Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Aku semakin dan semakin mencintainya..


__ADS_3

Setelah masa ospek berlalu, Intan dan Ifa kini sudah resmi menjadi mahasiswi baru. Baik Intan dan Ifa awal kali mengikuti kelas terpisah, mereka sedikit merasa canggung dan aneh. Yah, karna mereka sudah terbiasa bersama. Mereka semua hanya bisa berkumpul ketika jam makan siang. Karna mereka berbeda gedung, biasanya mereka bergantian datang ke gedung jurusan masing-masing. Tentu saja Setya dan Bayu terus menemani mereka.


Setya dan Bayu sengaja tak pernah membiarkan Intan dan Ifa untuk ke gedung bisnis. Karna, disana banyak serangga penganggu. Walu di gedung Intan dan Ifa tentu saja tetap ada serangga penganggu, tapi mereka semua tak berani mendekat. Alex juga masih belum menemukan kesempatan untuk bisa mendekati Intan lagi, karna setiap kali dia melihat Intan disitu juga pasti ada Setya.


Hari itu Intan kebetulan baru saja selesai mengumpulkan tugas ke salah satu dosen, kebetulan itu bersama Alex. Alex tentu saja tak menyia-nyiakan kesempatan itu.


"Kamu juga baru mengumpulkan tugas?" Tanya Alex basa-basi. Intan tak menjawab dan terus berjalan.


"Intan.. Bolehkah kita mengobrol sebentar?"


"Untuk apa?" Tanya Intan sambil menatap Alex tajam.


"Ada yang ingin aku katakan padamu."


"Katakan saja sekarang." Jawab Intan acuh. Alex melihat sekitarnya, saat ini mereka sedang berada di koridor dan itu cukup ramai.


"Bisakah kita ke taman sana sebentar? Disini terlalu ramai."


"Sebenarnya apa yang mau kau katakan?! Katakan saja gak perlu berbelit-belit!" Seru Intan yang mulai risih dengan Alex. Akhirnya, Alex menarik tangan Intan untuk mengikutinya.


"Hei.! Lepaskan tanganku?! Apa yang kau lakukan?! Lepaskan!!" Seru Intan memberontak dan berusaha melepaskan cengkraman tangan Alex.


Kejadian itu cukup menarik perhatian mahasiswa-mahasiswi yang ada disana. Tapi, tak ada yang menolong Intan. Mereka justru memfotonya dan mengupload ke forum kampus. Alex membawa Intan ke taman yang tak juag dari sana, tapi cukup sepi. Setelah sampai di taman itu, barulah Alex melepaskan cengkraman tangannya.


"Apa kau gila?! Apa maumu?!" Seru Intan marah. Ia masih merasakan sakit dipergelangan tangannya.


"Maaf, aku gak bermaksud menyakitimu. Aku hanya ingin mengajakmu menjauh dari keramaian."


"Apa yang mau kau katakan?!" Tanya Intan yang sudah benar-benar muak dengan perilaku Alex.


"Aku menyukaimu Intan. Aku menyukai sifatmu dan semua tentang kamu. Kamu yang lembut dan baik hati, tapi juga bisa tegas ketika ketenanganmu diusik. Aku menyukai itu.."


"Aku menghargai dan berterima kasih dengan perasaanmu itu. Tapi, kau juga sudah tau kalau aku sudah punya pacar ..."


"Apa kamu sungguh masih mencintainya? Apakah perasaanmu masih sama seperti pertama kali kamu pacaran dengannya?! Aku yakin perasaanmu sudah berubah.." Seru Alex dengan percaya dirinya.


"Ya! Kau benar. Perasaanku sudah berubah. Semakin hari perasaan cintaku pada kak Setya terus bertambah. Aku semakin dan semakin mencintainya. Dan gak ada ruang lagi untuk pria lain, apalagi pria sepertimu!" Seru Intan dengan tegas.


"Mana mungkin?! Kalau bukan kamu pasti perasaan pacarmu itu juga sudah berubah. Mungkin saja dia sudah tak mencintaimu lagi." Ucap Alex masih tak mau mengalah. Intan tersenyum mencibir perkataan Alex itu.


"Sekarang kau berusaha menghancurkan kepercayaanku pada kak Setya?! Kau salah! Kau tak akan bisa. Aku sangat mempercayai kak Setya. Aku tahu seberapa dia mencintaiku dan bagaimana perasaannya. Dan perkataan kecil darimu gak bakal merubah kepercayaanku padanya." Jawab Intan dengan tegas.


"Tidak bisakah kamu memberiku kesempatan?!" Pinta Alex sembari mengenggam tangan Intan.


"Lepaskan! Apa yang kau pikirkan?! Aku hanya mencintai kak Setya!"


