
KABUT tebal dan cuaca dingin menyambut bis rombongan kampus di Gunung Salak, Bogor.
“Aduh dingin banget, Ki..” keluh Cinay ketika turun dari bis.
“Sama.” Kekira merapatkan jaket.
Pembagian kelompok disesuaikan dengan jurusan. Kekira berkelompok dengan Cinay, Ningsih, Wiwik, Duta, dan Adam.
Sengaja dicampur cewek-cowok supaya aman. Kecuali tenda, tidak dicampur, bisa lebih danger dari penculik.
Tenda Kekira kebagian di kiri atas.
Dibantu yang lain, ia mendirikan tenda.
Pada dasarnya ia tidak pernah ikut kemping begini, ia bingung ketika memasang tenda karena tidak tahu caranya.
Ia mengambil batu melilitkannya pada tali.
“Bukan gitu caranya.”
Ia menoleh.
Akbi!
Akbi berjongkok di sebelahnya dan membantu memasang patok-patok tenda.
“Nih liat begini pasangnya.” Akbi mempraktekan caranya.
Kekira senyum-senyum melihat sahabatnya.
Akbi curi-curi pandang padanya.
Akhirnya mereka malah saling tatap.
Kekira tersadar.
“Bi, liatnya ke sini dong, ntar tangan kamu kena getok batu yang ada!” omelnya.
“Kamu sih, liatin doang. Bantuin napa.”
“Katanya disuruh liatin. Aku kan belum tau caranya.”
“Liatinnya jangan gitu banget dong. Aku kan jadi grogi.”
“Yeee emang kamu mikir apa?”
“Malah nggak bisa mikir kalo gitu. Soalnya kamu juga lari-lari terus di pikiran aku.”
Kekira tertawa geli. “Mulai deh ngegombal.”
Akbi mengencangkan patok tenda. “Nih udah kelar.”
“Perlu aku ucapin terima kasih?”
“Nggak perlu. Cukup bikinin aku kopi aja untuk nanti malem.”
Kekira geleng-geleng kepala. “Dasar..”
“Kamu waspada ya kalo Trixie gangguin kamu.”
“Kayaknya dia nggak niat ganggu aku. Dari tadi acuh aja.”
Kekira sempat mendengar tentang Trixie yang berjilbab dan datang ke rumah Akbi. Terbukti hanya sekali saja dan sekarang penampilan Trixie lebih modis dengan model rambut barunya.
“Ya tetep aja waspada. Hati orang nggak ada yang tau.”
Akbi melihat sekilas Trixie dengan kelompoknya asyik memasang tenda.
“Aku balik ke tenda. Jangan lupa, kopinya tetep aku tunggu.”
Kekira tersenyum. “Siap, komandan!”
***
Api unggun emang pas banget untuk malam hari melawan hawa dingin yang menyergap.
“Besok kalian jangan telat lho.” Adam kasih maklumat sebagai ketua.
“Soalnya ntar kita tracking naik gunungnya per kelompok.”
__ADS_1
“Kita cuma sampai curug 7 kan?” tanya Ningsih.
“Ya lumayan tracking-nya,” sahut Duta yang emang anggota pencinta alam.
“Gue pernah naik sampe puncak malahan.”
“Curug 7 udah jauh juga kan?” tanya Kekira.
“Ya lumayan sih buat para cewek.”
“Wiwik pernah hipotermia waktu kemping sebelumnya,” ingat Ningsih, yang juga berjilbab,
“Itu kan udah lama, Sih.” Wiwik membela diri. “Sekarang badanku lebih fit kok.”
“Tapi tetep aja kamu harus waspada.”
“Makanya lo jangan jauh-jauh dari gue, Wik.”
Semua kontan meledek Duta.
“Cieee Duta nih, nyari kesempatan,” ledek Cinay.
“Tau nih, mentang-mentang Wiwik lagi jomblo ya,” tambah Kekira jahil.
“Bisa juga lo modus.” Adam meledek.
“Apaan sih lo pada?” semprot Duta. “Maksudnya, gue tau gimana urus orang yang sakit hipotermia pas naik gunung. Makanya Wiwik aman kalo sama gue.”
Semua ber-O ria dengan lirikan usil. Sementara Wiwik cuma mesem-mesem.
Sementara di tenda seberang ada Akbi bersama Reno dan kawan-kawan, asyik nyanyi-nyanyi pakai gitar.
Akbi memandang Kekira dari jauh, tepat ketika Kekira melihat ke arahnya.
Ia tersenyum dan mengangkat gelas kopinya.
Kekira balas tersenyum. Akbi mengucapkan terima kasih karena sudah dibuatkan kopi.
Tiba-tiba saja terjadi kehebohan.
“Fifi hilang!”
“Tadi kita ke toilet umum, abis itu Fifi ngilang!”
“Tim keamanan kumpul!”
Duta yang menjadi salah satu tim keamanan langsung bergabung.
