Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
36. Ternyata....!!


__ADS_3

UDARA terasa pengap dan suasana gelap.


Kekira terbatuk-batuk karena banyak debu.


Ia membuka mata dan tertegun.


“Di mana aku?”


Menyadari tubuhnya terikat pada kursi ia makin takur.


“Ya Allah… siapa yang ngelakuin ini semua?”


Matanya mengerjap karena kepalanya sakit, sepertinya berdarah.


Ia baru ingat barusan mobilnya kecelakaan.


Tapi ia malah diikat begini?


Apa jangan-jangan dia jadi korban penculikan?


Tiba-tiba pintu terbuka.


Ada bayangan hitam dan diterpa cahaya remang-remang lampu luar.


“Siapa itu?” teriaknya.


Sosok itu jalan mendekat.


Begitu berdiri di depannya, Kekira kaget.


“Mas Riga?! Mas, ini di mana, Mas?! Kita diculik ya? Mas, lepasin aku dulu, kita harus cepet kabur dari sini!”


Riga melipat kedua tangan sambil menatap Kekira.


“Mas? Kenapa Mas diem aja? Cepet lepasin aku! Ini pasti Veni yang tangkep kita, dia itu komplotan penculiknya, Mas! Aku nemu banyak video penculikan di HP-nya. Dia itu buronan. Mas, ayo cepet kita pergi dari si…ni…” kata-katanya terhenti melihat tangan Riga.


Itu kok bekas..?


Riga menaikkan alis sambil menunjukkan tangannya.


“Ini? Bekas gigitan kamu. Ternyata kamu berani juga ngelawan?”


“Maksud Mas Riga apa sih?!” Kekira belum ngeh.


Tawa Riga meledak dan bertepuk tangan.


Kekira terperangah.


“Adinda… jadi kamu masih mikir ini semua perbuatan Veni?” tanya Riga tertawa sinis.


Kekira mendadak jadi takut.


Apa jangan-jangan… Riga yang menyerangnya kemarin malam?!


Dengan kata lain, pelakunya….!?


Riga berlutut di depan Kekira dan tersenyum super manis.


“Perlu aku perjelas lagi? Kayaknya kamu udah ngerti kalo ini semua rencana aku.”


“Apa maksudnya semua ini?!” teriak Kekira histeris. “Kamu pelakunya?”


Riga tersenyum bangga. “Iya, Sayang. Aku ini buronan yang sesungguhnya.”


Kekira menegang dan berkeringat dingin.


“Aku mohon jangan bercanda, Mas!”


“Ssssttt…” Riga mengelus pipi Kekira yang mulai menangis. “Jangan takut, Sayang. Aku nggak akan nyakitin kamu. Calon istriku..”


“Apa maksud kamu ngelakuin ini semua, Mas?!”

__ADS_1


“Hey enggak usah teriak. Percuma. Nggak akan ada yang dateng nolong kamu.”


Riga berdiri dan memeluk Kekira dari belakang sambil mengendus wangi parfum yang menempel di kerudungnya.


Percuma Kekira berontak. Ikatannya terlalu kuat.


“Emang kamu pikir, perempuan muda kayak kamu bisa ngendaliin kami para pria? Kalian tuh cuma perusak moral pria!”


Kekira menggigit bibir, air matanya tidak tertahan.


“Aku nggak ngerti maksud kamu!”


“Asal kamu tau, gara-gara perempuan seperti kamu, Mamaku bunuh diri! Papa selingkuh karena digoda perempuan muda! Gara-gara itu aku dan adikku harus kehilangan Mama! Kami menyaksikan Mama lompat dari atap dan mati seketika. Adikku saat itu baru umur 5 tahun menyaksikan hal tragis. Sejak itu, kami bertekad untuk menghancurkan semua wanita muda yang ada. Jauh lebih baik kalian musnah! Gara-gara pesona kalian, kami sampai kehilangan Mama! Kalau kalian musnah, nggak ada lagi anak yang menderita kayak kami berdua yang kehilangan sosok Mama!”


“Apa?! Kamu dendam gara-gara itu, Mas? Kenapa kamu malah lampiasin dengan cara begini? Menyiksa batin dan fisik orang tidak menyelesaikan masalah! Kamu bisa dipenjara, Mas!”


Riga mencengkeram dagu Kekira, keras. “I don’t care! Yang penting aku puas! Ngeliat para racun itu menangis kesakitan minta ampun, hahaha… I like that!”


“Jadi bener, yang culik aku dan temen-temenku di Gunung Salak itu Mas Riga?”


“That’s right, honey.”


Pantes aku ngerasa kenal dari gerak-geriknya, batin Kekira meronta takut.


“Jadi bukan Veni pelakunya?”


