
"Sialan kau!" Umpat pencopet itu marah. Dia mengarahkan pisaunya dan akan menyerang Setya.
"Tidakk!!"
Seru Intan sambil menghadang pisau yang akan mengenai Setya, hingga ...
Jlebb!!
Pisau itu menusuk perut Intan. Intan terlihat kesakitan, iapun jatuh terduduk dengan darah yang mulai mengalir dari perutnya.
"Intan!!" Teriak Setya terkejut melihat itu. Setya segera mendekap tubuh Intan dalam pelukannya.
Si pencopet itu terlihat ketakutan dan hal itu di manfaatkan oleh orang-orang disana untuk meringkus pencopet itu.
"Intan bangun sayang, jangan pejamkan matamu. Maaf! Maafkan aku tak bisa melindungimu ... Tolong tunangan saya!!" Seru Setya panik.
"Un..Untunglah kak Setya ba..baik-baik saja." Ucap Intan dengan suara lirih menahan sakit. Setya berusaha menutupi luka diperut Intan agar darahnya tak terus keluar. Dress biru Intan kini sudah berlumuran darah.
"Kita harus membawa tunangan mas, ke rumah sakit segera!" Seru pria paruh baya yang mendekat ke arah Setya dan Intan. Tapi, dia juga tak kuat jika harus mengangkat tubuh Intan seorang diri.
"Iya! Tolong bantu saya membawanya ke rumah sakit. Kaki saya lumpuh, saya tak bisa melakukannya sendiri." Ucap Setya dengan nada frustasi. Baru kali ini ia benar-benar merasa tak berdaya dengan keadaannya.
"Kak Setya ..." Panggil Intan dengan suara lirih, sebelum dia jatuh pingsan.
"Intan! Buka matamu, sayang. Kamu gak boleh tidur! Intan!!" Teriak Setya semakin frustasi.
"Intan!!" Seru Bagas yang kebetulan lewat jalan itu dan melihat keramaian di taman itu. Di sangat terkejut saat melihat Intan tak sadarkan diri dalam dekapan Setya dengan darah dari perutnya.
"Apa yang kau lakukan, huh?! Kenapa Intan bisa sampai seperti ini?!" Seru Bagas marah.
Tanpa basa-basi lagi, iapun segera mengangkat tubuh Intan dan membawanya ke rumah sakit. Orang-orang disana membantu menghentikan kendaraan yang lewat agar Bagas bisa menyebrang jalan dengan cepat, supaya Intan bisa segera mendapatkan pertolongan.
"Dokter! Dokter! Tolong!! ... Dia tertusuk pisau di bagian perut." Seru Bagas panik setelah sampai di rumah sakit. Intanpun segera dibawa ke UGD untuk diberikan pertolongan pertama.
Di taman, sebelumnya Setya dibantu oleh orang-orang disana kembali duduk di kursi rodanya. Setya tampak linglung dengan tangan dan bajunya yang tampak bekas darah Intan.
"Setya?!" Panggil Bayu yang baru saja tiba di taman itu untuk menjemput Setya dan Intan setelah makan siang, tanpa tahu apa yang baru saja terjadi.
"Dimana Intan?! ... Eh, tunggu! Kenapa kau berlumuran darah seperti ini?!" Tanya Bayu yang tersadar dengan darah di tubuh Setya. Tapi, Setya masih diam saja tak merespon pertanyaan Bayu.
"Apa terjadi sesuatu pada Intan?!" Tebak Bayu yang terlihat mulai khawatir. Apalagi, melihat Setya seperti itu.
"Padahal dia didepanku.Tapi ... Tapi, aku sama sekali tak bisa menolongnya ... Sampah! Aku benar-benar sampah!!" Teriak Setya sambil memukuli kakinya sendiri dengan frustasi.
"Setya! Hentikan! Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?!" Seru Bayu yang mulai merasa kesal.
"Intan tertusuk pisau karna berusaha melindungiku dari pencopet." Jawab Setya dengan suara lirih.
"Kalau begitu, kita harus ke rumah sakit juga untuk melihat keadaan Intan. Gak ada gunanya juga menyesali semua itu disini." Seru Bayu sembari mendorong kursi roda Setya menuju ke rumah sakit dengan cepat.
__ADS_1
Bayu mengarahkan Setya ke UGD. Disana Bayu melihat Bagas dengan tatapan bingung seakan bertanya-tanya apa mau Bagas disana?!, Bagas terlihat menunggu dengan cemas Intan yang sedang mendapatkan pertolongan pertama dari dokter.
"Kenapa kau ada disini?!" Tanya Bayu dengan nada sinis.
"Kau tanya kenapa?! Tanya pada temanmu yang lumpuh itu! Bagaimana dia menjaga Intan sampai terluka seperti itu, huh?!" Seru Bagas emosi.