"Apa saja yang sudah diberikan dan lakukan pacarmu padamu? Aku jamin aku akan bisa memberikannya juga padamu!"


"Gila! Kau sudah gila! Lepaskan aku!" Seru Intan sembari berusaha menarik tanganya. Tiba-tiba..


Brukk..


"Kak Setya!!" Pekik Intan saat tiba-tiba Setya datang dan langsung memukul wajah Alex sampai dia jatuh tersungkur.


"Kamu gak apa-apa? Apa yang dilakukannya padamu? Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Setya khawatir sambil memeriksa keadaan Intan.

__ADS_1


"Aku gak apa-apa." Jawab Intan. Ia bisa melihat kekhawatiran yang nyata dari sorot mata Setya. Nafasnya juga masih naik turun, seperti setelah berlari.


"Kau! Brengsek! Aku sudah memperingatkanmu baik-baik sebelumnya! Sekarang kau berani menyentuh Intan dan memaksanya, huh?!" Seru Setya marah sambil menarik kerah baju Alex.


"Setya! Sudah lepaskan dia!" Lerai Bayu yang baru saja tiba bersama Ifa.


"Kamu gak apa-apa, Tan?" Tanya Ifa khawatir. Intan mengangguk mengiyakan.


"Lepaskan aku Bay! Hari ini aku akan menghabisinya!" Seru Setya emosi.


"Kak Setya, aku gak apa-apa. Sudah hentikan ya?" Pinta Intan sembari memeluk Setya dari belakang untuk menenangkannya.


Akhirnya, perlahan Setya menurunkan tangannya yang siap memukul Alex lagi. Emosinya mulai reda saat Intan memeluknya.


"Lex, ku mohon hentikan semua ini.!! Apapun yang kau lakukan gak bakal merubah perasaanku pada kak Setya. Begitupun juga sebaliknya ... Kau juga harus bisa menghargai perasaan orang lain. Kalau kua gak bisa menghargai perasaan orang lain sampai kapanpun kau juga gaka bakalan menemukan orang yang tulus padamu!" Ucap Intan tegas dan penuh penekanan.


"Sampai ku lihat kau mendekati dan memaksa Intan lagi. Aku akan langsung menghabisimi saat itu juga!" Seru Setya dengan nada tajam. Kemudian, ia mengenggam tangan Intan dan membawanya pergi dari sana.


"Bukankah kau ingin menjadi pengajar? Tapi melihat kelakuanmu ini, sepertinya kau gak pantas sama sekali. Aku sangat mencemaskan murid yang akan kau ajar nanti." Sindir Ifa sebelum pergi bersama Bayu.


Setya menarik tangan Intan menuju ke mobilnya. Di dalam mobil Setya melihat tangan Intan yang sebelumnya dicengkram oleh Alex yang terlihat kemerahan.


"Apa sakit? Perlukah kita ke rumah sakit?" Tanya Setya khawatir.


"Aku gak apa-apa kok kak. Sebentar lagi juga akan hilang merah-merahnya. Terima kasih sudah datang dan menologku." Ucap Intan lembut.


"Kau tau betapa cemasnya aku saat melihat berita kalau bocah brengsek itu memaksamu pergi?! Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku takut! Aku takut terlambat menyelamatkanmu. Aku takut terjadi sesuatu padamu! Saat aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana dia memaksamu, darah ditubuhku seakan mendidih dan aku kehilangan kendali untuk tidak menghajarnya. Andai kamu gak mengehentikanku, mungkin aku sudah benar-benar menghabisinya." Ucap Setya sembari memeluk Intan dengan erat.


"Aku baik-baik saja kak. Tidak terjadi apapun padaku. Lagian, aku juga percaya kalau kakak akan datang, jadi aku gak takut sama sekali. Kak Setya tenang yaa.." Ucap Intan lembut sambil menepuk-nepuk pelan punggung Setya.


"Sudah merasa lebih baik?" Tanya Intan lembut.


"Yah.. Tidak seemosi tadi.." Jawab Setya, dengan wajah yang masih terlihat kesal.


Cup..


"Jangan marah lagi ya sayangnya Intan." Ucap Intan manja setelah mencium pipi Setya sekilas.


Seketika Setya tersenyum senang. Wajah kesalnya langsung berubah melunak.


"Kamu gemesin banget siihh. Cup.. Cup .. Cup.." Seru Setya sembari mencium kening dan kedua pipi Intan dengan cepat.


"Kak Setya hentikan! Geli.!!" Seru Intan berusaha menghentikan ciuman Setya.


"Siapa suruh kamu gemesin banget. Hmm.." Ucap Setya dengan masih menelakup wajah Intan dengan tangannya.


