
Keesokan harinya untuk menjaga perasaan Intan, Setya berinisiatif untuk menghubungi orang tua dan mertuanya, termasuk Dika dan Tasya tentunya. Setya mengatakan pada mereka agar tidak membahas anak lebih dulu di depan Intan saat mengetahui kabar kehamilan Ifa. Intan saat ini sedang sensitif jika berhubungan dengan kehamilan atau anak. Setya tak ingin melihat Intan menangis dan bersedih lagi seperti kemarin malam.
"Kak Setya, nanti kita makan malam bareng kak Bayu dan Ifa yuk. Bilangin ke kak Bayu yaa.." Ucap Intan pada sang suami.
"Tentu saja. Apapun itu tapi janji kamu akan bahagia ya?" Tanya Setya memastikan dulu.
"Iya. Intan janji gak bakal nangis lagi. Intan kan punya kak Setya. Suami terhebat bagi Intan." Seru Intan sambil memeluk lengan Setya dengan manja.
"Gadis pintar. Aku akan memnberitahu Bayu nanti." Jawab Setya sembari mencium kening Intan dengan sayang.
Kemudian, Setya mengantar sang istri ke sekolah seperti biasa, setelah itu baru dia berangkat menuju kantor. Di kator, saat Setya bertemu dengan Bayu, Setya langsung menyapaikan keinginan dari Intan.
"Bay, nanti malam bisa gak kita makan malam bersama? Intan ingin merayakan kehamilan Ifa." Tanya Setya pada Bayu.
"Kalau aku gak masalah sih. Ifa juga pasti senang. Aku akan memberitahunya saat makan siang nanti." Jawab Bayu santai.
"Baiklah, nanti kabari aku lagi yaa.."
Saat jam makan siang, seperti biasa Bayu akan ke tempat Ifa dan makan siang bersama. Sekaligus dia menyampaikan permintaan Setya sebelumnya.
"Sayang, Setya tadi bilang padaku kalau nanti malam dia dan Intan ingin ngajak kita makan malam. Kamu mau gak?" Tanya Bayu lembut.
"Makan malam? Untuk apa?" Tanya Ifa bingung.
"Ya, tentu saja untuk merayakan adanya baby twin diantara kita sayang.."
"Intan sudah tau kalau aku hamil?!" Seru Ifa bingung.
"Iya. Pasti Setya yang memberitahunya. Kan Setya sudah aku beritahu kemarin."
"Haahhh.. Bagaimana ini kak?! Ifa sengaja belum kasih tau Intan, karna Ifa takut Intan akan terluka. Intan juga sama dengan Ifa sebelumnya, kami sama-sama berharap datangnya malaikat kecil diantara kita ... Ifa sangat bersyukur karna Tuhan sudah mengabulkan do'a Ifa. Tapi, Intan belum. Ifa takut kalau itu akan membuat Intan sedih " Ucap Ifa sedih.
"Kamu jangan banyak berpikir seperti itu sayang. Walaupun Intan juga ingin mendapatkan anak, tapi aku yakin dia juga bakalan senang kalau dengar kamu hamil." Ucap Bayu menenangkan. Ifa diam beberapa saat seperti mempertimbangkan.
"Baiklah, Ifa mau." Jawab Ifa pada akhirnya. Dia mencoba memahami posisi Intan.
Walaupun dia ada sedih, tapi berita kehamilannya juga tak bisa disembunyikan lagi. Intan juga sudah tahu, pastinya Intan akan lebih terluka kalau ia tak malah menghindarinya.
"Uda-uda. Kamu jangan terlalu banyak pikiran. Gak baik untuk baby twin kita. Pokoknya, kamu harus selalu happy, ok?"
"Iya, papa." Jawab Ifa dengan nada seperti anak kecil.
"Gemes banget sih, baby besar aku ini." Seru Bayu sambil mencubit gemas pipi Ifa.
Malam harinya, mereka berempat bertemu di salah satu kafe langganan mereka untuk makan malam. Setya dan Intan sampai lebih dulu disana. Saat Ifa datang pertama kali yang dilihat olehnya adalah senyum lebar dari sahabatnya Intan.
"Ifaa.." Panggil Intan pelan sambil bangkit dari duduknya.
"Intan, maaf aku ..."
"Selamat yaa.. Kamu akan segera jadi ibu. Aku ikut bahagia untuk kamu ... Kenapa kamu gak kasih tau aku? Kenapa aku harus tahu dari kak Setya? Kamu gak anggep aku sahabat kamu lagi?" Tanya Intan dengan menatap Ifa tajam.
"Bukan begitu. Aku hanya takut, kamu akan sedih ..."
"Duhduh.. Bumil kita uda mulai mellow nih. Aku tuh gak apa-apa Fa. Aku ikut bahagia waktu tahu kamu hamil. Yah, aku gak bohong sih kalau aku sedikit sedih sebagai sesama wanita. Tapi, kak Setya selalu ada disampingku dan menghiburku. Aku sungguh gak apa-apa sekarang. Jadi, kamu gak perlu khawatir lagi, ok? Bumil harus bahagia." Ucap Intan dengan senyum hangat diwajahnya.
