
SESAMPAI di ruang UGD, Kekira menangis melihat Ayah diinfus dan tidak sadarkan diri.
“Kekira, tenang.” Akbi sampai mencengkeram bahunya. “Ini rumah sakit. Kamu jangan kayak gini dong.”
“Tapi Ayah, Bi…” Kekira memelankan suaranya.
Ayah terjatuh dari tangga dan mengalami gegar otak ringan. Kondisinya sudah membaik namun perlu dirawat di rumah sakit beberapa hari.
“Ayah pasti baik-baik aja.”
Bunda datang bersama dokter.
“Ayah akan dipindah ke kamar rawat, Nak,” kata Bunda.
“Tapi Ayah…”
“Insya Allah baik-baik aja. Doakan Ayah selalu.”
Begitu Ayah masuk kamar rawat, Kekira ingin ikut menjaga namun dilarang Bunda.
“Besok kan kamu mesti kuliah. Kamu pulang aja ya, Nak? Besok bisa ke sini lagi.”
“Tapi, Bunda…”
“Ki, bener kata Bunda. Kamu lebih baik istirahat.” Akbi menambahkan.
Akhirnya Kekira setuju untuk pulang.
Namun Akbi punya pikiran lain.
“Bunda, aku rasa nggak baik kalau Kekira sendirian.”
Dua kepala menoleh ke arahnya.
“Maksudnya?” Bunda bingung, namun langsung ngeh. “Astagfirullah.. bener-bener. Nggak baik kalo Kekira sendirian. Aduh tapi gimana ya?”
“Gini aja, Bunda. Untuk sementara, gimana kalo Kekira nginep di rumah Akbi? Kan ada Nenek sama Tante Vina. Kebetulan ada kamar tamu. Aku rasa Kekira lebih aman di sana daripada sendiri di rumah.”
Bunda memandang Kekira, bimbang.
“Bunda rasa itu lebih baik. Ya sudah, kamu di rumah Akbi dulu ya, Nak. Mudah-mudahan Ayah cepat pulih.”
Kekira mengangguk patuh.
“Akbi, terima kasih ya. Bunda titip Kekira.”
“Baik, Bunda.”
Dengan hati gamang, Kekira meninggalkan rumah sakit bersama Akbi.
***
Setelah mengambil barang-barangnya, Kekira dibawa Akbi ke rumah.
Kedatangan Kekira disambut hangat oleh Nenek dan Tante Vina.
Mereka langsung menyukainya karena bersikap amat sopan.
Begitu Akbi memberitahu kondisinya, mereka mengizinkan Kekira menginap di rumah sampai Ayah keluar dari rumah sakit.
Apalagi dengan santernya kabar penculikan saat ini memang tidak aman Kekira tinggal sendirian.
“Kamu bisa istirahat di kamar ini.” Akbi meletakkan tas baju Kekira di dekat lemari.
Kekira mengamati kamar tamu yang luas dan rapi.
“Udah, jangan sedih gitu. Aku tinggal dulu. Kalo perlu apa-apa, bilang aja.”
“Akbi..”
“Ya.”
Kekira tersenyum. “Makasih ya.”
Akbi balas senyum sekilas.
“Have a nice dream.” Ia buru-buru meninggalkan kamar.
Keluar dari kamar mandi, Kekira sudah berganti dengan kaos dan celana panjang.
Sambil menyeka rambut, ia mengambil HP-nya dari tas.
Layarnya pecah, karena terbanting cukup keras. Nampaknya sulit diperbaiki. Alamat kudu beli HP baru.
Tubuh Kekira terhempas di kasur.
Hari ini banyak kejadian yang menguras tenaga dan pikirannya.
Sungguh, ia lelah dengan semua ini.
Andai ia bisa lepas dari Riga, andai mudah ia mengatakan TIDAK untuk pernikahannya, mungkin masalahnya tidak akan berkepanjangan.
__ADS_1
Tak lama ia terlelap.
***
Tok tok tok..
Kekira merapikan jilbabnya dan beranjak membuka pintu.
“Akbi?”
“Gimana? Nyenyak tidurnya?”
