Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Ketakutan


__ADS_3

Waktu terus berlalu, sekarang kandungan Intan sudah memasuki bulan akhir. Intan dan Setya hanya tinggal menunggu hari saja untuk kelahiran buah hati pertama mereka. Semua keperluan sudah di persiapkan dalam tas khusus, berjaga-jaga kalau Intan tiba-tiba mengalami kontraksi sebelum melahirkan.


Intan sendiri juga sudah mengambil jatah cuti. Intan juga mengikuti kelas ibu hamil sebagai persiapan untuk menyambut sang buah hati. Disana Intan diajarkan berbagai macam hal, seperti cara mengahadapi persalinan. Bahkan, juga simulasi untuk merawat bayi.


Di hari biasa Intan akan diteman oleh bunda dan mertuanya. Sedangkan untuk weekend, Setya yang menemani Intan. Sekalian juga sama-sama belajar untuk merawat anak mereka nanti.


Semakin dekat waktu persalinan, Intan mengalami ketakutan. Walaupun sudah mengikuti kelas ibu hamil, tetap saja ketakutan masih menghampirinya. Apalagi, ini adalah pengalaman pertamanya.


Pagi itu Intan dan Setya olah raga dengan jalan-jalan santai menyusuri kompleks. Setya dengan perhatian mengikuti langkah Intan yang pelan dan terlihat sudah mulai kesusahan. Sesekali dia juga menanyakan kondisi Intan.


"Apa kamu lelah sayang? Mau istirahat dulu?" Tanya Setya dengan sangat perhatian. Dia gak mau Intan kelelahan.


"Boleh." Jawab Intan yang kemudian di bantu oleh Setya untuk duduk di bangku tepi jalan yang tak jauh dari tempat mereka saat itu.


"Ini minum dulu." Ucap Setya sambil memberikan botol berisi jus buah segar untuk Intan.


"Makasih.." Ucap Intan dengan senyum di wajahnya.


Intan benar-benar terharu dengan sikap Setya. Setya sangat memanjakannya dan menjadikannya seperti ratu.


"Wah, mbak Intan. Lagi olah raga ya?" Tanya salah seorang ibu-ibu kompleks yang kebetulan lewat bersama yang lain.


"Ah, iya bu. Ibu-ibu mau senam bersama ya?" Tanya Intan dengan ramah.


"Iyaa.."


"Oh ya mbak Intan. Kandungannya uda makin besar ya?" Tanya ibu-ibu yang lain.


"Alhamdulillah bu. Sekarang kami tinggal menunggu hari kelahiran aja." Jawab Intan dengan senyum diwajahnya.


"Wah senangnya. Nanti kalau lahiran jangan tegang ya mbak. Santai aja, apalagi ini anak pertama."


"Ehm, memang kalau tegang jadi sakit ya bu?" Tanya Intan takut-takut.


"Yah, kalau dibilang gak sakit bohong sih. Karna itu pertaruhan antara hidup dan mati."


"Be-Berarti sangat sakit ya bu?" Tanya Intan dengan dahi berkerut. Setya menatap Intan dengan khawatir.

__ADS_1


"Iyaa.. Banyak juga kan kasus ibu-ibu melahirkan yang gak selamat ..."


"Duh-duh, uda dong jeng. Kasian mbak Intan malah jadi takut nanti. Mbak Intan tenang saja. Releks, jangan tegang. Gak semua kasus seperti yang jeng Rini bilang. Buktinya kita semua baik-baik saja setelah melahirkan." Seru ibu lain.


"Ah, iya ya.." Jawab Intan dengan senyum kikuk.


"Pokoknya kita do'akan yang tebaik untuk kelahiran anak mbak Intan nanti. Semoga anak dan ibu semuanya baik-baik saja."


"Amiinnn. Terima kasih bu.." Ucap Intan dan Setya bersamaan.


"Ya sudah kalau gitu, kami pergi dulu. Pelatihnya pasti sudah menunggu kami.." Pamit ibu-ibu tadi.


Akhirnya, setelah itu Intan yang semula sudah takut dan kepikiran makin takut dan kepikiran lagi.


"Mau lanjut jalan-jalan atau pulang?" Tanya Setya dengan lembut.


"Kita pulang saja ya kak." Jawab Intan memutuskan.


Dan itu tentu disetujui oleh Setya. Di sepanjang perjalanan pulang, Intan diam saja dan terlihat seperti sedang berpikir keras. Setya yang melihat itupun jadi mencemaskan Intan.


"Kamu duduk disini dulu ya, bentar.." Ucap Setya kemudian meninggalkan Intan di ruang tamu sendirian. Tak berapa lama, Setya keluar dengan membawa baskom berisi air hangat.


