Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Impian Intan


__ADS_3

Intan bergegas menuju ke kamar mandi sekolah untuk mengganti pakaiannya. Setelah itu ia sedikit merapikan penampilannya dan memoleskan lip ice dibibirnya.


"Hm. Kira-kira kemana ya kak Setya akan mengajakku?" Gumam Intan senang sekaligus penasaran.


"Kemanapun itu asal bersama kak Setya, bukan masalah. Hehe."


Setelah selesai bersiap, Intan segera kembali menghampiri Setya. Di gerbang para siswi yang lain masih berkerumun memandangi Setya. Namun, saat mereka melihat Intan yang sudah berganti pakain dan berjalan dengan anggun ke arah mereka, otomatis mereka memberikan jalan untuk Intan. Intan tersenyum simpul, lalu senyumnya semakin melebar saat melihat Setya menunggunya dengan senyuman.


"Cantik sekali ... Mari, tuan putri." Ucap Setya sembari mengulurkan tangannya pada Intan.


Tentu saja Intan menerimanya dengan senang hati. Kemudian, Setya menuntun Intan untuk memasuki mobil. Ia membukakan pintu mobil untuk Intan dan mempersilahkan Intan masuk. Saat Intan memasuki mobil, Setya meletakkan tangannya diatas kepala Intan, berjaga-jaga agar kepala Intan tak terbentur.


"Terima kasih." Jawab Intan dengan senyuman. Setya membalas dengan senyum juga.


Kemudian, ia bergegas memasuki mobil juga. Saat akan berangkat, Setya melihat sabuk pengaman Intan belum terpasang. Ia segera mendekati Intan untuk membantunya memasang sabuk pengaman.


"Apa yang mau kakak lakukan disini?" Seru Intan sambil menahan tubuh Setya. Ia cukup terkejut saat tiba-tiba Setya mendekatinya.


"Aku hanya membantumu memasang sabuk pengaman saja. Tapi, sepertinya kamu berharap lebih." Ucap Setya dengan senyum menggoda.


"Tidak kok!" Seru Intan malu, ia pun mengalihkan pandangannya dari Setya.


Cup!!


"Jangan ngambek, aku sudah melakukannya." Jawab Setya setelah mengecup pelan pipi kanan Intan.


"Dasar kak Setya, modus!" Seru Intan dengan wajah bersemu merah.


"Haha. Baiklah, kita berangkat." Ucap Setya sembari mulai mengemudikan mobilnya.


Saat diperjalanan Intan beberapa kali mencuri pandang pada Setya. Ia semakin terpesona dengan Setya yang terlihat sangat keren saat mengemudi. Setya menyadari tatapan Intan.


Dengan lembut ia meraih tangan kanan Intan dan mengenggamnya dengan lembut.


"Kalau kamu menatapku terus seperti itu, aku jadi gak fokus mengemudi dan ingin melihat wajahmu saja, sayang."


"Hehe, maaf. Habisnya kak Setya terlihat berkali-kali lipat lebih keren saat mengemudi. Aku jadi gak tahan untuk ngeliatin kakak." Jawab Intan dengan senyuman diwajahnya. Setya juga tersenyum mendengar itu, lalu ia mengecup pelan punggung tangan Intan.


"Oh ya, semenjak kapan kak Setya bisa mengendarai mobil? Apakah ini mobil kak Setya sendiri?" Tanya Intan yang masih penasaran.


"Setelah aku lulus, aku mengambil kursus mengemudi selama satu bulan. Setelah itu aku langsung bisa dan mengurus surat izin mengemudi sekalian. Gak lama ini papa membelikanku mobil. Ini pertama kalinya aku menggunakannya." Jawab Setya sesekali melirik pada Intan.


"Oohh... Terus sepeda motor kakak dimana?"


"Di rumah, aku masih memakainya kok. Tapi, kalau kamu memang lebih suka naik mobil, mulai sekarang aku bisa menggunakan mobil setiap mengantar dan menjemput kamu." Ucap Setya dengan senyuman.


