
Intan menuntun yang lain untuk menuju tempat Ifa berada. Ternyata, sebelumnya saat Ifa melakukan panggilan video, Intan merekamnya. Intan ingin mengabadikan pemandangan indah itu, tanpa tahu sekarang akan berguna untuk mencari Ifa.
"Tunggu, disini ada yang aneh. Waktu aku bersama Ifa tadi, panah ini jelas-jelas mengarah ke arah kanan. Kenapa sekarang ke arah kiri?" Tanya Intan heran. Kini ia sudah sampai di jalan yang sebelumnya Rini ubah jalurnya untuk Ifa.
"Ke kanan? Tapi, jalan yang benar memang ke kiri." Jawab pengawas yakin.
"Ifa ke arah mana?" Tanya Bayu cemas.
"Ifa tadi lewat kanan kak. Mangkannya tadi semakin masuk jalan setapaknya hilang ..."
"Bayu!!"
Panggil Setya dan yang lainnya saat tiba-tiba Bayu berlari terlebih dulu ke arah yang ditunjuk Intan. Ia ingin segera menemui Ifa. Ia masih ingat saat menjemput Ifa saat akan berangkat KTS, mama Ifa sudah menitipkan Ifa padanya. Tapi, saat ini ia malah kehilangan Ifa dan membuatnya berada dalam bahaya.
Bayu sampai diujung jalan dengan tebing yang sedikit curam dibawahnya. Ia melihat posel Ifa tergeletak disana, layarnya tampak retak karna jatuh tepat diatas batu.
"Ifa!!!" Panggil Bayu, sembari menatap ke bawah tebing yang tak terlihat dasarnya.
"Apa Ifa jatuh ke sana?" Tanya Setya pada Bayu, setelah ia berhasil menyusul Bayu.
"Aku menemukan ponsel Ifa disini." Jawab Bayu lesu, sorot matanya terlihat frustasi.
"Ifa!!!" Teriak Intan mulai menangis. Benar, tempat mereka berada sekarang sama seperti terakhir kali Ifa videocall dengannya.
Setya merangkul bahu Intan untuk menenangkannya.
"Pak saya harus turun untuk mencari Ifa!!" Seru Bayu memohon pada para pengawas.
"Biarkan kita saja, kamu tunggu disini. Ini bahaya." Seru para pengawas.
"Tapi ..."
"Bay, kita tunggu saja disini. Serahkan pada yang ahli saja." Saran Setya, menenangkan Bayu yang terlihat sangat kalut.
Setya sangat paham apa yang dirasakan Bayu, karna tak lama ini ia juga merasakan hal yang sama. Akhirnya, Bayu menuruti usul Setya dan menunggu para pengawas yang melakukan pencarian. Ada 2 pengawas yang turun dengan mengenakan tali pengaman.
Sedangkan, disaat yang sama. Ketika Bayu berteriak memanggil namanya, Ifa akhirnya mulai tersadar. Ia merasakan seluruh tubuhnya terasa sakit dan perih dibeberapa bagian.
"Kak Bayu?" Gumam Ifa pelan. Ia kesulitan untuk bangun, karna kondisinya sekarang.
"Kak Bayu ... Tolong!!" Panggil Ifa lirih, kemudian ia kembali tak sadarkan diri.
Dengan susah payah akhirnya 2 pengawas itu telah mencapai dasar dan menemukan Ifa yang tergeletak tak sadarkan diri disana. Mereka segera memeriksa keadaan Ifa. Untung saja tak ada luka serius. Hanya lecet-lecet, walaupun hampir seleruh tubuh. Tapi, tentu saja ini keberuntungan karna tak ada patah tulang atau cidera parah di kepala.
Salah satu pengawas segera menggendong Ifa dipunggungnya dengan bantuan pengawas lain. Setelah itu mereka mengikat Ifa agar tidak terjatuh saat menaiki tebing itu. Setelah beberapa saat bersusah payah untuk naik, akhirnya mereka sampai diatas dimana yang lainnya sedang menunggu.
"Ifaa!!" Panggil Intan dan Bayu bersamaan.
Bayu segera membantu pengawas untuk menurunkan Ifa yang masih tak sadarakan diri digendongannya. Bayu masih sangat cemas melihat Ifa yang belum sadarkan diri.
"Ada apa dengannya pak? Bagaimana keadaannya? Kenapa dia belum bangun?" Tanya Bayu kalut sambil mengangkat tubuf Ifa dalam dekapannya. Ia melihat tubuh Ifa dan wajahnya yang penuh luka lecet.
