
Hari beranjak malam dan malam semakin larut. Hanya beberapa menit tersisa untuk merayakan pergantian tahun. Di meja sudah tersusun beraneka ragam makanan yang sudah selesai dibakar. Saat itu semua sudah berkumpul di halaman samping. Dinginnya malam tak menyurutkan semangat mereka untuk menanti detik pergantian akhir tahun.
Sebelumnya, Setya sudah berhasil menenangkan Tasya. Walaupun dengan sedikit tidak bersemangat Tasya tetap ikut bergabung dengan yang lainnya. Dia tidak ingin kesedihannya mempengaruhi kebahagiaan yang lainnya hari itu. Cukup dia saja yang memendam perasaannya dan menatap Bayu dari jauh bahagia dengan kekasih pilihannya.
"Ayuk ke rooftop, pasti disana pemandangan kembang apinya akan sangat indah!" Ajak Ifa antusias saat jam mendekati pergantian akhir tahun semakin dekat.
"Kamu mau ke rooftop?" Tanya Setya pada Intan. Intan mengangguk setuju.
"Baiklah, ayo kita ke atas." Ajak Bayu sambil menggandeng tangan Ifa diikuti Intan dan Setya.
"Apa gak ada yang ikut kami ke rooftop?" Tanya Intan menawarkan sebelum menyusul Ifa dan Bayu yang sudah berjalan lebih dulu.
"Tidak perlu, kalian saja yang masih muda." Jawab mama santai.
"Tasya, Dika kalian gak mau ikut?" Tanya Setya. Tasya menggeleng pelan dan memilih tetap duduk diayunan sambil memainkan ponselnya.
"Tidak kak. Aku mau makan saja disini." Jawab Dika acuh.
Akhirnya, Intan dan Setya segera menyusul Ifa dan Bayu ke rooftop. Setya terus menggenggam tangan Intan yang terasa dingin. Intan yang tangannya terus digenggam oleh Setya pun merasakan hangat ditangannya yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Waaahhh!!!!" Seru Intan terpesona dengan pemandangan di depannya. Kerlap-kerlip pemandangan kota menghiasi malam itu.
Intan berdiri tak jauh dari pasangan Ifa-Bayu yang juga menikmati pemandangan itu. Ifa berdiri dengan memeluk lengan Bayu sembari. menyandarkan kepalanya di bahu Bayu.
"Sangat indah!!" Seru Intan antusias.
"Kamu benar. Cantik sekali Tan!!" Imbuh Ifa tak kalah antusias dengan Intan.
Setya tersenyum melihat Intan yang terlihat bahagia dengan senyum cantik yang terus menghiasi wajahnya. Setya, kembali teringat akan perkataan Intan beberapa waktu lalu, kalau dirinya sedang memikirkan untuk pindah sekolah. Walaupun dengan berat hati, Setya akan terus mendukung apapun keputusan Intan. Asal Intan bisa tersenyum seperti saat ini.
Setya berjalan mendekati Intan dan memeluknya dari belakang, mendekap Intan ke dalam jaketnya. Intan terkejut dengan yang dilakukan Setya, namun dia pun tersenyum senang, karna kehangatan mulai menjalari tubuhnya.
"Disini dingin. Aku gak mau kamu masuk angin." Ucap Setya lembut di telinga Intan.
"Terima kasih." Jawab Intan dengan senyuman di wajahnya.
Beberapa saat hening diantara mereka. Mereka masih asyik menikmati pemandangan di depan mereka, semua seakan terhipnotis dengan pemandangan itu.
"Ini sangat indah!! Apa kakak setiap tahun melihat pemandangn ini?" Tanya Intan masih dengan menatap pemandangan di depannya.
"Walaupun setiap tahun kami kemari, tapi aku jarang ke rooftop. Biasanya kami hanya merayakan di taman saja." Jawab Setya lembut.
"Tapi, sekarang kakak sudah melihatnya kan? Bagaimana cantik sekali bukan?" Tanya Intan lagi sambil memutar tubuhnya menghadap Setya. Setya masih memeluk Intan.
"Cantik, sangat cantik. Senyummu selalu cantik dan membuatku berdebar-debar." Ucap Setya dengan senyum diwajahnya. Dia mengarahkan tangan Intan pada dadanya, agar Intan bisa merasakan debar jantungnya saat ini.
"Ih, apa'an sih kak. Kok jadi bahas aku, disini bukan hanya ada kita saja." Ucap Intan malu.
"Biarkan, lihatlah mereka juga asyik dengan dunia mereka sendiri." Seru Setya sambil menoleh pada Ifa dan Bayu yang sama sekali tak menghiraukan Intan dan Setya.
