
Pagi itu dengan semangat, Setya menjemput Intan setelah satu bulan dia gak bisa melakukan aktivitasnya ini. Dengan senyum lebar Setya menghampiri Intan yang sudah menunggu Setya di teras rumahnya.
"Selamat pagi, tuan putri." Sapa Setya. Intan yang semula sedang bermain ponsel segera menatap ke arah Setya.
"Pagi juga, my hero." Jawab Intan dengan senyum manis.
"Ehem.." Seru ayah yag tiba-tiba keluar bersama bunda.
"Assalamu'alaikum, om-tante." Sapa Setya sembari mencium punggung tangan mereka.
"Ayah-bunda, kak Setya sudah datang. Kami langsung berangkat ya, keburu macet dijalan."
"Iya, hati-hati ya tuan putri ayah ... Setya, ini kesempatan kedua untukmu. Kalau kamu sampai merusak kepercayaan om lagi, maka om gak akan lagi memberi kesempatan untukmu." Seru ayah memperingati Setya.
"Baik om. Saya mengerti." Jawab Setya dengan tegas.
Setelah itu, Setya dan Intan pun berangkat. Setya dengan perhatiannya membukakan pintu belakang untuk Intan. Dia juga melindungi kepala Intan dengan tangannya, berjaga-jaga agar tak terbentur atap mobil. Setelah itu, Setya juga segera masuk dan duduk di kursi kemudi.
Di sepanjang perjalanan senyum lebar masih menghiasi wajah Setya. Dia masih tak menyangka, jika dia bisa sedekat ini lagi dengan Intan setelah melakukan kesalahan itu. Dia sangat bersyukur.
"Kak Setya, gak capek tersenyum seperti itu terus?" Tanya Intan yang daritadi memperhatikan Setya dari kaca spion.
"Enggak. Aku sangat bahagia saat ini."
"Tapi, wajah kakak masih bengkak. Luka kemarin juga jadi kebiruan. Apa gak sakit dibuat senyum lebar seperti itu?" Tanya Intan khawatir.
"Enggak. Kan sudah ku bilang, sakit ini gak ada apa-apanya. Apalagi, saat ini aku sangat bahagia. Aku gak merasa sakit sama sekali." Jawab Setya dengan melirik Intan lewat kaca spion sekilas. Intan hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Setya.
Sesampainya mereka di kampus. Setya segera membukakan pintu mobil untuk Intan. Setelah itu, Setya memaksa untuk membawakan tas Intan, walaupun Intan menolak, Setya juga mengantar Intan sampai ke kelasnya. Walaupun, Setya berjalan beriringan dengan Intan tapi jelas sekali Setya menjaga jarak dari Intan.
"Makasih." Ucap Intan setelah Setya meletakkan tasnya di meja.
"Sama-sama sayang." Jawab Setya dengan masih tersenyum lebar.
"Kak Setya, lain kali kakak gak perlu sampai membawakan tas Intan. Daritadi, Intan mendengar bisik-bisik mahasiswa. Mereka sudah lama gak melihat kita bersama, sekarang kakak bersikap seperti ini padaku. Aku dengar banyak yang mengatakan kalau kakak jadi pesuruhku sekarang. Aku gak suka mendengarnya. Kak Setya adalah orang yang sangat berharga di hati Intan. Intan gak suka kalau ada yang memandang rendah kak Setya!" Ucap Intan merasa khawatir. Dia sudah menahan diri setiap mendengar perkataan mahasiswa yang merendahkan Setya.
"Tenang saja sayang. Aku sama sekali gak merasa direndahkan. Aku gak peduli dengan perkataan mereka. Karna, aku senang melakukannya untukmu. Biarkan aku menjadi bodyguardmu mulai sekarang. Aku akan menjaga dan melindungimu." Ucap Setya dengan senyum lembut.
"Ehm, baiklah kalau begitu. Sungguh beruntung aku bisa mendapatkan bodyguard tampan seperti kak Setya." Ucap Intan dengan senyum manis.
Bagas yang baru saja datang tak suka melihat pemandangan itu. Dia gak suka melihat Intan dan Setya sudah berbaikan. Bagas berjalan mendekat untuk mengambil kursi dibelakang Intan seperti biasanya.
"Kak Bagas tunggu!" Panggil Intan menghentikan langkah Bagas. Bagas pun menoleh dengan bingung. Setya pun sama, tapi dia sama sekali gak marah dan hanya mengamati apa yang akan dilakukan Intan. Sekarang, Setya mempercayai Intan sepenuhnya.
"Ada apa?" Tanya Bagas bingung.
