Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Membuang sampah!


__ADS_3

Tania berjalan mendekati Rafa dengan wajah dingin. Tatapan hangat dan penuh cinta juga kekaguman yang biasanya dia berikan pada Rafa tak lagi terlihat. Perasaan itu seperti sudah terbakar akan rasa marah dan kekecewaan yang dia rasakan sebelumnya. Terbakar habis hingga menjadi debu dan hilang diterbangkan angin.


"Sayang ternyata kamu disini.." Ucap Tania berdiri didekat Rafa. Dia merubah wajah dinginnya menjadi sebuah senyum manis.


"Oh sayang, ada apa kamu kemari? Mau bergabung makan siang bersama kami?" Ucap Rafa sedikit terkejut, tiba-tiba Tania sudah ada disebelahnya.


"Apa gak boleh aku menghampirimu? Habisnya kamu gak datang mencariku, bahkan kamu gak tau kan kalau aku sedang sakit." Ucap Tania dengan nada kecewa.


"Wah, kau parah sekali Raf, pacar sendiri sakit masa gatau."


"Benar. Kau malah enak-enakan makan disini."


"Benarkah kamu sedang sakit? Kenapa gak memberitahuku? Apa sudah ke UKS?" Seru Rafa seakan khawatir dengan melihat keadaan Tania. Dia harus menjaga imagenya didepan teman-temannya saat ini.


"Aku sudah gak apa-apa. Sepertinya, sakit kali ini membawa berkah untukku. Aku bisa tahu kalau disekitarku ternyata ada seoarang sampah!" Ucap Tania dengan penuh penekanan dan senyum diwajahnya.


"Berarti bagus dong, kalau begitu. Kamu bisa segera membuang sampah itu." Seru Rafa dengan menggebu, tanpa tahu bahwa sampah itu adalah dirinya sendiri.


"Tentu saja aku akan membuangnya, gak ada gunanya juga terus menyimpannya. Tapi, bagaiamana ya caranya? ... Yuni, bisakah kamu memberiku saran cara yang bagus untuk membuang sampah itu?" Tanya Tania dengan sikap tenangnya.


"Hmm, kalau aku pasti akan mempermalukan dia dan menunjukkan ke semua orang kalau dia adalah sampah!" Jawab Yuni dengan menggebu.


"Ide yang bagus. Aku juga berfikir seperti itu.." Ucap Tania sembari melihat segelas kopi hitam ditangannya. Kemudian, dia menatap Rafa yang ada didepannya dengan seringai licik. Lalu ..


Byurrr..


"Haaahh?!! Apa yang kau lakukan Tania?!" Pekik Yuni yang terkejut saat Tania dengan sengaja menumpahkan kopinya diatas kepala Rafa.


Pemandangan itu jelas menarik perhatian murid-murid yang ada disana. Tasya, Dika dan Rehan juga sama terkejutnya dengan yang lainnya.


"Uups! Tanganku licin." Ucap Tania tanpa merasa bersalah sama sekali.


"Tania! Apa yang kamu lakukan?!" Seru Rafa marah. Dia sangat kesal karna, wajah tampannya menjadi kotor, seragam putih yang ia kenakan juga menjadi hitam.


"Aku hanya mau membuang sampah!" Jawab Tania santai.


"Kau menyebutku sampah?!" Teriak Rafa marah.


"Tania kamu sudah keterlaluan! Rafa kan pacar kamu, kenapa kamu menyebutnya sampah dan melakukan ini padanya?!" Seru Yuni yang juga merasa kesal.


"Kenapa kamu terlihat sangat kesal Yun? Ini kan urusanku dan Rafa, kenapa kamu ikut campur juga?" Tanya Tania masih bersikap tenang.

__ADS_1


"Rafa juga temanku Nia! Kamu sudah keterlaluan menyiram Rafa seperti itu. Aku juga gak bisa diam saja sebagai teman!" Seru Yuni kesal.


"Ouh, hanya teman. Tapi, melihat kekhawatiran berlebihanmu itu kenapa aku jadi curiga ya? Apakah kamu dan Rafa berselingkuh dibelakangku? ... Lihat, bahkan teman-teman Rafa sendiri gak terlalu emosi sepertimu.." Ucap Tania sambil menatap curiga Yuni. Perkataan Tania secara tidak langsung menggiring pemikiran murid lain untuk berpikir hal yang sama.