"Tidak ada patah tulang atau cidera kepala. Untung saja keadaan tebing ini tidak ada bebatuan. Walaupun begitu jatuh dari tebing ini pasti membuat tubuhnya kesakitan, jadi wajar kalau tubuhnya memerintahkan untuk tetap tidak sadar, supaya bisa beristirahat dan melalukan penyembuhan." Jelas pengawas pada Bayu.
"Lebih baik kita segera membawa Ifa, supaya Ifa bisa segera diobati." Usul Intan.
Mereka pun menyetujui usulan Intan. Bayu dengan sigap langsung mengangkat tubuh Ifa dan berjalan bersama yang lain untuk meninggalkan tempat itu.
"Kak Bayu?" Gumam Ifa dalam tidurnya.
__ADS_1
"Iya, aku disini. Kamu sudah aman sekarang. Maafkan aku ya, karna sudah membiarkanmu seperti ini." Ucap Bayu lembut.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi." Ucap Setya pada Intan.
"Pertanyaan apa?" Tanya Intan bingung.
"Bagaimana kamu bisa kesini? Sama siapa? Naik apa?" Ucap Setya mengulangi pertanyaannya.
"Aku naik taxi sendirian kak. Tapi, selama perjalanan ayah nemenin Intan dengan panggilan video." Jawab Intan dengan senyuman.
"Kamu melakukan itu demi Ifa? Kamu gak apa-apa, harus berhadapan dengan banyak orang?" Tanya Setya khawatir.
"Iya, dalam pikiranku tadi aku ingin segera menemukan Ifa tanpa memikirkan ketakutanku lagi. Apalagi, kalian tidak ada yang menjawab panggilanku ... Tapi, aku tidak akan bohong. Ketika melihat semua orang menatapku dengan berbagai arti itu membuatku tak nyaman. Namun, semua itu menjadi lebih baik saat kakak bersamaku. Aku jadi tidak takut lagi." Jawab Intan menatap Setya dengan senyum lembut.
"Baiklah, kalau begitu kamu harus selalu ada disampingku. Dan jangan pernah tinggalkan aku." Ucap Setya sembari mengenggam tangan Intan lembut.
"Tentu." Jawab Intan dengan seyuman. Setya mencium tangan Intan dengan senyuman yang merekah diwajah tampannya.
Kedatangan Bayu dengan menggendong Ifa membuatnya kembali menjadi pusat tontonan para murid. Tapi, Bayu tentu saja mengabaikan semua itu. Intan yang juga kembali ditatap oleh banyak murid tidak lagi peduli. Karna, ia merasa aman disamping Setya.
Bayu segera membawa Ifa ke bagian medis untuk ditangani.
"Pakainnya sudah kotor dan robek dibeberapa bagian. Lebih baik kita mengganti pakainnya." Usul perawat.
"Linda, bisakah antar aku ke ruangan kalian tidur. Aku akan mengambilkan pakaian ganti untuk Ifa." Ucap Intan pada Linda.
"Baiklah, ayo!" Jawab Linda.
Saat Intan hendak pergi, ia terhalang tangan Setya yang masih menggenggam tangannya.
"Kak, aku pergi ambil baju ganti untuk Ifa sebentar ya. Aku gak apa-apa kok. Ada Linda bersamaku." Ucap Intan lembut, meyakinkan Setya.
"Baiklah-baiklah. Kakak boleh ikut. Tapi, hanya mengantar diluar, tidak boleh ikut ke dalam." Ucap Intan memberikan syarat.
"Tentu." Jawab Setya dengan senyuman puas.
Akhirnya, Intan dan Setya mengikuti Linda untuk mengambil pakain ganti untuk Ifa. Dan seperti yang sudah disepakati, kalau Setya hanya menunggu diluar saat Intan masuk ke kamar dan mengambil pakaian Ifa. Di dalam kamar tentu saja ada beberapa orang yang masih menatapnya. Tapi, Intan mengabaikan semua itu. Setelah mengambil pakaian yang dibutuhkan, Intan segera kembali ke ruang medis tempat Ifa berada.
"Oke, kak Bayu dan semua laki-laki keluar dulu. Aku dan Linda akan membantu Ifa berganti pakaian." Ucap Intan tegas.
Akhirnya, semua laki-laki pun keluar dari ruang medis, membiarkan Intan dan Linda untuk membantu Ifa berganti pakaian. Setelah selesai, Bayu segera kembali masuk dan duduk disebelah Ifa yang masih tak sadarkan diri.
Bayu menggenggam tangan Ifa dengan lembut. Ia melihat tangan Ifa yang dipenuhi luka dengan sedih.
"Kapan kamu bangun?" Gumam Bayu pelan.
