
Sesuai yang direncanakan, sabtu itu Intan dan Ifa diam-diam ke kampus Setya dan Bayu. Mereka janjian mengenakan celana jeans dan jaket serta topi untuk menyamarkan diri.
"Hm, bukankah kita terlalu mencolok? Apa seharusnya kita berpakaian biasa saja ya? Supaya dikira mahasiswa. Kalau seperti ini kita justru mudah dikenali." Tanya Intan pada Ifa saat mereka hendak memasuki Universitas Gading, tempat Setya dan Bayu berkuliah.
"Sudah gak apa-apa. Sudah terlanjur juga. Pokoknya kita harus diam-diam dan berhati-hati saja ... Lebih baik kita cepat masuk!" Ajak Ifa pada Intan.
"Tapi, kampus ini begitu besar. Dimana gedung jurusan bisnis?" Tanya Intan saat melihat betapa besarnya universitas itu. Bahkan lebih besar tiga kali lipat dari sekolahnya sekarang.
"Kamu benar juga. Kalau kita mencari sendirian, bisa satu hari kita berkeliling. Lebih baik kita bertanya pada mahasiswa disini saja." Usul Ifa yang melihat empat orang mahasiswa yang sedang mengobrol tak jauh dari posisi mereka. Intan mengangguk menyetujui dan mendekati mahasiswa itu.
"Permisi kak, boleh kami mengganggu sebentar?" Ucap Ifa dengan senyum diwajahnya.
Empat mahasiswa itu pun menoleh ke arah Ifa dan Intan. Dari tatapan matanya, mereka terlihat cukup terkejut melihat kedatangan Ifa dan Intan.
"Ya, ada apa adik cantik?" Jawab salah satu dari mahasiswa itu.
"Boleh kami bertanya, gedung jurusan bisnis di sebelah mana ya kak?" Tanya Ifa sopan.
"Oh, jurusan bisnis. Kalian ikuti saja jalan utama ini. Lalu diujung jalan kalian belok ke kanan. Dua gedung sebelah kiri itu jurusan bisnis." Jawab mahasiswa itu ramah.
"Baik kami mengerti. Kalau begitu, kami duluan ya kak. Terima kasih bantuannya, maaf juga sudah mengganggu waktu kakak." Ucap Ifa sopan dengan senyum diwajahnya. Intan juga melakukan hal yang sama.
"Sama-sama, kami sama sekali tidak merasa terganggu kok. Kalau ada yang perlu ditanyakan datang saja lagi pada kita. Kami sangat senang bisa membantu dua gadis cantik, seperti kalian." Ucap mahasiswa itu dengan nada sedikit menggoda.
"Oh, hehe. Baiklah. Kalau begitu, kami permisi.." Seru Intan sambil menarik tangan Ifa pergi.
"Wow, kita beruntung sekali bisa bicara dengan gadis cantik seperti mereka."
"Kamu benar. Tapi, untuk apa ya mereka mencari gedung jurusan bisnis ya?"
Para mahasiswa itu saling bertanya penasaran, sambil menatap kepergian Intan dan Ifa yang mulai menjauh. Sedangkan Intan tengah menggerutu setelah meninggalkan mahasiswa itu.
"Huh! Sangat tidak sopan! Kenapa mata lelaki selalu seperti itu, ketika melihat wanita! Menyebalkan!" Seru Intan kesal.
"Sudahlah, lagian mereka juga gak macam-macam. Kita juga sudah memberi batasan dengan tidak mengikuti kemauan mereka. Lupakan saja, sekarang kita cepat mencari kak Setya dan kak Bayu saja." Ucap Ifa menenangkan.
Mereka kembali meneruskan perjalanan seperti yang dijelaskan mahasiswa sebelumnya.
"Wow! Ini gedung bisnis ya? Satu gedung saja sudah sangat besar dan lengkap." Seru Intan takjub.
"Benar sekali. Tapi, tujuan kita bukan untuk memuji gedung ini. Yuk, masuk saja." Ajak Ifa sambil menarik tangan Intan untuk memasuki gedung itu.
