
Saat jam istirahat Setya dibantu oleh Bayu menuju ke kelas Intan. Disana Intan dan Ifa sedang asyik mengobrol.
"Intan.." Panggil Setya di depan kelas.
Duh, kak Setya ngapain coba kesini?
Kalau kakinya makin parah gimana?
Kenapa dia tidak mendengarkanku!!
Intan berjalan mendekati Setya dengan wajah yang dibuat datar. Padahal, dia sangat khawatir dengan Setya saat ini.
"Ada apa?" Tanya Intan datar.
"Ayo ke kantin?" Ajak Setya berusaha mencairkan suasana.
"Apa kakak lupa dengan ucapan dokter untuk tidak banyak bergerak? Kakak bisa tetap di kelas dan minta tolong pada kak Bayu untuk membelikan makanan untuk kakak. Apa kakak ingin lama sembuh dan semakin parah?" Tanya Intan mengeluarkan kekhawatirannya dengan mode kesal.
Mendengar omelan itu, Setya tersenyum senang. Karna, ia merasa walaupun Intan sedang marah dia tetap peduli padanya.
"Kenapa tersenyum?" Tanya Intan tajam.
"Makasih, sudah mengkhawatirkanku. Dan maafkan aku ya. Aku jadi mengadakan pesta ulang tahun, kamu bisa datang dan jadi tuan putriku waktu itu." Ucap Setya dengan lembut.
"Wah, kak Setya mau mengadakan pesta ulang tahun!"
"Ah, beruntungnya Intan dan Ifa yang bisa datang."
Intan mendengar ucapan teman-teman sekelasnya sekilas.
"Siapa saja yang diundang?" Tanya Intan datar.
"Keluargamu, Ifa juga teman sekelasku." Jawab Setya dengan senyuman.
"Kalau ada tambahan undangan apa boleh? Teman sekelasku sepertinya juga ingin datang ke pesta ulang tahun kakak." Tanya Intan dengan tatapan memohon pada Setya.
"Tentu saja. Sebenarnya mama malah ingin mengundang satu sekolah, tapi aku larang. Karna, mereka adalah teman sekelasmu, tentu saja boleh." Jawab Setya lembut.
"Terima kasih ... Teman-teman, kak Setya mengundang kalian semua untuk datang ke pesta ulang tahunnya." Seru Intan ke teman-teman sekelasnya.
"Horeee!!"
"Terima kasih Intan, kak Setya.."
Sorak sorai kegembiraan langsung memenuhi kelas Intan.
"Sekarang kamu sudah tidak marah kan?" Tanya Setya lembut.
"Siapa yang mengatakan itu? Lagian, aku juga tidak mengatakan akan datang, bukan?." Tanya Intan acuh.
"Tapi ..."
"Lebih baik sekarang, kak Setya kembali ke kelas ... Kak Bayu, tolong antarkan kak Setya ke kelas dan belikan kak Setya makanan di kantin ya. Aku serahkan kak Setya pada kak Bayu. Terima kasih." Ucap Intan acuh, kemudian ia kembali duduk dibangkunya.
Setya menatap Intan dengan tatapan sedih. Bayu yang masih tidak tahu dengan rencana Intan pun hanya bisa menatap Setya dengan iba juga. Akhirnya, ia kembali membantu Setya kembali ke kelas.
"Huh! Kenapa kak Setya keras kepala sekali coba? Bagaimana kalau kakinya makin parah ... Hm, apakah aku hentikan saja sandiwaraku ya?" Tanya Intan pada Ifa.
"Kamu harus kuat! Biar, kak Setya kapok. Lagian, ini bisa jadi kejutan yang spesial kan?" Ucap Ifa dengan senyum diwajahnya.
"Hm, tapi ekspresi sedihnya, membuatku goyah.." Ucap Intan dengan wajah cemberut.
"Aku akan membantumu." Seru Ifa antusias.
"Huh, kamu mah emang paling seneng kalau ngerjain orang." Seru Intan sambil membenamkan wajahnya di meja. Dia sebenarnya sudah gak tahan untuk pura-pura marah seperti itu.
Aku merindukan kak Setya..
...****************...
__ADS_1
Ifa benar-benar membantu Intan agar tetap bertahan dengan rencananya seminggu ini. Kaki Setya, sudah pulih sehingga dia bisa terus menempel pada Intan agar Intan segera memaafkannya. Berbagai hal sudah Setya lakukan agar amarah Intan mereda, namun Intan tetap acuh padanya. Bahkan, untuk beberapa hari ini Intan tidak mau diantar jemput oleh Setya. Hal itu semakin membuat Setya uring-uringan.
