
CUKUP lama pingsan, Kekira membuka mata dan mendapati Akbi bersama geng Tyrex menatapnya khawatir.
Ternyata sudah pagi.
“Alhamdulillah kamu udah siuman.” Akbi membantunya duduk.
Goga memberikan sebotol air. “Ini, Bi.”
“Minum dulu, Ki. Jangan sampai kamu dehidrasi.”
Ia meminumnya beberapa teguk, lalu mendesah lega.
“Ini di mana?” tanyanya masih lemah.
“Masih di hutan. Lokasinya nggak jauh dari rumah tua tempat kamu disekap.”
“Bi, Tara juga udah sadar.” Hendri memberitahu.
Kekira kaget. “Tara? Kenapa dia?”
“Kita nemuin Tara di tempat yang sama.” Egi menjelaskan.
“Untuk bisa nerobos masuk, kita bikin keributan di luar dengan petasan untuk mancing para kecoa itu keluar.” Andre menambahkan.
“Bi, Dedy dan Elon bawa dua korban lagi.”
Mereka menoleh.
Dedy dan Elon memapah dua cewek yang lemah dengan baju sobek-sobek.
“Cepet kasih minum. Kayaknya selama disekap mereka nggak dikasih makan.”
Suasana begitu ramai.
“Egi, lo udah lapor polisi?”
Egi mengangguk. “Mereka menuju ke sini. Karena masih banyak korban di dalem. Terlalu bahaya karena antek-antek penculik itu bawa senjata api.”
“Bira, kayaknya kita harus cepet pergi. Mereka menuju ke sini.” Goga memperingatkan.
Akbi melihat kondisi Kekira, Tara, dan dua korban begitu lemah.
Ia harus cepat memutuskan.
“Oke kita berpencar. Titik kumpul kita di desa seberang utara. Hendri dan Elon, kalian bawa Tara. Egi, Andre, Goga, dan Dedy, kalian urus dua cewek itu. Sementara gue bawa Kekira. Kita nyebar ke arah beda, jangan lupa saling contact.”
Semua setuju, dan melakukan tugas masing-masing.
***
“Bi, aku nggak kuat lagi.”
“Kamu pasti kuat, Ki!” Akbi membantunya berjalan.
Kekira ambruk di pelukan Akbi.
__ADS_1
Segera Akbi menggendongnya dan mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Di atas jembatan ada rumah penduduk.
Tanpa pikir panjang, ia membawa Kekira ke sana dan minta pertolongan.
Penghuni rumah itu suami istri yang sudah tua, dan mempersilakan mereka beristirahat di dalam.
“Kamu makan dulu.” Akbi membantu Kekira makan singkong rebus yang diberikan Nenek Minah.
Setelah itu ia memberikan obat.
Keadaan Kekira mulai membaik.
Ia menatap Akbi lemah. “Kok kamu bisa bawa obatku?”
“Waktu kasus di Gunung Salak, aku lupa balikin obat kamu. Dan selalu aku bawa ke mana pun aku pergi.” Akbi lega tindakannya tepat.
“Bi, aku…” Kekira menggigit bibir.
Akbi mengusap kepalanya. “Ada apa?”
“Mas Riga pelakunya, Bi. Aku nggak nyangka, orang yang selama ini aku belain, yang membuat aku harus terus berbohong sama Ayah Bunda seakan kami bahagia, ternyata buronan yang selama ini dicari polisi.”
Akbi geleng-geleng kepala. “Emang gila tu orang!”
“Dan satu lagi…” Kekira menoleh ke arah lain. “Aku nguping waktu kamu dan Tara ngobrol di depan rumah. Dan aku liat, foto cowok pelaku pembunuhan Tari. Pelakunya itu Andra, adiknya Riga.”
Akbi kaget. “Nggak mungkin, karena pelakunya itu Evan…” ia terdiam dan berpikir.
