Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Kamu harus selalu bahagia


__ADS_3

Setya cukup terkejut mendengar ucapan Intan. Benar yang dikatakan mamanya beberapa hari yang lalu. Saat ini Intan lah yang merasa paling hancur. Dia kehilangan rasa kepercayaan diri sebagai seorang wanita. Setya, terdiam beberapa saat merutuki diri sendiri karna beberapa hari yang lalu dia sempat berpikir untuk meninggalkan Intan. Dia tak dapat membayangkan kalau dia sungguh meninggalkan Intan karna ketakutannya yang tak bisa melindungi Intan, ia yakin Intan akan semakin hancur.


"Intan ..." Panggil Setya lembut. Dia mengambil kedua tangan Intan dan digenggamnya dengan penuh kasih sayang.


Intan mendongak menatap Setya dengan mata sembab yang masih terus mengeluarkan air mata. Dia merasa putus asa saat ini. Jujur, dia sama sekali tak ingin hubungannya dan Setya harus berakhir. Namun, ia merasa Setya terlalu baik untuk mendapatkannya. Karna, seharusnya Setya bisa mendapatkan gadis lain yang lebih baik darinya.


"Dengarkan aku baik-baik. Aku sama sekali tidak merasa kalau kamu kotor. Kamu sama sekali tidak menjijikkan dan membuatku malu ..."


"Tidak! Aku memang kotor. Kenyataannya aku sudah disentuh oleh laki-laki lain kak! Kalau kakak bersama ku, kakak seperti mendapatkan barang sisa! Kakak seharusnya bisa mendapatkan yang lebih la..."


"Ssttt!! ... Apa yang kamu katakan? Kamu itu bukan barang! Tidak ada kata sisa atau tidak layak! ... Intan, bagiku kamu adalah satu-satunya. Tidak ada gadis lain yang bisa menggantikanmu. Bukankah kamu juga tahu bagaimana aku menunggumu selama ini, hmm? ... Apakah, kamu berpikir hanya masalah kecil seperti ini aku akan meninggalkanmu? Tidak akan! Kalaupun aku minggalkanmu, itu karna aku yang merasa tidak layak bersamamu, karna aku sudah gagal melindungimu. Bukan karna kamu ... Jadi, tolong jangan hindari aku dan berkata kamu tidak layak.." Ucap Setya dengan sangat lembut. Sorot matanya memancarkan kejujuran dan ketulusan.


"Tapi ... Aku tidak ingin kakak dihina dan dipermalukan karna aku. Lalu, keluarga kakak juga ... Mereka, pasti kecewa padaku. Mereka pasti tidak akan menerimaku." Ucap Intan lirih.


"Aku tidak peduli dengan omongan orang lain. Mereka boleh menilai sesuka hati mereka. Karna, mereka tidak mengetahui bagaimana kamu, mereka tidak tahu bahwa kamu adalah gadis yang kuat, gadis yang cantik luar dan dalam dan gadis yang bisa merubahku menjadi lebih baik ... Lagipula, bagiku hal yang paling penting adalah kebahagiaan kita. Kenapa, kita harus mengikuti perkataan orang lain jika akhirnya kita tidak bahagia? ... Dan kamu tidak perlu khawatir tentang orang tuaku, justru mereka sangat mendukungku untuk terus bersama kamu. Mereka juga sayang padamu, Intan.." Ucap Setya dengan senyum diwajahnya. Sorot matanya kini memancarkan kehangatan.


Intan menatap Setya, seakan berpikir. Apa keputusan yang harus ia ambil. Ia masih sangat mencintai Setya. Namun, dilain sisi ia juga masih berpikir bahwa Setya bisa mendapatkan yang lebih baik dari dirinya. Intan menatap dalam mata Setya, seakan mencari jawaban disana.


"Aku mencintaimu ..." Ucap Setya lembut dengan sorot mata penuh kasih sayang.


Mendengar ucapan Setya seketika, dibenak Intan terlintas kenangan yang sudah ia lalui dengan Setya. Tentang kesetiaan Setya selama ini padanya, Setya yang selalu melindunginya, juga tekadnya yang ingin berubah menjadi lebih berani dan layak untuk Setya. Air mata, kembali keluar dari mata Intan.


"Aku juga mencintai kakak." Ucap Intan pelan.

__ADS_1


Setya tersenyum dan merasa lega mendengar ucapan Intan. Ia segera memeluk Intan dengan dengan erat. Ternyata, bunda dari tadi mendengarkan percakapan Intan dan Setya dari luar. Sebelumnya ia merasa khawatir karna mendengar teriakan Intan, bunda berpikir kalau traumanya Intan kembali. Ternyata, teriakan itu karna Intan mengkhawatirkan Setya.


