Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
26. Sidang


__ADS_3

TERJADILAH persidangan di ruang rektor.


Pak Rusdi memutarbalikkan fakta dengan memfitnah Kekira.


Motifnya Kekira mahasiswi yang pas-pasan prestasi akademiknya. Sehingga dikaranglah cerita Kekira meminta segera lulus dan bersedia menemani Pak Rusdi.


Gaya bicara Pak Rusdi yang meyakinkan membuat semua orang berpikir negatif tentang Kekira, karena gadis itu diam saja hanya menunduk dan menangis.


“Tapi tidak adil jika kita menjatuhkan hukuman pada Adinda, tanpa mendengar penjelasannya,” kata Bu Sinta, dekan dua.


“Dari tadi Adinda tidak mau bicara, bagaimana kita bisa tau penjelasannya?”


“Mungkin dia masih shock.”


“Apa lagi yang perlu didengar, Pak? Dia sudah tertangkap melakukan tindakan asusila terhadap saya. Lebih baik dia dikeluarkan dari kampus ini.”


“Ada saksi yang bisa membuktikan Adinda bersalah?”


“Sudah jelas.”


Bu Sinta mencoba berbicara dengan Kekira.


“Adinda, kamu jangan takut. Beritahu saya, apa benar yang dikatakan Pak Rusdi? Saya percaya kamu nggak seperti itu.”


Kekira menatap Bu Sinta, dan memeluknya sambil menangis.


“Pak, maaf saya menyela.” Akbi maju membela.


Semua langsung memandang ke arahnya.


“Mungkin bapak dan ibu semua belum mengenal Adinda secara rinci. Tapi saya mengenalnya. Dia gadis yang tertutup dan polos. Saya percaya dia tidak melakukan hal serendah itu dalam keadaan apapun.”


“Kamu bisa menjamin pembelaan kamu ini?” tantang Pak Abidin, dari dekan satu.


“Saya menjamin 100 %.” Akbi menjawab tegas. “Saya adalah sahabatnya sejak kecil. Adinda tidak pernah dekat dengan laki-laki. Saya satu-satunya yang dekat dengannya. Menyentuh saya secara sengaja saja dia tidak pernah. Dia gadis yang sangat menjaga kehormatannya. Kalaupun saya menyentuhnya, itu tidak bermaksud melecehkannya. Ketika saya tidak sengaja melihat rambutnya saja dia tidak tenang. Apa menurut bapak dan ibu semua dia tipe gadis seperti yang dituduhkan Pak Rusdi?”


Semua terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.


“Dan tentang tuduhan Adinda sendiri yang datang ke ruang dekan tanpa keperluan, itu tidak benar. Saya punya saksi.”


Akbi keluar ruangan dan kembali membawa seorang cewek berambut pendek bernama Wina.


“Dia ini yang menghubungi Adinda untuk datang ke ruang dekan.”


“Benar begitu?” tanya Pak Darma tegas.


Wina melirik ke arah Pak Rusdi yang menatapnya dengan tatapan mengancam, dan menggeleng cepat.


“Enggak, Pak.”


“Eh lo jangan bohong. Gue tau lo yang SMS Adinda untuk dateng ke ruang dekan.” Akbi jadi emosi.


“Nggak ada. Saya nggak tau apa-apa.”


“Gue bakal buktiin.”


Akbi membuka tas Kekira mencari HP.


“Ki, HP kamu mana?”


“Ini HP-nya, Mas.” Petugas kebersihan muncul membawa HP yang sudah pecah.

__ADS_1


Ternyata HP-nya mati.


“Mana buktinya?” tantang Pak Rusdi remeh. “Kamu cuma omong kosong. Untuk ngebela pacar kamu ini. Udah Pak, DO saja mereka.”


“Pak Rusdi, kita tidak boleh sembarangan men-DO mahasiswa,” tegas Pak Darma. “Perkara ini harus digali sampe tuntas baru ada keputusan.”


Akbi tidak kehabisan akal. “Oke kalo lo nggak mau ngaku. Gue bisa bawa saksi lain yang bisa buktiin lo yang hubungin Adinda untuk datang ke sini. Dan kalo lo kebukti bohong, gue jamin sanksi buat lo dua kali lipet lebih berat karena udah fitnah orang.”


Wina jadi tegang, sorot mata Akbi menatapnya tajam, dan membuatnya ketar-ketir.


“Mending lo jujur sekarang, sepintar-pintarnya lo ngebohong, kalo gue tunjukin buktinya fatal buat lo.”


Wina jadi takut, nada bicara Akbi membuatnya pasrah.


“Iya saya ngaku! Emang saya yang SMS Adinda supaya datang ke ruang Pak Rusdi. Tapi saya hanya disuruh. Dan, Pak Rusdi juga mengancam saya tutup mulut, kalo tidak saya bisa kena skors karena menunggak uang semester.”


Bu Sinta jadi geram. “Tindakan kamu sungguh memalukan, Wina! Apa kamu sadar sudah membahayakan orang lain?”


“Pak Rusdi, saya tidak bisa membela Bapak, karena yang Bapak lakukan ini sudah melanggar hukum.” Pak Darma geleng-geleng kepala.


“Tidak!” Pak Rusdi masih tidak mau ngaku. “Dia benar-benar yang menggoda saya.”


