
Setelah bersiap Setya dan mamanya segera menuju ke rumah Intan dengan taxi yang sudah didapatkan Setya. Kebetulan papa Setya waktu itu lagi dinas luar kota jadi tidak bisa mengantarkan. Setelah sampai, Setya dan mama segera memasuki rumah Intan dan meminta pak supir untuk menunggu. Sebelumnya, Dika memang sengaja tidak mengunci pintu agar Setya bisa langsung masuk setelah sampai. Setya langsung menuju lantai dua untuk ke kamar Intan.
"Bagaimana keadaannya sekarang?" Seru Setya saat memasuki kamar Intan dengan tergesa-gesa diikuti mama dibelakangnya.
"Kak Setya sudah datang! Kak Intan masih merintih kesakitan dan keringatnya juga terus keluar." Jawab Dika sambil menatap Intan yang meringkuk kesakitan. Setya segera mendekati Intan dan duduk ditepi tempat tidur.
"Intan.." Panggil Setya sambil mengusap kepala Intan lembut. Intan tetap tidak sadarkan diri dan terus merintih sambil memegangi perutnya.
"Lebih baik kita langsung bawa Intan ke dokter saja sekarang!" Seru mama cemas melihat kondisi Intan. Setya mengangguk menyetujui. Dia segera mengangkat tubuh Intan dan membawanya ke dalam taxi.
"Dika di rumah dulu saja ya. Jangan lupa kabari orang tua kamu, mereka juga harus mengetahui keadaan Intan." Ucap mama sebelum memasuki taxi.
"Baik tante. Terima kasih." Jawab Dika sopan.
Setelah itu taxi pun melaju menuju rumah sakit. Dika menatap kepergian taxi itu dengan tatapan cemas.
"Semoga kak Intan gak apa-apa. Huh! Seharusnya dari semalam aku mencegahnya memakan seblak itu! Dan lebih memperhatikan apa kakak benar-benar tidur!" Seru Dika merutuki kecerobohannya juga.
Di perjalanan Setya mendekap Intan dengan kuat. Dia bahkan tidak mendudukkan Intan sendiri, melainkan dalam pangkunnya. Dia terus mengusap keringat yang keluar dari kening Intan. Dan sesekali mengusap perut Intan, berharap sakitnya akan sedikit mereda.
"Bertahanlah sebentar lagi.." Ucap Setya lembut, sembari menciumi puncak kepala Intan dengan sayang. Mama memperhatikan itu diam-diam dari kaca spion dengan senyum kecil diwajahnya.
Sekarang putraku, sudah menemukan orang lain untuk dia jaga selain keluarganya.. Dia sudah semakin dewasa ... Mama
Dilain sisi setelah kepergian Setya, Dika langsung menghubungi sang bunda untuk memberitahu keadaan Intan. Ia lebih memilih menyampaikan pada bunda, karena jika ia menyampaikan pada ayahnya, bisa-bisa tanpa pikir panjang sang ayah akan langsung kembali ke sini tanpa mendengar penjelasannya.
Tutt ... Tutt ... Tutt
Dika cukup gugup saat menunggu panggilannya diangkat oleh sang bunda. Bagaimanapun, ia merasa sedikit bertanggung jawab dengan keadaan Intan sekarang.
"Hallo, Assalamu'alaikum Dika, ada apa?" Tanya bunda lembut.
"Wa'alaikum salam bunda. Ehm, bunda lagi apa sekarang?" Tanya Dika untuk memastikan posisi bundanya aman.
"Oh, bunda baru saja mau membantu menyiapkan sarapan." Jawab bunda lembut.
"Begitu ya. Ehm, bunda ... Sebenarnya ... Kak Intan ... Itu ..." Ucap Dika terbata-bata karna takut.
"Ada apa sayang? Ada apa dengan kakakmu?" Tanya bunda mulai curiga dengan nada bicara Dika.
Ayah yang kebetulan ada di belakang bunda tanpa tak sengaja mendengar pertanyaan bunda dan ikut mendekat karna panik. Dia menatap istrinya seperti bertanya 'ada apa?', bunda hanya bisa memberikan isyarat untuk menunggu.
"Kak Intan sakit bun. Sekarang, kak Setya dan mama kak Setya sedang mengantarkan kak Intan ke rumah sakit." Ucap Dika pelan.
"Apa?! Sakit?! Kenapa bisa?! Apa parah sampai harus dibawa ke rumah sakit?!" Seru bunda terkejut, namun ia masih berusaha tenang.
Ayah lebih terkejut lagi, ia segera mengambil ponsel dari tangan bunda dan menekan tombol speaker agar dia juga bisa mendengar penjelasan Dika. Akhirnya, Dika menjelaskan apa yang terjadi pada orang tuanya.
"Baiklah kalau begitu. Bunda akan menghubungi mama Setya dulu. Kamu baik-baik di rumah ya." Ucap bunda lembut.
"Kita harus pulang sekarang! Tuan putriku sedang di rumah sakit!" Seru ayah panik dan berusaha menarik sang istri untuk segera berkemas.