Intan yang melihat kondisi Setya, sebenarnya juga merasa tidak tega. Tapi, dia juga ingin membuat Setya jerah, sehingga nanti dia akan lebih memikirkan dirinya juga. Lagian, dia ingin memberikan kejutan yang gak bakal pernah dilupakan oleh Setya.
Berbeda dengan Intan yang beberapa kali merasa ingin menyerah, orang-orang terdekat Setya malah menikmati keadaan dan ekspresi frustasi Setya. Bahkan, Bayu yang sekarang sudah tau rencana Intan juga sangat menikmati ekspresi Setya itu.
Dan akhirnya, hari yang ditunggu pun datang. Pesta diadakan ditaman belakang rumah Setya dekat kolam renang. Ya, memang rumah Setya tergolong cukup besar, taman belakang masih sangat menampung kalau untuk dua kelas saja.
Tamu undangan mulai berdatangan ke rumah Setya. Sedangkan, Setya sendiri terlihat murung di kamarnya. Dia melihat beberapa temannya mulai datang dari jendela kamarnya. Ia beberapa kali menatap ponselnya dengan sedih karna Intan masih tidak bisa dihubungi.
"Apakah kamu sungguh tidak akan datang?" Gumam Setya sedih.
Tanpa ia tahu kalau Intan bersama Ifa saat ini masih berada di salon untuk mempercantik diri. Sebelumnya, Intan sudah meminta keluarganya untuk berangkat terlebih dulu dan dia akan menyusul dengan Ifa setelah dari salon.
Keluarga Intan pun sampai terlebih dulu di rumah Setya. Kedatangan keluarga Intan langsung disambut oleh orang tua Setya dan juga Tasya.
"Mana Setya? Kenapa bintang malam ini tidak terlihat?" Tanya bunda Intan antusias.
"Dia masih murung di kamar, karna mengira Intan tidak akan datang." Jawab mama Setya sambil tersenyum geli mengingat wajah putranya.
"Kalian memang terniat untuk mengerjainya ya. Kamu juga sebagai mamanya terlihat sangat menikmatinya." Ucap bunda tak habis pikir.
"Haha. Gak masalah, aku sangat menikmati wajah frusatasinya ... Ngomong-ngomong dimana Intan?" Tanya mama karna tak melihat Intan.
"Dia masih di salon bersama Ifa. Nanti dia akan menyusul." Jawab bunda memberitahu.
"Yah, kak Intan ke salon gak ajak-ajak Tasya." Sahut Tasya yang baru turun dari tangga dan mendekati keluarganya.
"Kamu gak perlu ke salon sudah cantik kok, sayang." Ucap papa dengan lembut melihat putrinya.
"Terima kasih, papa." Ucap Tasya sambil bergelayut di lengan sang papa. Matanya menatap Dika.
Dan, ehmm.. Dia tampan juga..
Tasya merasa kesal karna Dika terlihat acuh padanya. Namun, dia juga cukup terpesona dengan penampilan Dika yang terlihat rapi malam itu. Dia terlihat sangat tampan bagi Tasya.
Bertepatan saat itu Bayu juga baru datang. Kedatangan Bayu cukup membuat Tasya mengalihkan pandangnnya kembali tertuju pada Bayu.
Kak Bayu, juga sangat tampan malam ini..
Tasya kembali terpesona pada Bayu. Dan disaat itulah Dika baru menatap Tasya. Sebelumnya dia juga sempat melirik Tasya, tapi ia tahu kalau Tasya menatapnya jadi dia bersikap acuh tak acuh.
Dasar gadis bodoh!! Dia tetap saja menatap pria yang sudah memiliki kekasih dengan tatapan seperti itu..
Dika terlihat kesal saat melihat tatapan Tasya yang hanya tertuju pada Bayu. Namun, ia segera menyadarkan dirinya, kenapa juga dia harus merasa kesal. Memang apa urusannya kalau Tasya menatap pria lain?!
"Malam semua, pangeran sudah datang." Seru Bayu dengan percaya dirinya.
"Pangeran apanya?!" Ejek ayah setelah melirik sekilas pada Bayu.
"Om, lihatlah baik-baik. Bukankah aku begitu tampan? Tante juga pasti setuju kan?" Ucap Bayu dengan percaya dirinya.
"Iya, kamu memang tampan. Tapi, masih tampan putra tante lah." Jawab mama Setya santai. Semunya pun tertawa mengejek Bayu.
"Baiklah-baiklah. Aku memang tidak bisa mengalahkan putra tante itu ... Tapi, dimana dia?" Tanya Bayu yang tersadar kalau Setya tak ada disana.
