan saya?" Tanya Setya langsung. Dia tidak ingin mengulur banyak waktu berdua dengan Widia.
"Releks saja pak Setya. Lebih baik kita makan siang duli dengan tenang ... Pelayan!!" Ucap Widia dengan senyum diwajahnya, kemudian dia mengangkat tangan untuk memanggil pelayan agar mendekat ke arahnya.
"Sepertinya anda sangat sibuk pak Setya?" Ucap Widia dengan tenang.
"Maaf. Saya sedang berkirim pesan dengan istri saya." Jawab Setya yang dengan sengaja menekankan statusnya yang sudah beristri.
"Sepertinya anda sangat mencintai istri anda, ya?" Tanya Widia dengan menatap Setya secara langsung.
"Tentu saja. Saya sangat mencintainya." Jawab Setya dengan tegas dan tak ada keraguan di nadanya. Widia tersenyum sinis mendengar itu.
"Hm. Istri anda sepertinya sangat beruntung mendapatkan anda ... Tapi, apa yang anda dapat dari istri anda?" Tanya Widia dengan seringai diwajahnya.
"Apa maksudnya?!" Tanya Setya yang bingung dengan pertanyaan itu.
"Suatu hubungan biasaya akan memberikan hubungan timbal balik. Tapi, saya tak melihat itu dari anda. Sepertinya, istri andalah yang sangat diuntungkan dihubungan ini ... Apakah anda tak menyesal mempertahankan hubungan itu?!"
__ADS_1
"Maaf. Sepertinya pembicaraan ini tidak ada hubungannya dengan proyek?!" Seru Setya yang mulai tak nyaman dengan perkataan Widia.
"Tentu saja ada. Saya ingin memberi penawaran pada anda pak Setya. Saya dengar perusahaan anda sebelumnya sedang mengalami kesusahan masalah dana, sampai akhirnya anda mengajukan kerjasama dengan perusahaan saya?! ... Sekarang berkat dana dari perusahaan saya, proyek anda bisa berjalan lancar. Bukankah ini membuktikan kalau hubungan diantara kita sangat menguntungkan?!" Seru Widia dengan sombongnya.
"Yang anda katakan memang benar. Dan nantinya perusahaan anda juga akan mendapatkan keuntungan yang besar pula dari proyek ini. Bukankah ini wajar dalam berbisnis?!" Tanya Setya yang masih belum paham arah pembicaraan Widia.
"Tapi, bagaimana jika kerjasama ini batal?! Perusahaan saya tidak akan rugi apa-apa. Justru perusahaan anda yang akan kembali terpuruk ... Tapi, tenang saja pak Setya. Saya tidak akan membatalkan kerjasama ini, jika anda mau meninggalkan istri anda dan datang pada saya." Ucap Widia dengan senyum diwajahnya.
"Apa?! Bagaimana bisa anda mengatakan hal itu?! Apakah anda tidak menghargai diri anda sebagai seorang wanita?! Dan bagaimana mungkin anda bisa seenaknya membatalkan kerjasama dengan alasan pribadi?!" Seru Setya yang terkejut dengan perkataan Widia.
"Santai pak Setya. Saya memang seorang wanita. Tapi, jelas wanita yang berbeda dengan istri anda sekarang. Saya bisa menjanjikan anda masa depan dan juga kekayaan. Sedagkan, istri anda hanya akan menyusahkan anda ... Dan ya, saya tidak sedang berdiskusi dengan anda pak Setya. Saya hanya memberitahu. Saya tunggu jawaban anda tiga hari lagi. Jika tidak, dengan sangat menyesal saya harus membatalkan kerjasama kita ... Saya permisi." Ucap Widia sambil berlaku pergi meninggalkan Setya setelah meninggalkan uang tagihan di meja. Dia ingin menunjukkan pada Setya, bahwa dia sangat berkuasa.
"Huh! Dia sudah gila!" Seru Setya saat Widia sudah meninggalkannya.
"Apa yang terjadi tadi?!" Tanya Bayu yang mendekati Setya. Dia melihat ekspresi Setya sangat buruk saat itu.
"Dia benar-benar wanita gila! Bisa-bisanya dia mengancam akan membatalkan kerjasama ini kalau aku tak meninggalkan Intan?!" Seru Setya yang terlihat sangat kesal saat itu.
"Wah. Sepertinya dia sudah benar-benar terobsesi denganmu Setya." Ucap Bayu yang juga terkejut dengan perkataan Setya. Setya hanya diam menenggapi ucapan Bayu.
"Lalu, apa yang akan kau putuskan?!" Tanya Bayu menatap Setya tajam.
"Apalagi?! Aku tak perlu menunggu tiga hari untuk menjawab. Tentu saja aku akan memilih Intan. Bagiku tidak ada yang lebih berharga dari keluarga." Jawab Setya dengan sorot mata yang memancarkan keseriusan.
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1