
SUASANA rumah begitu gaduh. Penyusup yang masuk ke kamar Kekira berhasil lolos.
“Kekira, bangun Sayang…”
Mata Kekira terbuka. Kepalanya terasa berat.
“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Bunda khawatir.
Ayah Bunda menatapnya cemas.
Ia memperhatikan sekeliling. Dia ada di kamarnya Ayah Bunda.
“Aku kenapa, Bunda?”
“Sepertinya dia belum ingat.” Ayah mengelus kepalanya. “Kamu istirahat saja dulu, Nak.”
Ia mengerjapkan mata dan melihat sudah terang. “Ini jam berapa, Bunda?”
“Jam 10, Nak.”
Pintu diketuk.
Seseorang berseragam polisi masuk.
“Pak Awan, kami menemukan jejak yang mengarah ke kamar putri Bapak. Untuk sementara, saya akan tugaskan dua polisi menjaga di rumah Bapak.”
“Baik, Pak. Terima kasih.”
Kekira kaget. “Polisi? Kenapa ada polisi, Yah?”
“Apa putri Bapak sudah siuman?” tanya Pak Polisi.
“Sudah.”
“Kalau begitu boleh saya ajukan pertanyaan?”
“Silahkan.”
“Adinda Kekira, benar?” tanya polisi ramah.
Kekira mengangguk.
“Coba ceritakan yang Adik ingat.”
Kekira memegang kepalanya, mencoba mengingat kejadian semalam.
Seingatnya, ada bayangan orang di beranda kamarnya.
Lalu listrik mati.
Tiba-tiba saja dia diserang dan kepalanya dibenturkan ke tembok sehingga dia pingsan.
“Apa Adik lihat wajah pelakunya?”
Kekira menggeleng. “Gelap sekali, Pak. Saya tidak bisa lihat jelas, cuma bayangan hitam.”
“Baik, cukup kalau begitu. Adik tenang saja, sekarang rumah ini dijaga polisi. Untuk sementara, ada baiknya Adik tidak pergi ke mana-mana. Mungkin Adik menjadi target pelaku.”
“Bunda, tapi aku ada kuliah jam satu.”
“Tidak usah kuliah dulu, Nak. Kamu kan masih sakit.”
“Nggak bisa, Bunda. Ada kuis untuk pengambilan nilai. Aku juga udah banyak absen kemarin-kemarin. Kalau aku nggak masuk, aku nggak boleh ikut ujian bulan depan.”
“Tapi Bunda nggak bisa nganter, Sayang. Bunda harus antar Ayah check-up ke rumah sakit.”
“Ibu dan Bapak tenang saja. Akan saya tugaskan polisi untuk mengawal anak Bapak.”
Ayah masih ragu.
“Percayakan keselamatan putri Bapak pada kami. Sudah tugas kami untuk melindungi masyarakat.”
“Baik, terima kasih.”
“Ya sudah, Bunda ambil obat dulu.”
Begitu Ayah dan Bunda meninggalkan kamar, Kekira menggaruk-garuk kepalanya.
__ADS_1
Seingatnya ia sudah mengunci pintu beranda.
Dan bagaimana bisa ada yang masuk kamarnya di lantai dua?
***
“Ki, itu siapa ngikutin kamu?” tanya Cinay begitu tiba di kelas.
Kekira menoleh sekilas. “Polisi.”
Cinay kaget. “Polisi?”
Untung polisi yang menjaganya tidak mengenakan seragam. Berpakaian ala preman sehingga tidak terlalu mencolok.
Polisi siaga itu berdiri di luar kelas sambil mengawasi keadaan sekitar.
“Itu dahi kamu kenapa, Ki?”
“Semalam aku diserang, ada yang nyusup ke kamar. Jadinya kepalaku luka karena dibenturin ke tembok. Makanya sekarang rumahku dijaga polisi, dan sementara aku juga dikawal polisi.”
“Duuuhh horror banget sih.”
Kekira angkat bahu. “Cuma yang aku heran, dia kok bisa tau kamarku?”
“Pasti dia mata-matain korbannya. Rumahnya di mana, situasi rumah gimana, sampe posisi kamar anak perempuan. Duuhh jadi nggak tenang nih di rumah juga.”
“Bisa jadi.”
“Trus kenapa kamu masuk?”
“Aku kan udah kebanyakan absen. Kalo nggak masuk lagi, ntar nggak bisa ikut ujian bulan depan.”
“Iya sih. Tenang aja, kita cuma satu mata kuliah, abis ini kamu bisa istirahat.”
Sepanjang perkuliahan, Kekira tidak fokus.
Dia curiga apa ini perbuatan Veni?
Veni tahu Kekira pasti tidak diam saja mendapat pesan lokasi itu.
***
“Gimana keadaan kamu, Ki?”
Malam-malam Akbi datang ke rumahnya.
Kekira memegang kepala. “Masih agak pusing.”
“Kenapa kamu nggak cerita sama aku?” Akbi agak marah. “Aku sampe tau dari Cinay kalo kamu diserang.”
