
Flashback On
10 tahun sebelumnya
"Huhuhuhuhu ... Putri gak mau sekolah! Teman-teman di sekolah semua jahat!" Gumam seorang gadis kecil berusia 5 tahun dengan tangis tersedu-sedu. Dia adalah Putri.
"Kenapa nangis?" Tanya Setya usia 7 tahun. Ia mendekati Putri yang duduk seorang diri di bawah perosotan taman sekolah kanak-kanak.
"Kakak siapa? Kata mama gak boleh ngomong sama orang asing." Ucap Putri menatap Setya kecil dengan takut.
"Kakak bukan orang jahat kok. Kan rumah kita sebelahan. Namamu Putri kan?" Tanya Setya sambil duduk di depan Putri.
"Iya. Terus kakak siapa?" Tanya Putri menatap Setya bingung.
"Namaku Setya. Rumah kita sebelahan loh. Setya pernah liat Putri beberapa kali dari lantai dua rumah, kakak. Hehe." Jawab Setya dengan senyum cerah. Putri senang melihat Setya yang baik, jadi dia tidak takut lagi.
"Putri, kenapa nagis sendiri di sini? Sekolahnya uda masuk lohh.." Ucap Setya sambil melihat sekeliling taman kanak-kanak yang sepi.
"Putri gak mau sekolah, teman-temna semua jahat, mereka marahin Putri terus karna Putri gak mau minjemin mereka pensil warnanya Putri." Ucap Putri dengan bibir mengerucut.
"Memangnya kenapa Putri gak mau minjemin pensil warnanya Putri? Kan sesama teman harus saling meminjami?" Tanya Setya bingung.
"Soalnya, pensil warna itu hadiah ulang tahun dari papa. Putri takut kalau dipinjem temen-teman nanti rusak dan cepet habis." Jawab Putri polos.
"Oh begitu. Tapi, kakak yakin loh kalau sebenarnya papa Putri kasih hadiah itu juga supaya Putri bisa pinjemin ke temen-temen yang lain. Papa Putri pasti ingin Putri jadi seperti putri-putri yang dibuku dongeng. Baik hati dan suka menolong." Ucap Setya dengan senyum lebar.
"Benarkah, kalau Putri meminjamkan pensil warna ke temen-temen, Putri bisa jadi seperti putri yang dibuku dongeng?" Tanya Putri antusias.
"Iya. Lagian menurut kakak, Putri itu memang sudah seperti putri di buku dongeng, karna Putri itu cantik. Apalagi kalau baik hati, pasti lebih mirip Putri di buku dongeng." Jawab Setya polos.
"Wah.. Putri, mau jadi seperti putri-putri di buku dongeng! Kalau gitu, kakak yang jadi pangeran buat Putri ya?" Pinta Putri dengan mata berbinar.
"Tentu saja. Kak Setya akan jadi pangerannya Putri." Jawab Setya dengan senyum cerah.
"Horee!! Janji ya, kak Setya akan jadi pangerannya Putri selamanya?" Ucap Putri dengan menyodorkan jari kelingkingnya pada Setya.
"Janji.!!" Jawab Setya sembari menautkan jari kelingkingnya ke jari Putri.
Flashback Off
...****************...
Jam istirahat berbunyi, Intan dengan lesu langsung membenamkan wajahnya di atas meja. Rasanya sangat lelah. Memaksa diri sendiri untuk fokus, tapi sebenarnya gak bisa. Rasanya tenanganya lebih terkuras daripada biasanya.
"Kamu gak apa-apa Tan?" Tanya Linda yang mendekati Intan.
"Ouh. Yah, sedikit capek saja." Jawab Intan sambil mendongak menatap Linda. Tapi, dia sama sekali tak mengangkat kepalanya.
"Gosip ada seorang gadis yang meluk kak Setya tadi di parkiran itu bener?" Tanya Dharma yang ikut nimbrung.
__ADS_1
"Yah, begitulah. Memang hebat ya gosip di sekolah ini, cepet banget. Ngalah-ngalahin kecepatan cahaya." Gerutu Intan kesal.