"Lagipula, aku mengatakan yang sejujurnya. Daripada pemandangan itu bagiku senyummu yang lebih cantik. Makanya aku akan pastikan kamu akan terus tersenyum ... Walaupun itu, akhirnya kamu harus pindah sekolah." Ucap Setya lembut walaupun dapat Intan lihat kesedihan jelas terlihat saat Setya mengucapkan kalimat terakhirnya.
Dengan perlahan Intan mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Setya.
"Terima kasih karna kakak selalu mendahulukan kebahagiaanku. Tapi, aku juga ingin melihat kak Setya juga bahagia ... Sebelumnya, aku sudah berjanji pada kakak kalau aku akan berusaha menjadi lebih baik untuk kakak bukan? ... Beberapa hari ini aku juga sudah memikirkan ini baik-baik. Aku ... Tidak akan pindah! Aku akan selalu bersama kakak, supaya kakak gak digodain gadis lain." Ucap Intan dengan senyuman di wajahnya.
__ADS_1
"Kamu serius?!" Seru Setya dengan nada sedikit tinggi sampai membuat Ifa dan Bayu menoleh pada mereka.
"Iya. Aku sangatttt serius!!" Jawab Intan yakin.
"Terima kasih!! Aku janji akan selalu menjagamu! Dan aku akan pastikan kamu akan selalu bahagia!" Seru Setya senang, ia dengan segera memeluk Intan dengan sangat erat. Intan juga membalas pelukan Setya dengan senyuman lebar.
"Ada apa?" Tanya Ifa penasaran.
"Intan tidak akan pindah!" Seru Setya yang terlihat sangat senang.
"Benarkah?! Terima kasih Intan!!" Seru Ifa yang tak kalah bahagianya. Ia juga berhambur memeluk Intan.
"Kedepannya aku masih akan merepotkan kalian semua. Tolong bantu aku yaa." Ucap Intan dengan senyuman. Semua menjawab dengan anggukan dan senyuman.
Door!!
Dooorr!!!
Bertepatan dengan itu suara kembang api diiringi dengan gemerlapnya memenuhi langit malam itu.
"Selamat tahun baru.." Ucap Setya lembut menatap Intan.
"Selamat tahun baru.." Jawab Intan lembut juga menatap Setya.
Mereka pun kembali berpelukan. Ifa dan Bayu pun juga melakukan hal yang sama.
...****************...
"Anak-anak turun!! Ini ada jagung bakar, cepat makan selagi panas!" Teriak mama dan bunda dari bawah.
"Ayuk turun dulu!" Seru mama.
"Baik, kami akan segera turun." Jawab Intan dengan senyuman.
"Kenapa?" Tanya Setya bingung.
"Bunda dan tente selesai membakar jagung. Kita disuruh untuk turun dan memakannya selagi masih panas." Seru Intan antusias.
"Oh, baiklah. Bay, yuk turun makan jagung bakar." Ajak Setya pada Bayu yang masih menikmati kembang api bersama Ifa.
"Sebentar lagi. Kami akan segera munyusul!" Jawab Bayu tanpa mengalihkan pandangannya.
"Baiklah. Kami turun duluan yaa.." Ucap Setya sebelum menggandeng tangan Intan untuk segera turun.
Di tangga Intan dan Setya bertemu dengan Tasya yang akan ke rooftop.
"Mau kemana?" Tanya Setya bingung.
"Tadi kakak tak mendengar panggilan dari mama, jadi aku disuruh naik untuk memanggil kalian." Ucap Tasya datar.
"Kami sudah turun, Bayu dan Ifa akan menyusul sebentar lagi. Kamu tak perlu ke atas lagi." Jawab Setya lembut.
"Oh, baiklah. Kakak turun dulu saja, aku mau mencharger ponselku di kamar." Ucap Tasya sembari berjalan ke arah kamar.
__ADS_1
Intan dan Setya kembali melanjutkan perjalanan mereka ke tempat dimana orang tuanya berkumpul.
"Wah! Ini enak sekali. Apalagi suasana dingin seperti ini." Seru Intan senang saat memakan jagung bakarnya.
"Makan pelan-pelan. Lihatlah kamu belepotan." Ucap Setya sembari membersihkan bibir Intan yang belepotan saus dari jagung bakar.
Ayah yang melihat itu langsung mengambilkan tissu untuk Intan. Ia menatap Setya dengan tajam, yang lain hanya bisa menatap geli melihat kecemburuan ayah Intan pada Setya.
"Dimana yang lain? Tasya juga. Mama tadi menyuruhnya memanggil kalian, tapi kenapa dia ikut menghilang sekarang?" Tanya mama Setya bingung.
"Kak Bayu dan Ifa akan segera menyusul, mereka masih liat kembang api. Kalau, Tasya mencharger ponselnya di kamar tante." Jawab Intan memberitahu.