“Cinay yang kasih tau?” padahal tadi udah diwanti-wanti jangan kasih tau Akbi. Ugh!
“Nggak secara langsung. Cinay cerita ke Reno, aku tau dari Reno. Kenapa kamu nggak bilang?”
Kekira menunduk. “Aku tau kamu semalaman jalanin misi itu. Dan aku nggak mau ganggu kamu juga.”
Akbi mendengus kesal. “Setelah itu kenapa kamu nggak jawab telepon aku?”
“Abis diserang mana kepikiran sama HP, Bi. Kamu marah sama aku?”
Melihat wajah Kekira membuat Akbi tidak tega.
“Enggak kok, aku nggak marah. Cuma aku khawatir sama kamu. Sorry, aku nggak bermaksud.”
“Gimana dengan aksi semalam?” Kekira mengalihkan pembicaraan. “Apa ada hasil?”
Akbi menggeleng. “Kami mau ganti strategi. Mungkin pelakunya ngincer perempuan yang keliatan lemah. Sedangkan Tara, kamu tau sendiri gayanya dia gagah banget. Pake motor gede, jaket sama penampilan tomboy ala anak touring. Nanti malam dia mau beraksi dengan gaya perempuan yang kira-kira diincer pelaku.”
Kekira menghela nafas lesu. “Kayaknya malah aku yang mereka incer.”
“Kamu kok ngomongnya gitu?” Akbi tidak suka.
“Sekali aku diculik, trus dijebak di ruang dosen, sekarang aku diserang di rumahku sendiri. Nggak ada jaminan penculik itu nggak nyerah kan?”
“Jangan berpikir kejauhan. Kamu liat aja, ada polisi berjaga. Pemeriksaan cukup ketat. Barusan aku sempet digeledah. Semua barang-barangku diperiksa, sepatu, baju. Bahkan sampe motor. Kamu bakal aman di sini.”
“Tapi, aku masih kebayang kejadian semalam.” Mata Kekira berkaca-kaca.
__ADS_1
“Apa kamu inget sesuatu tentang semalam?”
“Mana inget. Semalam kan mati listrik jadi gelap.” Kekira terdiam sambil berpikir. “Eh tunggu deh..”
Akbi menegakkan duduknya. “Kamu inget sesuatu?”
“Kayaknya iya.”
“Apa itu?”
“Waktu dia serang, aku sempet ngelawan dengan gigit tangannya. Dan aku yakin gigitanku tuh berbekas.”
“Bisa jadi.” Akbi menatapnya aneh. “Kamu ada turunan vampir ya?”
“Iiiihh Akbi apaan sih?”
Akbi tertawa geli. “Lagian, berani banget pake gigit-gigit gitu.”
“Namanya juga panik. Mau ngelawan juga susah, kalah badan.”
Akbi mengucek-ucek kepala Kekira, gemas.
“Akhirnya si manja ini punya keberanian juga.”
Kekira mencubit pinggang Akbi sebel.
Akbi menghindar geli.
“Tunggu deh, kamu tau yang nyerang itu laki-laki apa perempuan?”
“Kayaknya laki-laki. Soalnya aku inget dia sempet teriak waktu aku gigit.”
"Ya pasti laki-laki. Kalo itu Veni pasti kamu ngenalin dari bentuk badannya."
"Kayaknya setangguh-tangguhnya perempuan, nggak bakal sanggup sampai manjat ke kamarku, Bi."
"Iya juga."
Tiba-tiba HP-nya berbunyi.
Dari Tara.
Perasaan Kekira langsung nggak nyaman melihat Akbi berbicara akrab di telepon dengan Tara.
“Ntar gue ke sana. Tunggu aja.”
“Kamu mau pergi sama Tara?” tanya Kekira begitu telepon diputus.
Akbi menoleh polos. “Ya, ada hal yang perlu diomongin.”
Kekira memalingkan wajah, antara cemburu atau tidak suka sudah tidak bisa ia artikan lagi.
“Oh ya, aku mau balikin ini.” Akbi mengeluarkan jam tangan dari sakunya.
“Ini ketinggalan di kamar tamu. Tapi karena jamnya rusak, aku baru balikin sekarang. Udah aku benerin. Nih aku pakein ya.”
Kekira diam saja ketika Akbi telaten memakaikan jam tangannya.
“Nah aku pergi dulu. Jangan lupa kunci pintu beranda. Kalo perlu, pasang jebakan tikus biar rasa tu penculik kalo coba-coba nyerang kamu lagi.”
“Yang ada ntar aku yang kena kalo jebakan tikus.”
“Ya makanya jangan sampe senjata makan tuan dong Kekira manissss…” Akbi mencubit pipi Kekira gemas membuat Kekira tersenyum.
“Take care.”
Kekira memandangi kepergian Akbi dengan perasaan tak menentu.
Sebenernya aku kenapa?
Kenapa aku nggak nyaman liat mereka berdua?
Aku nggak rela.
Air matanya bergulir turun.
***
__ADS_1