Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Derita Bayu


__ADS_3

Beberapa saat kemudian.


"Haduh, ini resletingnya terlalu rendah. Susah sekali menaikkannya. Bagaimana ini?!" Ucap Ifa bingung.


"Sayang, kamu masih lama? Kamu gak apa-apa kan?" Tanya Bayu dari luar kamar mandi.


"Iya aku keluar." Jawab Ifa.


"Ah, gak ada pilihan lain. Aku harus minta bantuan pada kak Bayu." Gumam Ifa memutuskan.


Perlahan dia membuka pintu kamar mandi dan mengintip dimana Bayu berada. Dia melihat Bayu sedang bercermin di depan kaca. Bayu terlihat sangat tampan saat itu.



"Kenapa liatin aku begitu? Terpesona dengan suamimu ini ya?" Tanya Bayu sambil berbalik menatap Ifa.


"Hm, yaah.. Lumayan." Jawab Ifa tak berani menatap Bayu. Bayu tersenyum melihat Ifa, diapun berjalan mendakati Ifa. Ifa pun reflek berjalan langkahnya.


"Kenapa menghindar dariku sayang?" Tanya Bayu sambil memeluk pinggang Ifa.


"Enggak kok ... Hanya, bisa tolong bantu naikkan resleting gaunku? Aku gak bisa." Ucap Ifa sambil menunduk malu.


Bayu menatap punggung Ifa yang terekspos, hal itu membuatnya gugup sampai harus menalan salivanya dengan susah payah. Perlahan Bayu menaikkan resleting gaun Ifa.


Ifa tersentak kaget saat tangan Bayu tak sengaja mengenai punggunya. Dia sangat gugup saat itu. Jantungnya berdebar sangat kencang. Setelah menutup resleting gaun Ifa, Bayu menatap wajah Ifa yang terlihat bersemu merah.


"Ifaa ..." Panggil Bayu dengan lembut. Ifa pun mendongak menatap Bayu. Perlahan Bayu mendekatkan wajahnya dan akan mencium Ifa, sampai ..


"Mas-Mbak? Apa belum selesai. Acara resepsi akan segera dimulai." Seru penata rias dari luar kamar. Tentu saja itu membuat aksi Bayu gagal.


"Kita lanjutkan nanti malam yaa.." Bisik Bayu lembut di telinga Ifa, sebelum dia membukakan pintu untuk penata rias.


"Sudah. Anda bisa merias istri saya. Saya akan tunggu diluar." Ucap Bayu dengan ramah.


"Baik." Jawab penata rias sambil mendekati Ifa yang masih terdiam.


"Mbak Ifa kenapa? Wajahnya merah sekali, perasaan tadi saya gak kasih pemerah pipi sebanyak iti deh?" Tanya penata rias bingung.


"Panas mbak! Sepertinya, ac di kamar ini gak menyala dengan baik." Jawab Ifa cepat.


"Tapi ..."


"Sudah mbak abaikan saja. Cepat bantu saya menata rambut saya lagi." Seru Ifa mengalihkan pembicaraan. Jantungnya masih berdebar sangat kencang saat itu. Dia begitu gugup dan bahkan merinding saat membayangkan apa yang akan dilakukan Bayu nanti.


Duh, perutku seperti banyak kupu-kupunya!


Bayu pun keluar untuk menyapa beberapa tamu yang sudah datang sembari menunggu Ifa di rias lagi.


"Pengantin baru wajahnya bersinar sekali." Goda Setya saat Bayu mendekatinya dan Intan.


"Yah jelas dong. Bentar lagi kau juga bakalan rasain apa yang aku rasain hari ini." Seru Bayu sambil menyandarkan tangannya di bahu Setya.


"Mana Ifa?" Tanya Intan bingung saat tak mihat Ifa.


"Dia masih di rias. Sebentar lagi aku akan kesana untuk menjemputnya." Jawab Bayu dengan senyuman di wajahnya. Intan pun mengangguk mengerti.


Beberapa saat kemudian, karna Ifa tak kunjung datang, akhirnya Bayu memutuskan untuk menjemputnya.


"Mbak, istri saya belum selesai di dan ... Wah cantik sekali." Seru Bayu tak jadi bertanya dan berganti memuji saat melihat Ifa yang sudah selesai di rias dan terlihat sangat cantik.