“Coba ceritain, gimana kronologis Fifi bisa hilang?” tanya Joy, ketua tim keamanan.
Arum yang ditanya masih ketakutan.
“Barusan kan gue, Fifi, Ria, sama Darta ke toilet umum. Tiba-tiba aja ada yang manggil Fifi dari kejauhan. Fifi kira itu Danu. Fifi kan lagi naksir sama Danu. Kita udah coba cegah, tapi Fifi ngeyel dan nyamperin cowok itu. Abis itu Fifi nggak balik lagi.”
Danu yang disebut-sebut kaget karena baru keluar tenda.
“Gue dari tadi tidur di dalem tenda lho.”
“Ada yang bisa buktiin dari tadi lo di dalem?” selidik Joy.
“Dia emang tidur di tenda.” Arya kasih kesaksian. “Dari sejak pergi Danu udah ngeluh sakit kepala. Gue yang kasih obat sakit kepala sama dia. Dan dia tepar juga gue liat.”
“Kalo gitu, siapa dong yang manggil Fifi?”
“Emang kalian nggak liat siapa yang manggil dia?”
“Mana keliatan. Di sana kan gelap banget.”
“Kalian nggak ada yang bawa senter?”
“Senter bawa. Tapi nggak kita sorot ke dia.”
“Iya karena kita pikir emang Danu. Dan Fifi langsung lari nyamperin dia.”
Belum habis investigasi hilangnya Fifi, muncul lagi kehebohan.
“Trixie hilang!” Santi sahabat Trixie panik.
“Apa?! Hilang juga?!” Joy memegang kepala. “Ini kenapa sih pada ngilang begini? Tolong untuk para cewek jangan pergi tanpa pengawalan tim!”
__ADS_1
Ribut-ribut begitu membuat Kekira mulai cemas.
“Kok pada ngilang gini sih?”
“Tau nih. Bikin takut aja.”
Tiba-tiba tangannya ditarik seseorang ke belakang tenda.
“Akbi!”
“Jangan jauh-jauh dari aku! Kayaknya penculik wanita muda itu ada di sekitar sini!” Akbi melihat sekeliling yang gelap gulita.
Kekira mulai merinding. “Jadi dia ada di sini?”
“Kayaknya. Fifi sama Trixie udah ngilang.”
“Gimana ceritanya mereka bisa hilang?”
“Fifi kayaknya dijebak dengan sosok yang dia kira Danu. Kalo Trixie, barusan kata Santi dia ngejauh cari sinyal HP. Abis itu nggak balik lagi.”
“Duuuh kok penculik itu bisa ngincer kami?”
“Whatever penculik itu ngincer siapa aja. Yang penting, kamu jangan jauh-jauh dari aku.”
Kekira lihat kanan-kiri. “Cinay?”
“Tenang aja. Ada Reno yang jagain dia.”
Hati Kekira jadi gelisah dan takut.
Akbi menggenggam erat tangan Kekira.
“Yuk. Kita balik ke rombongan.”
***
“Begini, kayaknya bahaya kalo yang cewek-cewek ada di sini. Gimana kalo kita pulangin semua cewek yang ada?” usul Beni, ketua tim pencinta alam.
“Mau pulang gimana? Bis yang anter kita tadi baru jemput dua hari lagi jadwal kita pulang.”
“Tapi gimana dengan mereka?”
“Iya. Mereka mulai takut diincar penculiknya.”
“Begini aja. Gue sama tim keamanan bakal nyari Fifi dan Trixie. Sebagian cowok-cowok di sini jagain anak perempuan.” Joy memutuskan.
Semua bubar.
“Kalian tidur aja. Gue sama Bira jaga di depan tenda,” kata Reno.
Kekira dan Cinay menurut.
Wiwik dan Ningsih ikut masuk tenda.
“Mana bisa tidur lagi begini?” keluh Kekira.
“Iya lah… mana tenang ni hati.” Cinay menambahkan.
“Lagian motif mereka apa sih mau culik kita?” tanya Wiwik takut. “Tau begini, mending aku enggak usah ikut.”
“Kita juga nggak tau bakal gini jadinya, Wik.” Kekira menghibur. “Lagian penculik itu gimana bisa tau banyak anak perempuan ikut kemping di sini?”
“Namanya juga punya niat jahat. Pasti halalin segala cara deh.”
“Mungkin lewat sosmed. Kan banyak yang update soal acara kemping ini.”
“Bisa jadi.”
“Yang jelas kita dalam bahaya,” tambah Ningsih. “Duhh gimana ini?”
“Berdoa aja, Ningsih. Jangan kejauhan mikirnya.”
“Iya. Ada Mas Reno dan Kak Bira jagain kita di depan tenda.”
“Lho? Adam sama Duta ke mana?”
“Mereka gabung sama tim keamanan untuk cari Fifi sama Trixie. Mereka juga udah hubungin tim SAR yang lagi menuju ke sini.”
“Semoga mereka selamat.”
__ADS_1
***