“Baik, kalau begitu kita lihat kebenarannya. Andi, bawa masuk?” titah Pak Darma.


Andi masuk membawa laptop.


“Sebenarnya demi keamanan kampus, saya memasang kamera CCTV di setiap ruangan, dengan sudut yang tersembunyi. Dan saya merahasiakan hal ini demi menjaga reputasi. Kita akan lihat rekaman CCTV yang ada di ruangan Pak Rusdi. Andi, silahkan.”


Pak Rusdi langsung berkeringat dingin.


Ketika rekaman CCTV diputar, semua langsung geleng-geleng kepala.


“Ini bukti konkrit tanpa rekayasa. Demi reputasi kampus dan keadilan untuk Adinda, saya memutuskan untuk memberhentikan Pak Rusdi. Mengenai proses selanjutnya, pihak kampus tidak ikut campur jika Adinda ingin melaporkan perbuatan Bapak ini ke pihak yang berwajib.”


Akbi menghela nafas lega.


Bersih sudah nama Kekira!


***


“Ini ulahnya Veni.”


Kekira diam saja, masih gemetar.


“Barusan aku maksa Pak Rusdi ngaku. Ternyata dia ada di bawah kendali Veni, sehingga dipaksa melakukan ini sama kamu.”


“Aku nggak nyangka Veni tega banget.” Kekira terisak. “Untung kamu datang.”


“Sebenernya waktu nunggu, aku sempet ke toilet dan nggak sengaja dengar Wina nelepon nyebut-nyebut nama kamu. Aku curiga ada yang nggak beres. Begitu aku paksa dia ngaku, ternyata dia dibayar Veni.”


“Dia bener-bener sakit hati sama Mas Riga. Padahal aku udah berusaha ngomong sama Mas Riga supaya memikirkan pernikahan ini lagi. Tapi Mas Riga nggak mau dengar. Malah mengancam akan melukai Ayah.”


Akbi mengepalkan tangan, emosi.


“Bisanya ngancem doang! Kamu mau ngabisin hidup sama orang kayak gitu?”


Kekira menggeleng.


“Kalo gitu, kamu harus berani melawan.”


“Aku nggak mau Ayah kenapa-napa, Bi.”

__ADS_1


“Kekira..” Akbi menggenggam tangannya, serius.


“Aku percaya kamu sayang sama Ayah, begitupun Ayah. Ayah lebih sedih kalo tau yang sebenarnya belakangan, ketika terlanjur kamu terikat sama Riga. Kamu mau bikin Ayah sedih?”


Kekira menunduk sedih. “Aku nggak mau itu terjadi.”


Akbi terdiam. Sungguh jika boleh ia ingin memeluknya, namun keinginan itu ditahannya.


“Lupain kejadian hari ini. Kamu juga pasti nggak mau Ayah Bunda tau.”


“Makasih ya, Bi.” Kekira menghapus air matanya. “Kamu udah bantu aku hari ini.”


“Nggak cuma hari ini. Kapanpun kamu butuh, aku akan jadi orang pertama yang bela kamu.”


Akbi memberikan bungkusan. “Nih kamu ganti jilbabnya. Aku udah beliin jilbab baru. Bunda pasti curiga kalo liat jilbab kamu sobek begitu.”


Kekira menerima dan tersenyum kecil.


Sementara Kekira di toilet, Akbi berpikir bagaimana cara membantu Kekira.


Karena ia tidak tega gadis itu terus-terusan hidup di bawah tekanan.


Sepuluh menit kemudian, Kekira keluar toilet mengenakan kerudung merah muda.


Akbi terpana, sampai tidak kedip.


Sumpah demi apapun, Kekira manis banget. Wajah sendunya sudah dipoles bedak hingga lebih bersinar dan ceria.


“Gimana, Bi? Bagus kan?”


“Ngg…” Akbi tersadar dan mengacungkan jempol. “Cantik.”


“Makasih ya, kerudungnya. Aku suka.”


“Ngapain bilang makasih. Anggap ini pengganti waktu dulu aku cipratin air kotor bikin jilbab kamu rusak.”


Alis Kekira mengangkat. “Kamu masih inget?”


Akbi tersipu. “Sebenernya waktu itu aku mau nyamperin kamu. Tapi yah gengsi gede-gedean, dengan predikat cowok paling sengak di sini.”


“Huh untung waktu itu aku nggak benci sama kamu.”


“Mana bisa lah tampang se-cute ini dibenci cewek.”


Mereka tertawa bersama.


HP Akbi berbunyi. Dahinya mengernyit heran.


“Siapa, Bi?”


Akbi menatap Kekira. “Bunda kamu.”


Kekira kaget. “Bunda? Kok nelepon kamu?”


“Yah mungkin karena HP kamu rusak.”


Akbi menjawab telepon. “Halo, Bunda? Ya. Iya aku lagi sama Kekira. Bentar lagi kami pulang. Trus… Apa? Ayah kenapa, Bunda?... oh iya iya, aku sama Kekira ke sana sekarang.”


Begitu telepon diputus, Akbi menatapnya tegang.


“Ayah? Kenapa Ayah?” Kekira mulai panik.

__ADS_1


Tanpa menjawab, Akbi menarik tangannya pergi dari sana.


***


__ADS_2