Perlahan Ifa mulai menggerakkan jari-jarinya, lalu perlahan membuka matanya.
"Ifa?" Ucap Bayu yang melihat Ifa mulai sadarkan diri. Intan juga ikut mendekati Ifa.
"Aww! Badanku sakit semua!" Rintih Ifa merasakan sakit ditubuhnya.
"Sebelah mana yang sakit? Apa sakit sekali?" Tanya Bayu cemas.
"Iya, sakit. Disini ..." Ucap Ifa sambil mengangkat tangannya.
"Disini?" Tanya Bayu memeriksa tangan Ifa, kemudian ia menciumnya lembut.
"Disini juga." Ucap Ifa sambil mengangkat tangan satunya dan Bayu melakukan hal yang sama. Dan Ifa terus melakukannya ditempat-tempat lain.
__ADS_1
Sebelumnya, yang lain merasa cemas dengan keadaan Ifa. Tapi, kini mereka malah terlihat malas dengan kemesraan dua sejoli itu.
"Dasar modus!" Seru Toni sambil memutar bola matanya malas.
"Siapa yang modus. Aku ini pasien!" Seru Ifa cuek.
"Kamu beneran sudah gak apa-apa?" Tanya Intan penasaran.
"Loh, Intan. Kamu disini? Semenjak kapan? Kenapa bisa tiba-tiba disini?!" Tanya Ifa beruntun.
"Intan datang kesini naik taxi seorang diri, karna mengkhawatirkanmu." Jawab Setya mewakili Intan. Bukan hanya Ifa yang terkejut, tapi yang lain juga. Karna, hanya Setya yang tahu.
"Ouh, terima kasih." Seru Ifa terharu. Ia melebarkan tangan, tanda agar Intan memeluknya. Intan pun mendekati Ifa dan memeluknya.
"Syukurlah, kamu baik-baik saja. Aku sangat takut tadi ... Tapi, jangan jadikan ini becandaan! Kasihan kak Bayu daritadi juga mencemaskanmu!" Seru Intan sembari menyentil pelan dahi Ifa.
"Aww!! Sakit tahu!!" Seru Ifa cemberut.
Cup..
Bayu kembali mencium dahi Ifa dengan lembut.
"Masih ada yang sakit?" Tanya Bayu dengan senyuman.
"Hehe. Sudah enggak kok. Aku baik-baik saja. Terima kasih semua, sudah mencemaskan aku." Jawab Ifa dengan senyuman.
"Tapi, kenapa kamu bisa jatuh ke tebing Fa?" Tanya Dharma bingung.
"Sepertinya ada yang sengaja mencelakai Ifa. Intan bilang panahnya tadi mengarah ke kanan, padahal seharusnya ke kiri." Sahut Setya.
"Sebelum aku jatuh, aku merasa ada yang mendorongku!" Seru Ifa mengingat jelas bahwa ia merasa punggungnya didorong dari belakang.
"Ehm, kak Bayu lihatlah ini. Aku tadi merekam obrolanku bersama Ifa. Memang benar aku melihat samar-samar ada orang disini. Tapi, wajahnya tak terlihat dengan jelas." Ucap Intan sambil menunjukkan video itu pada Bayu.
Bayu melihat video itu dengan serius. Memang wajahnya sama sekali tidak terlihat. Tapi, dari warna dan model jaket yang digunakan, Bayu mengingat seseorang yang memilikinya. Tangan Bayu mengepal keras dengan rahang yang juga mengeras.
"Kak Bayu, mengenalinya?" Tanya Intan yang melihat perubahan ekspresi Bayu.
Setya mendekat dan juga melihat video itu. Ia juga sama mengenali orang itu.
"Aku pinjam ponselmu sebentar!" Seru Bayu kemudian melangkah pergi meninggalkan ruang medis dengan emosi.
"Kak Bayu!!" Panggil Ifa cemas melihat Bayu yang terlihat emosi.
"Siapa orang itu kak? Apa kakak juga mengenalinya?" Tanya Intan pada Setya.
"Ya. Dari warna dan model jaketnya, itu Rini." Jawab Setya.
"Rini? Kakak kegatelan itu!!" Seru Ifa terlihat kesal. Bukan, hanya Ifa yang terkejut. Tapi, semua yang disana pun sama.
"Kak Setya, lebih baik kakak mengikuti kak Bayu. Aku takut dia melakukan sesuatu yang buruk saat emosi." Ucap Intan menyarankan. Setya mengangguk mengerti dan mulai mengikuti Bayu.
"Apa yang akan dilakukan kak Bayu ya?" Gumam Ifa penasaran.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..