
VENI tidak dapat diselamatkan.
Dokter menemukan zat racun yang dicampur dalam cairan infusnya menggunakan jarum suntik.
Atas laporan Kekira, polisi memeriksa CCTV rumah sakit.
Dicurigai Veni dibunuh dengan cara disuntikkan racun yang langsung menyerang jantungnya.
Padahal beberapa jam yang lalu, sebelum ditemukan meninggal, kondisi Veni dinyatakan stabil.
Paginya jenazah Veni dibawa pulang keluarga untuk dimakamkan.
Kekira tidak ikut mengantar karena masih shock.
Atas saran dokter, Kekira segera dibawa pulang orangtuanya sebelum teringat terus kejadian-kejadian buruk yang menimpanya.
Walau sudah di rumah, bayangan Veni masih terus menghantuinya.
Ia memutar ulang rekaman CCTV di depan kamar rawat Veni di laptop.
Rekaman yang ia dapat diam-diam setelah menyogok pihak operator rumah sakit.
Dalam rekaman, satu jam sebelumnya, masuk seseorang berseragam cleaning service, membawa keranjang sampah.
Lalu kelanjutannya ia yang menemukan Veni sudah tidak bernyawa.
Berulang-ulang ia putar videonya. Ia yakin petugas cleaning service itu pelakunya.
Tapi siapa dia?
Begitu di-pause, ia men-zoom gambar arah wajah dan kaget.
“Lho? Ini kan Mas Riga?”
Meski tidak terlalu jelas, tapi postur tubuh dan gerak-geriknya dikenali Kekira.
“Ternyata Mas Riga yang bunuh Veni!” ia jadi geram, lalu mengambil HP menghubungi polisi.
Pintu kamar terbuka.
“Sayang, ada Akbi tuh di bawah.”
Ia terdiam.
Setiap memikirkan Akbi jantungnya jumpalitan nggak karuan.
Setelah Akbi menyatakan perasaannya ia jadi galau.
“Sama Cinay dan kakaknya,” tambah Bunda.
“Ngg Bunda, aku masih nggak enak badan. Bisa tolong panggilin Cinay ke sini aja, Bun?”
Bunda tersenyum. “Coba sini Bunda periksa.”
Bunda memegang dahinya. “Nggak panas kok.”
__ADS_1
Ia cemberut.
Susah pura-pura di depan ibunya.
“Aku lagi nggak mau ketemu Akbi, Bun.”
“Lho kenapa? Kalian marahan?”
Ia tidak menjawab. Malah tersenyum dipaksakan.
“Nggak ada apa-apa, Bun. Aku lagi males keluar aja.”
“Trus Bunda mesti bilang apa sama Akbi?”
“Bilang aja aku masih lemes.”
Bunda senyum-senyum sambil meninggalkan kamar.
“Dasar anak-anak.”
***
“Kenapa nggak mau ketemu Kak Bira, Ki?” tanya Cinay penasaran.
Kekira menuang air dalam gelas. “Lagi males aja.”
“Kok?” Cinay curiga. “Kak Bira uring-uringan lho nggak ketemu kamu.”
Sebetulnya ia juga kangen banget Akbi.
Ia perlu waktu untuk mengerti apa yang sebenarnya ia rasakan pada Akbi.
“Kamu suka kan sama Kak Bira?” tembak Cinay tepat sasaran.
“Kami cuma sahabat kok.”
Sedetik kemudian entah kenapa ia menyesal menyebutkan ‘cuma’ sahabat.
“Kalo suka juga nggak pa-pa kok,” goda Cinay. “Sahabat jadi cinta mah udah biasa.”
Ia diam saja.
Apa iya dia jatuh cinta pada Akbi?
“Aku nggak tau, Nay. Emang sih belakangan ini semua candaan dia, omongan dia, kebawa perasaan gitu. Bikin aku takut kalo aku cuma baper. Dia tu selalu ada kapanpun aku butuh. Waktu dia ketemu sama saudara kembar mantan pacarnya, dia juga berubah sama aku. Aku nggak nyaman liat mereka deket. Karena aku tuh takut, Nay.”
“Takut kehilangan dia?” tebak Cinay. “Kan?”
Ia mengangguk pelan dengan wajah sedih.
“Tapi kamu udah denger penjelasannya Kak Bira? Siapa tau Kak Bira cuma anggap siapa tuh nama kembaran mantan pacarnya?”
“Tara.”
“Nah iya tuh Tara, bisa jadi Kak Bira cuma anggap temen biasa.”
__ADS_1
“Ya emang dia juga bilang begitu. Tapi aku nggak yakin. Mungkin dia anggap Tara temen biasa, tapi apa yang Tara rasain jelas bukan. Tara suka sama dia.”
Cinay mencibir geli. “Ki, kamu itu cemburu sama Tara. Karena kamu takut kehilangan Kak Bira.”
“Masa’ sih?”
“Udah jelas gimana perasaan kamu sama Kak Bira. Menurut aku sih ya, mending kamu jujur. Daripada nyesel belakangan. Yang aku liat juga Kak Bira suka banget kamu. Kalo enggak, ngapain dia sampe uring-uringan? Aku denger dari Mas Reno, Kak Bira tuh udah jarang makan. Kamu emang nggak kasian sama dia?”
Mendengar itu ia jadi cemas.
***
“Bi, makan nih, Bundanya Kekira udah bikinin buat lo.”
Akbi menatap puding cokelat tanpa minat.
“Kok Cinay lama banget?”
“Sabar napa sih, namanya juga cewek, palingan juga lagi pada curhat,” sahut Reno santai sambil melahap puding.
“Ya tapi…” Akbi makin gelisah.
Sesekali berdiri, mondar-mandir tiga balikan, duduk lagi, berdiri lagi, mondar-mandir, trus aja begitu.
Lama-lama Reno gerah. “Duduk aja napa, kayak cacing kepanasan gitu.”
“Gue pengen ketemu Kekira.”
“Iya gue tau. Sabar aja. Paling juga Kekira lagi dandan. Tau sendiri kalo cewek dandan bisa lama. Apalagi cewek idaman lo perlu waktu pake kerudung.”
Akbi akhirnya duduk, walau masih gelisah.
“Nah tu orangnya turun.” Reno menyenggolnya yang langsung kaget.
Kekira dan Cinay menuruni tangga.
“Ki, kamu apa kabar?” Akbi sedikit grogi.
Kekira tersenyum kecil, tidak memandangnya. “Baik.”
Akbi jadi bingung karena sikap Kekira di luar dugaan.
Apa Kekira kecewa begitu tau perasaannya bukan hanya sekedar sahabat?
“Aku mau ke rumahnya Veni. Kamu mau nganter?” tanya Kekira.
“Lho? Veni bukannya dimakamin kemarin?”
“Iya aku cuma mau ketemu keluarganya. Waktu pemakaman kan aku nggak dateng.”
“Oh oke, kalo gitu aku anter.”
Akbi senang bisa bertemu Kekira, setelah berhari-hari gadis itu membuatnya galau.
***
__ADS_1