Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Dingin tapi Perhatian


__ADS_3

"Hmm ... Dimana aku?" Tanya Tasya yang mulai sadar.


"Syukurlah kamu sudah sadar. Kamu di UKS sekarang." Jawab Tania senang.


"UKS? Bukankah tadi aku tidur di kelas?" Tanya Tasya bingung.


"Kamu pingsan tadi, untung saja ada Dika. Dia yang membawamu kesini." Jawab Tania memberitahu. Tasya melirik pada Dika yang berdiri bersandar pada dinding dengan tangan dilipat didada tak jauh dari tempatnya.


"Makasih." Ucap Tasya tulus.


"Hmm. Lain kali jangan sampai pingsan lagi. Kalau merasa sakit langsung saja ke UKS." Jawab Dika yang sebelumnya sempat merasa gugup saat Tasya menatapnya dan mengucapkan terima kasih padanya.


"Ternyata kalian disini. Acara penutup akan segera dimulai. Lebih baik salah satu saja yang menemani Tasya disini. Sisanya ikut ke acara penutupan." Ucap kakak pendamping mereka.


"Saya saja yang disini kak. Perut saya juga terasa sedikit tidak enak." Seru Dika cepat. Tasya, Tania dan Rehan menatap itu dengan heran.


"Baiklah, Dika kamu tetap disini, Tania-Rehan segera bergabung ke lapangan sekarang." Seru kakak pendamping sebelum dia pergi.


"Perasaan tadi kamu baik-baik saja. Kenapa tiba-tiba sakit perut?" Tanya Tania penuh selidik.


"Pasti dia gak mau ikut acara penutupan." Tebak Tasya yang mulai hafal dengan sikap Dika.


"Saat sakit ternyata kamu lebih pintar." Puji Dika santai.


"Dasar!" Seru Tania kesal. Andai saja dia gak kalah cepat dengan Dika, mungkin dia yang bisa istirahat di UKS dengan Tasya. Rehan menatap Dika tak percaya.


Aku yakin bukan hanya alasan itu saja ... Ucap hati Rehan. Ia tahu itu hanyalah alasan Dika untuk tetap bisa menemani Tasya. Sayangnya, dia kalah cepat lagi.


"Rehan! Ayo pergi." Ajak Tania saat melihat Rehan terus mantap Dika dengan tatapan tak suka.


Akhirnya, Rehan mengikuti langkah Tania untuk mengikuti kegiatan akhir. Dika yang melihat tatapan tak suka dari Rehan hanya bisa tersenyum kecil. Entah mengapa dia merasa senang, karna bisa menang dari Rehan.


"Bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Dika sembari mendekati Tasya dan duduk dikursi disamping ranjangnya.


"Sudah lebih baik." Jawab Tasya dengan senyuman.


"Kenapa bisa sakit? Apa kemarin kau begadang untuk menyelesaikan tugas kerajinan?" Tebak Dika.


"Ya. Dan aku juga telat makan."


"Huh! Lain kali lebih hati-hati. Walaupun ada tugas, tapi istirahat dan makan itu penting." Omel Dika menasehati.


"Iya-iya, aku tahu." Jawab Tasya dengan bibir mengerucut, karna diomeli oleh Dika.


"Hm.. Ka, berarti tadi kamu menggendongku dari kelas sampai di UKS?" Tanya Tasya penasaran.


"Tentu saja, lalu bagaimana lagi aku bisa membawamu ke UKS kalau tidak menggendongmu ... Ah, tanganku rasanya sakit setelah menggendongmu. Kau benar-benar berat." Ucap Dika sembari memijit bahu dan lengannya.


"Hei, aku tidak gemuk ya?! Mana mungkin aku berat. Lagian, kak Setya kuat-kuat saja tuh menggendongku. Kalau kau gak kuat, berarti badanmu yang lemah!" Ejek Tasya dengan senyum mencibir.


"Mungkin saja kak Setya menahannya dan tidak mengatakan yang sebenarnya padamu." Ucap Dika tak mau kalah.


"Gak mungkin!" Seru Tasya tak terima.


"Kalau gitu, aku akan coba menanyakannya. Kamu diam dan jangan mengancamnya." Ucap Dika sambil mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Setya.


Di taman hiburan, Setya dan yang lainnya, sedang beristirahat dengan menikmati ice cream dan beberapa camilan. Sampai ketika ponsel Setya berdering dengan kencang.


"Dika?" Gumam Setya yang melihat nama orang yang memanggilnya.


"Dika? Kenapa dia menelpon kakak?" Tanya Intan bingung saat tak sengaja melihat nama Dika dilayar ponsel Setya.


"Ntahlah. Biar aku angkat dulu .... Hallo?" Jawab Setya.

__ADS_1


"Hallo kak Setya. Apa kakak sedang sibuk sekarang?" Tanya Dika basa-basi. Ia juga sengaja menggunakan pengeras suara agar Tasya bisa mendengarnya.


