
Dengan lesu Intan berjalan ke luar kamar untuk menuju meja makan. Tapi, entah mengapa saat melihat makanan di meja makan dia sama sekali tidak bernafsu. Akhirnya, dia hanya memakan buah dan memanaskan makanan lagi untuk disimpan.
"Kakak uda makan?" Tanya Dika yang melihat Intan sedang membereskan makanan.
"Ehm, sudah. Nih.." Jawab Intan sembari menunjukkan buah apel yang belum selesai ia makan.
"Maksudnya tuh makan nasi kak. Makan malam." Seru Dika kesal.
"Ah, gak nafsu aku tuh." Jawab Intan acuh.
"Tapi ..."
"Shhttt.. Aku akan keluar dan cari makan, ok? Kamu tunggu di rumah dulu aja. Aku gak bakal lama." Seru Intan sembari berlalu pergi. Dika hanya bisa menatap kepergian kakaknya dengan menghembuskan nafas panjang.
"Pantas saja, ayah sangat khawatir untuk meninggalkan kak Intan di rumah sendirian." Gumam Dika menatap kepergian Intan.
Intan dengan perlahan berjalan keluar rumah untuk mencari makanan yang bisa membangkitkan nafsu makannya. Tiba-tiba ponselnya berdering dan itu panggilan dari Setya. Dengan senyuman Intan mengangkat telpon dari Setya itu.
"Hallo tuan putri, sedang apa?" Tanya Setya dengan lembut.
"Sedang jalan." Jawab Intan pelan. Ia lupa kalau saat ini ia tidak di rumah dan malah keluyuran malam-malam. Setya pasti akan khawatir dan mengomelinya.
"Jalan? Kemana? Katanya mau liat drama aja sama Ifa di rumah. Ini uda malem loh." Seru Setya sesuai dugaan Intan.
"Ifa gak jadi nginep kak, karna kak Bayu tuh ngaduin ke mama. Ehm, aku hanya jalan keluar komplek sebentar aja buat cari makan sekalian mencari udara segar. Habis nafsu makanku hilang dan suasana hatiku jadi buruk banget waktu Ifa ngabari kalau gak jadi nginep. Kakak tenang aja, jalanan masih rame kok. Kan sekarang belum jam 8." Jawab Intan menjelaskan.
"Haih. Ya sudah, cepet beli dan pulang. Sudah larut. Seharusnya, kamu kabari aku saja untuk cari makan, aku bisa membelikannya untukmu." Ucap Setya pelan.
"Iya kak Setya. Kakak tenang saja, aku keluar juga untuk memperbaiki suasana hatiku. Kalau aku mau seharusnya aku bisa pesen lewat online saja, daripada merepotkan kakak." Jawab Intan perhatian.
"Aku sama sekali tidak merasa direpotkan, kalau itu demi kamu." Ucap Setya menggoda.
"Haha. Kak Setya bisa aja ... Ehm, kalau gitu aku tutup telponnya dulu ya. Aku akan segera membeli makanan dan pulang. Baterai ponselku akan segera habis ini." Ucap Intan setelah mendengar nada peringatan dari ponselnya.
"Baiklah. Nanti, kalau sudah sampai rumah kabari aku, ok?" Ucap Setya memastikan.
"Iya-iya. Muach .." Pamit Intan sebelum menutup panggilan dari Setya.
Setelah itu, Intan mengedarkan pandangannya mencari makanan yang ingin dia makan diantara banyaknya stan makanan di depan komplek rumahnya.
"Ehm, makan apa ya? Suasananya dingin begini enaknya makan yang anget-anget deh ... Ah, Seblak! Keliatannya enak. Panas dan pedas. Yummy. Baiklah, aku akan membeli seblak saja." Seru Intan antusias saat melihat stan seblak tak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan semangat ia segera menuju ke stan seblak yang cukup ramai itu.
"Mas seblaknya 1 ya, porsi jumbo dengan mie. Pedesss ya mas." Ucap Intan memberitahu pesanannya.
"Baik mbak, tunggu sebentar yaa." Jawab mas penjual dengan ramah.
Sembari menunggu pesanannya dibuat, Intan duduk di kursi yang sudah disediakan sembari menatap kendaraan yang masih memenuhi jalan raya seakan tak ada habisnya. Tiba-tiba perlahan hujan pun turun, berawal dari rintik dan semakin deras.
Intan menengadahkan tangan menikmati bulir hujan yang jatuh ditangannya. Dingin, menyegarkan. Intan teringat kenangannya bersama Setya waktu di halte dulu. Saat itu Intan sangat dingin pada Setya, namun dengan kehangatannya Setya mampu meluluhkan hatinya. Intan tersenyum mengingat kenangan itu.
Di rumhanya Setya juga menatap hujan dari jendela kamarnya. Namun, yang dia pikirkan berbeda dengan Intan. Ia lebih khawatir memikirkan Intan yang saat ini masih diluar.
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba turun hujan deras begini? Intan sudah pulang belum ya? Dia bawa payung gak ya?" Gumam Setya khawatir.
