
MELIHAT makanan bubur putih membuat Kekira cemberut.
“Sayang, makan dulu ya, Bunda suapin.”
“Nggak mau, Bunda. Makanannya hambar.”
“Ini kan makanan dari rumah sakit.”
“Tapi nggak enak. Aku mau makan yang lain.”
“Duhh Ayah, anakmu ini, susah sekali dibujuk.”
Ayah melipat Koran. “Ya sudah, belikan saja apa yang dia mau.”
Kekira tersenyum menang. “Bener ya, Yah? Bunda, aku mau bubur ayam pake cakwe-nya.”
Bunda mencubit pipinya gemas. “Iya Bunda beliin.”
Begitu Bunda pergi, Ayah mendekatinya.
“Ayah, Mas Riga bukan calon suami yang baik untuk aku, Yah.” Kekira takut-takut menjelaskan.
“Kenapa kamu nggak bilang sama Ayah dari awal? Selama ini kamu diperlakukan buruk sama Riga tapi kamu menutupi itu semua dari Ayah?” tanya Ayah serius.
“A-aku, aku takut Ayah marah.”
“Ayah lebih marah kalo terlanjur menikahkan putri Ayah dengan laki-laki yang salah,” tegas Ayah membuat Kekira menunduk takut.
“Sayang, kamu itu anak Ayah satu-satunya. Kebahagiaan kamu, adalah yang utama untuk Ayah dan Bunda. Gimana bisa Ayah bahagia melihat anak Ayah menderita dalam pernikahan? Apalagi dengan laki-laki yang kasar dan pemarah seperti Riga. Dia nggak pernah memperlakukan kamu dengan baik.”
Kekira terdiam.
__ADS_1
“Ayah sudah mengundurkan diri dari perusahaan.”
Kekira kaget. “Kenapa, Yah? Apa Pak Reza marah terus pecat Ayah?”
“Tidak. Justru Pak Reza meminta maaf atas kejadian ini. Beliau tidak mengetahui perihal dua anaknya yang menderita trauma setelah istrinya meninggal. Dan Ayah menyesal sudah membiarkan anak Ayah jadi korban.”
“Tapi kenapa Ayah sia-siain hasil kerja Ayah bertahun-tahun?” tanya Kekira tidak habis pikir.
“Sayang, tidak ada yang sia-sia. Memang sudah waktunya Ayah pensiun. Pesangon Ayah cukup untuk membangun bisnis yang selama ini diimpikan Bunda. Kamu jangan khawatir tentang kelangsungan hidup kita ke depannya.”
Kekira menghela nafas lega. “Tapi, kok Ayah bisa tau kalo Mas Riga suka kasar sama aku? Aku kan nggak pernah bahas itu.”
“Akbi yang beritahu.”
“Akbi?”
“Dia sudah ceritakan semua. Ayah Bunda merasa bersalah sudah menjerumuskan putri kesayangan kami pada laki-laki yang tidak baik. Dia juga bilang, kamu takut Ayah sakit kalau pernikahanmu sama Riga batal hingga Ayah bisa dipecat. Itu semua tidak benar, Nak. Ayah akan jauh lebih sakit melihat anak Ayah disakiti.”
Sungguh ia merasa bersalah sudah berpikir buruk tentang Akbi.
Tanpa mendengar penjelasan, ia percaya saja Akbi sudah berpacaran dengan Tara, sehingga tanpa bicara ia menjauh dari Akbi dengan pergi bersama Riga.
Meski begitu, lagi-lagi Akbi menyelamatkannya.
Pintu terbuka.
Muncul suster dan dokter.
“Saya periksa kondisinya dulu ya, Pak.”
Sementara suster memeriksa tekanan darahnya, ia masih melamun mengingat Akbi.
__ADS_1
“Kondisinya sudah membaik, Pak. Besok Adinda sudah boleh pulang.” Kabar dari Dokter melegakan.
“Alhamdulillah. Tuh dengar kata Dokter. Istirahat sama makan yang cukup supaya bisa pulang besok.”
“Siap, Yah!”
***
Malam ini Kekira berniat menemui Veni karena besok sudah mau pulang.
Selain ingin berpamitan, ia juga khawatir dengan kondisi Veni.
Suasana rumah sakit lengang dan redup. Karena sebagian lampu sudah dimatikan.
Berbelok ujung koridor, langkahnya terhenti.
Matanya menyipit.
“Siapa itu keluar dari kamar Veni?”
Ada sosok berjaket dan memakai topi berjalan tergesa-gesa.
Tubuhnya menegang dan berkeringat dingin.
Apa jangan-jangan…??
Ia bergegas memasuki kamar Veni dan kaget melihat Veni kejang-kejang dengan mata melotot.
“VENIIIIIII!! Dokterrrrr… susterrrr!!”
***
__ADS_1