"Tania benar. Kenapa Yuni terlihat sangat berlebihan. Itu kan masalah Rafa dengan pacarnya.."


"Benar sekali. Dia terlihat mencurigakan."


Para murid mulai berbisik-bisik membicarakan sikap Yuni. Mereka mulai mencurigai hubungan Yuni dan Rafa. Yuni dan Rafa nampak terkejut dan sedikit salah tingkah.


"Kau jangan menuduhku sembarangan! Wajar kan kalau kita mencemaskan teman kita?!" Seru Yuni berusaha mengelak.


"Tania, kamu gak bisa menuduh tanpa bukti. Lagian selama ini aku sudah bersikap baik padamu, bahkan aku juga memaklumimu dekat dengan teman-teman priamu. Tapi, kenapa kamu mencurigaiku berbuat seperti itu?! .." Tanya Rafa yang sengaja melimpahkan kesalahan pada Tania. Murid-murid lain kembali berbisik-bisik menyelahkan Tania.


"Huh.. Sekarang kau melempar kesalahan padaku?! Padahal kau tahu dengan jelas siapa yang bersalah disini?! ... Aku merasa sangat bodoh selama ini, kenapa aku gak bisa melihat sampah yang begitu busuk disampingku! Kau dan dia memang layak untuk dibuang Rafa!" Seru Tania sambil menunjuk ke arah Rafa dan Yuni bergantian. Nada bicaranya penuh penekanan dengan sorot mata tajam.


"Apa yang kau katakan?!" Tanya Rafa berpura-pura bodoh.


"Sudahlah, hentikan sandiwaramu itu! Aku sudah tahu semuanya. Sampai kapan kau akan menyembunyikan hubunganmu dengan Yuni? Sampai kau mendapatkan jabatan OSIS atas bantuanku? Huh! Mimpi saja karna setelah ini kau gak bakal terpilih jadi ketua OSIS!" Seru Tania dengan senyum mengejek.


"Tania, apa yang kamu katakan? Kenapa kamu menuduh kami seperti itu? Kamu gak bisa menuduh kami sembarangan tanpa bukti.!!" Seru Yuni masih berusaha mengelak.


"Waah, gila! Rafa dan Yuni benar-benar selingkuh dibelakang Tania!"


"Aku gak menyangka Rafa orang seperti itu."


"Yuni juga, dia terlihat polos tapi ternyata perusak hubungan orong."


Para murid mulai berbisik-bisik mengolok Rafa dan Yuni. Ternyata sebelumnya Tania memotret juga memvideo apa yang dilakukan Rafa dan Yuni di UKS. Lalu, Tania menjadikannya story di akun medsosnya. Rafa dan Yuni juga cukup terkejut melihat itu.


"Kenapa dengan wajah kalian? Terkejut ya, karna ternyata aku sudah tahu kebusukan kalian. Kalian pasti gak menyangka kalau aku yang berada di UKS itu dan melihat juga mendengar semua yang kalian lakukan?! ... Yuni, bagaimana cara membuang sampahku? Sesuai harapanmu bukan?" Tanya Tania dengan seringai diwajahnya.


Rafa dan Yuni sudah tak bisa mengelak lagi. Kebohongan mereka sudah terbongkar. Semua sudah berakhir.


"Mulai hari ini aku gak ada hubungan lagi denganmu. Sekarang kau sudah bebas bermesraan dengan Yuni tanpa takut ketahuan olehku ... Dan Yuni silahkan kamu miliki bekas pacarku ini, aku berikan padamu dengan senang hati. Tapi hati-hati, kau harus menjaganya baik-baik karna bisa jadi dia akan meninggalkanmu juga seperti saat dia meninggalkanku." Ucap Tania penuh penekanan dan nada mencibir. Setelah itu dia berbalik dan hendak pergi meninggalkan Rafa dan Yuni.


"Kau! Aku sangat beruntung pisah denganmu! Daripada denganmu Yuni masih jauh lebih baik!" Seru Rafa marah. Dia masih berusaha menyelamtkan harga dirinya yang tersisa.


"Ya sudah nikmati saja hubunganmu dengannya, kenapa harus mengatakannya padaku. Aku gak peduli sama sekali tuh ... Kalian memang pasangan yang cocok kok. Sama-sama sampah!" Ucap Tania dengan nada dingin.