__ADS_1
Mereka berjalan menyusuri koridor yang cukup ramai saat itu. Tidak ada yang memperhatikan Intan atau Ifa secara berlebihan, karna banyak mahasiswa yang juga mengenakan style yang sama. Apalagi, mereka juga mengenakan topi, jadi wajah mereka tidak terlalu terlihat.
"Kamu benar Fa, untung saja kita menggunakan topi, jadi wajah kita tak terlalu terlihat." Ucap Intan senang.
"Kan, apa ku bilang ... Tapi, sampai kapan ini kita harus berkeliling?! Kenapa mereka tak juga terlihat?!" Gerutu Ifa mulai jenuh, karna tak menemukan Setya atau Bayu.
"Oh, itu mereka!" Seru Intan sambil menunjuk Setya dan Bayu yang baru saja keluar dari kelas. Intan dan Ifa segera bersembunyi dibalik sebuah dinding, mereka terus memperhatikan Setya dan Bayu.
Setelah selesai dengan mata kuliah siang itu, Setya dan Bayu segera meninggalkan kelas dan ingin pulang saja. Mereka sama sekali tak betah ada di kampus terlalu lama, karna begitu banyak gadis yang berusaha mendekati mereka.
"Andai saja Intan ada disini, para gadis ini tidak akan berani mendekatiku." Gumam Setya lesu.
"Kau benar. Aku juga merindukan Ifa, rasanya ingin aku ambil cuti dan menunggu Ifa kuliah saja." Sahut Bayu tak kalah lesu.
"Setya-Bayu.. Kalian mau langsung pulang? Hm, tidak bisakah kalian makan siang bersama dulu?" Tanya Meli dengan suara lembut menggoda. Meli adalah gadis tercantik di jurusan bisnis angkatan itu. Ia datang bersama Novi temannya yang juga tak kalah cantik.
"Maaf, tidak bisa. Kami tidak makan bersama sembarang gadis." Jawab Setya datar.
Di kampus, Setya memang sedikit merubah sifatnya. Kalau dulu dia akan ramah pada siapa saja, kini dia hanya akan ramah pada sesama pria untuk para gadis, apalagi gadis-gadis yang dengn sengaja mendekatinya, dia akan bersikap dingin. Dia tak ingin gadis-gadis itu menganggap kebaikannya sebagai celah untuk dimasuki.
Begitupun juga dengan Bayu. Dia sama sekali tak tertarik dengan gadis-gadis itu. Bahkan, setiap kali ada gadis yang mendekat dia teringat bagaimana sikap Ifa yang akan memberikan tatapan tajam pada gadis-gadis itu agar menjauh dari Bayu. Walau, Ifa tak ada bersamanya, namun Bayu tetap ingin menjaga dirinya sendiri untuk Ifa.
"Tapi, kami bukan sembarang gadis. Kamu kan tahu, kalau kami adalah gadis tercantik di jurusan bisnis ini." Ucap Meli percaya diri.
"Tidak." Jawab Bayu dingin dan mulai berjalan pergi bersama Setya.
Intan dan Ifa yang melihat itupun merasa sangat puas. Mereka juga sangat senang, karna Setya dan Bayu benar-benar tidak tergoda oleh kedua ular betina itu. Padahal, Meli dan Novi memang cukup cantik.
"Wow, Lihat Meli dan Novi ditolak terang-terangan oleh Setya dan Bayu."
"Setya dan Bayu memang tampan, tapi menolak gadis secantik Meli dan Novi, mereka benar-benar aneh."
"Benar, aku penasaran seberapa cantik nanti gadis yang menjadi pasangan mereka."
