Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Hargai waktu


__ADS_3

Hari bahagia itu lagi-lagi berubah menjadi kesedihan. Koridor yang biasanya tenang, kini terdengar raungan dan isak tangis. Mereka masih terkejut bahkan terdiam setelah mendengar kabar buruk akan Setya. Seperti Intan, dia sampai membeku bagai batang kayu. Hatinya terasa sesak, tak dapat dijelaskan.


"Gak! Gak mungkin! Kak Setya, gak mungkin!"


Intan terus bergumam menolak apa yang baru saja dia dengar. Perlahan dia melangkahkan kakinya, sampai akhirnya dia berlari memasuki ruangan Setya. Diikuti yang lain. Hal pertama yang dilihatnya adalah para suster yang melepaskan kabel-kabel yang menghubungkan tubuh Setya dengan alat-alat elektronik disana. Perlahan suster akan menutup tubuh Setya dengan selimut.


"Hentikan! Kak Setya gak mungkin meninggal.!!" Teriak Intan sambil berlari ke arah Setya dan menghentikan aktivitas suster. Suster pun akhirnya membiarkan hal itu, dia tahu keluarga pasien pasti sangat bersedih. Perlahan Intan menyentuh wajah Setya yang masih terpejam.


"Kak Setya?!" Panggil Intan dengan suara lirih.


"Kak Setya, ayo bangun kak! Buktikan ke dokter dan semua yang ada disini kalo kakak baik-baik saja! Lihatlah, apa kakak tega melihat orang-orang yang menyayangi kakak menangis dan bersedih seperti ini?!"


"Setya!!" Seru mama memeluk tubuh sang putra dengan tangisan histeris.


Semua yang ada disanapun juga tak lagi bisa menahan air matanya. Bahkan, Tasya juga sudah kehilangan kata-katanya. Dia hanya bisa menangis dipelukan Dika. Papa segera menarik tubuh sang istri dan memeluknya.


"Kak Setya ayo bangun! Kakak mau ninggalin Intan begini saja?!"Seru Intan sembari mengguncang pelan tubuh Setya.


"Intan sayang, sudah. Intan harus sabar ya. Biarkan, Setya pergi dengan tenang." Ucap mama Bayu lirih, sambil mendekat ke arah Intan.


"Gak tante! Kak Setya gak boleh pergi seperti ini. Kak Setya masih punya janji pada Intan. Kak Setya gak boleh ingkarin itu! Kak Setya bangun!! Kak Setya!!" Teriak Intan kembali mengguncang tubuh Setya, kali ini lebih keras.


...****************...


Di alam bawah sadar


Terlihat Setya sedang berjalan menuju ke sebuah cahaya putih yang menyilaukan. Tapi langkahnya terhenti saat ada suara yang memanggilnya.


"Kak Setya!"


Setyapun menoleh dan mencari sumber suara itu. Di lihatnya Intan yang sedang berlari ke arahnya, dengan menangis.


"Kak Setya mau kemana?! Kak Setya mau ninggalin Intan?!" Tanya Intan dengan derai air mata.


"Jangan menangis. Aku harus pergi." Ucap Setya lirih, sambil menghapus air mata Intan.


"Gak boleh! Kak Setya masih ada janji pada Intan. Kak Setya gak boleh ninggalin Intan seperti ini. Lihatlah, keluarga kakak dan semua orang yang menyayangi kakak menangis gara-gara kakak. Jangan pergi sekarang! Intan dan semuanya masih membutuhkan kak Setya.." Ucap Intan dengan lembut.


"Tapi ..."


"Kak Setya harus kembali.!!" Seru Intan.


...****************...


"Kak Setya?!" Seru Intan saat mendengar detak jatung Setya kembali, saat dia memeluknya.


"Om-tante, jantung kak Setya masih berdetak!"


Mamapun mendekati Setya dan mendengar hal yang sama, walaupun detakan itu sangat lemah. Papa segera berlari ke luar dan memanggil dokter yang belum pergi jauh.


"Dokter! Jantung putra saya berdetak kembali.!" Seru papa menghentikan langkah sang dokter.


Dokter dan suster pun kembali berlari menuju ke kamar Setya. Dengan cepat, dokter memeriksa keadaan Setya lagi. Semua keluarga memberi jarak agar tak menganggu dokter yang sedang bertugas. Sampai, dokter kembali mencoba memicu jantung Setya dan memberikan oksigen pada Setya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, monitor yang menunjukkan detak jantung Setya mulai kembali. Semua yang ada disanapun menangis bahagia. Tak berhenti disitu saja, perlahan jari-jari tangan Setya mulai bergerak. Disusul dengan Setya yang mulai membuka matanya.


