
Waktu terus berputar. Intan dan yang lainnya sudah semakin merasakan kesibukan sebagai kelas 3. Yah, seperti pada umumnya kelas 3 yang sebentar lagi akan menghadapi ujian. Walaupun, sebelumnya Intan merasa biasa saja, saat dia sudah merasakannya sendiri, ia juga mulai merasa tegang.
Malam itu setelah ia menyelesaikan segala tugas dan meriview semua pelajaran hari itu. Intan merebahkan dirinya di tempat tidur sembari menatap langit-langit kamarnya. Ia menyipitkan mata serasa ingin meraih bola lampu yang menyala terang menyinari semua penjuru kamarnya saat itu.
"Semua sudah punya impian dan gambaran masa depannya ... Tapi, bagaimana denganku? Apa ya impianku?" Guma Intan dengan mata menerawang jauh.
Kring ... Kring ... Kring
Suara dering ponsel menyadarkan Intan. Ia segera mengambil ponselnya, ia mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
"Hallo?" Sapa Intan dengan malas.
"Hallo, tuan putri. Sedang apa?" Terdengar suara lembut Setya dari seberang telpon.
Intan langsung bangun dan merubah posisinya menjadi duduk. Dia memastikan nama orang yang menghubunginya. Dan ternyata benar itu Setya.
"Hallo?" Tanya Setya sekali lagi karna tam mendengar jawaban dari Intan.
"Oh iya, hallo.. Ada apa kak?"
"Kamu kenapa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Setya lembut dan penuh perhatian.
Intan tersenyum kecil mendengar perhatian Setya itu tanpa ia katakan, Setya sudah mengetahuinya hanya dengan mendengarkan suaranya saja.
"Hm, aku hanya sedang memikirkan masa depanku. Semua sudah memiliki impian mereka masing-masing. Tapi, aku masih belum ... Padahal, ujian sudah tinggal beberapa bulan lagi. Apa yang harus aku lakukan?" Rengek Intan manja. Setya tersenyum mendengar suara Intan. Dia bisa membayangkan betapa meggemaskannya ekspresi Intan saat itu.
"Ternyata karna itu ... Apa yang membuatmu bingung, sayang? Untuk menetapkan impian itu cukup mudah kok. Kamu tinggal memilih apa yang membuatmu bahagia dan merasa bermakna saat melakukannya. Terlebih, akan jauh lebih bagus lagi kalau kamu juga menguasainya."
"Sesuatu yang membuatku bermakna dan aku menguasainya? Hm, apa ya? ..."
"Coba kamu ingat-ingat apa hal yang membuatmu merasa bermakna selama ini dan kamu merasa bisa melakukannya. Atau juga boleh sesuatu yang kamu kagumi." Ucap Setya dengan lembut.
"Huh! Aku gatau." Seru Intan bingung.
"Jangan menyerah dulu dong, tuan putri. Pelan-pelan saja, pikirkan dan renungkan dulu, aku yakin kalau Intanku ini pasti bisa ... Kalau kamu bisa menemukannya sampai akhir pekan nanti, aku janji akan membawa kamu ke suatu tempat yang indah." Ucap Setya dengan penuh rahasia.
"Kemana?" Tanya Intan antusias.
"Rahasia dong. Kamu temukan dulu impian kamu, dan tempat yang akan aku tunjukkan ke kamu adalah hadiahnya." Jawab Setya dengan senyuman. Walau Intan tak dapat melihat itu.
"Hm, baiklah. Aku akan segera menemukan impianku! Lalu aku akan mendapatkan hadiah dari kak Setya." Seru Intan senang. Ia jauh lebih termotivasi.
"Baiklah, aku akan menunggunya. Semangat ya sayang. Aku mendukung apapun impian kamu itu, asal itu baik untukmu dan orang banyak." Ucap Setya pengertian.
"Makasih ya kak. Sekarang aku tau apa yang harus aku lakukan untuk mengetahui impianku. Kakak itu seperti cahaya yang memberikan terang disaat aku dalam kegelapan ... I love you.." Ucap Intan tulus dengan senyum lebar menghiasi wajah cantiknya.