"Enggak juga. Katakan saja, ada apa?"


"Gak ada apa-apa sih. Hanya ingin bertanya saja, kakak pernah menggendong Tasya?" Tanya Dika langsung.


"Tentu saja. Ada apa memangnya?" Tanya Setya bingung dengan pertanyaan Dika.


"Menurut kakak apakah dia berat?" Tanya Dika dengan menatap Tasya. Tasya menunggu jawaban Setya dengan cemas.


"Hm, yah sedikit ..."


"Kak Setya jahat! Masa aku dibilang berat?!" Seru Tasya saat mendengar jawaban Setya. Dika pun tertawa puas.


"Tasya? Kamu disana juga. Kakak hanya menjawab dengan jujur, apakah kakak melakukan kesalahan? Lagian seberat apapun kamu, bagi kakak kamu tetaplah adik kecil kesayangan kakak." Jawab Setya lembut. Intan yang juga mendengar ucapan Setya, ikut tersenyum.


"Gatau. Aku marah sama kak Setya!" Seru Tasya kesal.


"Nanti kakak belikan box besar ice cream strowberry kesukaanmu, deh.. Jangan marah lagi ya?" Bujuk Setya. Tapi, Tasya tak mendengar dan memilih berbaring membelekangi Dika.


"Dia gak mau mendengarkan kakak ... Tapi, lebih baik jangan belikan ice cream dulu untuk Tasya." Jawab Dika.


Tasya pun kembali menatap Dika dengan mata mendelik kesal. Walaupun, dia masih marah, bukan berarti dia menolak ice cream.


"Kenapa gak bolek Ka? Lagian ini kenapa tiba-tiba bahas gendong sih?" Tanya Setya bingung.


"Kak Setya gatau kalau Tasya sedang sakit? Badannya panas dan dia tadi sempat pingsan di sekolah. Kebetulan aku yang membawanya ke UKS ..."


"Apa?! Tasya pingsan?!" Seru Setya memotong perkataan Dika.


"I-Iyaa.." Jawab Dika cukup terkejut saat mendengar suara Setya yang terdengar berbeda. Apalagi saat ini Tasya sedang mendelik ke arahnya.


"Kalian belum pulang sekolah kan? Tunggu di sekolah, aku dan Intan akan segera kesana menjemput kalian." Ucap Setya tegas tanpa bantahan. Setelah itu ia menutup panggilan telponnya.


"Dia akan menjemput kita." Jawab Dika dengan senyum kikuk.


"Ah!! Kau ini. Kak Setya pasti akan mengomeliku. Dia itu sama dengan papa, akan sangat panik saat mendengarku sakit. Haih, menyebalkan! Ini semua gara-gara kau yang menelpon kak Setya!" Seru Tasya kesal. Dia sudah bisa membayangkan bagaimana respon sang kakak padanya nanti.


"Kau memang pantas diomeli." Jawab Dika santai. Sedangkan Tasya semakin mendelik kesal mendengar jawaban Dika itu. Dilain sisi, Setya sudah bergegas akan pergi.


"Tasya pingsan kenapa?" Tanya Intan yang melihat Setya khawatir. Ifa dan Bayu juga menatap Setya dengan pandangan yang sama.


"Kata Dika dia sakit dan pingsan. Aku ingin menjemputnya, apa kamu gak apa-apa sayang? Apa kamu masih mau bermain? Mungkin kamu bisa tinggal disini bersama Ifa dan Bayu?" Tanya Setya perhatian pada Intan.


"Aku ikut kak Setya saja. Aku sudah cukup puas kok bermain hari ini. Aku juga gak mau jadi obat nyamuk disini." Jawab Intan sembari melirik pada Ifa dan Bayu.


"Baiklah kalau begitu. Bay-Fa kami pergi dulu ya." Pamit Setya, sebelum pergi bersama Intan.


"Iya. Jangan terburu-buru dan tetap hati-hati dijalan. Lagian, disamping Tasya sudah ada Dika." Ucap Bayu mengingatkan.


Setya mengangguk mengerti, baru kemudian ia berjalan pergi bersama Intan meninggalkan Bayu dan Ifa.


"Kamu masih mau bermain disini atau mau pulang juga?" Tanya Bayu lembut.


"Aku masih mau disini bersama Oppa. Nanti kalau sudah mulai kuliah, pasti akan lebih sulit bersama." Jawab Ifa dengan manja.


"Baiklah, cabiku sayang." Ucap Bayu dengan lembut.


Setya menngendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Selama diperjalanan Intan masih kepikiran dengan Dika yang bersama Tasya. Dilihat-lihat Dika memang cukup dekat dengan Tasya belakangan ini. Bahkan, kalau Intan ingat beberapa kali Dika membicarakan Tasya pada keluarganya. Walaupun, kesannya seperti biasa saja, tapi Intan mencurigai sesuatu.


