Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
30. Hilangnya Veni


__ADS_3

SEJAK kedatangan Tara, Akbi jadi menghabiskan banyak waktu dengannya.


Seringkali Kekira ditinggal di rumah.


Alasan Akbi, demi keamanan, karena Tyrex akan menjalankan rencana memancing penculik itu keluar dari sarangnya (persembunyian, maksudnya).


Demi keamanan juga, Akbi meminta Duta menjaga Kekira, sementara dirinya sibuk menjalankan rencana.


Sekarang ke mana-mana Kekira ditemani Duta. Diantar ke kampus, pulang, ke rumah sakit, atau ke mana saja.


Kekira merasa tidak tenang.


Apalagi Veni tidak menghubunginya seperti biasa.


Aneh memang.


Ia ingin lepas dari teror Veni. Namun setelah teror itu berhenti ia jadi cemas sendiri memikirkan Veni.


Karena Veni tidak bisa dihubungi semenjak ia memberikan alamat kantornya Riga.


Apa terjadi sesuatu pada Veni?


***


“Alhamdulillah kondisi Ayah lebih baik, Nak. Dua hari lagi Ayah sudah boleh pulang. Tinggal menunggu hasil CT-Scan dari dokter.” Kabar dari Bunda membuat Kekira senang.


“Gitu dong, Yah. Semangat buat sembuh. Kan aku kangen kumpul sama Ayah. Udah kangen sama kamarku juga.”


Ayah tertawa. “Anakku ini, makin pinter aja bicara.”


Pintu kamar rawat terbuka.


Muncul beberapa orang berkemeja dan berdasi.


“Selamat siang, Pak Awan.”


“Oh selamat siang. Silahkan masuk.”


Ternyata beberapa rekan kerja Ayah di kantor.


Mereka membawakan parcel buah dan kue.


“Bunda, aku pulang dulu ya, Duta nunggu di luar.”


“Iya, Nak.”


Baru saja Kekira berbalik, tiba-tiba tercekat dan melihat TV yang menyiarkan orang hilang lagi.


Veni dilaporkan hilang!


“Lho, dia kan yang dateng ke kantor?” celetuk Om Juna.


Kekira kaget. “Apa, Om? Dia dateng ke kantor?”


“Iya, kemaren dia dateng ke kantor trus marah-marah di ruangannya Pak Riga.”


“A-apa?”


“Memangnya kamu kenal?” tanya Om Tino.


“Iya Om, dia teman saya.”


“Mungkin dia jadi korban penculikan juga. Kamu harus lebih hati-hati.”


Kekira meninggalkan kamar dengan pikiran semrawut.


Duta langsung menghampirinya. “Udah, Ki? Yuk pergi.”


Sepanjang perjalanan pulang ia memikirkan hilangnya Veni.


Berarti Riga sudah kembali dari luar kota.


Tapi bagaimana bisa Veni menghilang?


Apa ada hubungannya dengan Riga?


***


“Duta, aku boleh minta tolong?”


“Tolong apa?” Duta heran ketika baru tiba di rumah Akbi.

__ADS_1


“Kayaknya temenku diculik. Dia ngilang dari kemarin. Dan aku mau cari dia.”


Duta kaget. “Diculik? Aduh Ki, jangan cari penyakit deh. Bahaya, tau.”


“Aku tau. Tapi aku nggak tenang mikirin dia. Kamu mau bantu aku?”


“Duh gimana ya?” Duta garuk-garuk kepala.


Melihat wajah memelas Kekira, ia tidak tega.


“Jangan sedih gitu dong. Gue bukannya nggak mau, tapi nyokap gue lagi sakit, gue harus jagain nyokap.”


Kekira cemberut. “Iya deh maaf, aku nggak tau ibu kamu lagi sakit.”


“Kenapa lo nggak minta Bira yang nemenin?”


“Dia lagi sibuk.”


“Ya udah, lo istirahat aja dulu. Jangan aneh-aneh. Biarin polisi aja yang cari temen lo.” Duta memakai helm. “Gue cabut dulu.”


Kekira mengangguk. “Thanks ya, sorry ngerepotin.”


“No prob.”


Begitu Duta pergi, Kekira masuk rumah dengan langkah lunglai.


“Kekira sudah pulang?” tegur Nenek.


“Eh Nenek, iya Nek. Abis dari rumah sakit.”


Kekira mencium tangan Nenek dan duduk di sampingnya.


“Oh iya, bagaimana keadaan Ayahmu?”


“Alhamdulillah sudah lebih baik, Nek. Insya Allah dua hari lagi bisa pulang.”


“Alhamdulillah. Nenek belum sempat menjenguk. Tapi nanti begitu Ayahmu pulang, kabari Nenek ya, Nenek ingin berkunjung ke rumahmu.”


“Pasti Nek, aku tunggu pokoknya Nenek harus dateng. Masakan Bunda enak lho.”


