
Jam makan siang.
"Huh! Cowok gak tau diuntung itu sekarang sekelas sama kamu?" Seru Ifa tak percaya setelah Intan menceritakan semuanya pada Ifa.
"Iya ... Aku juga sangat kesal kalau mengingat itu." Jawab Intan dengan lesu.
"Kamu gak bakal goyah dan balik lagi ke dia kan?!" Tanya Ifa dengan menatap tajam pada Intan.
"Apa kau gila?! Gak mungkin aku meninggalkan kak Setya demi pria seperti dia. Aku masih sangat waras Ifa. Lagian, dihatiku sudah gak ada perasaan sedikitpun untuknya. Melihatnya saja sudah membuatku kesal. Di hatiku sekarang hanya ada kak Setya! Aku sangat mencintainya!" Jawab Intan dengan nada tegas tanda kalu dia benar-benar serius saat ini.
"Baguslah kalau begitu. Kamu dan kak Setya harus lebih waspada. Kalian harus berhasil melewati ujian ini. Aku dan kak Bayu juga akan membantu sebisa kami. Kami akan bantu mengawasi kamu dan cowok itu." Ucap Ifa dengan senyum manis diwajahnya.
"Makasih.." Ucap Intan dengan senyum lebar diwajahnya.
"Haduh, kalian ini. Bagaimana bisa mengumbar senyum seperti itu disini?!" Seru Bayu yang baru saja datang bersama Setya.
"Memang dasar kami sudah cantik. Jadi, senyum biasapun kami terlihat semakin cantik." Jawab Ifa dengan percaya dirinya.
"Haish, gemesin banget sih cabiku sayang. Pengen ku masukin karung tau gak, biar gak ada pria lain yang ngelihatin kamu lagi." Ucap Bayu sambil mencubit gemas kedua pipi Ifa pelan. Setya dan Intan tersenyum melihat itu.
"Sudah makan?" Tanya Setya dengan lembut.
"Belum. Aku hanya beli jus saja."
"Kenapa gak makan dulu? Ini sudah lebih dari jam makan siang lho." Tanya Setya heran.
"Aku nunggu kak Setya. Aku kan pengen makan sama kak Setya." Jawab Intan dengan wajah menggemaskan, agar Setya gak memarahinyan.
"Aish, kamu ini. Ya sudah, aku belikan makan dulu ya." Ucap Setya sembari bangkit dari duduknya.
"Ikut! Hehe.." Seru Intan sambil menggandeng lengan Setya dengan manja. Setya sama sekali gak menolak sikap Intan, ia justru tersenyum lebar dengan sikap Intan itu.
"Yuk, kita juga beli makan." Ajak Bayu sambil mengulurkan tangannya pada Ifa.
"Siap!" Jawab Ifa dengan senang menerima uluran tangan dari Bayu.
Di sudut lain kantin itu, tampak Bagas yang terus memperhatikan kebersamaan Intan dan Setya. Jelas sekali kalau dia gak menyukainya.
"Dulu Intan juga tersenyum dan menatapku seperti itu. Aku pasti bisa membuat Intan kembali tersenyum dan menatapku seperti itu lagi." Gumam Bagas penuh tekad.
Benar, selama ini Bagas memang sudah satu kampus dengan Intan. Dia mengamati Intan dari jauh selama ini. Awal kali Bagas melihat Intan adalah di sampul majalah kampus sebelumnya. Dia sangat terkejut, karna melihat Intan yang tampak berbeda dengan di SMP dulu. Sekarang dia terlihat lebih cantik. Bahkan, saat Bagas melihat Intan secara langsung, apalagi saat Intan menghadapi gadis-gadis lain yang mencoba mendekati Setya.
Intan dengan beraninya memberikan perlawanan. Itu membuat aura dalam dirinya lebih terpancar. Akhirnya, Bagas mulai menyesal karna sudah menyia-nyiakan Intan sebelumnya. Maka dari itu dia dengan sengaja mengulang mata kuliah agar bisa mendekati Intan lagi. Dia memiliki keyakinan kalau Intan sebenarnya masih memiliki perasaan padanya. Bagaimanapun, dirinya adalah cinta pertama bagi Intan.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan makan siangnya, Setya dengan sengaja mengantarkan Intan menuju kelasnya. Saat sudah dekat dengan kelas, Intan dan Setya melihat Bagas yang juga menuju ke kelas yang sama dengannya.
"Apa dia juga ikut mata kuliah ini?! Sebenarnya berapa mata kuliahnya yang sama denganku?!" Seru Intan kesal.
"Tenanglah. Aku akan mengantarmu sampai di kelas." Ucap Setya lembut sembari melingkarkan tangannya di pinggang Intan. Setya sengaja melakukan hal itu untuk menunjukkan kepemilikan pada Bagas.
