Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Intan, aku merindukanmu..


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu, semenjak kejadian mengerikan itu. Kondisi Intan berangsur-angsur mulai membaik. Setidaknya, dia sudah bisa berinteraksi dengan anggota keluarganya. Intan juga tidak melewatkan jam makan, termasuk coklat kesukaannya.


Namun, di malam hari Intan masih sering bermimpi buruk. Maka dari itu sang bunda masih belum tega untuk membiarkan Intan tidur sendirian. Ketika tengah sendiri Intan juga masih sering melamun dengan tatapan kosong. Begitupun juga ketika, Dika mengajaknya bercanda Intan hanya akan tersenyum kecil. Keceriaan dan senyuman yang biasa menghiasi wajah cantik Intan belum sepenuhnya kembali.


Tiga hari ini, karna di sekolah juga sudah tidak ada pelajaran. Orang tua Intan memutuskan untuk tidak membiarkan Intan ke sekolah dulu. Mereka yakin, trauma Intan akan kembali saat Intan melihat tempat dimana kejadian buruk itu terjadi.


Intan juga tidak menyentuh ponselnya sama sekali selama tiga hari ini. Dia juga tak ingin ditemui oleh siapa-siapa terlebih dulu. Ia masih merasa malu untuk bertemu dengan teman-temannya. Ia juga tak suka, ketika membayangkan kalau teman-temannya akan menatapnya dengan tatapan kasihan dan menyedihkan.


Ia tahu, setiap hari Setya datang ke rumahnya dan meminta untuk bertemu dengan Intan. Namun, Intan tidak mau menemui Setya. Ia merasa malu bertemu dengan Setya. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri. Walaupun, Irhas belum sempat melakukan apapun padanya. Namun, mengingat bagaimana Irhas menyentuh rambutnya, wajahnya dan membuka paksa kemejanya membuatnya merasa kotor. Jujur, Intan sangat merindukan Setya. Tapi, ia sudah merasa tak pantas untuk menemui Setya.


Bunda sudah berusaha membujuk Intan untuk menemui teman-temannya termasuk Setya. Bunda berpikir itu akan sedikit membuat Intan kembali ceria. Namun, Intan masih menolaknya dengan keras. Bahkan, bujukan sang ayah juga masih belum bisa membuat Intan merubah pikirannya.


Siang itu seperti biasa, Intan duduk disofa dekat dengan jendela kamarnya. Dia menatap awan putih dilangit yang bergerak dengan perlahan. Terkadang ia akan mengulurkan tangannya seolah ingin menggapai awan putih itu. Namun, ia sadar jarak antara dia dan awan itu sangat jauh. Sehingga, sampai kapanpun dia tidak akan bisa menggapai awan itu.


"Awan itu seperti kak Setya. Dia terasa dekat namun ternyata sangat jauh ... Aku sangat merindukannya." Gumam Intan pelan, ia seperti bisa melihat wajah Setya yang sedang tersenyum diatas awan putih itu.


Pandangannya tak sengaja melihat kalender kecil di atas nakas. Kemudian, ia menghembuskan nafas panjang.


"Andai aku tidak mengalami kejadian itu. Pasti besok aku bisa mengikuti kegiatan tengah semester bersama kak Setya ... Aku bisa melihat api unggun dengan mengenggam tangan kak Setya ... Aku bisa tidur dibahu kak Setya selama perjalanan. Tapi kini, aku ... Hikss ... Aku tidak akan bisa melakukan semua itu." Gumam Intan sedih, ia kembali menangis.


"Intan!!"


Merasa namanya di panggil, Intan segera menoleh ke arah pintu kamarnya. Ia melihat Ifa sudah berdiri disana.


"Ifa?" Gumam Intan yang masih bingung dengan apa yang dilihatnya.


Ifa yang memang sangat mencemaskan Intan beberapa hari ini pun, akhirnya merasa lega bisa melihat Intan saat ini. Ifa segera berlari mendekati Intan dan berhambur memeluknya.


"Kenapa kau tidak mau ditemui, huh?! Kau tahu betapa aku sangat mencemaskanmu?! Aku juga sangat merindukanmu!! Kau sangat jahat!!" Seru Ifa yang mulai menangis.

__ADS_1


Awalnya, Intan merasa bingung dengan kehadiran Ifa. Namun, mendengar dan melihat Ifa yang begitu mengkhawatirkannya, Intan pun tersenyum kecil dan mulai membalas pelukan Ifa.


"Maafkan aku. Aku hanya butuh waktu untuk menenangkan pikiranku." Jawab Intan pelan.


"Kau kan bisa tetap menghubungiku! Apakah mengirim pesan atau mengangkat telponku adalah hal yang berat, huh?!" Seru Ifa masih terlihat marah, ia melerai pelukannya dan menatap Intan dengan tatapan kesal.


"Maaf." Ucap Intan pada akhirnya. Walaupun, ia sebenarnya masih belum ingin menemui Ifa, tapi melihat kedatangan Ifa seperti sekarang, jujur membuat Intan merasa lebih baik. Ia juga merindukan sahabatnya itu.


"Tapi, kenapa kamu bisa kesini? Aku kan..."