“Oh ya? Kalau Kekira sendiri bisa masak?”


Kekira tersipu. “Bisa sih, Nek. Masak nasi goreng sama mie rebus.”


“Siap, Nek!” Kekira menghormat ala tentara membuat Nenek tersenyum.


***


Sudah jam delapan malam.


Suasana sepi.


Nenek sudah tidur selepas makan malam tadi.


Tante Vina sudah masuk ruang kerja dan tidak bisa diganggu.


Sedangkan Akbi sudah pergi untuk mengurus misi penjebakan.


Kekira sudah bersiap di kamarnya. Semua perlengkapan dimasukkan ke tas, memakai jaket dan sepatu kets. Tidak lupa meminum obatnya.


Setelah siap, dia mengendap-endap keluar kamar. Lagaknya seperti maling, tengok kiri tengok kanan.


Setelah memastikan aman, ia bergegas keluar rumah.


Jalanan sepi.


Ia berpikir lebih baik naik ojek online biar cepat.


Baru mengeluarkan HP, ada motor berhenti di depannya.


“Mau ke mana?”


Kekira kaget. “Akbi? Ngapain kamu di sini?”


Akbi melepas helm dan menatapnya.


“Harusnya aku yang tanya, ngapain kamu di sini malem-malem? Nyari penyakit aja.”


Nada bicara Akbi jelas khawatir.


“Aku cuma…” Kekira cari-cari alasan.

__ADS_1


“Cuma apa?”


“Mau… ke minimarket. Iya, mau beli barang khas cewek.” Kekira beralasan.


“Oooo… ke minimarket.” Akbi mengangguk-angguk. “Mau belanja apa mau ngerampok?”


“Iihh kamu kok ngomongnya gitu?”


“Lagian penampilan kamu kayak begini. Jilbab hitam, baju, celana, sepatu, serba hitam. Pake bawa tas. Kayak detektif aja.”


“Ngg enggak kok…” Kekira bingung ngeles.


Akbi memegang kedua bahunya.


“Jujur sama aku, kamu mau ke mana?”


Kekira diam saja, hanya menunduk.


“Barusan Duta ngasih tau kamu mau cari temen kamu yang ngilang. Kamu mau cari siapa?”


Kepala Kekira mengangkat. “Veni.”


“Veni?” Akbi heran. “Emang kenapa dia?”


“Barusan ada berita dia menghilang. Dan aku dapet info kalo kemarin dia datang ke kantor. Temen-temen Ayah yang cerita, kemarin dia datang menemui Mas Riga. Setelah itu dia menghilang.”


“Kamu… ngapain sih peduli sama Veni? Dia udah keterlaluan nyakitin kamu!”


“Tapi aku yang nyuruh dia dateng ke kantor Mas Riga. Aku ngerasa bertanggung jawab atas hilangnya dia, Bi.”


“Itu bukan salah kamu.”


“Aku tau, tapi perasaanku nggak enak. Aku ngerasa Veni dalam bahaya.”


“Trus kamu nekat pergi sendirian? Kenapa nggak kasih tau aku?”


Kekira menunduk. “Aku nggak mau ganggu waktu kamu lagi sama Tara.”


Akbi kaget dan menatapnya lekat. “Apa?”


“Semenjak Tara dateng, kamu udah nggak punya waktu buat aku. Gimana aku bisa cerita.”


Akbi jadi bingung harus bicara apa.


Kekira tersenyum kecil. “Nggak pa-pa, aku bisa sendiri.”


Ia berbalik, namun Akbi menahan tangannya.


“Kamu mau cari ke mana, Kekira?”


Kekira memejamkan mata, menahan sakit di dadanya.


“Mau ke kantor Ayah.”


“Untuk apa kamu ke sana?”


“Aku mau cari petunjuk keberadaan Veni.”


“Kamu nggak boleh pergi! Ini terlalu bahaya.”


“Aku bisa jaga diri.”


“Nggak! Aku nggak akan biarin kamu pergi sendiri.”


Kekira menarik tangannya, kesal. Air matanya mulai menggenang.


Akbi menyentuh bahunya. “Aku akan ikut kamu.”


HP Akbi berbunyi.


Tara menelepon!


Sejenak Akbi menatap Kekira yang langsung memalingkan muka.


“Halo, iya Ra? Kenapa? Oh masalah itu lo koordinasi sama Egi dan Gery aja. Mereka yang udah tandain titik-titik lokasi X. Gue nggak bisa ke sana. Lo sama temen-temen gue aja. Dan, take care, hati-hati. Gue nggak mau lo sampe kenapa-napa.”


Begitu telepon diputus, Akbi meraih tangan Kekira.


“Yuk kita pergi.”


Kekira menghapus air mata yang jatuh mendengar Akbi begitu mengkhawatirkan Tara.

__ADS_1


Tanpa bicara, ia mengikuti Akbi naik motor.


***


__ADS_2