Mahasiswa dan Mahasiswi yang melihat itupun mulai saling berbisik. Ada yang mencibir Setya dan Bayu yang terlalu jual mahal, ada juga yang mencibir Meli dan Novi karna ditolak oleh Setya dan Bayu, serta masih banyak lagi. Tentu saja bisikan itu membuat Meli dan Novi merasa malu sekaligus kesal karna diabaikan oleh Setya dan Bayu. Namun, itu juga semakin membuat mereka tertarik dan tidak ingin menyerah untuk medekati Setya dan Bayu.
"Kalau begitu, mau pulang bersama saja?" Tanya Meli berjalan mengikuti Setya.
"Tidak. Pergilah sendiri dan jangan mengikutiku lagi." Jawab Setya dingin tanpa menatap Meli sama sekali. Meli terlihat sangat kesal mendengar jawaban dari Setya itu.
"Bayu, sopirku gak bisa menjemput, ehm bisakah aku menumpang denganmu?" Tanya Novi sok manis sembari menyentuh lengan Bayu.
__ADS_1
"Berani sekali gadis itu menyentuh kak Bayu!" Seru Ifa marah melihat itu.
Dengan cepat ia hendak beranjak dari tempat persembunyiannya dengan Intan saat itu, untuk memberi peringatan pada Novi. Ia tak terima Bayu dipegang olehnya.
"Fa, kamu mau kemana? Kak Setya dan kak Bayu akan tahu kalau kita kesini diam-diam nanti." Seru Intan mengingatkan.
"Itu tidak penting sekarang. Yang penting adalah menyingkirkan ular-ular itu dari kak Bayu dan kak Setya! Mereka juga harus diperingatkan dengan jelas, kalau kak Setya dan kak Bayu adalah pacar kita. Lagian, aku yakin kak Bayu atau kak Setya tidak akan memarahi kita karna kesini diam-diam." Jawab Ifa tegas. Kemudian, ia berjalan mendekat ke arah Bayu dan Novi.
Bertepatan saat itu, Bayu juga sudah berusaha menolak permintaan Novi dan menyingkirkan tangan Novi dari lengannya. Ia benar-benar merasa terganggu dengan sikap Novi.
"Maaf Nov, gak bisa. Lebih baik kamu cari taxi atau ojek online saja. Kalau kamu gak memiliki uang, aku bisa meminjamkannya padamu." Ucap Bayu dingin dengan pandangan tak suka pada Novi.
"Apa kamu tega membiarkanku naik taxi atau ojek online sendiri? Bagaimana jika terjadi sesuatu padaku?" Seru Novi manja dan kembali memegang lengan Bayu. Bayu memejamkan matanya mencoba menahan emosi agar tidak melempar Novi dari hadapannya sekarang.
"Lepaskan tanganmu darinya!"
Bayu membuka matanya saat mengenali suara yang tak asing lagi ditelinganya. Saat ia membuka mata ia melihat seorang gadis bertopi berdiri di depannya. Wajah gadis itu belum terlihat karna ia menunduk.
"Siapa kau?! Apa hakmu memerintahku?!" Seru Novi tak mau kalah, dengan melipat tangan didadanya.
"Hak? Kamu bertanya hak padaku? Hm.. Oppa! Bisakah kamu menjelaskan hakku pada ular betina ini?" Tanya gadis itu yang tak lain adalah Ifa. Ia mengangkat kepalanya dan terlihatlah wajahnya yang kini sedang tersungging senyum mencibir pada Novi.
Bayu memang cukup terkejut, tiba-tiba Ifa ada dihadapannya. Tapi, rasa senangnya lebih besar dari rasa keterkejutannya. Dia pun tersenyum senang. Lalu, Bayu berjalan mendekati Ifa dan merangkul pinggangnya.
"Dia berhak melarangmu. Karna, dia pacarku." Ucap Bayu dengan penuh penekanan. Ifa menatap Novi dengan tangan terlipat didada dengan senyum puas, saat melihat ekspresi terkejut dari Novi.
"Pa-Pacar?!" Seru Novi mengulangi perkataan Bayu. Semua yang ada disana juga cukup terkejut dengan itu.
.
.
.
Bersambung..
>>Meli<<
>>Novi<<
__ADS_1