"Kau! ..."

__ADS_1


"Hentikan sampai sini. Jangan menyentuh sahabatku dengan tangan kotormu itu. Sampah sepertimu memang cocok berkumpul dengan sampah! Setelah ini semua orang juga akan menghindarimu karna gak tahan dengan kebusukanmu!" Seru Tasya yang menghadang Rafa yang akan memukul Tania.


"Jangan ikut campur kau! Minggir!!" Teriak Rafa marah dan mendorong Tasya hingga akna jatuh. Untung Dika dan Rehan dengan sigap menangkapnya. Seketika Dika dan Rehan menatap tajam pada Rafa.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Tania cemas pada Tasya. Tasya mengangguk sebagai jawaban.


"Sudah hentikan Raf! Kau sudah berakhir. Lihatlah kau semakin menghancurkan dirimu!." Seru Rehan dengan nada dingin. Melihat itu membuat nyali Rafa menciut.


Setelah itu Tania, Tasya dan Rehan pergi meninggkan kantin yang entah sejak kapan menjadi ramai. Dika mendekati Rafa dan mencengkram bahunya sembari berbisik ditelinganya.


"Sekali lagi ku lihat kau mendekati teman-temanku, dan bahkan berani bermain kasar seperti tadi ... Lihatlah, aku akan jadi lebih kasar daripada itu. Camkan itu!" Bisik Dika dengan nada dingin mencekam. Cengkramannya pada Bahu Rafa begitu kuat, sampai membuat Rafa gemetar ketakutan.


"Huh.. Kau harus mandi. Busuk sekali.!!" Seru Dika dengan suara keras sembari menutup hidungnya.


"Kalian semua, lihatlah kedua sampah ini baik-baik dan jangan mendekatinya. Kalau tidak kalian akan ikut menjadi busuk!" Imbuh Dika dengan seringai licik, sebelum pergi meninggalkan kantin mengikuti yang lain.


"Kenapa lama sekali? Apa yang kau lakukan padanya?" Tanya Tasya saat Dika baru saja menyusul. Saat ini mereka sedang berada di taman belakang.


"Gak ada. Hanya sedikit peringatan." Jawab Dika santai.


"Aku gak menyangka Rafa pria seprti itu! Dia sangat brengsek! ... Kamu gak apa-apa kan Nia?" Tanya Tasya cemas.


"Hiks ... Kenapa aku harus menangis seperti ini?! Aku merasa puas dan senang bisa membongkar kebohongan dan kebusukan Rafa dan Yuni. Hikss ... Bahkan, saat melihat dan mendengar langsung apa yang mereka lakukan aku juga gak menangis.. Tapi, kenapa sekarang aku sepeti ini?! Hikss ..." Ucap Tania dengan derai air mata. Ia sendiri juga tak tahu ada apa dengan dirinya. Kenapa dia menangis untuk pria brengsek itu.


"Menangis bukan hal yang buruk Nia. Kalau dengan menangis bisa membuatmu lebih baik, menangislah. Gak akan ada yang mengolokmu karna menangis. Kamu sudah bertahan sejauh ini, itu luar biasa ... Sekarang, bebaskan perasaanmu dan menangislah sepuasmu. Tapi, setelah itu kamu harus kuat dan tetap berjalan maju, ok?" Ucap Tasya lembut.


"Hikss.. Hikss... Huaa!!! ... Apa salahku Sya?! Selama ini aku selalu memperlakukannya dengan baik! Aku juga berusaha menjadi pacar yang bisa diandalkan untuknya! Tapi apa ini?! Hikss.. Dia memang brengsek! Pria sampah!" Umpat Tania mengeluarkan kekesalannya sambil menangis dipelukan Tasya.


Tasya tak mengatakan apapun dan hanya menepuk-nepuk pelan punggung Tania untuk menguatkannya. Dika dan Rehan juga hanya bisa diam. Karna, yang dibutuhkan Tania sekarang adalah sandaran dan pendengar.


Apa perasaan bisa menghilang secepat itu, hanya karna sudah menemukan yang lebih baik?


Ku rasa jika aku menyukai seseorang nanti, aku gak akan membuatnya menangis, apalagi meninggalkannya ... Ucap hati Dika, sembari menatap Tasya tanpa sadar.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2