"Kak Setya?!"


"Setya?!"


Seru Intan dan semua yang ada disana saat melihat Setya membuka matanya. Dokter kembali memeriksa keadaan Setya.


"Selamat! Ini sebuah keajaiban, hal ini sangat langka terjadi. Tapi, pasien berhasil kembali dari kematian. Dan bahkan berhasil sadar dari komanya selama setahun ini. Sekarang, keadaan pasien sudah sangat stabil. Kalau kondisi pasien terus mengalami peningkatan, maka pasien bisa segera pulang." Ucap dokter dengan senyum diwajahnya.


Seketika tangis haru memenuhi ruangan itu. Rasa sesak yang dirasakan semua orang, kini terasa terangkat. Helaan nafas dan rasa syukur terus terucap dari mulut mereka.


"Setya, nak! Syukurlah! Alhamdulillah, kamu sudah bangun ... Mama sangat takut kamu akan meninggalkan mama! Hikss.." Ucap mama lirih sambil menangis memeluk Setya.


Setya yang keadaannya masih lemah, menitikkan air mata dan berusaha mengulurkan tangannya pada sang mama. Mama yang melihat itu, segera menggenggam tangan Setya.


"Ada apa sayang?" Tanya mama melihat Setya yang ingin berbicara.


"Se..tya gak..apa..apa..ma.. ma..af..su..dah..bu..at


.. ma..ma..kha..wa..tir" Ucap Setya dengan suara lirih.


"Gak apa-apa sayang. Kamu kembali kesini saja mama sudah sangat bersyukur, nak." Ucap mama sambil menciumi tangan sang putra. Papa juga tak lagi bisa menahan air matanya. Dia memeluk bahu sang istri.


Intan juga tak bisa membendung air matanya. Rasanya seperti mimpi. Beberapa menit sebelumnya, dia mendengar kabar kalau Setya sudah meninggal. Intan tak bisa menjelaskan bagaimana perasaannya saat itu. Dia juga sangat bersyukur saat melihat Setya sudah bangun sekarang. Perlahan, Intan melangkahkan kaki meninggalkan ruangan Setya. Ifa yang melihat itu pun mengikuti Intan. Intan berjalan dengan berpegangan pada dinding. Tubuhnya masih terasa lemas karna terkejut mendengar kabar sebelumnya. Dan akhirnya, Intanpun jatuh pingsan.


"Intan!" Pekik Ifa yang melihat Intan tiba-tiba pingsan di tengah koridor.


Dika, Bayu dan yang lainnya pun berlari ke luar untuk melihat apa yang terjadi. Dika sangat terkejut saat melihat sang kakak tidak sadarkan diri dipangkuan Ifa.


"Aku juga gatau. Tadi, aku mengikutinya saat dia berjalan keluar. Lalu, tiba-tiba dia pingsan begini." Jawab Ifa yang masih terlihat panik.


"Mas, bawa ke ruang sebelah sini. Biarkan kami memeriksanya." Seru seorang suster yang kebetulan melihat kejadian itu. Dengan cekatan, Dika pun mengangkat Intan dan membawanya ke ruangan yang dimaksud, diikuti Ifa dan Bayu. Sedangkan, orang tua Bayu memilih tinggal untuk menjelaskan keadaan Intan pada keluarga Setya.


"Apa yang terjadi pada kak Intan?" Tanya Tasya yang akan keluar menyusul Dika dan yang lainnya.


"Intan tiba-tiba pingsan. Sekarang dia sedang diperiksa diruang sebelah." Jawab mama Bayu menjelaskan.


"Kenapa Intan tiba-tiba pingsan?" Tanya mama Setya panik.


"In..tan?!" Ucap Setya lirih. Dia juga cukup terkejut mendengar Intan yang tiba-tiba pingsan. Saat dia akan menggerakkan kakinya, entah kenapa terasa berat. Bahkan, dia seperti tak bisa merasakan kakinya.


"Ma-Pa! Kaki Setya?!" Seru Setya bingung.


"Ada apa Setya?" Tanya papa yang melihat Setya terlihat bingung.


"Kenapa Setya tak bisa merasakan kaki Setya?!" Tanya Setya bingung.


Papa, mama dan semua yang ada disana pun cukup terkejut mendengar pertanyaan Setya. Dokter yang masih disanapun segera memeriksa kembali keadaan Setya. Semua menunggu dengan cemas.