Ia teringat pernah melihat Evan telanjang dada waktu mereka di pantai, dan tidak menyadari ada luka di bahu kanan seperti yang Tari bilang.
Tangannya terkepal emosi.
Lalu Kekira menceritakan semua.
Bahwa kakak beradik itu menjadi psikopat setelah ibu mereka meninggal.
“Dan Veni share location itu untuk minta tolong. Ternyata pelaku sebenarnya itu Mas Riga.”
“Kamu tenang aja, kita udah panggil polisi. Mereka yang akan bebasin Veni.”
“Tapi gimana bisa kamu nemuin aku?”
Akbi memegang tangannya. “Jam tangan kamu ini udah aku pasangin GPS. Karena aku khawatir kamu kenapa-napa.”
Ia terdiam dan memalingkan wajah.
“Kenapa kamu nolong aku? Bukannya nolongin Tara.”
“Tara? Kenapa harus aku yang tolong dia?”
“Bukannya dia pacar kamu? Tara kirim foto kalian yang lagi pelukan, dia juga bilang kalian udah jadian. Dan dia minta aku jauhin kamu.”
Akbi mengerutkan dahi.
__ADS_1
Pelukan?
Apa itu …?
Ia geleng-geleng kepala.
Berarti Tara menjebaknya, setelah pura-pura sedih ia memeluknya, dan menyuruh orang mengambil gambar.
“Kami nggak jadian kok.”
Kekira tidak langsung percaya. “Aku tau kamu suka dia. Dia kan sodara kembar almarhum Tari. Nggak masalah, kalo aku harus jauhin kamu.”
“Kekira, I will tell you something. Memang Tara saudara kembar Tari. Tapi apa kamu mengira, aku gampang jatuh cinta karena itu? Mereka kembar, tapi yang namanya perasaan nggak bisa ditipu semirip apapun mereka. Kamu udah salah paham.”
Kekira tidak menjawab. Masih sulit percaya.
“Apa yang kamu pikirkan semuanya nggak benar. I tell you the truth. Tara memang nembak aku saat itu. Tapi aku tolak dia. Dan pelukan itu, nggak berarti apa-apa. Aku cuma nenangin dia yang nangis saat itu. Dan kami cuma berteman, nggak lebih.”
Akbi hampir putus asa menjelaskan apalagi melihat Kekira sudah berkaca-kaca.
“Please believe me..”
Air mata Kekira mengalir. Ia sendiri tidak mengerti kenapa.
“Apa kamu cemburu sama Tara?”
“Apa alasan aku untuk cemburu,” elak Kekira.
Akbi mengusap air mata di pipinya. “Kamu merasa nggak nyaman lihat aku sama Tara?”
Kekira tidak menjawab.
“I feel same. When I saw you and Riga together. I’m jealous, you know?” ungkap Akbi membuat Kekira menoleh kaget.
“Apa?”
Sebagai jawaban, Akbi menggenggam tangan Kekira.
“Aku sayang kamu, Kekira.”
Kekira terperangah tidak percaya.
"Jangan bercanda, Bi. Nggak lucu ah."
"I'm not kidding. Aku tau, mungkin ini bisa ngerusak persahabatan kita. Tapi, apa salah kalau aku punya perasaan ini? Aku marah liat perlakuan Riga ke kamu, tapi lebih marah lagi karena nggak bisa berbuat apa-apa. Kamu selalu belain Riga meski dia bersikap buruk. Perasaanku jauh lebih nggak nyaman lihat itu.”
Pernyataan Akbi membuat Kekira salah tingkah.
“Sekarang, aku nggak peduli apapun. Aku cuma pengen kamu tau perasaanku yang sebenernya.”
Mereka terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Kamu istirahat aja. Aku keluar dulu.” Akbi berdiri meninggalkan ruangan.
Kekira terisak. “Ternyata ini yang aku rasakan.”
__ADS_1
***