
Setya dan Bayu segera kembali ke perusahaan dengan suasana hati yang gembira. Akhirnya, usaha mereka selama beberapa hari ini terbayar. Proyek yang terancam gagal bisa kembali di lanjutkan. Dan dengan ini mereka juga tak perlu lagi bekerja lembur. Setya bisa menemani Intan lagi. Sedangkan Bayu juga bisa lebih banyak menghabiskan waktu dengan si kembar.
"Akhirnya kerja keras kita selama beberapa hari ini terbayar. Haahh.. Aku bisa kembali menghabiskan waktu dengan kedua putraku." Ucap Bayu dengan senyum lebar.
"Kau benar, aku juga bisa kembali menghabiskan waktu dengan Intan ... Tapi, walaupun begitu kita tak boleh lengah. Kita masih harus mengawasi dan menjalankan proyek ini dengan optimal. Kita tak boleh mengecewakan kepercayaan yang sudah diberikan pak Malik pada kita." Ucap Setya mengingatkan.
"Ya aku juga mengerti. Tapi, biarkanlah aku bernafas sejenak dulu ... Bangunkan aku kalau sudah sampai yaa.." Seru Bayu yang mulai memejamkan matanya, meninggalkan Setya yang sedang mengemudi. Setya hanya tersenyum kecil dan membiarkan Bayu beristirahat.
"Hm, nanti malam aku akan mengajak Intan makan malam di luar saja. Keadaan sudah membaik. Jadi, aku harus memberitahu Intan." Gumam Setya dengan senyum lebar.
Sudah lama dia tak memanjakan sang istri. Dia ingin menghabiskan waktunya dengan Intan. Juga menyampaikan apa yang sudah dia sembunyikan dari Intan selama ini. Setya gak ingin, hal ini akan menjadi bom waktu suatu saat nanti.
Sesampainya, Setya di kantor. Dia segera menemui papanya dan menyampaikan berita baik itu. Papa juga merasa lega dibuatnya. Dan untuk mengapresiasi kerja keras Setya dan Bayu. Papa mengizinkan mereka untuk pulang cepat hari itu. Setya sangat senang mendengarnya. Dia bisa menjemput Intan lagi seperti dulu.
...****************...
Ketika Setya dan Bayu sudah menyelesaikan pekerjaan yang tersisa hari itu, mereka bergegas untuk pulang. Wajah mereka terlihat sangat berseri-seri saat itu. Bagaimana tidak, mereka akhirnya bisa menghabiskan waktu dengan orang-orang tersayang.
"Bay, aku duluan ya. Aku mau kencan dengan istriku." Seru Setya pada Bayu.
"Aku juga akan menghabiskan waktu dengan istri dan dua jagoan kecilku. Aku tak akan membiarkan mereka memonopoli Ifa sendirian." Seru Bayu yang juga akan pulang.
"Hahh.. Mereka sekarang terlihat seperti anak kecil. Aku jadi merasa heran, bagaimana bisa dua orang kekanakan itu menyelesikan masalah proyek yang nyaris gagal ini." Gumam papa yang melihat Setya dan Bayu dari kejauhan.
Setya dan Bayu segera menuju ke tempat kerja istri mereka masing-masing. Saat Setya sampai di sekolah tempat Intan kerja, kebetulan bertepatan dengan jam pulang sekolah. Sehingga, begitu banyak siswa-siswi yang keluar dari sekolah.
Setya menunggu Intan di luar mobil dengan bersandar pada mobil sembari bermain ponsel. Kehadiran Setya tentu menjadi daya tarik sendiri bagi murid yang ada disana.
"Wahh. Bukannya itu suami bu Intan ya? Dia sangat tampan!!"
"Benar sekali. Bu Intan sangat beruntung!"
Di saat yang bersamaan Intan akan pulang bersama Dika, tapi pandanganya langsung tertuju pada Setya yang sudah menunggunya di depan sekolah. Dan seperti biasa kehadirannya menjadi pusat perhatian untuk orang lain.
"Kak Setya?" Gumam Intan tak percaya saat melihat suaminya.
"Pergilah kak. Sepertinya murid-murid siap menerkam kak Setya kapanpun." Ucap Dika mengingatkan.