Dia duduk di depan kaki Intan. Intan tak menolak, dia sudah biasa dengan sikap Setya itu. Semenjak Setya melihat kaki Intan yang sedikit membengkak. Apalagi, Intan juga terlihat sudah semakin kesusahan untuk berjalan. Setya selalu rutin memijat dan merendam kaki Intan dengan air hangat. Setya berharap, perbuatannya itu sedikit bisa meringankan beban Intan.


"Kamu tenang saja. Gak bakalan terjadi apa-apa pada kamu dan anak kita. Aku tahu kamu dan putri kita adalah wanita yang kuat." Ucap Setya lembut. Intan tersenyum mendengar ucapan Setya. Dia berharap semoga yang dikatakan sang suami sungguh akan menjadi kenyataan.


Walau sebelumnya, Intan sudah merasa lebih tenang. Nyatanya pikiran dan ketakutan itu belum sepenuhnya hilang dari pikirannya. Malam itu Intan tak bisa tidur dan malah menangis seorang diri membelakangi Setya yang sudah terlelap.


"Hikss.. Hikss.. Hikss"


Setya yang tertidur, samar-samar mendengar isak tangis. Dia pun segera bangun dan mencari dari mana arah isak tangis itu. Tentu saja dia jadi terkejut saat mngetahui kalau isak tangis itu dari sang istri.


"Sayang, ada apa?!" Tanya Setya sembari membalik tubuh Intan agar menghadapnya.


"Kak Setya!! Intan takut!! Huhuhuhu ..." Seru Intan dan semakin menangis dengan kencang.


Setya langsung memeluk Intan untuk menenangkannya. Dia memeluk tubuh Intan dan mengusap rambut panjangnya dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Setelah Intan cukup tenang, Setya melepas pelukannya dan menatap Intan. Dia bisa melihat mata sang istri yang sudah membangkak. Ini artinya, Intan sudah menangis dalam waktu yang lama.


"Kamu masih kepikiran tentang yang tadi?" Tanya Setya lembut sembari mengusap jejak air mata yang masih membasahi kedua pipi Intan.


"Iyaa.. Intan takut! Bagaimana jika Intan gak selamat? Intan akan ninggalin kak Setya, anak kita, ayah, bunda dan semuanyaa ... Intan masih gak mau! Intan ..."


"Ssttt.. Intan?! Sayang!! Berhenti. Ku mohon jangan mengatakan hal-hal buruk seperti itu. Aku akan berusaha. Tidak! Kita akan berusaha bersama. Aku dan kamu akan bersama untuk membesarkan anak kita." Seru Setya sembari menelengkup wajah sang istri yang masih terus menangis.


Setya saat ini juga kebingungan bagaimana menenangkan sang istri. Mungkin sebagaian orang menganggap melahirkan adalah hal biasa. Semua wanita bisa menghadapinya. Tapi, sebenarnya melahirkan itu bukan hal biasa.


Disaat yang sama seorang wanita harus mempertaruhkan nyawanya juga anaknya. Menahan rasa sakit agar bisa melihat sang buah hati lahir di dunia dengan selamat. Tak semua tahu bahwa proses melahirkan itu sangat berbahaya. Salah penanganan maka dua nyawa akam melayang. Jadi, wajar saja bagi seorang wanita merasa takut. Termasuk Intan yang akan pertama kali merasakan sakitnya melahirkan.


"Hikss.. Hikss.. Hikss.."


"Aku memang gak bisa ikut merasakan sakit yang akan kamu alami nanti. Tapi, melihat mu menangis dan kesakitan saja membuat dadaku ikut sesak. Apalagi, perlu kamu ingat sayang. Kamu gak sendirian. Aku juga akan menemani kamu. Kita berjuang bersama yaa.." Ucap Setya menangkan.


"Kak Setya mau nemenin Intan di ruang bersalin nanti?" Tanya Intan penuh harap.


"Tentu saja. Aku akan menemani kamu. Sekarang, kamu tenang dan istirahat ya sayang. Jangan berpikir macam-macam. Walau kemungkinan terburuk ada, kita usahakan yang terbaik dulu. Serahkan saja semua pada Tuhan. Bismillah, semua akan baik-baik saja." Ucap Setya sambil memeluk Intan dan mencium keningnya dengan lembut.


"Terima kasih suamiku .." Ucap Intan lirih dalam pelukan Setya dan perlahan-lahan mulai terlelap.


Mungkin seorang pria tak bisa merasakan sakit melahirkan. Tapi, keberadaannya yang berusaha menenangkan dan memberikan dukungan audah menjadi kekuatan sendiri bagi seorang wanita. Karna, wanita akan merasa dia tak melewati kesakitan itu sendiri.


Semoga semuanya baik-baik saja..


.


.


.


Bersambung..


...----------------...


...Maaf ya semua ... Author baru balik sekarang.. Huhuhu😢😢 Author lagi sibuk nyiapkan skripsi sekarang. Jad, susah banget buat cari waktu luang 🙏🙏...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2