"Sudah mas. Silahkan, bawa istrinya ke pelaminan." Jawab penata rias sambil tersenyum geli saat melihat reaksi Bayu yang bener-bener terlihat terpesona.


"Oh yaa.. Terima kasih mbak." Ucap Bayu, sambil berjalan mendekati Ifa.


"Kamu cantik sekali sayang. Yuk, kita pergi sekarang." Ucap Bayu lembut sambil mengulurkan tangannya pada Ifa untuk membantunya berdiri.


"Makasih." Ucap Ifa dengan senyum di wajahnya.


"Ahh.. Aku tidam tahan lagi. Kamu harus di hukum!" Seru Bayu sambil mendengus kesal.


"Aku salah ap ... Mmmph?!"


Perkataan Ifa langsung terhenti saat Bayu membungkan bibirnya dengan ciuman. Ifa sangat terkejut dengan aksi Bayu itu. Tapi, lama-kelamaan dia juga ikut hanyut ke dalam ciuman Bayu.

__ADS_1


"Bayu! Apa yang kau lakukan?!" Seru mama Bayu yang terkejut melihat putranya malah asyik bermesraan dengan Ifa. Mama segera masuk dan menjewer telinga Bayu.


"Aduh! Sakit ma!" Rintih Bayu kesakitan. Ifa tak membantu malah tersenyum geli.


"Para tamu undangan sudah datang! Dan kamu malah asyik sendiri disini. Liat, riasan Ifa jadi berantakan! Kamu ini dasar!" Seru mama marah.


"Maaf ma. Habis Bayu uda gak tahan! Liat menantu mama sangat cantik malam ini." Ucap Bayu yang tak mengalihkan pandangannya dari Ifa. Ifa sampai malu mendengarnya.


"Jelas dong! Putri mama memang paling cantik! Ayo tunggu diluar dulu, biar dandanan Ifa dibenerin dulu! Kamu ini pengacau!" Seru mama sambil menarik telinga Bayu keluar.


"Suami mbak Ifa sangat mencintai mbak yaa. Sampe gak sabar! Hehe." Goda penata rias yang membantu Ifa memoleskan lisptik lagi dibibirnya.


"Iya. Dia seperti vakum cleaner." Jawab Ifa sambil menggelengkan kepala mengingat perlakuan Bayu.


Setelah siap, Ifa segera keluar menyusul Bayu dan mama yang menunggunya di luar kamar.


"Sudah ayuk, kita ke hall utama. Kaliam sudah ditunggu banyak orang! Bayu, tahan dulu!" Seru mama memperingatkan.


"Iya-iya ma!" Jawab Bayu cemberut.


"Ayo kita pergi, suamiku." Ucap Ifa sambil memegang lengan Bayu.


"Siap istriku.." Jawab Bayu dengan senyum lebar.


Mereka pun berjalan bersama memasuki ruang resepsi, diikuti mama dari belakang. Tamu undangan sudah banyak yang datang. Mereka memberikan sambutan yang meriah untuk kedua mempelai yang sedang berbahagia hari itu. Jelas sekali terlihat rona kebahagiaan diwajah mereka.


Ifa dan Bayu segera duduk di atas pelaminan. Mereka seperti menjadi raja dan ratu negeri dongeng. Semua berdecak kagum dengan tampilan Bayu dan Ifa malam itu. Aura mereka sangat terpancar. Intan yang melihat itu juga tersenyum bahagia.


"Tunggu sebentar lagi dan kita juga akan seperti itu." Bisik Setya ditelinga Intan, tiba-tiba. Intan sampai terjingkut kaget.


"Kak Setya!" Seru Intan sambil memukul pelan lengan Setya.


Semua tamu juga terlihat ikut bahagia, merasakan kebahagiaan kedua mempelai. Mereka sangat menikmati acara malam itu. Ifa juga mendapatkan kejutan penampilan alat musik dari rekan-rekan kerja dan murid di tempat lesnya. Suasana malam itu jelas menunjukkan kebahagiaan.


"Acara malam ini sangat meriah. Lebih meriah dari pesta Dharm dan Linda kemarin. Kalau begitu besok seharusnya kamu dan kak Setya harus lebih meriah lagi dong." Ucap Robby sambil tersenyum dan alis terangkat.