Dika juga menatap hujan deras dari teras rumah. Dia memikirkan sang kakak yang belum pulang.
"Kak Intan pasti tadi gak bawa payung. Dia pergi kemana di tengah hujan deras begini?!" Gerutu Dika kesal sekaligus khawatir.
Dilain sisi, pesanan Intan baru saja selesai. Dia akan menghubungi Dika untuk menjemputnya, namun poselnya sudah mati. Dia menatap hujan yang begitu deras didepannya.
"Sepertinya, hujan ini akan lama redanya. Dika dan kak Setya pasti akan khawatir. Apalagi ponselku sudah mati." Gumam Intan cemas. Akhirnya, ia memutuskan untuk berlari menerobos hujan.
Karna, ponsel kakaknya mati dan tak bisa dihubungi. Akhirnya, Dika memutuskan untuk mencari Intan. Saat dia akan meninggalkan rumah, tiba-tiba Intan datang dengan berlari.
"Kak Intan! Kenapa kakak hujan-hujan?! Lihatlah kakak basah kuyup begini.!! Ponsel kakak juga kenapa mati sih?! Kenapa gak tunggu aku?!" Omel Dika ketika dia melihat keadaan sang kakak.
"Maaf ... Ponselku mati ... Aku bergegas pulang agar kau gak khawatir." Jawab Intan dengan nafas tak beraturan setelah berlari.
"Huh! Yauda kalau gitu. Kakak cepet mandi pakai air hangat, lalu kenakan baju yang tebel. Aku akan buatkan coklat panas buat kakak." Seru Dika memerintahkan. Intan tersenyum geli, karna perilaku Dika seperti bunda.
"Baik-baik. Oh ya, aku beli seblak. Mau makan bersama?" Tanya Intan sambil menunjukkankantung plastik berisi seblak ditangannya. Dika menatap seblak dengan kuah merah pekat itu dengan ngeri.
"Seberapa pedas itu kak?! Kakak kan gak bisa makan yang pedes-pedes banget gitu." Omel Dika lagi.
"Enggak pedes kok. Emang warnanya aja begini." Kilah Intan.
"Aku gak mau, makan sendiri saja! Sudah sana cepet masuk, udaranya makin dingin." Perintah Dika lagi.
Akhirnya, Intan segera berlalu memasuki rumah, Ia mampir ke dapur terlebih dulu untuk memindahkan seblaknya ke dalam mangkuk, sekalian untuk mengambil minum. Baru setelahnya dia menuju ke kamar. Segera ia menghangatkan tubuhnya. Sedangkan Dika sebelum membuatkan coklat panas dia menutup semua pintu dan memastikannya sudah terkunci semua. Setelah itu baru dia membuatkan coklat panas untuk Intan.
Kring ... Kring ...
"Hallo kak Setya, ada apa?" Tanya Dika setelah mengangkat telponnya.
"Hallo Ka ... Apakah Intan sudah pulang? Apakah dia kehujanan? Ponselnya gak bisa dihubungi." Tanya Setya dengan khawatir.
"Kak Intan sudah pulang, tapi dia kehujanan. Tapi, kak Intan uda Dika suruh untuk mandi air hangat dan pakai baju yang tebel. Dika ini juga lagi buatin coklat panas untuk kak Intan. Kak Setya gak perlu khawtir." Ucap Dika menjelaskan.
"Haduh, malem-malem begini dia malah hujan-hujan. Bagaimana kalau dia sakit. Hm... Ya sudah kalau begitu. Makasih ya Ka." Ucap Setya pelan.
"Ya kak sama-sama. Nanti, saat aku mengantar coklat panas ke kak Intan, aku akan memberitahu kalau kakak menelpon."
"Ya, terima kasih." Jawab Setya sebelum menutup panggilan telponnya.
Setelah membuat coklat panas, akhirnya Dika menuju ke lantai atas untuk mengantarkannya ke Intan.
Tok ... Tok ... Tok
"Kak Intan, sudah selesai belum? Nih coklat panasnya!" Seru Dika dari luar kamar Intan.
Intan yang baru saja keluar dari kamar mandi, segera membuka pintu kamar dan terlihatlah sang adik yag membawa segelas coklat panas.
"Wah, terima kasih." Ucap Intan dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Cepet diminum supaya tubuh kakak anget. Oh ya kalau seblaknya terlalu pedas jangan dihabiskan! Kalau sudah selesai cepet tidur .... Dan nyalakan juga ponsel kakak, tadi kak Setya menelponku, dia terlihat mengkhawatirkan kakak." Ucap Dika menasehati.
"Iya bawel. Uda sana, kau juga bisa tidur." Usir Dika dari depan kamarnya. Dika memutar bola matanya malas dan pergi menuju kamarnya sendiri.
Intan segera menutup pintu kamar dan mulai menyalakan laptop untuk memulai maraton drama malam itu sambil makan seblak, coklat panas dan snack yang sudah dia siapakan. Karna, fokus pada drama yang dia lihat Intan tanpa sadar menghabiskna seblak yang menurutnya pedes banget itu. Dia juga lupa tidak mengcharger ponselnya.