"Tenanglah dulu, kita coba tanya kondisi Intan dulu. Perjalanan dari sini ke rumah itu juga gak sebentar. Tenangkanlah dirimu sedikit." Ucap bunda menenangkan.
...****************...
Setelah sampai di rumah sakit, Setya segera menggendong Intan dengan panik menuju ke UGD.
__ADS_1
"Suster! Suster tolong pacar saya!" Teriak Setya dengan panik. Membuat beberapa orang yang sedang mengantri di loket menatapnya.
"Tenang dulu mas. Tidurkan pasien di sini. Saya akan panggilkan dokternya sebentar." Ucap salah seorang suster sembari mengarahkan Setya untuk membaringkan Intan di ranjang UGD.
Tak lama kemudian suster itu kembali bersama seorang dokter. Dia segera menuju ke arah Intan dan memeriksanya.
"Ada apa dengan dia?" Tanya dokter sembari memeriksa keadaan Intan.
"Semalam dia habis makan seblak pedas dan begadang. Padahal dia da maag. Tadi pagi badannya panas dengan keringat bercucuran. Dia juga terus merintih kesakitan sambil memegang perutnya. Tolong selamatkan dia dok!" Seru Setya memohon. Mama yang berdiri di belakang Setya dengan lembut menepuk bahu Setya agar anaknya itu bisa lebih tenang.
Setya melihat dokter memerintahkan suster untuk memasangkan infus ditangan Intan. Kemudian, suster juga menyuntikkan sesuatu ke dal infus itu.
"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Setya panik, setelah dokter memberikan pertolongan pertama pada Intan.
"Asam lambungnya naik. Tadi, saya sudah memberikan obat untuk menurunkan asam lambungnya. Nanti, setelah infusnya habis, jika tidak ada keluhan berlebihan maka pasien bisa pulang dan rawat jalan di rumah saja." Jawab dokter menjelaskan.
"Baik, kami mengerti. Terima kasih dok." Ucap mama sopan. Sedangkan Setya duduk di kursi sebelah tempat tidur Intan dan mengenggam tangannya yang tak diinfus dengan lembut.
"Cepatlah bangun, jangan membuatku khawatir." Ucap Setya lembut. Mama menatap itu dengan lembut. Mama akan menunggu diluar ya. Kalau ada apa-apa panggil mama, di UGD gak boleh banyak orang soalnya. Setya pun mengangguk mengiyakan.
Di luar UGD , mama Setya mendapatkan telpon dari bunda Intan. Ia segera mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum Fit. Apakah kamu masih di rumah sakit? bagaimana keadaan Intan?" Tanya bunda setelah mama mengangkat panggilannya.
"Wa'alaikum salam An. Alhamdulillah, Intan sudah ditangani, keadaanya terlihat lebih baik daripada tadi. Sekarang kita harus menunggu infusnya habis dulu, baru dokter bisa memutuskan apakah Intan perlu rawat inap atau rawat jalan saja." Jawab mama pelan.
"Alhamdulillah. Terima kasih ya Fit, uda bantuin aku jaga Intan. Aku lebih lega sekarang mendengarnya." Ucap bunda tulus.
"Sama-sama An, aku memang sudah menganggap Intan seperti putriku sendiri. Kamu tidak perlu tergesa-gesa pulang. Aku akan menjaga Intan sampai kamu pulang. Nanti aku kabari lagi bagaimana keputusan dokter padamu." Ucap mama pengertian.
"Kita tetap harus pulang sekarang! Aku mau melihat kondisi putriku secara langsung!" Seru ayah masih keras kepala.
"Sayang, tenanglah. Intan sudah lebih baik sekarang. Kita tunggu kabar lebih lanjutnya dulu ya. Kalau Intan sampai rawat inap kita langsung pulang. Tapi, jika tidak perlu, kita bisa pulang setelah acara akad saja. Kita tidak perlu menunggu sampai resepsi. Kehadiranmu ditunggu oleh keluarga besar kita." Ucap bunda lembut.
"Tapi ..."
"Intan itu kuat, dia pasti gak apa-apa. Lagian, dia gak sendiri, ada orang-orang yang menyayanginya menjaganya. Kamu tahu sendiri kan bagaimana mamanya Setya memperlakukan putri kita. Jadi, tenanglah. Kita tunggu kabar selanjutnya dulu ya." Ucap bunda mencoba menenangkan suaminya.
"Baiklah." Jawab ayah lesu.
...****************...
Setelah 1 jam, akhirnya infus yang digunakan Intan sudah habis. Dokter kembali memeriksa keadaan Intan. Hasil pemeriksaan membolehkan Intan untuk rawat jalan saja. Asam lambungnya sudah turun. Tinggal panasnya saja, dokter sudah meresepkan obat untuk itu. Infus Intan juga sudah dilepaskan.
"Kak Setya ... Tante ... Maaf, Intan merepotkan kalian." Ucap Intan merasa bersalah.