"Maaf pak-bu. Sepertinya, dampak dari kecelakaan itu menyebabkan luka yang parah di kaki putra anda, luka itu sepertinya mempengaruhi sarafnya. Dengan berat hati saya sampaikan, kalau putra anda mengalami kelumpuhan pada kakinya." Ucap dokter dengan berat hati. Setya dan semua yang disanapun merasa terpukul dengan kenyataan itu.


"Ap-Apa saya tidak bisa sembuh dok?!" Tanya Setya yang masih terlihat terpukul.

__ADS_1


"Mungkin akan sulit. Tapi, tidak ada salahnya untuk dicoba. Semoga saja ada keajaiban lagi, seperti selamatnya anda dari kematian." Jawab sang dokter memberi motivasi pada Setya. Setyapun tersadar. Tak peduli lagi apakah dia lumpuh atau tidak. Kenyataan dia masih diberi kesempatan untuk hidup kembali saja, sudah pantas untuk disyukuri.


"Ma, Setya ingin melihat keadaan Intan." Pinta Setya.


"Jangan dulu nak. Mama dan yang lainnya yang akan melihat keadaan Intan. Kamu baru bangun setelah satu tahun koma. Kamu masih lemah dan masih perlu banyak istirahat." Ucap sang mama perhatian.


"Sa-Satu tahun?! Selama itu Setya koma?!" Seru Setya tak percaya.


"Iya. Dan selama itu pula, Intan begitu sabar dan setia menunggu kamu. Jadi, kamu jangan membuatnya khawatir lagi. Dan istirahatlah dulu, biar mama yang akan memastikan keadaan Intan." Ucap mama dengan lembut. Setelah itu dia bangkit untuk menuju ke ruangan Intan. Sedangkan papa, Tasya dan orang tua Bayu memilih untuk tetap tinggal.


"Apa yang terjadi pada Intan? Dia baik-baik saja kan?" Tanya mama khawatir, pada Dika dan yang lainnya, setelah sampai di kamar Intan.


"Kak Intan hanya sangat terkejut, apalagi tubuhnya kekurangan gizi selama setahun ini, asam lambungnya tadi langsung naik. Dokter sudah memberikan obat. Kak Intan perlu istirahat beberapa waktu dulu." Jawab Dika sambil menatap sang kakak.


"Apa kamu sudah mengabari orang tua kalian?" Tanya mama sekali lagi.


"Sudah tante. Sekarang ayah dan bunda dalam perjalanan kesini." Jawab Dika dengan senyuman.


"Bagaimana keadaan Setya, tante?" Tanya Bayu yang kembali bertanya.


"Sebenarnya ... Setya ... Dia lumpuh." Jawab mama Setya dengan lirih dan kepala menunduk. Dia juga masih tak percaya putranya akan lumpuh diusinya saat ini. Bayu dan yang lain pun juga merasa terkejut dan tak percaya.


"Lumpuh?!" Tanya Ifa memastikan.


"Iya. Kecelakaan itu membuat saraf kakinya cidera. Kata dokter, kita masih bisa mencoba terapi. Tapi, itu tak bisa menjamin apapun. Yah, semoga kembali ada sebuah keajaiban yang datang." Ucap mama dengan senyum kecil.


"Amiiinn... Kami akan mendo'akan dan mensupport untuk kesembuhan kak Setya. Yang paling penting, kak Setya sekarang masih bersama kita. Ifa juga yakin, Intan tak akan mempermasalahkan hal itu." Jawab Ifa dengan senyum menenangkan.


Mama dan yang lain pun tersenyum merespon ucapan Ifa. Mereka juga tahu, kalau Intan tak akan mempermasalahkan hal itu. Tapi, itu juga masih belum membuat hati mama Setya merasa tenang. Semoga semua ini terjawab oleh waktu.


.


.


.


Bersambung..


...----------------...


Note from author :


Cerita ini hanya karangan ya gaess.. Dikenyataan belum tentu semulus ini. Belum tentu orang yang sudah meninggal akan dengan mudah kembali hanya karna kita menginginkannya. Maka dari itu, pesan dari author.


...'Hargailah semua waktu yang kita lalui dengan orang-orang tersayang. Karna, kita tak akan tahu dengan pasti kapan mereka akan pergi'...


...----------------...


...Maaf juga uda sempet ngeprank kemarin. Wkwk....


...Tenang aja author gak setega itu kok😅✌️...


__ADS_1


...Tuh buktinya, author kasih spoiler salah satu chapter ke depan🙄...


...----------------...


__ADS_2