
Setelah menemukan impiannya, Intan jadi lebih semangat lagi untuk menghadapi semua ujian dan kesibukan yang dirasakan oleh kelas tiga. Ia dan yang lainnya bersiap bersama untuk melakukan yang terbaik sebagai langkah awal menuju ke impian mereka masing-masing.
Intan dan yang lainnya sering mengadakan belajar bersama bergilir di rumah mereka seperti sebelumnya. Setya dan Bayu juga sesekali akan datang membantu mereka belajar, jika tidak sibuk.
"Intan, aku boleh tambah minumnya?" Tanya Robby memelas.
"Oh, tentu saja. Aku gak sadar kalau minumnya sudah habis. Tunggu sebentar disini aku akan mengambilkannya." Ucap Intan sembari beranjak dari duduknya.
Tak lama kemudian Intan kembali membawakan minum untuk Robby dan semuanya.
"Terima kasih, Intan cantik." Ucap Robby dengan senyum menggoda.
Intan mengacuhkan itu, dia sudah biasa dengan gombalan basi dari Robby. Dia sudah tak tekejut lagi dengan gombalan itu, dia sudah sedikit-banyak mengerti sikap Robby yang memang senang berkata manis dan menggoda gadis-gadis. Tapi, dia tahu semua itu tak bahaya, karna Robby memang gak ada niatan untuk melakukan lebih dari itu.
Hanya saja tentu Setya dan para pria lain seperti Bayu, Dharma dan Toni, masih begitu waspada dan jauh lebih protektif dengan kekasih mereka masing-masing. Seperti saat ini, setelah Robby memuji Intan, Setya denga sigap langsung menutupi Intan agar tidak ditatap lagi oleh Robby. Tak lupa Setya juga memberikan tatapan tajam pada Robby. Intan sudah terbiasa dengan itu semua. Dia tak marah, justru itu ia jadikan sebagai hiburan dikala jenuh belajar dan mengerjakan tugas.
...****************...
Hari ujian.
"Sayang, apa barang-barang yang dibutuhkan sudah kamu bawa semua? Tempat pensil, kartu ujian, meja dada?" Tanya bunda mengingatkan apa saja yang perlu dibawa oleh Intan.
"Sudah semua bunda." Jawab Intan lembut.
"Tuan putri, jangan gugup ya. Tuan putrinya ayah pasti bisa. Kerjakan secara perlahan saja sesuai yang sudah dipelajari. Apapun hasilnya nanti, yang penting selama prosesnya berikan yang terbaik. Insha Allah hasil gak bakal mengkhianati proses." Ucap ayah pengertian.
"Baik ayah." Jawab Intan dengan senyuman.
Walaupun yang akan menghadapi ujian adalah Intan, tetapi ia bisa melihat kalau orang tuanya juga terlihat gugup. Sebenarnya Intan juga masih gugup, tapi ia gak ingin menunjukkan itu didepan orang tuanya, agar mereka tak lebih mengkhawatirkanny lagi. Apalagi gak lama setelah Intan ujian, giliran Dika yang ujian karna dia sekarang juga sudah kelas tiga SMP.
Tak lama kemudian, Setya datang menjemput Intan menggunakan mobil. Setya sengaja menggunakan mobil hari itu, karena ia ingin Intan bisa lebih rileks dan beristirahat selama perjalanan. Setya segera turun dan menghampiri Intan bersama orang tuanya di teras rumah.
"Kalau gitu Intan berangkat ya ayah-bunda. Do'akan Intan. Assalamu'alaikum." Pamit Intan sembari mencium kedua orang tuanya.
"Saya juga pamit om-tante untuk mengatar Intan." Ucap Setya sopan sembari mencium tangan kedua orang tua Intan.
"Iya, hati-hati ya Setya." Bunda
"Jaga putriku baik-baik. Antarkan dia sampai sekolah dengan selamat." Ayah
"Baik om-tante. Tentu saja saya akan menjamin keselamatan Intan. Kalau begitu kami berangkat. Assalamu'alaikum." Jawab Setya sopan setelah mendengar pesan dari kedua orang tua Intan.
Setya membukakan pintu mobil untuk Intan. Setelah itu ia juga masuk ke mobil dan mulai mengemudi meninggalkan komplek rumah Intan. Setya melirik Intan yang menunduk sembari menghembuskan nafas berat berulang kali. Setya tahu kalau Intan pasti sangat gugup. Ia meraih tangan Intan dan menggenggamnya dengan lembut.
"Tenang saja sayang, aku yakin kamu bisa." Ucap Setya lembut menenangkan Intan.