“Alhamdulillah. Kamu mau ke kampus hari ini kan?”
“Iya. Kita sarapan dulu. Trus berangkat. Oh ya, aku mau kasih kamu ini.” Akbi memberikan HP warna putih. “Bukan HP baru sih, tapi setidaknya berguna untuk kamu.”
Kekira terharu Akbi sebegitu perhatian padanya.
“Eh malah diem, ambil. Cewek kayak kamu kan mana betah kalo nggak selfie-an. Cakep kok nih kameranya.”
“Iihhh ngeledek banget, aku jarang selfie kok.”
Akbi tertawa. “Ya makanya ambil. Setidaknya bisa nelepon Bunda buat nanya kabar Ayah. Ya kan?”
Akhirnya Kekira menerima, baru mau buka mulut, tiba-tiba Akbi mencubit hidungnya pelan.
“Dan jangan bilang makasih lagi. Cukup kasih aku senyum paling manis.”
Senyum Kekira mengembang, pipinya merona.
Akbi jadi geregetan sendiri. “Yuk kita sarapan. Kelamaan di sini yang ada kena marah Nenek.”
“Mau selfie dulu nggak nih?” goda Kekira. “Nyobain HP baru.”
“Duuuhh ni anak manja, bikin cenat-cenut aja. Ya udah sini, selfie berdua ya.” Akbi menyetel kamera HP. “Senyum, jangan cemberut. Tembemnya jelek kalo cemberut.”
Mereka tersenyum melihat kamera.
Klik.
Akbi mengamati hasil foto. “Bagus nih, aku jadi foto profil whatsapp ah.”
“Ehhh ntar jadi gosip, lagi.”
“Biarin aja. Malah syukur kalo bukan cuma gosip.”
“Eh!” Kekira melotot, Akbi langsung mengacungkan dua jari.
“Yuk!”
***
“Cinay, pagi-pagi kok cemberut aja?” tegur Kekira ketika tiba di kelas.
“Aku mulai bete, Ki. Gara-gara penculik belum ketangkep, Mama dan Mas Reno makin over aja protektif nya. Aku jadi nggak bisa kemana-mana. Mau jalan ke mal aja nggak boleh. Soalnya Mas Reno juga sibuk kuliah.”
Kekira maklum. “Demi keselamatan kita, Nay. Bukan cuma kamu. Kita berdoa aja semoga pelakunya ketangkep biar ketakutan kita berakhir.”
“Semoga aja deh.” Cinay teringat. “Eh udah denger belum kalo Pak Rusdi dipecat?”
Kekira tersenyum hambar. “Tau dong. Dia kan dikeluarin gara-gara aku.”
“HAH?!”
Bleppp..
“Apaan sih jangan histeris gitu, dong!?” omel Kekira tertahan sambil melepaskan bekapan tangannya.
“Serius kamu, Ki?!” bisik Cinay masih kaget.
“Ntar aku ceritain. Panjang kalo dijelasin sekarang.”
“Bener ya.”
Sepanjang perkuliahan Cinay sudah kepalang penasaran. Sampai tidak fokus pada pelajaran.
Begitu selesai, tanpa buang waktu Cinay langsung menarik Kekira ke kantin.
“Sekarang cerita! Ada apa sih?”
Akhirnya dia ceritakan yang diperbuat Pak Rusdi hingga didepak dari kampus.
Tapi ia tidak cerita sumber masalahnya dari Veni. Karena kalo cerita, dua hari semalaman juga belum tentu beres.
Sampai sekarang cuma Akbi yang tau tentang Riga. Dia tidak berminat cerita lebih jauh.
Cinay melongo. “Wah kebangetan tu dosen! Laporin polisi aja, Ki! Udah ngerendahin kita para mahasiswi. Dari dulu juga tu dosen terkenal mata keranjang, suka godain mahasiswi di sini. Tapi nggak ada yang pernah laporin.”
“Yang penting dia udah kena batunya. Aku nggak mau makin runyam. Apalagi orangtuaku juga nggak tau.”
“Kenapa nggak kasih tau aja?”