"Huhuhu. Sahabatku memang the best deh. Makasih yaa.." Seru Ifa yang kembali memeluk Intan dengan tangis haru.
"Haii, baby twin. Sehat-sehat ya, Onty Intan uda gak sabar nih buat ketemu kalian." Ucap Intan lembut di depan perut datar Ifa.
"Kami pasti sehat-sehat kok bunda. Bunda juga sehat dan bahgaia terus yaa. Kami juga uda gak sabar ketemu bunda cantik." Jawab Ifa dengan menerukan suara anak kecil.
"Bunda?" Tanya Intan bingung.
__ADS_1
"Iya. Anak-anak aku nanti akan panggil kamu bunda. Mereka pasti senang bisa punya dua ibu." Ucap Ifa dengan senyuman. Intanpun tersenyum lebar mendengar jawaban Ifa. Setya dan Bayu juga hanya bisa memperhatikan dengan senyuman interaksi kedua sahabat itu.
"Uda yuk, kita makan sekarang." Seru Bayu sambil menarikkan Ifa kursi untuk duduk. Begitupun juga Setya.
"Terima kasih." Ucap Ifa dan Intan pada suami mereka masing-masing.
"Hari ini kamu mau makan apa sayang?" Tanya Bayu perhatian.
"Ehm, aku terserah aja deh hari ini. Tapi, aku ada permintaan ..." Ucap Ifa sambil melirik ke arah Intan.
"Kamu mau sesuatu dariku? Kataka saja, demi baby twin selama aku bisa aku pasti akan mewujudkannya.
"Sungguh?" Tanya Ifa antusias.
"Iyaa.." Ucap Intan dengan senyuman menyakinkan Ifa.
"Aku mau makan sepiring sama kamu, boleh ya?" Tanya Ifa dengan tatapan penuh harap.
"Sayang, kamu serius? ..."
"Uda gak apa-apa kak Bay. Itu permintaan kecil. Dulu, kami sering juga kok berbagi makanan bersama. Sekarang melakukan itu lagi gak jadi masalah buatku." Jawab Intan dengan senyum ramah.
"Yey! Makasih!" Seru Ifa senang. Bayu tak ada pilihan lain, selain menuruti permintaan Ifa. Setya juga tak mempermasalahkan hal itu. Akhirnya, sesuai yang diinginkan Ifa, dia dan Intan maka satu piring berdua malam itu.
"Lain kali, kalau kamu ada keinginan lagi dan aku bisa bantu katakan saja. Kamu gak usa merasa tak enak hati, kamu bisa membalasya kalau aku hamil suatu hari nanti." Ucap Intan dengan senyum lebar.
"Baiklah. Aku akan merepotkanmu." Jawab Ifa dengan senyuman.
"Sekarang uda gak ada lagi yang kamu inginkan?" Tanya Bayu pada sang istri.
"Hmm.. Ifa mau ke pasar malam. Ifa mau naik komedi putar, binglala dan makan permen kapas bareng Intan." Seru Ifa antuasias.
"Serius? Ini uda jam 8 malam lho sayang. Angin malam gak baik buat kamu dan ..."
"Eh, kok gitu sih sayang. Anak-anak papa yang baik. Papa gak jahat ya. Papa sangat sayang sama mama ..."
"Kalau sayang, ayo ke pasar malam sekarang!" Rengek Ifa manja.
"Iya-iya. Tapi, kamu harus pakai jaket. Dan kalu uda ngerasa capek langsung bilang ke aku dan kita pulang. Sepakat?" Ucap Bayu tegas.
"Iya-iya. Ifa tau! ... Intan, yuk kamu ikut mobilku aja ya. Duduk dibelakang sama aku. Biar kak Bayu yang nyupir dan kak Setya naik mobilnya sendiri. Ya?" Pinta Ifa dengan tatapan penuh harap.
"Baiklah. Kak Setya, aku temenin Ifa ya. Kakak hati-hati, ikuti kami dari belakang, ok?" Ucap Inta sebelum ditarik Ifa untuk berjalan lebih dulu.
"Bay. Firasatku jadi gak enak. Kelihatannya, Ifa akan terus memonopoli istriku.." Ucap Setya saat Ifa menggandeng Intan keluar kafe.
"Aku juga gak bisa ngontrol kemauan bumil. Maklumi istriku yaa. Kalau istrimu hamil nanti, aku dan Ifa pasti akan ada juga buat kamu dan Intan seperti sekarang." Jawab Bayu pasrah.
Akhirnya, merek segera menuju ke pasar malam. Bayu sungguhan seperti menjadi sopir. Sedangkan Ifa dan Intan terus asyik mengobrol sepanjang perjalanan. Entah apa saja yang mereka obrolkan, Bayu yang mendengarkan juga tak paham. Semua bahan seperti menyambung jadi satu. Sedangkan, Setya terlihat cemberut karna harus menyetir seorang diri. Sedangkan sang istri ada di mobil Bayu.