Intan menoleh dan menatap Setya dengan senyuman. Beberapa kali Setya mencium punggung tangan Intan untuk menenangkannya selama perjalanan.
Bayu juga mengantarkan Ifa. Mereka lebih dulu sampai daripada Setya dan Intan. Ifa juga terlihat gugup dan tentu saja Bayu dengan sangat perhatian membantu menghilangkan kegugupan Ifa itu. Ia berjanji pada Ifa akan membelikan banyak makanan setiap Ifa selesai mengerjakan ujiannya. Tentu saja itu menjadi semangat sendiri untuk Ifa. hehe.
Setelah Bayu pergi, akhirnya mobil Setya sampai di depan sekolah Intan. Intan terlihat memejamkan mata dan merasakan debar jantungnya yang semakin keras. Setya meraih wajah Intan dan menelangkupnya dengan kedua tangan agar menghadap ke arahnya.
"Jangan gugup sayang, selama ini kamu sudah menyiapkannya dengan sungguh-sungguh bukan? Cukup kerjakan sebisa kamu saja ... Kamu ingat perkataanmu padaku dulu? Kalau, hasil gak akan mengkhianati proses." Ucap Setya lembut.
Mendengar ucapan Setya yang lembut dan sorot matanya yang hangat membuat Intan merasa jauh lebih baik. Intan menghambur ke pelukan Setya.
__ADS_1
"Terima kasih." Jawab Intan dalam pelukan Setya. Setya tersenyum dan menyium puncak kepala Intan sayang.
Kemudian Setya membukakan pintu mobil untuk Intan. Intan melihat sekolahnya dengan yakin.
"Aku pasti bisa!" Seru Intan menyemangati dirinya sendiri.
"Masuklah. Nanti aku akan menjemput kamu." Ucap Setya lembut. Intan mengangguk dan melambaikan tangan pada Setya mulai memasuki sekolah.
"Intan!! ... SEMANGAT!!!" Teriak Setya dari tempatnya. Setya dan Intan pun mejadi pusat perhatian, tapi itu membuat Intan jadi lebih rileks.
Terima kasih kak Setya, karna kamu selalu ada untukku ...
...****************...
Akhirnya ujian pun berakhir. Siang itu Intan berkempul dengan teman-temannya di kafe untuk menghilangkan penat dan tekanan yang dirasakan selama empat hari ujian.
"Akhirnya, ujian sudah selesai. Aku seperti bisa bernafas lagi." Seru Ifa sambil menyandarkan kepalanya di atas meja.
"Kamu benar! Otakku sudah mau meledak saja rasanya." Seru Robby menambahkan.
"Tapi, kita belum mengetahui hasilnya." Ucap Intan mengingatkan.
"Sudah. Jangn bahas ujian lagi. Sepertinya aku mau muntah hanya mendengarnya." Seru Toni yang benar-benar terlihat letih.
"Benar. Sekarang, kita makan saja! Makanyang banyak dan hilangkan stress!!" Seru Ifa sambil memanggil pelayan untuk memesan makanan yang cukup banyak. Intanpun juga memesan banyak menu coklat disana.
"Kamu benar-benar suka coklat ya Tan?" Tanya Linda yang melihat Intan hanya memesan menh coklat saja.
"Yaa. Sangat suka dan gak ada bosennya. Hehe."
"Oh ya? Kalian sudah menyiapkan kebaya untuk wisuda belum?" Tanya Linda pada Intan dan Ifa.
"Ya belum lah. Kan masih agak lama, lagian barusan tadi kita selesai ujian." Jawab Ifa santai.
"Hehe. Ya barangkali saja sudah."
"Aku sudah gak sabar liat kamu pakai kebaya." Ucap Dharma dengan senyum menggoda.
"Aku juga ingin melihat kamu pakai jas. Pasti kamu kelihatan makin keren." Ucap Linda yang tak mau kalah dan ikut menggoda Dharma.
Toni dan yang lain termasuk Intan hanya bisa memutar bola mata malas melihat Dharma dan Linda itu. Seakan mereka sendiri lupa bagaimana sikap mereka kalau bersama kekasih mereka masing-masing. Kecuali Robby sih, karna hanya dia yang tak memiliki pacar diantara yang lain.
"Apakah saat wisuda nanti, pacar kalian akan datang?" Tanya Robby pada Intan dan Ifa yang masih menikmati makanan mereka.
"Belum tahu. Memangnya kenapa?" Tanya Intan bingung.
"Kalau ada mereka, tentu akan sulit bagiku untuk meminta foto bersama kalian." Jawab Robby dengan wajah dibuat sedih.