"Enggak juga. Apapun yang kak Setya kendarai itu gak penting. Lagian, naik sepeda motor juga enak. Aku bisa memeluk kak Setya disepanjang perjalanan." Jawab Intan tanpa sadar. Setelah sadar akan ucapannya, pipi Intan pun terasa memanas.


"Ouh, jadi begitu. Kamu ternyata suka memelukku ya. Baiklah, kamu bisa memelukku sepuas yang kamu inginkan." Ucap Setya menggoda.

__ADS_1


"Kak Setya hentikan! Jangan menggodaku terus!" Seru Intan malu sembari menutup wajahnya dengan tanganya.


"Hahaha." Setya hanya terus tertawa melihat sikap Intan yang terlihat menggemaskan itu.


Setelah itu mereka terus mengobrol untuk menghabiskan waktu selama perjalanan. Intan masih belum mengatakan apa impiannya pada Setya. Dia ingin mengatakannya pada Setya setelah mereka sampai ketempat yang dijanjikan oleh Setya. Hampir satu jam mereka berkendara, sampai Intan mulai melihat laut dari kejauhan.


"Kita mau ke pantai?" Seru Intan antusias. Setya mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban.


Intan pun sangat senang. Ia membuka jendela mobil dan merasakan hembusan angin sore itu mulai menerpa wajahnya. Ia memejamkan mata dan menikmati angin itu. Setya melirik beberapa kali pada Intan. Dia juga ikut tersenyum saat melihat Intan terlihat bahagia.


Tak lama kemudian mereka sampai ke tempat tujuan mereka. Setya segera memakirkan mobilnya di tempat yang sudah disediakan. Lalu ia juga membukakan pintu mobil untuk Intan.


"Makasih." Ucap Intan dengan senyuman.


"Ayuk." Ajak Setya sembari mengulurkan tangannya pada Intan.


Intan menerimanya dengan antusias. Mereka pun mulai berjalan ke jembatan kayu yang disediakan disana. Karna belum akhir pekan jadi tempat itu tidak terlalu ramai. Intan terlihat sangat senang, ia pun berlari-lari dengan antusias. Setya hanya bisa tersenyum melihatnya. Dia berdiri bersandar di pembatas jembatan dengan terus memperhatikan Intan.



Intan menikmati hembusan angin yang membuatnya tenang. Ia menoleh pada Setya yang memperhatikannya. Intan tersenyum dan melambaikan tangan pada Setya. Setyapun membalas lambaian tangan Intan dengan senyuman juga.


"Kak Setya, ayo foto bersama." Ajak Intan sambil menarik tangan Setya untuk mengikutinya.


"Baiklah. Tapi, aku akan memfoto kamu dulu." Ucap Setya sembari mengeluarkan ponselnya.


"Apa aku terlihat cantik?" Tanya Intan malu.



Setelah memfoto Intan, mereka juga foto bersama. Lalu mereka juga bermain kejar ombak dibibir pantai. Mereka saling mengejar dengan bahagia. Setya juga sengaja mengerjai Intan dengan menggendong Intan dan seolah akan melemparkannya ke laut. Tentu saja Intan semakin mengeratkan pelukannya pada leher Setya. Setya pun tertawa puas.


"Kak Setya!" Seru Intan kesal.


Setya menurunkan Intan diatas kakinya. Sehingga, saat ini Intan berdiri diatas kakinya. Setya menahan tubuh Intan dengan kedua tangannya agar tak jatuh. Intan juga mnegalungkan tangannya ke leher Setya sebagai pegangan.


"Terima kasih, sudah mengajakku ke sini kak. Aku sangat senang." Ucap Intan dengan senyum lebar diwajahnya sembari menatap wajah Setya.


Setya membalas Intan dengan senyuman juga. Perlahan ia menyentuh pelan pipi Intan.


"Aku mencintaimu Intan." Ucap Setya dengan lembut.


"Aku juga." Jawab Intan.


Kemudian, Setya semakin mendekatkan wajahnya pada Intan. Akhirnya, mereka pun berciuman disaksikan oleh gemuruh ombak dan sinar senja diufuk barat.