"Dia masih murung tuh di kamar. Cepat kamu bawa dia turun untuk menyapa tamu undangan. Sudah hampir semua yang datang, tapi yang punya acara malah mengunci diri di kamar." Ucap mama memberitahu.
"Baiklah, aku akan memanggilnya." Jawab Bayu sembari berlalu menuju kamar Setya.
Setelah sampai di kamar Setya, Bayu melihat Setya yang tengah duduk menatap keluar jendela dengan tatapan sedih dan frustasi.
__ADS_1
"Woy, yuk turun. Kau uda ditungguin sama semua orang tuh." Seru Bayu sambil bersandar di pintu.
"Apakah Intan gak ada dibawah?" Tanya Setya lesu.
"Tidak. Aku tidak melihatnya, tapi keluarganya sudah datang. Apakah kau tidak mau menyapanya. Kau pasti akan diejek oleh ayah Intan nanti." Seru Bayu mengingatkan.
"Kau benar. Baiklah, ayo turun. Aku ingin segera menyelesaikan acara ini." Jawab Setya kemudian bangkit dari duduknya dengan lesu.
Saat mereka turun, keluarga mereka sudah menuju ke taman belakang terlebih dulu. Ahirnya, Setya dan Bayu pun menyusul kesana. Tamu undangan hampir semua sudah datang, band yang disewa mama Setya juga sudah menghibur tamu-tamu dari tadi.
Kedatangan Setya dan Bayu tentu saja menjadi pusat perhatian bagi semua tamu undangan. Mereka menatap Setya dan Bayu dengan tatapan terpesona. Bayu tentu saja dengan ramah menunjukkan senyum seperti biasanya. Berbeda dengan Setya yang terlihat dingin.
"Kak Setya dan kak Bayu sangat tampan."
"Benar, mereka seperti pangeran negeri dongeng."
"Tapi, kemana pasangan mereka ya?"
Bisik-bisik para tamu undagan. Setya dan Bayu mengabaikan itu dan berjalan mendekat ke arah keluarga.
"Selamat datang om-tante ... Hm, apakah Intan sungguh gak datang?" Tanya Setya dengan lesu.
"Tidak! Dia gak mau bertemu denganmu. Bagaimana mungkin putriku yang cantik mau bertemu denganmu saat ini? Kau terlihat sangat kacau." Ejek ayah Intan. Setya pun merasa semakin lesu. Sedangkan yang lan malah menahan tawa mereka.
Bersamaan dengan itu Ifa dan Intan pun baru sampai di rumah Setya dengan menggunakan Taxi. Setelah membayar, mereka segera memasuki rumah.
"Sepertinya, semua sudah berkumpul di taman belakang." Ucap Ifa yang mendengar suara musik dari taman belakang.
"Iya, kamu duluan saja Fa. Aku mau ke kamar mandi sebentar." Ucap Intan sambil berlalu meninggalkan Ifa.
Akhirnya Ifa berjalan menuju taman belakang. Kedatangannya juga menjadi sorotan karna malam itu Ifa terlihat sangat cantik. Bayu yang melihat kedatangan Ifa langsung terpesona melihatnya. Ia segera melangkah mendekati Ifa.
"Selamat malam cantik. Bolehkah saya bersanding dengan anda?" Tanya Bayu sambil mengulurkan tangannya pada Ifa dengan senyum manis.
"Tentu saja, dengan senang hati." Jawab Ifa sembari menerima uluran tangan Bayu.
Bayu tersenyum lebar dibuatnya. Dia meraih tangan Ifa dan meletakkannya dilengannya. Kemudian, keduanya beriringan menuju keluarga mereka berada. Pemandangan itu tentu saja membuat para tamu undangan merasa iri.
"Huh, pacar kak Bayu cantik sekali."
"Ifa benar-benar cantik malam ini. Dimana Intan ya?"
Tasya yang melihat Ifa begitu cantik, sehingga membuat Bayu terus menatap Ifa dengan senyum lebar, membuatnya sedikit sedih. Diam-diam Dika terus memperhatikan itu.
"Selamat malam semua. Oh ya, kak Setya selamat ulang tahun." Ucap Ifa sambil memberikan hadiah yang dia bawa.
"Terima kasih. Hm, Fa ... Apakah Intan sungguh tidak datang?" Tanya Setya masih berharap.
"Intan? Oh ... Dia ..." Jawab Ifa menggantung
"Wah, Intan sangat cantik juga malam ini."
"Benar, jelas saja Setya sangat mencintainya."
Para tamu kembali dihebohkan dengan kedatangan Intan. Setya dan semuanya menatap Intan yang baru berjalan memasuki taman belakang.
Setya sangat terpesona melihat Intan malam itu. Cantik...
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1