Akhirnya, Dika lah yang menjadi tempat pelarian Setya dan orang tuanya untuk memastikan keadaan mereka. Dika sejauh ini belum mengatakan pada orang tuanya kalau kakaknya habis kehujanan, ia takut membuat orang tuanya khawatir. Saat mereka menanyakan Intan, Dika berbohong kalau Intan sudah tidur. Dika juga mengira seperti itu. Karna, dari dalam kamar Intan tidak terdengar suara apapun, lampu juga sudah dimatikan. Padahal, Intan belum tidur dan masih melihat drama.
Sampai saat jam menunjukkan pukul 3 pagi, Intan merasakan perutnya sakit, hingga membuatnya mual. Badannya juga terasa panas dengan keringat bercucuran. Intan segera menuju tempat tidur dan meringkuk di balik selimut. Ia menekan perutnya yang terasa sakit itu, dengan keringat yang semakin deras.
Keesokan paginya, Dika merasa heran karna Intan belum juga bangun untuk menyiapkan sarapam seperti janjinya sebelumnya. Dia mencoba membangunkan Intan dengan mengetuk pintu kamarnya. Namun, tak ada jawaban dari Intan. Dika mulai merasa ada yang aneh. Karna, bagaimanapun Intan tidur dia pasti bisa mendengar panggilan, paling tidak dia akan bergumama dan mengatkan kalau mau tidur lebih lama lagi. Akhirnya, Dika memutuskan untuk memasuki kamar Intan. Dia melihat Intan yang masih meringkuk di balik selimut.
"Kak Intan, ayo bangun! Ini sudah pagi. Katanya kakak mau buatin aku sarapan! Kak Intan.." Panggil Dika dengan menarik-narik selimut Intan. Tapi, Intan tak bergeming.
Dika semakin merasa aneh. Dia menurunkan selimut dari wajah kakaknya. Dika sangat terkejut saat melihat wajah Intan yang pucat dengan keringat yang bercucuran. Disentuhnya kening Intan dan ternyata panas.
"Kak! Kak Intan, kenapa?!" Seru Dika khawatir.
"Sa-Sakit ..." Gumam Intan dalam tidurnya. Dika menurunkan selimut Intan lagi dan melihat Intan yang mencengkram kuat perutnya.
Dika bisa menebak apa yang terjadi pada kakaknya. Pasti maagnya kambuh dan membuat asam lambungnya naik. Dika melihat mangkok seblak yang kandas dan beraneka bungkus camilan di meja belajar Intan. Dika hanya bisa menggerutu dengan kesal, namun dia juga sangat mengkhawatirkan sang kakak.
Kring ... Kring ... Kring
Panggilan masuk dari Setya di ponselnya. Dika segera mengangkatnya.
"Intan belum bangun kah? Ponselnya belum bisa dihubungi." Tanya Setya yang masih belum bisa menghubungi Intan.
"Kak Setya! Bagaimana ini, kak Intan sakit!" Seru Dika dengan panik.
"Apa?! Kenapa bisa?!" Jawab Setya yang terkejut.
"Ternyata kak Intan menghabiskan seblak pedas yang dia beli kemarin, apalagi kemarin malam kak Intan jadi begadang. Maagnya pasti kambuh dan membuat asam lambungnya naik. Badannya panas dan banyak mengeluarkan keringat. Dia terus merintih kesakitan sambil memegangi perutnya. Apa yang harus ku lakukan sekarang? Kak Intan terlihat kesakian!" Seru Dika menjelaskan. Saat ini Dika tidak bisa berpikir dengan tenang. Tidak ada orang dewasa di rumahnya dan kondisi Intan drop seperti ini, membuatnya ketakutan.
"Kamu tenanglah dan kompres perut juga badan kakakmu dengan air hangat dulu. Aku akan segera kesana dan kita bisa membawa Intan ke rumah sakit. Kamu harus tenang, aku mengandalkanmu Dika." Ucap Setya dengan serius.
"Baik kak." Jawab Dika mengerti. Setelah itu panggila berakhir. Dika segera menuju dapur untuk mengambil termos berisi air panas dan baskom. Dia juga mengambil dua handuk kecil untuk mengkompres Intan.
Dilain sisi, Setya dengan tergesa-gesa bergegas untuk meninggalkan rumah.
"Ada Setya, kenapa kamu buru-buru begitu? Kenapa kamu terlihat panik juga?" Seru mama yang melihat Setya menuruni tangga dengan tergesa.
"Intan sakit, ma. Ini Setya akan segera kesana untuk membawa Intan ke rumah sakit. Intan hanya sendiri bersama Dika, orang tuanya ke luar kota." Ucap Setya menjelaskan dengan panik.
"Apa Intan sakit?! ... Kalau gitu mama ikut, supaya ada orang dewasa yang mendampingi kalian. Kamu cepat paggil taksi, mama akan bersiap sebentar." Perintah mama dengan segera menuju kamarnya. Setya pun mengangguk mengerti dan segera keluar rumah untuk mencari taksi.
Kamu kenap Intan?! Bertahanlah, aku akan segera datang!!
.
.
__ADS_1
.
Bersambung..