"Tante gak apa-apa kok sayang. Kamu disini dulu sama Setya ya. Tante akan menebus obat kamu dan membayar biaya pengobatan kamu tadi." Ucap mama lembut.
"Iya tante. Terima kasih." Jawab Intan tulus.
Setelah mama Setya keluar, Intan menatap Setya yang duduk disampingnya dengan tatapan merasa bersalah.
"Maaf ... Maafkan aku.." Ucap Intan sambil menatap Setya.
"Kenapa kamu makan pedes kalau gak kuat?! Aku kan juga sudah bilang jangan begadang, tapi masih begadang.." Seru Setya memarahi Intan.
"Maaf ..." Jawab Intan merasa bersalah, sampai air matanya keluar.
__ADS_1
"Maaf aku sudah memarahimu. Tapi, kalau kamu gak dimarahi begini, kamu pasti akan mengulangi hal yang sama. Aku marah, karna aku mencemaskanmu. Kamu tahu betapa takutnya aku saat Dika menghubungiku dan mengatakan kamu sakit? Jadi, jangan sakit. Jangan buat dirimu sakit, ok? Berjanjilah padaku?" Ucap Setya duduk ditepi ranjang Intan, sembari mengusap pelan air mata Intan.
"Iya aku janji. Maafkan aku, sudah membuat kakak khawatir." Ucap Intan masih menangis.
"Sudah, aku tidak marah lagi. Maaf ... Dan cepatlah sembuh." Ucap Setya sambil memeluk Intan lembut.
Setelah administrasi dan obat ditebus, mereka segera meninggalkan rumah sakit. Mama Setya juga sudah menghubungi orang tua Intan agar tidak khawatir. Dan sesuai kesepakatan, orang tua Intan akan kembali setelah acara akad keesokan harinya. Sebenarnya, ayah masih ingin segera pulang, tapi karna Intan juga yang menunjukkan keadaannya sudah lebih baik dengan panggilan video, akhirnya bisa meyakinkan sang ayah.
Sesampainya di rumah Intan, Setya dengan lembut membantu Intan untuk istirahat di kamarnya.
"Bagaimana keadaan kakak? Apa sudah lebih baik?" Tanya Dika yang masih khawatir.
"Aku sudah tidak apa-apa. Maaf ya merepotkanmu." Ucap Intan lembut.
"Huh! Itu karna kak Intan tak mau mendengarkanku! Cepat istirahat dan sembuh!" Seru Dika kemudian berlalu pergi dari kamar Intan. Walaupun dia terlihat kesal, tapi dia cukup lega melihat Intan yang baik-baik saja.
"Tante akan masakkan bubur untuk kamu makan sebelum minum obat. Setelah itu tante pulang dulu ya, nanti malam tante akan kesini lagi. Malam ini tante akan menginap disini dan menjaga Intan." Ucap mama perhatian.
"Terima kasih tante. Maaf Intan merepotkan." Ucap Intan merasa bersalah.
"Tidak apa-apa sayang. Tante senang kok, kamu kan sudah tante anggap seperti putri tante sendiri seperti Tasya." Jawab mama lembut. Intan pun hanya bisa tersenyum mengiyakan.
"Aku juga akan menginap ya, ma?" Pinta Setya.
"Kalau kamu tidak boleh! Kamu tidur di rumah saja bersama Tasya. Lagian, papa kamu nanti malam pulang ke rumah." Seru mama tegas.
"Yah, kenapa sih ma?! Setya mau jagain Intan juga." Seru Setya masih tak mau mengalah.
"Belum boleh Setya. Kamu gak boleh tinggal di rumah yang sama dengan Intan sekarang. Kalian belum nikah!" Ucap mama tegas. Mendengar itu wajah Intan memerah karna malu.
"Kenapa begitu? Kan kita beda kamar juga. Sama seperti di villa kan, kita juga tinggal dibawah atap yang sama!" Seru Setya masih bersih keras.
"Beda Setya. Sekali tidak tetap tidak!" Seru mama sembari meninggalkan Setya untuk membuat bubur. Setya, hanya bisa cemberut dan kesal dibuatnya.
Intan tersenyum melihat Setya yang terlihat kesal, tapi dia juga tersenyum melihat mama Setya yang sangat memperhatikannya.
"Kenapa tersenyum seperti itu?" Tanya Setya bingung.
"Tidak. Hanya saja lucu melihat ekspresi kakak. Sudah ikuti saja perkataan tante, aku sudah gak apa-apa. Besok pagi kak Setya kan bisa kesini lagi." Ucap Intan menenangkan.
"Baiklah." Jawab Setya mengalah.
"Aku senang ada kakak dan tante disini. Aku seperti punya keluarga baru lagi." Ucap Intan dengan senyuman.
"Suatu hari nanti aku akan mewujudkan itu." Jawab Setya lembut.
Intan cukup terkejut dengan perkataan Setya, apalagi dia mengatakanitu dengan sorot mata yang serius. Intan pun hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Setya itu.
Suatu hari kita pasti akan menjadi keluarga .. Setya
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1