Setelah lelah bermain, akhirnya mereka beristirahat di salah satu restoran didekat pantai. Mereka memilih duduk di bilik yang paling dekat dengan laut. Sambil menunggu makanan pesanan mereka sampai Intan mulai menceritakan impiannya pada Setya.


"Aku ingin menjadi guru.." Ucap Intan dengan senyuman.

__ADS_1


"Guru? Apa alasannya? Apakah itu membuat kamu bahagia?" Tanya Setya dengan lembut. Intan tersenyum mengiyakan, ia pun teringat lagi gambar masa SD nya itu.


Flashback On


"Anak-anak tugas menggambar kali ini, kalian gambar cita-cita kalian ya." Ucap seorang guru.


Intan kecil yang mendengar tugas hari itu pun merasa bingung. Ia masih bingung apa cita-citanya. Setiap melihat suatu professi dia selalu tertarik. Dia belum benar-benar menetapkan cita-citanya.


Setelah sekolah bubar waktu itu, Intan masih memilih tinggal di dalam kelas. Bu Ratna, sebagai gurunya Intan bingung melihat Intan yang terlihat murung seorang diri. Ia pun mendekati Intan.


"Intan? Ada apa nak, kenapa murung begini?" Tanya bu Ratna lembut.


"Intan bingung. Intan masih belum tau cita-cita Intan. Semua profesi ingin Intan lakukan." Jawab Intan dengan lesu.


"Apa benar Intan ingin melakukan semuanya? Apa tidak ada salah satu yang benar-benar Intan sukai dan membuat Intan bahagia kalau melakukannya?"


"Hm, belum tahu. Sepertinya semua profesi itu keren. Kalau bu Ratna dulu kenap memilih jadi guru?" Tanya Intan penasaran.


"Semua profesi memang keren. Karna, semuanya punya fungsi masing-masing ... Kalau, alasan bu Ratna memilih jadi guru karna, bu Ratna melihat pekerjaan guru itu pekerjaan yang mulia. Mereka rela membagikan ilmunya bagi murid-muridnya. Menjadikan murid-muridnya pintar bahkan jauh lebih pintar dari dirinya sendiri." Jawab bu Ratna dengan lembut dan senyum diwajahnya.


Dapat Intan lihat binar kebahagiaan jelas terpancar dari sorot mata bu Ratna saat menceritakan profesinya. Intan kecil terlihat kagum. Setelah obrolan itu, Intan kecil berusaha melihat lagi semua profesi yang ada.


Intan pun tersenyum kecil ketika menyadari kalau semua profesi itu gak bakalan ada kalau gak ada guru. Gurulah orang pertama setelah orang tua yang memberikan bekal ilmu untuk murid-murid mulai berjalan menuju impiannya masing-masing. Semenjak itu Intan sangat kagum dengan profesi guru. Ia juga menjadikan guru sebagai gambaran impiannya.


"Intan ingin jadi guru yang mencerdaskan semua orang. Mengantarkan semua orang menuju impiannya masing-masing."


Tulis Intan dibalik gambarannya itu. Kemudian, bu Ratna menambahkan.


"Kejarlah cita-cita mulia kamu Intan. Jadilah mata air yang berguna bagi semua orang."


Flashback Off


"Hebat! Intanku memang sangat luar biasa!" Puji Setya sembari mengelus lembut kepala Intan.


"Aku ingin menjadi guru dan mengantarkan mereka semakin dekat dengan impian mereka masing-masing." Ucap Intan dengan mata berbinar.


Saat mengatakan itu ia merasa ada sesuatu yang berdesir di dalam hatinya. Ia merasakan kebahagiaan itu. Setya tersenyum melihat kebahagiaan yang jelas terpancar dari diri Intan.


Kemudian, Intan menyandarkan kepalanya dibahu Setya. Mereka bersama menikmati pemandangan matahari terbenam di ufuk barat sore itu.


...Jadilah mata air....


...Mata air yang terus mengalir dan memberi manfaat untuk semua orang....


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2