Tak lama kemudian, mereka sampai di pasar malam. Ifa begitu antusias. Ia segera menarik Intan untuk memainkan semua permainan yang diinginkannya. Tak lupa permen kapas juga. Setya dan Bayu terus mengikuti mereka dari belakang dengan siaga. Sampai tak terasa malam semakin larut. Kini sudah jam 10 malam dan pasar malam sudah mulai sepi. Bahkan, beberapa pedagang sudah mulai membereskan dagangannya.
"Sudah puas mainnya ya? Sekarang kita pulang, ok?" Ucap Bayupada sang istri.
"Iya. Ifa uda capek. Ngantuk." Jawab Ifa sembari menguap.
"Baiklah. Cukup untuk hari ini. Sekarang kita pulang." Ucap Setya sambil merangkul bahu sang istri.
"Intan, kak Setya makasih untuk hari ini yaa. Aku sangat senang. Baby twin juga pasti sangat senang." Ucap Ifa dengan senyum lebar.
"Sama-sama. Sudah, lebih baik kamu pulang dan istirahat sana." Ucap Intan sambil menggiring Ifa untuk segera pergi.
"Ok. Oppa! ... Gendong!" Seru Ifa manja pada sang suami.
__ADS_1
"Baiklah, ayo sayang. Kita pulang ... Setya, Intan makasih ya untuk hari ini. Kami pulang dulu. Sampai jumpa lagi." Ucap Bayu sambil membopong Ifa menuju ke mobil.
"Kamu juga mau aku gendong?" Goda Setya pada Intan.
"Hm.. Boleh, tapi gendong belakang!" Jawab Intan dengan senyum lebar. Setya juga balas tersenyum pada Intan. Kemudian, dia mulai berjongkok di depan Intan. Intan pun segera naik ke punggung Setya.
"Kamu masih berdebar kalau aku gendong ya sayang? Sama seperti saat aku pertama kali gendong kamu waktu kakimu terkilir saat jalan sehat di SMA dulu." Ucap Setya sambil mengingat kenangan itu.
"Dasar, kak Setya mesum!" Seru Intan malu.
"Hahaha."
"Tapi, yang kak Setya katakan memang benar. Intan masih terus berdebar kalau bersama kak Setya. Perasaan cinta Intan seperti terus bertambah setiap harinya. Apalagi, setelah kita menikah. Bukan hanya perasaan cinta yang Intan rasakan. Tapi, rasa kesetiaan dan selalu ingin menjaga kak Setya bersama Intan." Ucap Intan pelan dengan senyuman di wajahnya.
"Tentu saja aku akan selalu bersama kamu sayang. Kita akan selalu bersama." Jawab Setya dengan lembut.
"Aku cinta kakak! Muachh.." Seru Intan sambil mencium pipi Intan dengan penuh cinta.
Kemudian, mereka pun segera menuju ke rumah mereka. Mereka sampai rumah pukul setengah sebelas malam.
"Kalau jaman kita pacaran dulu. Kalau jam segini baru pulang, bisa-bisa kak Setya pulang tinggal nama sama ayah. Hahahaha." Tawa Intan sambil membayangkan Setya disidang oleh sang ayah.
"Itu dulu. Kalau sekarang, terserah kita mu pulang jam berapapun. Dan mua tidur jam berapapun." Ucap Setya dengan nada menggoda.
"Kak Setya mau apa?" Tanya Intan saat Setya mulai mendekatinya. Setya tak menjawab dan ...
"Ahh!! Kak Setya!!" Pekik Intan saat tiba-tiba Setya mengangkat tubuhnya.
"Aku bangga padamu. Kamu sudah benar-benar bisa menerima kehamilan Ifa." Ucap Setya sambil menyelipkan rambut Intan kebelakang telinganya.
"Tentu saja. Sekarang, Intan sudah gak merasa sedih lagi. Intam justru ikut senang." Jawab Intan dengan senyum lebar.
"Istriku ini memang paling hebat. Tuhan pasti sudah menyiapkan hadiah terindah untuk kita nanti ... Lebih baik, sekarang kita juga berusaha lagi saja.." Ucap Setya dengan seringai diwajahnya.
"Dasar, itu sih maunya kak Setya!" Seru Intan sambil memukul pela bahu Setya.
"Kenapa, kamu gak mau?" Goda Setya lagi.
"Bukan itu ..."
Cup!!
Setya memotong ucapa Intan dan mulai mencium bibir istrinya itu. Perlahan ia berjalan menuju kamar mereka ...
.
.
.
Bersambung..
...----------------...
Maaf ya sebelumnya yang request update waktu buka/setelah teraweh. Author uda putuskan akan update di waktu sahut pukul 03.00 WIB 😁✌️
Pertimbangannya, supaya semua bisa baca. Yang request waktu sahur, bisa langsung baca. Dan yang request waktu buka/setelah teraweh bisa dibaca waktu itu, karna chapter sudah ada😉😁
Terima kasih pengertiannya🙏
Author juga ingin mengucapkan, Selamat menunaikan ibadah puasa, bagi yang menjalankan. Bismillah, amalan kita semua di bulan suci Ramdhan ini diterima oleh Allah SWT🤗😘🙏
__ADS_1
...----------------...