"Kamu memikirkan apa?" Tanya Setya bingung saat melirik Intan yang nampak berpikir.


"Hm, aku hanya memikirkan Dika dan Tasya. Bukankah mereka cukup dekat? Apa jangan-jangan mereka saling menyukai?" Tanya Intan menyampaikan tebakannya.

__ADS_1


"Begitukah? Tasya juga beberapa kali bertanya tentang Dika padaku sih. Beberapa kali juga dia membicarakan Dika. Apa karna mereka saling suka?"


"Hmm.. Mungkin saja." Jawab Intan dengan membayangkan Tasya dan Dika.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di sekolah. Bertepatan dengan bubarnya murid sekolah. Setya memasukkan mobilnya dan memarkirkan mobilnya di samping mobil-mobil guru. Saat dia turun dari mobil, tentu saja dia menjadi pusat perhatian para siswi yang masih akan beranjak pulang. Setya mengabaikan itu.


"Sepertinya kakak masih sangat populer dimanapun kakak berada." Sindir Intan saat Setya membukakan pintu mobil dengan sangat perhatian. Intan bisa melihat banyak siswi yang terpesona dan kagum dengan Setya.


"Jangan cemburu, hatiku hanya milikmu." Goda Setya dengan senyum manis.


"Dasar! Yuk, kita segera ke UKS saja." Ajak Intan sembari memeluk lengan Setya dengan manja. Setya tersenyum melihat tingkah Intan itu.


Akhirnya, Setya dan Intan segera menuju ke UKS. Mereka terlihat serasi dan saling mencintai, membuat siapa saja akan merasa iri dengannya. Di UKS Rehan dan Tania juga sudah menyusul kesana untuk membawakan tas milik Dika dan Tasya.


"Tasya?!" Panggil Setya saat dia memasuki UKS.


"Kak Setya-kak Intan. Kalian beneran datang?!" Seru Tasya kesal.


"Bagaimana kakak gak datang saat mendengarmu sakit. Bagaimana perasaanmu saat ini?" Tanya Setya lembut.


"Aku sudah baikan. Setelah tidur dan makan pasti akan pulih." Jawab Tasya menenangkan kakaknya.


"Kenapa bisa sakit begini sih?!" Tanya Setya memulai introgasinya dengan tangan dilipat didada.


"Sebenarnya ... Aku hanya ..."


"Dia begadang untuk mengerjakan tugas kerajinan dan ditambah telat makan." Jawab Dika mewakili Tasya yang terlihat kesusahan menjawabnya.


"Kenapa bisa begitu. Walaupun ada tugas sebanyak apapun, tidur dan makan itu perlu. Lagian, kalau butuh bnatuan kenapa gak bilang kakak? Kakak kan bisa ..."


"Kak Setya, nanti saja ya mengomelnya. Tasya tau salah kok. Tasya gak bakal mengulanginya lagi." Seru Tasya memotong omelan Setya.


"Baiklah. Aku akan menyambung omelanku nanti saja bersama papa. Sekarang kita pulang dulu." Ucap Setya sambil membantu Tasya turun dari ranjang.


"Terima kasih, sudah membantu Tasya hari ini ya. Aku akan membawanya pulang ... Dika ikut saja dengan kami, sekalian aku juga akan mengantar Intan juga." Ucap Setya menyarankan.


Dika mengangguk mengerti. Ia mengambik tas milik Tasya yang masih dipegang oleh Rehan. Sebenarnya, Rehan merasa tak rela tapi dia juga tak bisa menolaknya.


"Rehan dan ehmm.." Intan menghentikan perkataannya karna tak tahu nama Tania. Kalau Rehan tentu saja dia tahu.


"Tania kak.." Jawab Tania yang menyadari kalau Intan tak tahu namanya.


"Oh ya Tania. Rehan dan Tania, kalian naik apa pulangnya?" Tanya Intan perhatian.


"Aku bawa sepeda motor kak." Jawab Rehan dengan senyum kecil.


"Kalau aku bersama pacarku. Dia seharusnya sudah menunggu diparkiran sekarang." Jawab Tania dengan senyum diwajahnya.


"Baiklah kalau begitu. Kami duluan ya.." Pamit Intan sembari berjalan bersama Dika mengikuti Setya dan Tasya yang sudah berjalan lebih dulu.


"Kamu sengaja menelpon kak Setya supaya dia menjemput Tasya kan?" Tebak Intan saat mereka berjalan. Dika cukup terkejut dengan tebakan Intan yang tepat sasaran.


"Ya. Akan lebih nyaman kalau dia bisa naik mobil sendiri. Lagian, dia memang harus diomeli supaya gak mengulangi hal seperti ini lagi." Jawab Dika terlihat dingin. Tapi, Intan bisa lihat perhatian tersembunyi didalamnya.


Dia dingin tapi perhatian ...


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


(Chapter selanjutnya aka update nanti sore jam 17.00 WIB😁)


__ADS_2