"Ah. Kamu benar. Kalau gitu aku pergi dulu ya. Daahh.." Pamit Intan sambil berjalan dengan cepat mendekati Setya.
"Kak Setya?" Panggil Intan saat sudah di depan Intan.
"Sayang, kamu sudah datang." Jawab Setya dengan senyum di wajahnya.
"Pekerjaan kakak sudah gak banyak ya? Tumben kak Setya bisa jemput Intan lagi?" Tanya Intan yang masih bingung.
__ADS_1
"Iya. Nanti aku akan ceritakan padamu. Hari ini kita makan malam di luar ya. Kamu gak perlu masak. Sudah lama sekali kita gak menghabiskan waktu bersama." Ucap Setya lembut dengan senyum manis.
"Wahh.. Benarkah?! Mau!!" Seru Intan antusias.
"Baiklah, sekarang kita pulang dan bersiap-siap dulu. Yuk.." Ajak Setya sembari membukakan pintu mobil untuk Intan. Setya juga menghalangi kepala Intan dengan tangannya. Berjaga-jaga agar Intan tak terbentur.
"Terima kasih." Ucap Intan setelah masuk ke dalam mobil. Setya membalasnya dengan senyum lembut.
Murid-murid Intan yang masih ada disana juga melihat perlakuan manis Setya itu dengan antusias. Mereka terus saja berbisik-bisik membicarakan Intan dan Setya.
"Aahhhh. Bu Intan benar-benar beruntung!"
"Benar sekali. Suami bu Intan, memperlakukannya seperti seorang ratu."
"Aku jadi ingin punya suami seperti itu suatu hari nanti.."
Setelah itu Intan dan Setya segera pulang ke rumah untuk mandi dan bersiap-siap. Intan mandi terlebih dulu. Saat Setya sedang mandi, Intan kebingungan untuk memilih pakaian yang akan ia gunakan malam itu. Sudah lama dia tidak diner dan berkencan dengan Setya.
Apalagi, perutnya sekarang sudah mulai menonjol. Sehingga, membuat Intan mulai tak nyaman menggunakan celana yang akan menekan perutnya. Dia juga kasian dengan baby kalau memakai celana.
"Kamu belum ganti pakaian dari tadi sayang?" Tanya Setya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Intan bingung mau pakai apa kak. Ini kan kencan kita setelah sekian lama. Hehe. Intan ingin terlihat cantik. Tapi, badan Intan agak menggemuk dan lihatlah perut Intan mulai kelihatan. Intan gak bisa pakai baju kayak biasanya. Kasian baby kita nanti." Ucap Intan yang terlihat bingung.
"Pakai ini saja. Nanti, setelah makan malam. Kita mampir beli baju untuk ibu hamil yaa.." Ucap Setya lembut.
"Makasih kak." Jawab Intan dengan antusias.
"Sama-sama sayang. Tapi, kamu gak lupa cara mengucapkan makasih yang benar?" Ucap Setya sembari mencondongkan tubuhnya pada Intan. Intan tersenyum geli melihatnya, namun dia tahu apa mau Setya. Dan dengan cepat Intan mengecup bibir Setya sekilas.
"Makasih suamiku sayang.." Ucap Intan setelah memberikan kecupan mesra pada Setya.
"Hahh.. Kenapa kamu gemesin banget sih sayang?! Nanti malam aku minta jatah yaa.." Ucap Setya sambil mengangkat alisnya dan tersenyum dengan nakal pada Intan.
"Udah ih. Ayo siap-siap. Intan uda laper!" Seru Intan mengalihkan topik dan segera berganti pakaian di kamar mandi.
Style yang disarankan oleh Setya sebelumnya memang sangat nyaman. Dan dia juga bisa terhindar dari angin malam.
"Suamiku memang yang terbaik!"
Setelah selesai bersiap. Mereka segera berangkat. Malam itu Setya benar-benar ingin memanjakan Intan. Setya mengajak Intan untuk makan malam di sebuah restoran yang cukup mewah. Mereka mengambil tempat duduk di dekat jendela. Sehingga, mereka bisa melihat pemandangan kota dengan lampu gemerlapnya.
"Cantik sekali ..." Gumam Intan kagum dengan pemandangan dari tempatnya.