"Aku hanya ingin menunjukkan pada kakak. Kalau aku sudah berbaikan dengan kak Setya. Dan sebentar lagi aku akan bertunangan dengannya. Jadi, berhenti mengganggu dan mendekatiku lagi mulai sekarang." Seru Intan dengan nada tegas. Sorot matanya juga menunjukkan keseriusan.
Bagas terdiam mendengar perkataan Intan itu. Dia cukup terkejut mendengar Intan akan bertunangan dengan Setya. Sedangkan, Setya tersenyum puas dengan apa yang dikatakan Intan. Mahasiswa lain yang tak sengaja mendengar itupun saling berbisik membicarakan Intan dan Setya yang akan bertunangan. Dan juga Bagas yang ternyata ingin mendekati Intan.
"Kalau kau masih punya malu, tolong jauhi calon tunanganku!" Imbuh Setya dengan nada tegas. Intan juga tersenyum mendengar itu. Karna, suasana kelas jadi tak terkendali. Akhirnya, Bagas pun memilih keluar dan tak mengikuti kelas pagi itu.
"Dia pergi? Apa dia mau membolos?" Gumam Intan heran.
"Sudahlah, biarkan saja dia. Terima kasih ya sayang, sudah mengatakan dengan tegas padanya. Aku merasa sangat senang." Ucap Setya dengan senyum lebar dan mata berseri-seri.
"Kenapa berterima kasih? Aku hanya menunjukkan fakta padanya. Lagian, aku juga senang, karna dengan begitu dia akan berhenti mendekatiku." Jawab Intan dengan senyum lebar juga.
...****************...
__ADS_1
Jam makan siang.
"Kalian sungguh akan bertunangan?" Tanya Ifa memastikan, setelah semalam diceritakan oleh Intan lewat telepon.
"Ya." Jawab Intan dengan senyum manis.
"Apa benar kak Setya sudah berubah?! Kak Setya gak bakal menyakiti Intan lagi kan?!" Tanya Ifa penuh selidik. Dia menatap Setya yang duduk disamping Bayu dengan tatapan tajam.
"Aku tak akan menyakiti Intan lagi. Ini adalah kesempatan ke dua yang diberikan oleh om padaku. Aku gak akan menyia-nyiakannya." Jawab Setya dengan bersungguh-sungguh.
"Baiklah. Aku juga akan mempercayai kakak. Tapi, aku juga akan mengawasi kakak. Kalau kakak sampai menyakiti Intan lagi, lihat saja aku akan menyetrum kakak dengan ini sampai hangus!" Seru Ifa mengancam sambil mengeluarkan alat penyetrum yang diberikan Intan padanya tadi.
"Kamu bisa menyimpan itu. Karna, aku akan buktikan, aku tak akan menyakiti dan membuat Intan menangis lagi." Ucap Setya sambil menatap Intan dengan lembut. Intan membalas dengan senyum manis diwajahnya.
"Wow! Kalian baru akur saja, sekarang jadi trandic topic lagi. Lihatlah forum kampus sudah heboh dengan berita pertunangan kalian. Apalagi nih, ada foto Bagas juga. Dia disebut sebagai pengganggu hubungan kalian." Seru Bayu saat tak sengaja melihat berita di forum kampus.
"Biarkan saja. Dengan begitu dia tak akan berani mendekati Intan lagi." Ucap Setya dengan santai. Intan tersenyum geli melihat tingkah Setya yang jelas terlihat kalau cemburu.
Intan tak marah, jika Setya cemburu. Hanya saja jika cemburu itu sudah berlebihanlah yang gak dia sukai. Selama itu dibatas wajar, Intan sama sekali gak mempermasalahkan itu. Justru, itu bisa menjadi bukti kalau Setya memang mencintainya.
"Btw, sampai dimana persiapan pertunangan kalian?" Tanya Ifa penasaran.
"Orang tua kami yang memilihkan tempat dan tanggalnya. Kami, hanya perlu menyiapkan pakaian termasuk cincin pertunangan." Jawab Intan dengan senyum diwajahnya.
"Wah.. Kapan kalian mau beli cincinnya? Ajak kami juga dong! Aku ingin lihat!" Pinta Ifa dengan antusias.
"Tanpa kamu minta, kalian juga harus ikut. Aku dilarang berduaan saja dengan Intan. Ini syarat dari om agar dia memaafkanku." Jawab Setya menjelaskan.
"Oh iya sih. Aku lupa. Hehe.."
"Kapan rencana mau membelinya?" Tanya Bayu penasaran.
"Aku sih gak masalah." Jawab Intan dengan senyum diwajahnya.
Akhirnya, mereka memutuskan untuk membeli cincin sepulang kuliah.