"Walaupun gak semeriah ini, tapi kami kemarin juga bahagia kok." Seru Dharma dan diangguki oleh Linda.


"Aku juga gak butuh pesta yang meriah. Sederhana asal itu dengan kak Setya dan aku bahagia. Itu sudah cukup." Imbuh Intan acuh.


"Tapi, kalau bisa meriah kenapa harus yang sederhana. Ya gak?!" Seru Robby memanas-manasi. Kebiasaan Robby memang belum berubah.


"Apalagi, kak Setya juga memberikan maskawin rumah untukku. Ku rasa itu lebih dari cukup." Imbuh Intan bangga. Robby yang mendengar itupun mendengus kesal.


"Hahaha. Sudahlah, kau gak bakal bisa melawan pasangan ini. Mereka uda sama-sama bucin!" Seru Toni mengingatkan.


Kemudian mereka masih terus mengobrol dan bercengkrama bersama. Setelah itu, satu-persatu tamu undangan yang akan pulang, memberikan selamat dulu pada kedua mempelai. Rehan juga ikut naik dan mengucapkan selamat pada sang kakak.


"Kak Bayu, tolong jaga kakakku dengan baik yaa.. Kak Ifa, kakak gak perlu lagi mengkhawatirkan mama dan rumah. Sekarang, Rehan sudah dewasa. Rehan yang akan mengambil alih semuanya. Terima kasih sudah jadi kakak yang kuat selama ini. Aku bangga pada kakak." Ucap Rehan dengan senyum tulus.


"Dasar bocah! Kenapa perkataanmu hari ini membuatku terharu, huh?! Sampai kapanpun aku akan terus menjadi kakakmu! Gak peduli aku sudah menikah atau enggak. Bagiku, kamu tetap adikku. Kalau kamu menemui kesusahan, jangan malu utuk memberitahuku, ok?" Jawab Ifa sambil memeluk sang adik.


"Iya-iy bawel ... Semoga bahagia selalu ya kak." Ucap Rehan tulus. Ifa tak sanggup lagi menahan air matanya.


Bayu yang melihat itu juga ikut terharu. Dia bisa membanyangkan bagaimana kehidupan Ifa dan Rehan dari kecil tanpa seorang ayah. Sedangkan, mama mereka juga selalu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bagi Rehan, Ifa pasti sangat penting baginya. Bukan hanya seperti kakak, tapi ibu dan ayah sekaligus.


Malam semakin larut. Semua tamu undangan sudah pulang dari tadi. Kini, hanya tersisa keluarga dekat saja.


"Kami pulang dulu. Kita sudah memesankan kamar tadi untuk kalian." Ucap papa Bayu.


"Ya. Terima kasih pa. Sekarang kalian boleh pulang" Jawab Bayu dengan senyum lebar.


"Dasar bocah! Sudah, yuk kita jangan ganggu dia lagi." Seru ayah pada yang lain.


"Om, memang sangat pengertian." Goda Bayu dengan senyum diwajahnya.


"Baiklah, kami gak akan menggaggu. Kami pulang dulu." Ucap mama dengan senyum geli. Akhirnya, mereka semuapun pulang ke rumah masing-masing dan meninggalkan pasangan baru itu.


"Sayang, sekarang tinggal kita berdua. Ayuk oergi ke kamar kita." Ucap Bayu menggoda. Ifa tak lagi bisa mengelak sekarang.


"Ya ..." Jawab Ifa sambil menunduk malu. Bayu tersenyum melihat itu. Dengan jahil, dia pun menggendong Ifa dan membawany ke kamar


"Ah, kak Bayu. Turunin aku! Aku bisa jalan sendiri." Seru Ifa malu.


"Gak apa-apa. Biar lebih cepet." Seru Bayu dengan senyum semakin lebar.

__ADS_1


Kak Bayu seperti buldosser!! Mengerikan!!


Setelah sampai di kamar mereka, Bayu pun menurunkan Ifa dengan lembut di tepi ranjang. Ifa memalingkan wajahnya dari Bayu karna terlalu gugup.


"Sayang, tatap aku ..." Pinta Bayu lembut. Perlahan Ifa menoleh dan menatap Bayu.


"Aku mencintaimu." Ucap Bayu dengan tatapan yang menunjukkan penuh cinta.


"Aku juga." Jawab Ifa malu-malu.