Intan dan Ifa hanya bisa menggeleng pelan dan kembali menikmati makanan mereka dan mengacuhkan Robby. Namun, Intan juga jadi kepikiran apakah Setya akan datang atau tidak. Membayangkan Setya datang dan membawakannya sebuket bunga mawar merah pasti sangat menyenangkan. Apalagi, Intan yakin kalau Setya akan terlihat semakin tampan. Intan senyum-senyum sendiri membayangkan hal itu.
"Kenapa senyum-senyum begitu?"
Intan tersadar dari lamunannya saat mendengar suara yang tak asing lagi ditelinganya, apalagi dia baru saja memikirkannya. Siapa lagi kalau bukan Setya. Intan tersenyum lebar dan menghambur ke pelukan Setya dengan manja.
"Aku baru saja memikirkan kak Setya. Dan sekarang kakak sudah ada disini. Hehe." Seru Intan sambil mempererat pelukannya pada Setya.
__ADS_1
"Kamu sangat merindukanku, hm?" Tanya Setya sembari mencolek hidung Intan dengan gemas. Intan mengangguk sebagai jawaban dan masih memeluk Setya dengan manja.
Sebelumnya Setya datang bersama Bayu. Bayu juga segera menghampiri Ifa yang masih lahap dengan makanannya.
"Lihatlah, makanmu sampai belepotan begini." Ucap Bayu sembari membersihkan sudut bibir Ifa.
"Hehe. Ini enak! Aku butuh banyak makanan utuk mengembalikan energiku ... Kak Bayu juga harus coba! Aaaa..." Seru Ifa sambil menyuapi Bayu.
"Hm, makanan apapun yang kamu suapkan selalu terasa enak." Ucap Bayu menggoda.
"Haih. Menyebalkan sekali. Mereka bertiga hanya bisa mengumbar kemesraan saja. Tapi, untung aku masih memilikimu." Seru Robby sambil merangkul bahu Toni.
"Lepaskan! Kau menjijikkan!" Seru Toni geli dengan sikap Robby.
"Jangan begitulah. Kita tuh senasib tau gak? lihatlah tiga pasanga didapan kita ini yang terus mengumbar kemesraan dan gak memperdulikan kita." Sindir Robby yang sama sekali gak dihiraukan oleh tiga pasangan itu.
"Bukan tiga pasangan. Tapi empat pasangan." Jawab Toni santai.
"Maksudmu?!" Tanya Robby bingung.
"Kak Toni.!!" Panggil Putri yang baru datang dan memeluk Toni dari belakang.
"Hai kakak-kakak semua. Bagaimana ujiannya?" Tanya Bunga yang datang bersama Putri.
"Kami sudah melakukan yang terbaik." Jawab Intan dengan senyuman.
"Aku do'akan semuanya dapat hasil yang memuaskan!" Ucap Bunga tulus dengan senyuman diwajahnya.
"Hei, kalian enak sekali mengumbar kemesraan terus di depanku denga pacar kalian seperti itu, huh!" Seru Robby kesal.
"Mangkannya cari pacar!" Ejek Toni puas.
"Hm, benar juga ... Bunga cantik, mau jadi pacar kak Robby?" Ucap Robby sambil merangkul bahu Bunga yang duduk disebelahnya.
"Hallo kak! Kak Robby menggodaku lagi.!!" Lapor Bunga pada kakaknya.
"Robby! Awas kau kalau meggoda adikku lagi.!! Akan ku cincang kau!" Teriak kakak Bunga yang terdengar kencang dari panggilan yang dilakukan Bunga. Bunga sepetinya juga sudah kebal dengan gombalan Robby.
"Aahhh!! Nasibku buruk sekali.!! Kalian benar-benar kejam!" Seru Robby kesal. Intan dan yang lainnya pun tertawa puas menertawakan Robby.
Walaupun, Robby kesal. Tapi, dia gak pergi meninggalkan mereka semua. Justru, mereka semakin ramai bercengkrama bersama.
"Tadi, kamu bayangin apa sampai senyum-senyum seperti itu?" Tanya Setya penasaran.
"Hmm.. Aku bayangin kak Setya datang ke wisudaku dengan sebuket besar mawar merah. Kak Setya pasti akan terlihat sangat tampan saat itu ... Hm, apakah kakak akan datang?" Tanya Intan penuh harap.
"Tentu saja, sayang." Jawab Setya dengan senyuman.
"Yey! Sayang kakak!" Seru Intan senang sambil bersandar dibahu Setya dengan manja.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..