“Veni? Hmmm… dia tuh cuma penghalang. Tapi keuntungan juga buatku, karena dia mau jadi kacung. Aku seneng aja, dia mainan yang asyik di tempat tidur. Sayangnya boneka tetep boneka. Perempuan kayak kalian cuma ngerusak hubungan orang lain!”


“Ja-jadi, bener kalo Veni hamil anak kamu, Mas?”


“Ya seratus buat kamu. Tapi ya itu bukan salahku. Dia nggak punya hak buat minta tanggung jawab. Salah sendiri.”


Berarti, Veni mengirim share location itu memang meminta tolong?


Veni pasti disekap.


“Lalu kenapa mau nikahin aku?!” jerit Kekira tertahan. “Kamu mau bunuh aku?”


“Lepasin aku!” jeritnya.


Riga tersenyum bangga. “Dari awal aku udah ngincer kamu. Cuma karena Papa terlalu belain kamu, aku mesti ngulur-ngulur waktu sampe pernikahan kita. Nggak disangka, kamu nemuin HP-nya Veni.”


“Kamu sakit jiwa, Mas! Kamu psikopat! Aku bersyukur nggak jadi nikah sama kamu!”


“Manis banget omongan calon istriku ini… pantes Papa suka. Aku udah baca jelas jalan pikiran kamu. Setelah ambil hati Papa, kamu berniat menguasai seluruh harta Papa kan? Kerudung kamu ini nggak menjamin kemunafikan kamu!”


“Toloooongggg!!!” teriaknya.


Plaakkkkkk!!


“Masih untung ya aku biarin kamu hidup! Jangan macem-macem! Ini tempat terpencil, dan kamu bisa membusuk di sini kalo nggak aku kasih makan!”


Kekira merasa pipinya panas.


Riga mengedipkan mata dan mencium pipi Kekira yang langsung meronta.


“Jangan sentuh aku!”


“Baik-baik di sini. Aku mau cari buruan lain.”


Begitu Riga pergi, Kekira mencoba melepaskan ikatannya, namun terlalu kuat.


Air matanya membanjir.


“Ayah, Bunda… tolong aku.”


Teringat Akbi.


Ia menggeleng.


“Dia pasti lagi sama Tara. Percuma, dia nggak akan peduli sama aku. Lagipula Tara sendiri yang minta aku jangan deket-deket Akbi lagi.”

__ADS_1


Tiba-tiba pintu terbuka lagi.


Matanya makin panas. “Kamu! Lepasin aku!”


Adiknya Riga yang tidak kalah menyeramkan dengan kakaknya, mendekatinya penuh kelembutan.


“Tenang aja, iparku sayang… cuma mau ngajak main sebentar.”


Ia memejamkan matanya ketika Andra mendekatinya dengan nafas memburu, Ya Allah… selamatkan hamba-Mu!


HP-nya berbunyi.


“Ahhh ganggu aja sih! Halo? Ada apaan? Oh kalian udah nangkep dia? Bawa langsung ke sini. Biar jadi urusan gue!” begitu menutup telepon, Kekira tidak berani membuka mata.


“Besok kita lanjutin. Bye..”


Ia menghindar jijik ketika orang itu mau menciumnya.


***


Hari masih gelap.


Entah sudah jam berapa.


Kekira betul-betul lemas, karena seharian tidak makan dan minum, juga tidak meminum obatnya.


Tenggorokannya kering karena teriak-teriak minta tolong, tapi sepertinya dia benar-benar di tempat terpencil.


Kepalanya serasa berputar, bibirnya memutih, matanya mengerjap lemah.


Ya Allah… kumohon, berilah kesempatan agar hamba dapat bertemu kembali orangtua hamba. Hamba tidak ingin kepergian hamba tidak diketahui mereka. Jika sulit bagi mereka menemukan hamba, berilah hamba kekuatan untuk keluar dari sini. Doanya.


Tiba-tiba terdengar bunyi petasan nyaring membuatnya kaget.


Sepertinya bunyi itu tidak terlalu jauh.


Lalu terdengar keributan di luar bangunan, seperti ada yang berkelahi.


Ia jadi makin takut, namun tidak punya tenaga untuk mencoba melepas ikatannya.


Saking kerasnya berusaha melepaskan tali, tangannya sampai berdarah tergesek tali berduri.


Darahnya menetes dan sudah mengering.


Terdengar suara langkah kaki.


Ia menegang.


Apa Riga kembali?


Braaakkkk!!


Pintu didobrak keras.


Ia terperangah.


Akbi!?


“Kekira…” Akbi langsung memburunya.


Ia tergagap-gagap ingin mengatakan sesuatu tapi tidak bisa karena tenggorokannya kering.


Tanpa buang waktu, Akbi melepaskan talinya.


“Ki, kamu kuat jalan?”


Ia menggeleng lemah, dalam sekejap ia tak sadarkan diri.


Segera Akbi menggendongnya keluar.


***

__ADS_1


__ADS_2