"Aku akan ke kamar mengambil jaket. Ini semakin dingin!" Seru Dika sebelum melangkah masuk ke dalam villa.
Setelah mengambil jaket, dia tak sengaja melihat Tasya yang menaiki tangga untuk menuju rooftop. Dia ingat perkataan kakanya yang mengatakan kalau Bayu dan Ifa masih ada di atas. Dan sebelumnya Dika tahu kalau Tasya menyukai Bayu, tapi kenapa justru sekarang Tasya malah naik ke atas, bukankah itu akan sangat menyakitkan?
Dika awalnya ingin mengabaikan itu dan langsung kembali turun. Tapi, entah kenapa langkah kakinya malah mengarah untuk mengikuti Tasya.
"Dasar! Kenapa aku sebaik ini jadi orang!" Gerutu Dika pada dirinya sendiri.
Di lain sisi Ifa dan Bayu masih menikmati waktu kebersamaan mereka bersama.
"Kak Bayu, kakak tahu saat aku jatuh ke tebing waktu itu tubuhku terasa sangat sakit sampai aku tak sanggup untuk bangun. Waktu itu aku mengira akan berakhir disana sendirian. Tapi, ketika aku mendengar suara kak Bayu memanggilku, seakan aku mendapatkan kekuatan baru dan mencoba bertahan untuk menunggu kak Bayu. Aku tahu kak Bayu pasti akan datang menemukanku ... Jadi, terima kasih ... Terima kasih sudah menjadi sandaranku." Ucap Ifa lembut sambil menatap Bayu dengan mata berkaca-kaca.
Ifa menyampaikan isi hatinya. Ini pertama kali, ia bisa terlihat lemah dihadapan orang lain. Selama ini Ifa selalu ingin terlihat kuat bahkan didepan mamanya sendiri. Tapi, setelah Bayu datang Ifa seakan memiliki sandaran, tempat dia bisa menunjukkan kelemahannya.
"Kenapa berterima kasih padaku, hmm? Aku sangat senang kalau kamu mau menjadikanku sandaranmu. Dan sampai kapanpun, aku akan terus menjadi sandaranmu." Ucap Bayu lembut sembari mengusap air mata yang mulai keluar dari mata Ifa.
"I Love You.." Ucap Ifa lembut sambil menatap Bayu dalam.
"Love You too.." Ucap Bayu dengan senyuman diwajahnya.
Kemudian, perlahan Bayu mendekatkan wajahnya pada Ifa. Ifa yang melihat Bayu mendekatkan wajahnya pun segera menutup matanya. Sampai ia merasakan bibir Bayu mendarat dibibrinya. Bayu juga menutup matanya dan mulai dengan lembut mengelum bibir Ifa dengan perlahan. Seakan ingin menyampaikan apa yang dia rasakan.
Tanpa mereka sadari mereka dilihat oleh Tasya. Sebelumnya Tasya yang sudah selesai men-charger ponselnya dan akan kembali turun merasa penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Ifa dan Bayu. Akhirnya, ia memutuskan untuk melihatnya diam-diam. Melihat betapa Bayu sangat lembut pada Ifa, membuat Tasya sadar bahwa ia memang tak memiliki tempat dihati Bayu. Ia merasa sesak, namun juga bahagia karna melihat Bayu bahagia.
Sampai, saat ia melihat Bayu yang mulai mendekatkan wajahnya pada Ifa. Tasya membulatkan matanya terkejut. Namun, tepat sebelum adegan yang tidak mau dilihatnya terlihat, pandangannya menjadi gelap. Ada tangan yang menutup matanya dan dengan segera memutar tubuhnya ke arah lain.
"Jangan melihatnya!" Seru suara pria. Tasya mendongak menatap orang itu dan ternyata itu Dika.
"Kamu..?" Ucap Tasya yang masih terkejut.
"Jangan melihat sesuatu yang akan membuatmu terluka. Bodoh!" Ucap Dika acuh, kemudian ia berjalan meninggalkan Tasya seorang diri.
"Bodoh? Aku?! Berani-beraninya dia!!" Seru Tasya kesal, karna sudah dipanggil bodoh oleh Dika.
Akhirnya, ia berlari mengajar Dika dan melupakan rasa sesak yang sebelumnya ia rasakan saat melihat kemesraan Bayu dan Ifa. Dika juga dengan cepat berjalan kembali menuju ke tempat semua orang.
"Dasar gadis bodoh! Kenapa menyiksa diri sendiri untuk melihat sesuatu yang akan membuatnya terluka!" Gumam Dika heran mengingat Tasya.
Tapi, kenapa aku peduli kalau dia akan terluka?!
.
.
__ADS_1
.
Bersambung..