"I love you too, sayang ... Kamu juga satu-satunya Intanku, yang paling berharga dan tak kan pernah terganti." Jawab Setya dengan lembut. Perkataan Setya mampu membuat Intan semakin tersenyum lebar.
...****************...
__ADS_1
Setelah malam itu, Intan mengisi hai-harinya dengan banyak merenung juga mengamati sekitarnya. Dia mencoba berbagai hal dan mengamati berbagai hal untuk menemukan apa yang dia suka dan bisa membuatnya merasa bermakna dan tentu saja yang bisa ia kuasai. Sampai mendekati akhir pekan, Intan hampir putus asa karna tak juga menemukan impiannya.
Malam hari itu Intan benar-benar merasa putus asa dan merasa gak mood untuk melakukan apapun. Entah, apa yang membuatnya memutuskan untuk membongkar barang lamanya. Dia mengambil box besar yang berada diatas lemarinya. Disana ada buku-buku masa kecilnya, sewaktu SD. Intan tersenyum melihat tulisannya dulu yang sangat berantakan.
"Ini benar tulisanku? Sangat kacau. Haha." Gumam Intan melihat tulisan-tulisannya.
Matanya terhenti saat melihat sebuah gambar di dalam box itu. Gambar itu nampak seorang wanita dengan baju resmi sedang berdiri di depan anak-anak yang lebih kecil darinya. Intan mengamati gambar itu dan berusaha mengingat kenapangan apa yang terjadi saat itu.
Ia membalik gambar itu dan dibelakang kertas gambar itu ternyata ada tulisan tangannya yang mulai pudar karna waktu itu ia menulis menggunakan pensil. Disana juga ada tulisan dari tinta yang berbeda dari tulisannya. Nampak tinta dari tulisan itu juga sudah melebar dari huruf-hurufnya.
Intan membaca itu dengan seksama. Tanpa sadar air mata mengalir dari matanya. Ia juga merasakan sesuatu yang berdesir dalam hatinya dan itu membuat perasaannya menjadi hangat. Perlahan, Intan tersenyum senang. Ia segera mengambil ponsel dan menghubungi nomor Setya.
"Hallo, sayang." Terdengar suara lembut Setya dari seberang telepon setelah mengangkat panggilan dari Intan.
"Kak Setya! Aku sudah menemukannya! Hikss.. Aku sudah menemukan impianku!" Seru Intan dengan derai air mata bahagia.
...****************...
Karna, Intan sudah menemukan impiannya sehari lebih cepat dari perjanjian. Dan lagi saat menelponnya, Intan terdengar sangat bahagia, Setya pun mempercepat untuk memberikan hadiah selamat pada Intan. Siang itu, tepat sebelum jam pulang sekolah Intan, Setya sudah menunggu Intan di depan gerbang sekolah.
"Tan, hari ini nongkrong dulu yuk sebelum pulang. Jenuh banget aku tuh seharian belajar!" Seru Ifa dengan lesu.
"Haha. Boleh." Jawab Intan dengan senyuman.
Saat mereka akan keluar gerbang, mereka heran karna banyak gadis yang berkerumun didekat gerbang dengan hiateris.
"Ada apa sih itu?" Seru Intan bingung. Ifa menaikkan kedua bahunya bersamaan tanda tak tahu.
"Auranya makin terpancar saja setelah lulus."
Seru para siswi antusias. Intan terkejut, karna mereka menyebut nama Setya. Ia segera berlari ke arah kerumunan itu, Intan harus berusaha dengan keras sampai akhirnya terbebas dari para gadis itu. Akhirnya, ia bisa melihat Setya yang tengah berdiri menyandar pada sebuah mobil dengan santai sembari bermain ponselnya.
Kring ... Kring ... Kring
Ponsel Intan berbunyi dan itu ternyata dari Setya. Intan tersenyum melihat itu.
"Kak Setya!!" Seru Intan memanggil Setya.