...****************...
Setelah menyelesaikan kelas terakhir, mereka segera pergi ke salah satu mall yang cukup besar disana. Setelah sampai di mall itu, mereka segera menuju ke toko perhiasan yang cukup ramai di mall itu.
"Selamat datang. Kakak-kakak mau cari perhiasan apa?" Tanya pegawai toko dengan ramah.
"Kami ingin mencari cincin untuk pertunangan." Jawab Setya ramah.
"Cincin tunangan ya.. Baik, mari ke arah sini." Ajak pegawai toko menunjukkan etalase yang menyediakan banyak sekali cincin pasangan yang terlihat cantik.
"Waahh.. Mereka sangat cantik!" Seru Ifa antusias.
"Silahkan, anda bisa memilih dulu." Ucap pegawai toko dengan ramah.
"Kamu mau model yang seperti apa?" Tanya Setya dengan lembut.
"Hm, aku juga bingung kak. Gak aku sangka pilihannya sebanyak ini ... Tapi, aku ingin yang sederhana tapi terlihat manis." Ucap Inta sambil memperhatikan berbagai model cincin disana. Ifa juga ikut melakukan hal yang sama dengan sangat antusias.
Setelh beberapa saat memilih dan juga dibantu oleh pegawai toko, akhirnya Intan menemukan cincin yang dia dan Setya suka.
"Kami ambil ini mbak ... Bisakah diukir tulisan didalamnya?" Tanya Setya pada pegawai toko.
__ADS_1
"Bisa kak. Tapi tidak bisa jadi hari ini." Jawab pegawai toko dengan ramah.
"Tak masalah. Tapi, usahakan secepatnya ya.."
"Baik, akan kami usahakan. Kalau begitu, kakaknya mau tulisan apa?" Tanya pegawai toko.
Setya segera menuliskan kata-kata yang diinginkannya, setelah itu menyerahkannya pada pegawai toko.
"Kak Setya mau dibikin tulisan apa?" Tanya Intan penasaran.
"Itu akan menjadi rahasia, sampai pertunangan kita." Jawab Setya dengan senyum menggoda.
"Dasar!"
"Apa sudah selesai?" Tanya Ifa menghampiri Setya dan Intan.
"Ya sudah, baru saja. Kamu juga membeli cincin?" Tanya Intan yang daritadi melihat Ifa begitu antusias melihat cincin-cincin disana juga.
"Enggak. Kan aku dan kak Bayu hanya menemani kalian. Aku hanya melihat-lihat saja." Jawab Ifa dengan santai. Tapi tanpa sepengetahuan Ifa, Bayu sudah membelikan cincin yang tadi dicoba oleh Ifa.
Setelah dari toko perhiasan, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan dan menghabiskan waktu di mall bersama. Mereka juga singgah ke timezone untuk bermain bersama. Setelah puas, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Setya mengantar Intan pulang. Begitupun juga Bayu.
"Tunggu, jangan turun dulu. Aku ada hadiah untukmu. Cepat tutup matamu dulu." Pinta Bayu pada Ifa, sesampainya mereka di depan rumah Ifa.
"Hadiah apa?" Tanya Ifa penasaran.
"Tutup mata dulu."
"Baiklah." Jawab Ifa sembari memejamkan matanya.
"Sudah, buka matamu."
"Waahh! Kak Bayu membelikan ini untukku? Kenapa? Aku kan sudah bilang gak perlu." Seru Ifa saat melihat cincin pilihannya tadi.
"Tapi, aku lihat kamu begitu menyukainya. Aku kan sudah bilang apapun yang kamu inginkan aku bisa membelikannya untukmu. Bahkan, jika kamu menginginkan acara pertunangan seperti Intan dan Setya aku juga akan melakukannya untukmu." Ucap Bayu dengan senyum lembut.
"Gak perlu. Ini sudah lebih dari cukup terima kasih, oppa! ... Cup." Ucap Ifa sembari mencium pipi Bayu sekilas.
"Sama-sama cabiku sayang. Sini aku pakaikan." Ucap Bayu sambil menyematkan cincin dijari manis Ifa.
"Cantik." Ucap Bayu setelah cincin itu terpasang dijari Ifa. Bayu juga mencium tangan Ifa dengan sayang.
Suatu hari aku akan mengganti cincin ini dengan yang lebih bagus.. Dan dihari itu, kamu akan menjadi milikku sepenuhnya, Ifa ...
.
.
.
Bersambung..
...----------------...
Sekilas Info..
Besok dan seterusnya, author usahakan update sehari 2x yaa😁💪
__ADS_1
...----------------...