Kemudian, Bayu mendekat ke arah Ifa dan mulai menciumnya. Ifa mencengkram kuat jas Bayu karna terlalu gugup. Walaupun, Bayu menciumnya dengan sangat lembut. Perlahan, Bayu mendorong tubuh Ifa sampai tertidur. Dia terus mencium Ifa. Tangannya juga akan membuka resleting gaun Ifa. Ifa membelalakkan mata karna terkejut. Reflek dia menundukkan kepala, sampai ciuman Bayu terlepas.


"Kenapa?" Tanya Bayu bingung.


"Ehm, aku mau mandi." Seru Ifa sambil mendorong Bayu dan berlari ke kamar mandi.


Di kamar mandi Ifa menarik nafas panjang. Ia merasakan debaran jantungnya yang sangat kencang.


"Kak Bayu sangat liar!" Gumam Ifa dengan wajah bersemu merah.


"Sayang ... Mau mandi bersama?" Seru Bayu dari luar kamar mandi. Ifa sampai terjingkut kaget dengan panggilan Bayu itu.


"Gak mau! Kak Bayu tunggu di luar saja. Aku aka segera selesai." Jawab Ifa yang masih malu.


Bayupun tersenyum melihat tingkah Ifa. Diapun patuh dan menunggu Ifa di luar. Dia membuka jas, dasi dan beberapa kancing bajunya. Dia menunggu Ifa di atas tempat tidur dengan gaya menggoda, bersiap menyabut Ifa saat dia keluar kamar mandi.


Tak lama kemudian, Ifa pun keluar kamar mandi dengan jubah mandi dan rambut basah. Bayu sampai menelan salivanya keras.


"Sayang, kemarilah." Panggil Bayu agar Ifa mendekat. Ifa dengan patuh mendekati Bayu.


Saat Ifa sudah dekat, Bayu menarik tangan Ifa sampai dia terjatuh di tempat tidur. Bayu akan mencium Ifa lagi, tapi ditahan oleh Ifa.


"Ada apa lagi?" Tanya Bayu yang terlihat kesal.


"Kak Bayu ... Sebenarnya ... Aku kedatangan tamu." Jawab Ifa dengan wajah polosnya.


"Apa?! Serius?! Kamu gak becanda kan?!" Seru Bayu terkejut. Dia langsung terbangun dari posisinya dan menatap Ifa untuk memastikan.


"Iya." Jawab Ifa singkat.


"Hahh.. Kenapa harus sekarag?! Apa gak bisa ditunda?!" Tanya Bayu memelas.


"Ya gak bisalah kak!" Jawab Ifa sambil menggelenkan kepalanya.


"Berapa lama?" Tanya Bayu lagi.


"Hm, biasanya seminggu atau 10 hari?" Jawab Ifa mengingat siklusnya.


"Lama sekali. Kamu tega sekali padaku." Seru Bayu sambil membenamkan wajahnya ke pangkuan Ifa.


"Maaf-maaf. Aku juga gak menduga, akan datang hari ini. Sekarang, suamiku sayang. Mau bantu beli keperluan kedatangan tamu istrimu ini ke supermarket?" Tanya Ifa dengan senyum diwajahnya.


"Masa aku sih sayang? Aku gak pernah beli begituan lho." Rengek Bayu manja.


"Yauda aku aja. Biarin istrimu ini malam-malam keluat sendiri. Kalo sampe ada apa-ap .."


"Yaya. aku yang pergi." Seru Bayu cepat. Dia segera meraih dompet dan kunci mobil dan berjalan keluar kamar. Ifa sebenarnya kasihan melihat suaminya itu. Tapi, dia juga merasa lega karna dia masih belum siap juga sebenarnya.


"Tunggu 10 hari lagi ya kak. Setelah itu aku tak akan kabur lagi.." Ucap Ifa menatap pintu dimana Bayu keluar tadi.


Sedangkan, Bayu dengan lesu dan wajah cemberut menyeret kakinya untuk membeli pesanan sang istri.


"Huh, buruk sekali nasib malam pengantiku ini." Gerutu Bayu kesal.


.


.


.


Bersambung..


...----------------...


Bayu : Author tegaa!!

__ADS_1


Author + Reader : 😂😂😂😂😂😂


...----------------...


__ADS_2