__ADS_1
"Kamu suka?" Tanya Setya pada Intan.
"Suka sekali. Terima kasih ya kak." Ucap Intan dengan senyum manis diwajahnya.
"Sama-sama sayang. Apapun yang kamu inginkan dan yang bisa membuatmu bahagia, aku aka mengabulkannya." Jawab Setya dengan lembut.
Kemudian, mereka segera memesan makanan. Mereka memutuskan untuk memakan steak malam itu. Dengan telaten Setya memotongkan steaknya lalu memberikannya pada Intan, agar Intan lebih mudah untuk memakannya.
Setelah makana habis, Setya mulai menceritakan keadaan yang sebenarnya pada Intan beberapa hari ini. Sudah bisa Setya duga, Intan akan kesal padanya. Tapi, itu memang keputusan yang ia ambil untuk kebaikan Intan.
"Maafkan aku ya sayang. Bukannya aku sengaja berbohong dan menyembunyikan ini dari kamu. Aku hanya gak mau kamu terlalu kepikiran. Apalagi, kamu kan baru keluar dari rumah sakit." Ucap Setya berusaha membujuk Intan.
"Iya, Intan tahu. Ini semua memang untuk kebahagiaan Intan. Tapi, sebagai seorang istri, Intan merasa gak berguna dan malah hanya jadi beban untuk kakak. Bukannya sebagai pasangan kita harus menghadapi senang dan sedih bersama. Aku ingin jadi kekuatan kakak. Bukan malah jadi kelemahan kakak." Ucap Intan dengan lesu.
"Maafkan aku sayang. Jangan berkata seperti itu. Kamu memang kekuatanku. Kamu juga adalah istri terbaik bagiku. Aku memang yang salah dan memutuskan sendiri tanpa mempertimbangkan perasaan kamu. Maafkan aku yaa.." Pinta Setya dengan nada memelas.
"Tapi, kak Setya janji gak bakalan nyembunyiin hal besar kayak gini lagi ya? Aku ingin jadi tempat berbagi untuk kakak. Bukan hanya aku yang bergantung pada kakak. Tapi, aku juga ingin kakak mengandalkanku dan mempercayaiku."
"Aku mempercayai kamu sayang. Aku selalu mempercayai kamu. Kamu kekuatanku. Baiklah, aku janji akan mengatakan semuanya padamu. Tapi, kami juga harus janji. Saat aku memberitahu kamu. Kamu gak boleh sampai terlalu kepikiran, ok? Kamu harus mempercayai aku juga, kalau aku bisa menyelesaikan masalah-masalah itu." Pinta Setya dengan sorot mata yang terlihat serius.
"Iya. Intan percaya pada kak Setya kok. Intan percaya kalau kak Setya memang benar mampu." Jawab Intan dengan senyum manis.
"Tentu saja, suami siapa dulu dong ... Sekarang kamu uda gak marah lagi kan?" Tanya Setya memastikan.
"Kalau misal aku masih marah. Kak Setya bakal ngapain?" Ucap Intan berusaha terlihat acuh.
"Hm.. Kalau kamu masih marah, aku hanya bisa ... Cup .. Cup .. Cup!!"
"Kak Setya! Geli.!! Ini juga di depan umum!" Seru Intan saat Setya berpindah duduk disampingnya dan lansung menghujani wajahnya dengan kecupan.
"Aku gak peduli. Kan aku menciumi istriku sendiri. Biar orang lain tahu, kalau hanya kamu wanita yang aku cintai. Dulu, saat ini, nanti dan selamanya.." Ucap Setya lembut sembari menatap mata Intan dengan penuh keyakinan.
"Aku juga cinta kamu dulu, saat ini, nanti dan selamanya. Suamiku .." Jawab Intan dengan senyum kebahagiaan diwajahnya.
Di sudut lain restoran. Saat Setya menciumi Intan sebelumnya, ternyata ada seorang wanita yang mengamati itu dari kejauhan. Dia mencengkram taplak meja dengan kuat. Dia juga menggertakkan giginya dengan mata mendelik tak suka melihat perlakuan manis Setya pada Intan.
"Siapa wanita itu?! Apa dia kekasihnya?!" Gerutu wanita itu yang tak lain adalah Widia.
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1