"Uda marahnya. Sekarang kita cari makan. Aku lapar.." Pinta Intan manja.


"Baiklah. Apapun permintaan kamu pasti akan ku kabulkan." Jawab Setya dengan senyuman diwajahnya. Intan juga tersenyum senang mendengar ucapan Setya.


"Kak Bay, sepertinya kita tak perlu mencemaskan mereka lagi. Lebih baik kita pergi juga." Ucap Ifa malas setelah melihat tingkah Setya dan Intan.


"Kamu benar. Sia-sia kita mengikutinya kemari ... Tapi, apakah kamu gak kepingin juga seperti mereka berdua?" Goda Bayu sembari memeluk pinggang Ifa.


"Gak mau. Aku lapar!" Jawab Ifa sembari berlari menghindar dari Bayu.

__ADS_1


"Ifa jangan kabur!" Seru Bayu sembari berlari mengejar Ifa.


"Tangkap aku kalau bisa. Bwekk. Hahahaha." Ejek Ifa pada Bayu dibelakangnya.


"Awas kalau sampai aku bisa menangkapmu!" Seru Bayu dengan senyum diwajahnya. Mereka berdua terlihat bahagia, hingga membuat mahasiswa-mahasiswi lain merasa iri dibuatnya.


...****************...


Sebelumnya setelah kepergian Intan dan yang lain. Alex terdiam cukup lama sembari menyentuh sudut bibirnya yang terluka karna pukulan dari Setya. Tiba-tiba Meli kembali mendekatinya.


"Apa kamu sungguh tak mau menerima tawaran kerja samaku? Kita bisa bekerja sama untuk memisahkan mereka berdua." Ucap Meli dengan gaya sombongnya.


"Kau sudah melihatnya sendiri. Mereka tak mudah untuk diporovokasi. Mereka saling percaya dan mencintai." Seru Alex dengan penuh penekanan.


"Huh! Aku masih gak percaya begitu saja. Aku yakin, pasti ada kesempatan!" Ucap Meli masih begitu yakin.


"Lakukan saja semaumu. Aku gak akan bekerja bersama denganmu." Jawab Alex sebelum meninggalkan Meli.


Siang itu Alex memilih pulang untuk mengobati memar diwajahnya. Saat di rumah dia memandangi wajah Intan yang ada diponselnya. Foto itu itu dia ambil diam-diam tanpa sepengetahuan Intan.


"Apa sungguh tak ada kesempatan untukku?" Gumam Alex sedih.


"Kakak sudah pulang? ... Lho, wajah kakak kenapa?" Tanya seorang gadis berseragam SMA. Dia adalah Bunga, adik dari Alex.


"Habis dipukul." Jawab Alex dengan senyum samar.


"Kenapa bisa? ... Lho, kak Intan? Kenapa kak Alex punya foto kak Intan dan kenapa kakak terus memandanginya seperti itu?" Tanya Bunga yang tak sengaja melihat foto Intan di layar ponsel sang kakak.


"Kamu mengenalnya?" Tanya Alex bingung.


"Tentu saja. Dia kakak kelas Bunga. Dia orang yang baik. Bunga sangat menyukainya." Jawab Bunga antusias.


"Berarti kamu juga kenal pacarnya?" Tanya Alex sekali lagi.


"Tentu saja. Di sekolahku gak ada yang gak mengenal mereka berdua. Mereka adalah pasagan legend. Semua mengenal mereka sebagai pasangan yang romantis. Bunga juga tahu kalau mereka saling mencintai dan percaya satu sama lain."


"Ternyata memang benar begitu ...." Gumam Alex pelan.


"Jangan bilang kalo kak Alex munyukai kak Intan? Lalu yang memukul kakak adalah kak Setya?" Tebak Bunga tepat sasaran.


"Kakak pantas dipukul sih. Jangan macam-macam sama mereka berdua. Atau aku juga akan marah. Kakak gak tau betapa kerennya cinta mereka berdua itu.." Seru Bunga penuh penekanan.


"Memangnya ada apa antara mereka?" Tanya Alex penasaran.


Setelah itu Bunga menceritakan semua informasi yang dia tahu tentang hubungan Setya dan Intan. Termasuk rumor Intan yang pernah akan dilecehkan oleh Irhas sebelumnya. Alex cukup terkejut mendengar semua penjelasan Bunga itu.


"Kakak sekarang sudah tahu kan betapa kerennya cinta mereka berdua?! Jadi, jangan pernah berpikir untuk mengganggu mereka!" Seru Bunga dengan tatapan penuh ancaman.


Sekarang aku tau kenapa kamu sangat mencintainya, Intan ..


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2