"Bunda yang memberi izin pada Ifa untuk menemuimu sayang. Bunda tahu kamu juga merindukannya. Dan, bukan hanya Ifa yang datang ..." Ucap bunda memotong perkataan Intan. Bunda tak menyelesaikan kalimatnya, karna Intan bisa melihat sendiri siapa lagi yang datang. Dia adalah Bayu dan Setya.


Ini adalah pertemuan pertama Intan dengan Setya setelah 3 hari lamanya. Mata Intan bertemu dengan Setya, bersamaan dengan debar jantungnya yang berdegup kencang. Ada gejolak aneh dalam diri Intan, rasa rindu yang menumpuk membuat Intan ingin berlari kearah Setya untuk memeluknya. Namun, ingatan akan ssntuhan Irhas padanya membuatnya merasa malu saat ini dihadapan Setya. Intan pun mengalihkan pandangannya.


"Intan kan sudah bilang pada bunda, kalau Intan gak mau bertemu dengan siapa-siapa! Intan ingin sendiri.!!" Seru Intan membelakangi semuanya. Dia mencengkram sweater yang tengah ia kenakan dengan erat untuk melampiaskan emosinya.


"Intan, aku merindukanmu ..." Ucap Setya lembut sembari berjalan mendekati Intan. Hati Intan terasa sesak mendengar perkataan Setya itu. Ia merasa senang dan sedih bersamaan.


"Ak-Aku tidak ingin bertemu dengan kakak saat ini. Lebih baik kakak pulang saja!" Seru Intan, masih membelakangi Setya.


"Apakah kamu tidak merindukanku? Kamu tidak ingin melihatku sama sekali?" Tanya Setya dengan nada yang sedih sembari menatap punggung Intan.


Mendengar nada suara Setya, Intan merasa tak enak hati. Ia tak bermaksud membuat Setya sedih. Hanya saja ia belum siap untuk bertemu dengan Setya. Intan malu pada Setya, karna ia sudah kotor dan tak pantas untuk bersama Setya.


"Ti-Tidak! Aku tidak merindukan kakak dan aku juga tidak mau melihat kakak!" Seru Intan berbohong, karna sebenarnya ia sangat merindukan Setya. Ia juga sangat ingin menatap wajah Setya. Air mata perlahan mengalir membasahi kedua pipi Intan.


Setya menatap pundak Intan yang mulai bergerak naik turun. Ia mengetahui bahwa Intan saat ini sedang menangis. Hati Setya, merasa sesak melihat itu. Dengan cepat dia berjalan ke arah Intan dan memeluknya dari belakang.


"Jangan berbohong ... Aku tahu kamu sangat merindukanku dan ingin melihat wajahku juga ... Kenapa bersembunyi seperti ini? Kamu tahu betapa aku sangat merindukanmu?" Ucap Setya lembut dengan menyandarkan kepalanya pada kepala Intan.

__ADS_1


Intan awalnya terkejut, karna Setya tiba-tiba memeluknya. Namun, mendengar suara lembut Setya yang terdengar sangat tulus membuat Intan goyah. Pertahanan dirinya runtuh seketika. Ia semakin tak bisa menahan air matanya.


Setya segera membalikkan tubuh Intan agar menatapnya. Dengan lembut ia menghapus air mata Intan dengan ibu jarinya. Ia menatap Intan dengan tatapan hangat, tatapan yang sama yang menghangatkan hati Intan sebelumnya.


"Jangan menangis. Kamu tahu kan aku tidak suka melihatmu menangis?" Ucap Setya lembut.


Intan akan semakin goyah melihat kelembutan Setya padanya. Namun, ia segera menyadarkan dirinya. Dia tak pantas mendapatkan semua kelembutan Setya. Dia sudah tak pantas. Intan dengan cepat menampik tangan Setya yang membantunya menghapus air mata.


"Pulanglah, aku ingin istirahat kak." Ucap Intan memalingkan wajahnya lagi.


"Tidak. Aku tidak akan pulang. Sebenarnya, ada apa dengan kamu, Intan? Apa kamu marah padaku karna aku gak bisa melindungimu? kalau memang benar begitu, kamu bisa memukulku berapapun yang kamu mau, aku akan menerimanya. Tapi, jangan menghindariku seperti ini." Pinta Setya dengan pandangan mengiba.


Intan tak menjawab dan tetap memalingkan wajahnya. Akhirnya, Setya berinisiatif memukul wajahnya sendiri dengan keras.


"Kak Setya, apa yang kakak lakukan?" Pekik Intan menghentikan perbuatan Setya yang akan memukul wajahnya lagi.


"Aku sedang menghukum diriku sendiri agar kamu bisa memaafkanku." Seru Setya menatap Intan dengan serius.


Intan masih diam menatap setya. Ia tidak marah sama sekali pada Setya. Dia juga tak ingin melihat kak Setya menyakiti dirinya. Dia yang tidak pantas untuk bersama Setya. Melihat Intan yang diam saja, Setya suda bersiap akan memukul wajahnya sendiri.


"Hentikan!! Aku sama sekali tidak marah pada kakak! Tapi, aku sangat malu pada kakak ... Aku sudah kotor! Aku sudah disentuh oleh laki-laki lain. Aku sudah tidak pantas bersama kakak! Hiks..." Teriak Intan mengutarakan isi hatinya. Ia kembali terisak.


Berakhir ... Semua sudah berakhir ...


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2