Tentu saja kedatangan Setya membuat kehebohan di kelas Intan. Tumben sekali Setya mengantar Intan sampai di kelas. Intan memilih duduk di sebalah Anisa, teman kelas yang paling dia kenal di kelasnya itu. Sedangkan, seperti biasa Bagas memilih duduk di belakang Intan.
"Nanti, setelah selesai kelas. Aku akan menjemputmu, tunggu aku ya.." Ucap Setya lembut. Intan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Namamu Anisa kan ya? Aku minta tolong jaga pacarku ya. Kalau ada serangga yang mendekatinya tolong laporkan padaku." Ucap Setya dengan senyum ramah, namun dengan tatapan tajam pada Bagas. Bagas tak mau kalah, dia juga menatap Setya dengan tajam.
"Ba-Baik kak. Aku akan menjaga Intan dengan baik." Jawab Anisa yang cukup terkejut karna Setya mengetahui namanya.
"Sebentar lagi masuk. Kakak juga harus masuk ke kelas. Nanti kita ketemu lagi."
"Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu. Belajar yang baik ya. Kalau ada yang mengganggumu langsung kabari aku. Cup.." Ucap Setya lembut, dia juga mencium kening Intan sebelum pergi. Hal itu semakin membuat histeris mahasiswi yang ada di kelas Intan. Sedangkan Bagas menatap itu tak suka.
"Intan, kamu yang memberitahukan namaku pada kak Setya?" tanya Anisa penasaran.
"Iya, aku menceritakan kamu padanya. Karna, kamu satu-satunya teman dekat yang aku punya di kelas ini." Jawab Intam dengan senyum ramah.
"Wah, makasih. Rasanya seneng banget! Tapi, aku mengatakan ini bukan bermaksud lain ya. Aku hanya senang, bayangkan saja kalau idolamu mengetahui namamu pasti kamu merasa senang kan?!" Seru Anisa dengan mata berbinar.
"Iya. Aku tahu kok. Kamu gak bermaksud buruk. Kak Setya saja yang memang sangat sempurna untukku. Aku juga sangat beruntung menjadi pacarnya. Gak ada lelaki lain yang bisa menggantikannya." Ucap Intan dengan penuh penekanan dan suara agak kencang, sampai Bagas juga bisa mendengar hal itu.
Bagas salah paham dengan maksud Intan, padahal Intan melakukan itu untuk menunjukkan pada Bagas kalau dia sudah gak memiliki kesampatan apapun untuk mendekatinya. Karna, hatinya sudah sepenuhnya milik Setya.
Setelah itu kuliah pun berjalan dengan lancar. Hanya saja, di akhir dosen membuat kelompok untuk tugas presentasi minggu depan. Dan buruknya Intan satu kelompok dengan Bagas. Intan juga gak bisa meminta ganti kelompok. Keputusan dosen sudah mutlak.
Kenapa diantara banyaknya mahasiswa di kelas ini, harus dia yang jadi partnerku?! ... Seru hati Intan kesal. Setelah dosen dan mahasiswa lain keluar kelas. Bagas pun mendekati Intan.
"Sekarang boleh aku mengajakmu mengobrol? Kita sudah punya bahan untuk diobrolkan bukan?" Tanya Bagas dengan senyuman diwajahnya. Melihat itu Intan bergidik ngeri dan kesal. Tapi, Intan juga gak memiliki alasan untuk menolak, ini juga demi nilai.
"Katakan saja dengan cepat disini." Ucap Intan dengan nada dingin.
"Bisakah kamu lebih ramah? Seperti dulu, saat kamu selalu tersenyum dan menatap mataku." Ucap Bagas dengan senyuman diwajahnya. Mendengar itu membuat Intan semakin kesal.
"Jangan ungkit masa lalu lagi. Selama belum presentasi, ku rasa aku gak ada kewajiban untuk meneruti kemauan kakak." Seru Intan dengan nada tegas. Bahkan, ia sudah berdiri dari duduknya dan akan pergi.
"Baiklah, tapi setidaknya santai sedikit dan jangan terus marah padaku. Seperti katamu, saat ini kita satu kelompok dan kita harua bekerja sama dengan baik bukan?" Tanya Bagas dengan tetap tenang. Intan gak menjawab dan memilih kembali duduk di kursinya.
Bagas tersenyum melihat itu. Dia pun duduk disebelah Intan dan mulai membahas pengerjaan tugasnya. Mereka juga harus melakukan wawancara pada guru untuk tugas mereka itu. Akhirnya, mereka berencana untuk mewawancarai guru SMP mereka yang memang masih sering Intan hubungi.
__ADS_1
"Boleh aku minta nomormu?" Tanya Bagas sambil memberikan ponselnya pada Intan. Intan sudah melotot tajam pada Bagas.