Lalu, bunda yang penasaran dengan obrolan Intan dan Setya, akhirnya memilih untuk terus mendengarkan percakapan mereka dari luar, terlebih pintu kamar yang terbuka membuat percakapan itu semakin jelas. Bunda tersenyum senang, mendengar semua ucapan Setya yang berhasil meyakinkan Intan. Apalagi, semua yang dikatakan Setya terdengar tulus. Bunda kini semakin yakin, bahwa Setya adalah lelaki yang tepat untuk Intan. Setelah itu, bunda kembali ke meja makan dimana Ifa dan Bayu tengah menunggu sembari memakan bolu yang baru saja ia buat.


Dilain sisi, kini Setya sudah melerai pelukannya. Ia menghapus kembali sisa air mata yang membasahi mata dan pipi Intan.


"Jangan menangis lagi, ok? Aku gak mau liat kamu menangis ... Kamu harus selalu bahagia dan aku yang akan membuat kamu selalu bahagia." Ucap Setya dengan senyuman diwajahnya. Intan mengangguk mengiyakan.


"Yuk, kita susul Ifa dan Bayu. Ifa pasti juga ingin ngobrol banyak denganmu. Kamu tidak tahu betapa sedih dan khawatirnya Ifa padamu. Dia terus merengek pada Bayu. Aku yang melihatnya merasa sangat kasihan, kamu harus membantu sahabatku itu." Ajak setya sembari mengulurkan tangannya pada Intan.


Dengan senang hati Intan menerima uluran tangan Setya. Dia tersenyum pada Setya, setelah kedatangan dan semua perkataan Setya padanya tadi. Intan merasa beban berat dibahunya terasa terangkat. Walau, dia masih takut dan belum terbayang bagaimana hari-harinya setelah ini. Tapi, setidaknya dia tahu dia tidak melangkah seorang diri. Disampingnya ada kak Setya dan orang-orang yang menyanyanginya.


Akhirnya, Setya dan Intan bergandengan tangan untuk menyusul yang lain di meja makan.


"Haduh, yang habis kangen-kangenan sampai ngelupain yang lain." Sindir Ifa dengan bibir yang cemberut. Intan tersenyum geli melihat itu.


"Kamu mau aku kangenin juga? Sini-sini.." Ucap Intan sembari mendekati Ifa dan memeluknya.


Ifa yang semula cemberut, kini mulai tersenyum senang.


"Kamu tahu aku sangat merindukanmu. Sekolah terasa sepi kalau gak ada kamu Tan." Ucap Ifa merajuk.


"Serius? Bukannya selama ini walaupun ada aku, kamu kan pengengennya sama kak Bayu terus?" Ejek Intan dengan nada yang menggoda.

__ADS_1


"Enggak kok. Kamu yang paling penting." Ucap Ifa sambil bergelayut dilengan Intan.


"Berarti kalau aku yang gak ada kamu gak bakal nyariin aku?" Tanya Bayu berpura-pura kecewa.


"Iya." Jawab Ifa santai, dan itu sukses membuat wajah Bayu berubah menjadi cemberut.


Seketika, hal itu memicu gelak tawa bagi semuanya. Bahkan, Intan yang selama tiga hari ini tak pernah tertawa selepas itu, kini ikut tertawa dengan lepas. Bunda, ikut tersenyum senang melihat kemajuan itu. Diam-diam bunda memvideo Intan yang sedang tertawa lepas itu. Lalu, bunda mengirimkannya pada suaminya juga Dika.


Setelah itu mereka mengobrol dengan santai melepas rindu ditemani dengan bolu coklat hangat buatan bunda.


"Oh ya Tan, besok kamu gak ikut KTS?" Tanya Ifa penuh harap. Intan menggelengkan kepalanya.


"Aku, masih belum berani bertemu banyak orang dulu." Jawab Intan pelan dengan kepala tertunduk.


Sebenarnya, ia ingin ikut. Apalagi, ia tau bahwa Setya pasti akan terus bersamanya, apalagi ini kenangan satu-satunya. Karna ditahun berikutnya, Intan tak kan bisa KTS bersama Setya. Namun, apa daya Intan masih benar-benar takut untuk bertemu dengan banyak orang. Dia membutuhkan waktu lebih banyak lagi.


"Yah, sayang sekali. Tapi, baiklah aku akan tetap support keputusan kamu. Nanti, aku akan sering menghubungimu, supaya kamu seperti merasa ikut acaranya walaupun tidak langsung." Ucap Ifa dengan senyuman. Ia merasa bangga dengan ide yang ia cetuskan.


"Baiklah. Aku akan mengandalkanmu." Jawab Intan juga dengan senyuman.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2