"Kamu jangan terlalu kepikiran Tan. Aku rasa kak Setya itu baik dan setia banget kok sama kamu. Sebelum kalian jadian saja, dia benar-benar peduli padamu. Ku rasa, dia tidak akan mengecewakanmu." Ucap Linda mengingat perilaku Setya.
"Tapi, harus tetap waspada sih. Mata lelaki tuh gak bisa dipercaya." Sahut Dharma.
"Oh jadi, kalau ada gadis yang lebih cantik dari aku, kamu bakal ninggalin aku gitu?" Seru Linda menatap tajam Dharma.
Ya, keduanya sudah resmi jadian semenjak malam kegiatan pelatihan sebelumnya. Dan kini mereka sudah lebih romantis dan saling terbuka.
"Enggak dong sayang. Aku kan cintanya cuman sama kamu." Ucap Dharma merasa bersalah. Linda yang merasa kesal pun membuang muka dan melipat tangan didada.
"Uda-uda. Kenapa kalian malah berantem disini sih? Haih.." Gerutu Intan yang makin merasa kesal.
Dia sedang bad mood, malah dibuat makin gak mood karna Linda dan Dharma yang berantem. Tapi, perkataan Dharma tadi sebenarnya cukup membuat Intan kepikiran sih. Intan kembali membenamkan wajahnya dengan frustasi. Toni terus menatap Intan yang terlihat lesu dalam diam.
"Intan!!" Panggil Setya yang datang bersama Bayu untuk menjemput mereka.
"Tan, kak Setya dan kak Bayu sudah datang." Panggil Ifa dengan sedikit menepuk pelan punggung Intan. Intan segera mendongak dan menatap Setya yang sudah berdiri di pintu kelasnya dengan senyum lebar.
Setelah itu Intan dan Ifa segera bangkit dan berjalan ke arah Setya dan Bayu.
"Kamu kenapa? Sakit? Kenapa terlihat lesu seperti ini?" Tanya Setya khawatir.
"Tidak. Hanya saja tadi pelajarannya agak susah." Bohong Intan.
"Hm, begitu. Kalau ada yang mau kamu tanyakan padaku bilang saja ya." Jawab Setya lembut. Intan hanya mengangguk mengiyakan.
"Aku ikut!!" Seru Toni yang menghentikan langkah mereka.
"Toni? Kenapa?" Tanya Intan bingung, karna Toni tak pernah ikut makan siang bersama mereka sebelumnya.
"Ya tidak apa-apa. Hanya ingin saja. Apa tidak boleh?!" Seru Toni sinis.
"Dasar! Padahal aku belum jawab apa-apa. Kalau mau gabung ya silahkan saja. Terserahmu." Seru Intan acuh.
Setya menatap Toni bingung, sedangkan Toni menatap Setya dengan tajam. Setya baru pertama kali ini melihat tatapan Toni seperti ini lagi setelah Toni bilang untuk menyerah akan perasaannya pada Intan sebelumnya.
Kenapa bocah ini?! ... Setya.
Kemudian, mereka segera menuju ke kantin. Di pintu masuk Putri sudah menunggu mereka. Saat melihat Setya, Putri dengan antusias melambaikan tangan dengan senyum cerahnya. Intan yang melihat itu tanpa sadar mengeratkan gandengan tangannya pada Setya. Setya menyadari itu dan menatap Intan sekilas.
"Kak Setya! Putri sudah menunggu lama. Ayuk, masuk! Disana masih ada bangku kosong." Ajak Putri dengan menarik sebelah tangan Setya dengan antusias.
"Putri, aku bisa jalan sendiri okey?" Ucap Setya sambil berusaha melepaskan penganggan Putri pada tangannya.
"Ah, baiklah." Jawab Putri dengan wajah sedikit sedih.
Mereka segera menuju ke bangku yang masih kosong itu. Sebelum duduk, Setya menarikkan kursi untuk Intan. Putri yang melihat itu semakin kesal dibuatnya. Sedangkan, Toni terus mengamati Putri dengan tatapan dingin.