"Tenanglah. Aku meminta nomormu agar bisa lebih mudah menghubingimu untuk membahas tugas ini. Kita kan juga harus janjian untuk bertemu lagi nanti." Ucap Bagas menjelaskan saat melihat Intan yang melotot tajam ke arahnya.
Akhirnya, Intan mengambil ponsel Bagas dan mengetikkan nomornya disana. Namun, saat sebelum dia selesai mengetikkan nomornya, ternyata di ponsel Bagas sudah ada nomornya. Dan itu diberi nama Bagas 'Gadis kecil🥺'. Intan tertegun melihat itu, seketika ia mengingat kenangan saat ia meminta nomor ponsel Bagas dulu. Dan Bagas memberikan emot itu pada Intan, karna Intan terlihat lucu seperti emot itu.
"Kenapa? ... Wah, ternyata nomormu masih sama. Kalau begitu, kamu harus membuka pemblokiran nomorku di ponselmu ..."
"Kenapa nomorku masih disana?" Tanya Intan menatap Bagas curiga.
"Aku memang tak pernah menghapus nomormu. Aku selalu menyimpannya. Bahkan, aku juga sudah mencoba menghubungimu, tapi ternyata kamu sudah memblokirku. Aku merindukanmu Intan ..." Ucap Bagas lembut dengan menatap dalam mata Intan. Intan cukup terkejut mendengar ucapan Bagas itu. Dan dia hanya diam tak mengatakan apa-apa, sampai ...
"Sayangnya pacarku tidak merindukanmu!" Seru Setya tajam.
Setya baru saja datang untuk menjemput Intan. Dia cukup terkejut saat melihat Intan berduaan dengan Bagas di dalam kelas saat itu. Apalagi, ia juga mendengar Bagas mengatakan rindu pada Intan. Seketika, Setya merasa sangat kesal dan gak terima.
"Itu pendapatmu. Nyatanya Intan diam saja. Bukankah itu artinya dia juga merindukanku?!" Ucap Bagas dengan seringai diwajahnya. Intan yang juga mendengar itupun merasa terkejut, karna Bagas berfikir seperti itu.
"Kakak salah! Aku sama sekali gak merindukan kakak! Aku hanya merasa terkejut, ternyata kakak begitu gak tahu malu mengatakan hal itu, setelah apa yang kakak lakukan padaku dulu?! Huh, menjijikkan!" Seru Intan dengan nada tajam.
"Kau bisa mendengarnya bukan? Pacarku gak mungkin merindukanmu! Dia sepenuhnya sudah mencintaiku. Jadi, menjauhlah dari pacarku!" Seru Setya sambil mencengkram kuat bahu Bagas. Baru setelah itu, Setya merangkul pinggang Intan dan mengajaknya meninggalkan Bagas yang masih terdiam di kelas.
"Huh! Gak mungkin Intan semudah itu melupakanku. Aku pasti bisa membuat Intan kembali mencintaiku!" Gumam Bagas dengan yakin.
Setya dan Intan ke parkiran menuju mobil untuk pulang. Setelah keluar kelas, walaupun gak ada Bagas, Setya tetap memeluk pinggang Intan dengan posesif.
"Kak Setya, maaf ya tadi aku sempat terdiam saat dia mengatakan itu padaku. Aku sungguh gak merindukannya. Aku hanya terkejut." Ucap Intan setelah mereka memasuki mobil.
"Aku mengerti, gak perlu menjelaskannya lagi" Ucap Setya sambil menepuk kepala Intan dengan sayang.
"Tapi kak. Kelihatannya ke depan aku akan lebih sering berhubungan dengan dia. Karna, kami satu kelompok untuk tugas presentasi. Kami, juga perlu melakukan wawancara. Aku sudah mencoba menukar kelompok, tapi gak bisa." Ucap Intan menjelaskan.
"Jujur aku merasa cemburu, bohong kalau aku bilang baik-baik saja. Tapi aku pasti akan tetap percaya padamu. Hati-hati ya dan terus kabari aku, apa saja yang dia lakukan." Ucap Setya sambil menarik Intan ke dalam pelukannya.
"Iya, tentu saja. Kak Setya tenang saja, dia gak bakal membuat hatiku goyah. Karna, yang aku cintai cuman kak Setya." Ucap Intan sambil membalas pelukan Setya dengan erat.
Setya menyandarkan kepalanya di bahu Intan. Entah mengapa ia mulai merasa gak nyaman dengan kedekatan dan kata-kata Bagas sebelumnya. Ada ketakutan dalam hatinya, Intan akan meninggalkannya.
Intan, ku harap kamu gak akan meninggalkanku. Aku gatau lagi apa yang akan aku lakukan jika sampai itu terjadi ...
.
.
__ADS_1
.
Bersambung..