__ADS_1
“Ayahku dirawat di rumah sakit, Nay. Aku nggak mau nambah beban pikiran Ayah Bunda kalo tau masalah ini.”
“Innalillahi.. sorry ya, aku nggak tau Ayah kamu lagi sakit. Btw, sakit apa?”
“Jatuh dari tangga. Kata dokter gegar otak ringan. Makanya harus dirawat beberapa hari di rumah sakit.”
“Jadi kamu sendirian di rumah? Kalo gitu, aku nginep di rumah kamu aja, gimana?”
“Eh ngg…” Kekira bingung menjelaskan. “Aku nggak tinggal di rumah, Nay.”
“Lho trus di mana?”
Kekira tersenyum kecut. “Di rumah Akbi.”
Efek kata-kata Kekira cukup dahsyat, Cinay sampe melongo lebar kayak ikan mas koki.
“Awas kalo teriak lagi!” ancam Kekira.
Cinay menutup mulut. “Serius? Kamu nginep sama Kak Bira?”
“Eh ni anak… kalo ada yang denger bisa salah arti. Aku tidur di kamar tamu rumahnya. Lagian kami nggak berdua di rumah. Ada Tante dan Neneknya. Yah untuk sementara sampai Ayah pulang.”
“Oh gitu.. kirain, eh tapi kalo aku perhatiin, kayaknya Kak Bira suka sama kamu.”
Kekira kaget. “Apaan sih ngaco kamu. Kami cuma sahabat.”
Cinay curiga. “Kalo cuma sahabat, kok muka kamu merah gitu? Hayooooo… jangan-jangan kamu naksir Kak Bira?” godanya.
“Ih Cinay jangan geli gitu deh…”
Pesanan mereka datang.
“Makan dulu ah, bisanya godain aku melulu.” Kekira langsung menikmati batagornya. “Kita udah nggak ada kelas kan? Aku mau ke rumah sakit tengok Ayah.”
“Eh aku ikut ya.”
“Ayuk. Sekalian aku kenalin ke Ayah.”
***
Tiba di kamar rawat, kondisi Ayah sudah lebih baik namun dokter melarangnya banyak bicara.
“Ayah, kenalin ini Cinay.”
Cinay menyalami Ayah dengan sopan. “Cinay, Om.”
Ayah balas tersenyum. “Kekira sering cerita tentang kamu. Terima kasih ya sudah bantu menjaga Kekira.”
“Sama-sama, Om.”
“Yang ini Mas Reno, kakaknya Cinay. Temennya Akbi juga, Yah.”
Reno menyalami Ayah. “Semoga lekas sembuh, Om.”
HP Kekira berbunyi.
Melihat nama terpampang di layar membuatnya diam.
“Lho, itu HP siapa, Nak?” tanya Bunda.
“HP-nya Akbi, Bunda. HP aku rusak kemarin jatuh. Sebentar aku jawab telepon dulu ya, Bunda.” Kekira keluar kamar dan menjawab telepon. “Halo?”
“Kali ini lo bisa lolos. Tapi selama lo belum batalin pernikahan lo sama Riga, gue nggak bakal berhenti ngehancurin lo!”
“Veni, cukup! Aku udah ngomong sama Mas Riga, tapi dia nggak mau dengerin aku. Kalo kamu belum puas, aku kasih alamat kantor Mas Riga. Semua keputusan tergantung usaha kamu sekarang.”
Kekira mematikan telepon dan mendengus keras.
“Hati-hati tanduk kamu copot.”
Kekira menoleh kaget. “Akbi, kamu dari tadi di sini?”
Akbi angkat bahu.
“Coba sini aku liat.”
Akbi meraba kepalanya.
“Aman-aman aja, kok tadi serem juga ya wajah si manja ini? Kayak banteng ngamuk.”
Kekira merengut. “Veni ngancem aku lagi.”
“Dia nggak puas kemaren gagal bikin kamu DO dari kampus.”
Kekira menunduk sedih.
Lagi-lagi perasaan itu datang setiap melihat wajah sendu Kekira.
Akbi gelisah memikirkan yang sebenarnya ia rasakan.
Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
***