__ADS_1
"Kamu mau makan apa? Aku pesankan." Ucap Setya lembut.
"Hm, aku mau ice coklat dan pisang coklat saja." Jawab Intan dengan senyum manis.
"Kalau kamu mau pesan apa? Sekalian aku belikan." Tanya Setya pada Putri.
"Aku ikut kakak saja." Jawab Putri kemudian berjalan bersama Setya untuk memesan makanan. Intan terus menatap interaksi antara Setya dan Putri dari jauh. Mereka terlihat bahagia.
"Kamu gak mau nyusulin mereka?" Tanya Ifa menatap Intan.
"Enggak. Aku tidak akan bertindak gegabah. Lagian, semua disini tahu kalau akulah yang kekasih kak Setya." Jawab Intan tanpa melepas pandangan dari Setya dan Putri.
Setelah mereka selesai membeli makanannya. Mereka kembali ke tempat yang lain menunggu.
"Ini tuan putri, silahkan dimakan." Ucap Setya lembut. Intan tersenyum dipaksakan mendengarnya. Entah kenapa, mendengar Setya memanggilanya seperti itu sekarang membuatnya tak suka.
"Eh, kak Setya. Tadi, Putri beli permen susu ini loh. Ini permen yang selalu kak Setya belikan untuk Putri dulu." Seru Putri antusias.
"Kamu masih mengingatnya? Haha. Kalau aku gak membujukmu pakai permen susu itu, kamu akan terus menangis dan merengek padaku. Setelah aku belikan permen itu, kamu akan kembali tertawa." Jawab Setya mengingat kenangan masa lalunya.
Selama makan siang, Intan hanya diam dan terlihat tak nyaman. Karna, Putri selalu membicarakan kenangan masa lalunya bersama Setya. Intan seakan menjadi orang asing disana, karna Intan sama sekali belum mengetahui masa kecil Setya. Dan ternyata banyak hal yang belum Intan ketahui akan Setya. Itu semakin menbuat Intan sedih dan kesal sekaligus.
Tenang Intan, wajar bukan bagi orang yang sudah lama tak bertemu untuk membahas masa lalu. Tenanglah ...
Intan berusah membuat dirinya tenang dan tidam berpikir macam-macam. Sampai ia tak tahan lagi. Akhirnya, ia menarik lengan baju Setya pelan, agar Setya menghadapnya. Setya pun tersadar, kalau sedari tadi ia mengabaikan Intan karna terlalu asyik membicarakan masa kecilnya.
"Ada apa?" Tanya Setya lembut.
Intan menyuruh Setya menunduk, kemudian Intan membisikkan sesuatu pada Setya.
"Aku ingin ke taman belakang. Terserah kakak, mau ikut atau tidak." Bisik Intan pelan.
Setya menatap Intan yang terlihat murung. Tentu saja tanpa bertanya lagi, ia akan mengikuti Intan.
"Maaf, aku akan pergi dulu bersama Intan. Kalian lanjutkan makannya saja." Pamit Setya sambil berdiri dari duduknya diikuti Intan.
"Kak Setya mau kemana? Putri ikut ya?" Tanya Putri sambil menahan tangan Setya.
"Maaf Putri, sekarang aku ingin menghabiskan waktu dengan Intan saja. Lain kali kita makan bersama lagi." Jawab Setya sembari melepaskan tangan Putri yang memegang lengannya.
Setelah itu, Setya menggandeng tangan Intan untuk pergi bersama. Putri akan mengejar Setya, tapi dengan cepat Toni menahan tangan Putri.
"Jaga batasanmu! Apapun yang kau rencanakan aku tak akan membiarkannya berhasil.!!" Ucap Toni dengan nada dingin dan tatapan tajam pada Putri.
Putri cukup merasa takut melihat tatapan itu. Ifa tersenyum mencibir melihat Putri yang langsung terdiam mendengar ucapan Toni.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung..