Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
41. Barter


__ADS_3

KELUARGA Veni masih berkabung ketika mereka datang.


Bahkan Vano abangnya Veni, terus menangis meratapi kepergian adiknya. Dan terus mengutuk yang telah membunuh adiknya.


Atas laporan Kekira juga mereka tahu Riga yang membunuh Veni.


Setelah berbincang-bincang sebentar dengan ibunya Veni, mereka berpamitan.


Baru saja keluar rumah, HP Akbi berbunyi.


Dari Tara!


Sejenak Akbi melirik Kekira yang diam saja.


“Halo?”


Tiga pasang mata menatap Akbi berbicara di telepon.


Tiba-tiba air muka Akbi berubah tegang.


“Ternyata lo! Lo apain Tara!?”


Kekira mendadak jadi khawatir.


“Gue ke sana sekarang! Jangan coba-coba lo sakitin dia!” Akbi mematikan telepon.


“Tara kenapa, Bi?” Kekira cemas.


“Tara disekap sama Evan di apartemennya. Kita harus ke sana sekarang.”


“Biar gue yang nyetir!” Reno ambil alih. “Mending lo cari bala bantuan.”


Reno melarikan mobil dengan kecepatan tinggi.


Sementara Kekira terus berdoa untuk keselamatan Tara.


Cinay di sebelahnya ikut-ikutan panik.

__ADS_1


***


Ketika tiba di apartemen Tara di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, geng Tyrex sudah tiba lebih dulu.


“Gawat, Bi! Evan berhasil sekap Tara dengan cara nyusup sebagai delivery pizza. Gue udah cek ke security.” Dedy memberi laporan.


Akbi memegang kepalanya stress. “Gila tu Evan!”


Kekira memandang gedung apartemen, panik.


HP Akbi berbunyi.


Darahnya langsung naik ke ubun-ubun.


Dia menekan tombol loudspeaker.


“Mau lo apa sebenernya? Nggak perlu lo sekap Tara!”


“Kalo lo mau dia selamat, dateng sendiri ke sini! Jangan coba-coba ngelawan gue. Karena gue udah hack semua kamera CCTV apartemen, dan gue bisa awasin semua gerak-gerik lo.” klik.


“Bi, jangan! Ini jebakan!” Reno memperingatkan.


“Tapi itu udah lewat, dan lo jangan gegabah.”


“Iya, Bi. Bisa jadi mereka niat ngabisin lo.”


“Pokoknya apapun itu gue harus naik.” Akbi tidak mempedulikan larangan teman-temannya.


Tiba-tiba ada tangan menyentuh lengannya membuatnya menoleh.


Kekira menatapnya penuh khawatir.


Akbi menyentuh pipinya yang memerah. “Jangan panik. Aku akan bebasin Tara.”


Baru saja Akbi berbalik, mendadak HP Kekira berbunyi. Ia kaget.


“Bi, ini Evan nelepon aku!”

__ADS_1


Semua kaget. “Apa?!”


“Coba jawab. Loudspeaker sekalian.”


Kekira menekan tombol loudspeaker.


“Hai kakak ipar… kangen ya sama gue. Sayang ya waktu itu kita nggak sempet seneng-seneng.” Suara Evan bikin semua geram.


“Kamu mau apa? Lepasin Tara!” seru Kekira.


“Lepasin? Hahaha… boleh kalo mau dilepasin, asal lo yang gantiin dia.”


“Maksud kamu?”


“Gue bakal lepasin Tara, asal lo ke sini gantiin dia. Dan tawaran gue nggak berlaku dua kali.” Klik.


Kekira menatap Akbi, tegang. “Bi..”


“Enggak!” Akbi spontan menolak. “Kamu nggak akan ke mana-mana.”


“Tapi dia minta aku…”


“Pokoknya nggak boleh! Ini jebakan.”


“Bi, aku tau dia gila. Tapi Tara butuh bantuan aku. Kasian Tara, dia lagi lumpuh dan disandera. Dia nggak bisa kabur. Tapi kalo aku, setidaknya masih bisa cari akal kabur dari Evan. Tolong Bi, biarin aku gantiin Tara. Aku janji semua akan baik-baik aja. Karena kamu selalu jagain aku.”


Akbi tahu apa yang Kekira pikirkan. Tapi ia tidak siap melepasnya untuk hal berbahaya begini. Evan terlalu ekstrim untuk dilawan.


Melihat tatapan memohon Kekira, membuat Akbi tidak tega dan menyanggupi.


“Lo semua berjaga. Kalian menyusup dan putusin semua kabel CCTV yang ada. Sebagian susul kami lewat tangga darurat. Dan untuk Cinay, stand by di sini. Kalo dalam dua jam kami belum keluar, panggil polisi.”


Semua setuju.


Akbi menggamit tangan Kekira dan menatapnya ragu.


Kekira hanya menunduk.

__ADS_1


Tangannya dalam genggaman Akbi terasa dingin.


***


__ADS_2