"Aku juga gak nyangka akan jadi begini. Kami hanya sedang makan siang bersama, tiba-tiba saja keadaan jadi tak teekendali begitu! Kau pikir aku mau melihat Intan seperti itu?!" Seru Setya yang tak kalah emosi.
"Tapi kenyataannya kau sudah gagal melindungi Intan. Kan sudah ku katakan padamu sebelumnya, kau hanya akan menyusahkan Intan. Dan sekarang, dia bahkan terluka karnamu! Apakah belum puas kau menyiksanya?!" Seru Bagas dengan nada tinggi dan tatapan tajam pada Setya.
Mendengar itu Setya merasa seperti tertampar. Walaupun, dia tak suka dengan Bagas tapi dia juga tak bisa merubah fakta, kalau dia sudah gagal melindungi Intan.
"Hentikan perkataanmu itu! Semua ini kecelakaan, siapapun gak bakalan mau hal ini akan terjadi.!! Jadi, jangan sok menghakimi seseorang dan merasa dirimu paling benar!" Seru Bayu membela Setya.
Bagaimanapun, memang benar baik Setya maupun Bagas gak ada yang mau kejadian itu terjadi.
Krieett.. Pintu UGD pun terbuka dan keluarlah dokter dari sana. Dengan cepat Setya, Bagas dan Bayu menghampiri dokter itu.
"Kalian keluarga pasien?" Tanya dokter melihat ketiga pemuda dihadapannya.
"Saya tunangannya dok. Bagaimana keadaan tunangan saya?" Jawab Setya cepat. Bagas mendecih kesal mendengar itu.
"Syukurlah, lukanya tidak dalam. Saya sudah menjahit lukanya dan karna pasien cepat ditangani, jadi pasien tidak sampai kehilangan banyak darah ... Tapi, luka pasien cukup lebar dan keadaan pasien masih lemas. Saya sarankan agar pasien bisa menginap beberapa hari di rumah sakit, agar kami bisa mengontrol perkembangan lukanya." Ucap dokter menjelaskan.
"Baik dok, saya akan mengurus prosedur rawat inapnya. Terima kasih, apakah saya bisa melihat tunangan saya?" Tanya Setya penuh harap.
"Pasien masih tidak sadar. Lebih baik melihatnya saat sudah ruang rawat saja." ucap dokter menyarankan. Setya dan yang lainpun mengangguk setuju.
Tutt ... Tutt ... Tutt
"Hallo Setya, ada apa?!" Tanya ayah Intan setelah mengangkat panggilan telpon dari Setya.
"Hallo om ... Maaf ... Maafkan saya om." Ucap Setya merasa bersalah.
"Ada apa kau tiba-tiba meminta maaf padaku? Apa ada sesuatu yang terjadi?!" Tanya ayah bingung.
"Se-Sebenarnya, sekarang Intan ... Diaa.."
"Ada apa dengan Intan?! Kenapa bicaramu tak jelas?!" Seru ayah mulai tak sabar.
"Intan sekarang di rumah sakit om. Tadi, Intan tak sengaja tertusuk pisau oleh pencopet." Jawab Setya dengan suara lirih. Dia sangat merasa bersalah dengan kejadian yang menimpa Intan.
"Apa?! Aku akan kesana sekarang!" Seru ayah, kemudian langsung memutus panggilan telponnya.
"Cih. Sekarang kau baru merasa bersalah?! Padahal sudah ku katakan kau itu hanya beban untuk Intan! ... Jadi, kalau kau masih mencintainya, cepat pergi saja tinggalkan dia!" Ucap Bagas dengan nada tajam. Setya hanya diam dan menatap tangannya yang masih tertinggal bekas darah Intan.
Di saat itu Bayu sudah kembali setelah mengurus biaya administrasi rawat inap Intan. Tak lama kemudian Intan segera dipindahkan ke rawat inap. Setya, Bayu dan Bagas mengikutinya dari belakang. Setelah Intan sudah dipindahkan, Setya mendekati Intan yang terbaring lemah dengan wajah pucat. Setya meraih tangan Intan dan menggenggamnya pelan.
"Maaf.. Maaf sayang.." Gumam Setya lirih sambil mencium tangan Intan dan linangan air mata.
__ADS_1
Syukurlah kamu baik-baik saja. Aku gatau lagi kalau sampai kamu kenapa-napa.
Maaf, aku tak bisa melindungimu.. Maaf...
Bayu ikut sedih melihat keadaan Setya yang terlihat sangat tertekan karna terlukanya Intan. Sedangkan, Bagas menatap itu dengan pandangan jengah.
Tak berselang lama, orang tua Intan dan Setya datang, setelah mendapat kabar dari Setya sebelumnya. Ayah langsung mendekati sang putri yang masih tak sadarkan diri.
"Bagaimana ini bisa terjadi?!" Tanya ayah meminta penjelasan dari Setya.
"Maaf om. Maafkan Setya, karna gagal melindungi Intan. Tadi, kami sedang makan siang bersama di taman depan rumah sakit. Semua baik-baik saja, tapi tiba-tiba ada pencopet yang datang ke arah kami karna dikejar oleh orang-orang ... Dan akhirnya, untuk melindungi saya, Intan yang menerima tusukan itu. Maafkan saya om." Ucap Setya dengan kepala tertunduk, karna merasa bersalah.
Setya mengepalkan tangannya kuat-kuat karna ia benar-benar merasa tak berdaya. Mama mendekati Setya dan menepuk bahu sang putra yang terlihat sangat tertekan.
"Huffftt ... Sudahlah, semua sudah terjadi. Putriku memilih untuk menyelamatkanmu, pasti itu yang akan membuatnya bahagia, itu pilihannya. Jika, posisi kalian ditukarpun, Intan juga pasti akan merasa hancur sama sepertimu sekarang ... Kalian sudah terikat, jika salah satu diantara kalian terluka, yang lain juga pasti akan merasakan sakit yang sama. Om sudah melihatnya sewaktu kamu koma sebelumnya. Jadi, kamu tak perlu menyalahkan dirimu sendiri." Ucap ayah bijak. Bagas yang mendengar itu merasa tak suka.
"Maaf saya menyela om, tapi Intan celaka seperti ini kan karna dia tak berhasil melindugi Intan. Bagaimana, jika hal ini terulang lagi dan lebih parah?!" Tanya Bagas menyela.
"Siapa kau?!" Tanya ayah dengan wajah dingin.
"Saya Bagas, kakak kelas Intan. Saya yang membawanya kesini sebelumnya." Jawab Bagas sopan.
"Oh begitu. Terima kasih sudah membawa Intan kesini. Tapi, kau juga tak berhak ikut campur di dalam urusan keluargaku ... Dan jika aku ingat, Intan pernah menceritakan tentangmu padaku. Dan kau adalah penyebab dari semua masalah ini?! ... Jika, itu benar maka lebih baik kau pergi sekarang. Aku tak ingin melihat putriku semakin marah saat melihatmu ketika bangun nanti. Kalau kau butuh biaya kompensasi karna sudah menyelamatkan putriku, katakan saja. Tapi, ku harap jangan pernah muncul lagi di depan putri atau keluargaku." Ucap ayah dengan nada dingin mencekam. Auranya dinginnya sampai bisa membuat Bagas merasa kecil.
"Ba-Baik saya mengerti om. Saya akan pergi sekarang." Pamit Bagas sebelum pergi meninggalkan ruangan Intan. Bayu tersenyum puas mendengar penuturan sang ayah.
"Mid, makasih ya, kau sudah begitu lapang dada menerima kekurangan putraku. Bahkan, kau tak memarahinya karna sudah gagal melindungi Intan." Ucap papa Setya dengan senyum kecil diwajahnya.
"Sudahlah, itu bukan masalah. Sekarang bukan lagi Setya yang harus melindungi Intan. Tapi, sudah seharusnya mereka saling melindungi sebagai pasangan." Jawab ayah Intan yang berusaha tenang. Mama Setya dan bunda tersenyum mendengar ucapan ayah Intan.
Padahal mereka tahu seposesif apa ayah Intan, tapi kini dia berusaha terlihat kuat. Sebenarnya, rasa cemas dalam hati ayah melihat putri kesayangannya terluka tentu saja masih membuatnya sedih. Tapi, dia berusaha mengerti dengan apa yang diinginkan Intan.
"Setya, tanganmu penuh darah. Ayo mama bantu bersihkan dulu yaa.." Ucap mama lembut, sambil mengajak Setya keluar ruangan Intan.
Di luar mama membeli tissu basah dan mulai membersihkan darah Intan di tangan Setya.
"Ma ... Apakah, sungguh Setya masih pantas bersama Intan?! Setya benar-benar tak berdaya dan tak bisa melindungi Intan tadi. Bagaimana suatu hari nanti akan terjadi hal yang sama?! Setya gak bisa melihat Intan terluka ma." Ucap Setya lirih.
Mama menatap sang putra yang terlihat sangat tertekan. Mama pun memeluk Setya dan menepuk-nepuk punggunnya.
Tuhan, berikan kesembuhan pada putraku..
Kalau bisa, aku rela menukar keadaannya dengan diriku. Aku tak sanggup melihatnya selemah ini ...
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..