Mendengar namanya dipanggil, Setya segera mendongakkan kepalanya dan melihat Intan tak jauh didepannya. Senyum lebar seketika menghiasi wajah Setya. Ia merentangkan tangannya meminta Intan untuk mendekat. Intan tersenyum melihat itu. Dia pun berlari dan langsung memeluk Setya.
"Kenapa kakak disini? Kakak gak ada kelas?" Tanya Intan dengan mengalungkan tangannya di leher Setya. Sedangkan Setya memeluk tubuh Intan dalam dekapannya.
"Tentu saja karna aku merindukanmu ... Aku juga ingin mengajakmu ke tempat yang sudah kau janjikan itu." Jawab Setya lembut sembari merapikan rambut Intan yang tertiup angin.
"Hari ini? Tapi, berapa lama? Aku masih belum meminta izin ayah."
"Kamu tenang saja, aku sudah mengurus semuanya. Aku juga sudah mendapat izin dari om, selama aku memulangkanmu sebelum jam malam. Aku juga sudah meminta baju ganti dari tante." Jawab Setya santai.
"Sungguh?!" Seru Intan tak percaya.
__ADS_1
Setya pun mengangguk sebagai jawaban. Intan hanya bisa tersenyum karnanya. Ia merasa bahagia, karna Setya sudah melakukan banyak hal untuknya.
Keromantisan mereka itu tentu saja dilihat oleh gadis-gadis penganggum Setya. Decak iri jelas terdengar dari mereka. Mereka juga ingin bisa ada diposisi Intan itu. Sangat dicintai oleh Setya.
"Ehem. Kalian mau terus mengumbar kemesraan di depan sekolah begini? Kalian gak melihat berapa pasang mata yang menatap kalian?" Seru Ifa yang mendekati dua sejoli itu.
Intan yang merasa malu langsung melepas tangannya dari leher Setya. Begitupun juga dengan Setya, ia juga melepas pelukannya dari tubuh Intan.
"Anu ... Ifa ... Aku ..." Ucap Intan terbata-bata. Dia bingung harus menjelaskan bagaimana ke Ifa. Kalau dirinya gak bisa menemaninya nongkrong karna Setya sudah menjemputnya.
"Ifa!!" Seru Bayu yang baru saja tiba.
"Oppa!" Teriak Ifa senang mendekati Bayu yang masih berada diatas sepeda motornya.
"Ada apa kesini?" Tanya Ifa setelah ada disamping Bayu.
"Karna aku merindukanmu. Memang mau apalagi, hm?" Jawab Bayu dengan senyum menggoda. Ifa pun tersenyum dan merangkul lengna Bayu.
"Aku akan mengantarmu pulang, tapi sebelum itu kamu mau kemana? Aku akan mengantarmu." Ucap Bayu lembut.
"Aku mau makan ice cream ekstra besar!" Seru Ifa dengan mata berbinar.
"Baiklah. Ayo!" Ajak Bayu dengan senyuman.
"Yey! Intan, aku pergi dulu ya. Kamu pergi saja bersama kak Setya!" Seru Ifa yang sudah menaiki sepeda motor Bayu.
"Ok. Hati-hati ya." Seru Intan sebelum sepeda motor Bayu melaju meninggalkan sekolah.
"Apa kakak juga yang mengatur, supaya kak Bayu datang kesini?" Tebak Intan pada Setya.
"Gak sepenuhnya benar. Karna, Bayu memang ingin menemui Ifa tanpa aku minta."
"Oohh.."
"Ini ganti bajumu dulu sebelum pergi." Ucap Setya sembari memberikan paper bag yang berisi baju Intan yang ia ambil dari dalam mobil.
"Waahhh!!! Kak Setya kesini naik mobil? Semenjak kapan kak Setya bisa mengendarai mobil?" Tanya Intan antusias.
"Aku akan menceritakannya nanti, sekarang kamu ganti baju dulu. Kita harus bergegas pergi." Jawab Setya lembut.
"Oh baiklah." Jawab Intan sembari kembali memasuki sekolah untuk berganti pakaian.
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1
(Chapter selanjutnya akan rilis nanti sore jam 17.00 WIB yaa🤗)