
Siang hari itu Intan sudah menunggu Bagas di depan SMP nya dulu. Sebenarnya, Bagas sudah menawarkan tumpangan, marena arah rumah mereka searah. Tapi, tentu saja Intan menolak. Dia memang sudah bertekad gak ingin ada hubungan lebih dekat lagi dengan Bagas.
Tak lama kemudian, Bagas datang menggunakan sepeda motornya. Sepeda motor yang dulu digunakannya untuk membonceng Intan. Intan menggelengkan kepala dengan cepat saat mengenang ingatan itu.
"Sudah menunggu lama?" Tanya Bagas mendekati Intan.
"Enggak. Sudahlah, kita cepat masuk saja. Bu Amel sudah menunggu." Jawab Intan sembari berjalan terlebih dulu. Bagas hanya bisa tersenyum kecut dibuatnya.
Setelah memakirkan sepeda motornya, Bagas segera menyusul Intan yang terlebih dulu ke kantor untuk mendatangi bu Amel. Dari kejauhan Bagas bisa melihat Intan sudah duduk dan mengobrol santai dengan bu Amel.
"Permisi, maaf saya terlambat." Ucap Bagas sopan, kemudian dia mencium tangan bu Amel.
"Lho, kamu Bagas kan? Kalian satu kampus sekarang?" Tanya bu Amel menatap Intan dan Bagas bergantian.
"Iya. Sebenarnya saya senior Intan, hanya saja saya perlu mengulang beberapa mata kuliah. Dan akhirnya, satu kelas dengan Intan." Jawab bagas sopan dengan senyum diwajahnya.
"Wah, kayaknya kamu seneng banget Gas. Kalian sepertinya berjodoh. Ibu ingat waktu kalian masih sekolah dulu. Kalian tuh jadi perbincangan guru karena rame di kelas waktu ulangan. Bisa-bisanya kalian ketawa begitu kencang saat ujian?.. Mengingat itu ibu merasa makin tua aja, sudah beberapa tahun berlalu, kalian sudah dewasa sekarang.." Ucap bu Amel antusias.
"Maafkan kami waktu itu bu. Kami hanya anak SMP masih polos. Tapi, kalau mengingat kejadian hari itu, jujur saya gak pernah menyesalinya. Saya merasa senang setiap kali mengingat kenangan itu." Jawab Bagas dengan senyum diwajahnya. Intan menatap itu sekilas, sempat ada desiran aneh dihatinya. Entah apa itu, Intan gatau.
"Waktu memang sudah berlalu. Semua itu hanyalah kenangan di masa lalu. Gak perlu selalu mengingatnya. Apalagi, kalau ada masa depan cerah yang menanti. Hubungan saya dan kak Bagas hanya sebatas kakak dan adik kelas saja. Lagian, saya juga sudah punya pacar bu. Lihatlah, ini pacar dan masa depan saya bu." Ucap Intan menjelaskan.
Intan juga menunjukkan fotonya bersama Setya yang dia jadikan wallpaper ponselnya. Bagas menatap Inta dengan tatapan kecewa.
Sebegitunya kamu membenciku? Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu gak marah lagi Intan?! ...
"Ouh, begitu.. Maaf ibu gatau. Tapi, pacar kamu sangat tampan ya Tan. Kalau kalian nikah nanti, jangan lupa undang ibu yaa."
"Tentu saja bu Amel. Sekarang, lebih baik kita mulai wawancaranya dulu. Saya takut, sebentar lagi ibu harus mengajar." Ucap Intan dengan sopan.
"Kamu benar. Baiklah, kita mulai saja. Apa yang ingin kalian tanyakan?"
Setelah itu, merekapun memulai wawancaranya. Intan dan Bagas bergantian menanyakan pertanyaan-pertanyaan pada bu Amel. Semua berjalan dengan lancar dan akhirnya 30 menit berlalu, wawancarapun selesai dan ditutup dengan baik.
"Terima kasih atas waktunya ya bu. Karna, ibu kami bisa mengerjakan tugas dengan lancar." Ucap Intan dengan sopan dan senyum manis.
"Sama-sama. Semoga kelak kalian juga bisa menjadi guru dan pengajar yang baik, bisa menjadi teladan bagi murid-murid kalian nanti." Ucap bu Amel dengan lembut. Intan dan Bagas tersenyum mendengar do'a dari bu Amel tersebut.
"Kalau begitu, kami permisi dulu ya bu. Bel juga sudah berbunyi, bu Amel harus kembali mengajar." Pamit Intan sambil berdiri dari duduknya.
"Iya. Hati-hati di jalan yaa.."
__ADS_1
Setelah berpamitan, Intan dan Bagas segera pergi meninggalkan ruang guru dengan berjalan beriringan. Intan menatap sekeliling sekolahnya. Masih sama, gak ada yang berubah seperti terakhir kali di kesana waktu acara rauni 2 tahun lalu. Bagas juga terus mencuri pandang pada Intan di sampingnya.
Lama gak bertemu, sekarang kamu sangat bersinar ... Bagaimana aku dulu begitu buta untuk menyia-nyiakanmu?! ... Ucap hati Bagas dengan penuh penyasalan.
Andai saja waktu itu dia memilih bersama Intan, maka pasti yang mendapatkan Intan bukanlah Setya melainkan dirinya.
"Kamu ingat waktu orientasi sekolah. Kamu datang terlambat dan akhirnya, kamu ku hukum lari keliling lapangan sebanyak 10 kali. Yah, akhirnya aku menyesalinya karna membuatmu pingsan setelahnya ..." Ucap Bagas mengenang masa itu.
"Berapa kali aku harus mengatakan, jangan ungkit masa lalu lagi. Aku gak mau mengingatnya!" Seru Intan kesal.
Tentu saja aku gak lupa dengan hari itu. Benar saja, hari itu adalah hari sialku karna harus bertemu denganmu! ... Seru hati Intan.
"Kenapa kamu gak mau mengingatnya? Apa karna kamu takut jika mengingatnya maka perasaanmu akan kembali padaku? Bukankah itu artinya kamu masih memiliki perasaan padaku?!" Seru Bagas sambil menatap dalam ke mata Intan.
Intan terdiam beberapa saat. Dia sendiri juga gak tahu alasan pastinya, yang jelas dia merasa sesak dan muak setiap kali mengingat kenangannya bersama Bagas. Dia gak menyukai perasaan itu, akhirnya dia memilih menghindar dan melarikan diri.
"Kamu gak bisa menjawabnya kan? Berarti dugaanku benar bukan? Intan.. Hal itu sudah berlalu bertahun-tahun. Tolong maafkan aku dan kita buka lembar baru bersama, ok?" Ucap Bagas sembari menggenggam tangan Intan dengan lembut.
Intan menatap dalam mata Bagas. Mata yang dulu berulang kali membuatnya luluh, sampai ia harus terus menahan sakit setiap kali Bagas mengecewakannya. Sekarang gak lagi. Bagaimanapun Bagas menatapnya, Intan sudah tidak merasakan apapun lagi. Justru yang ada diingatannya saat ini adalah mata Setya yang selalu menatapnya dengan penuh kehangatan. Intan menarik tangannya dengan paksa dari Bagas.
"Kakak salah paham, aku gak pernah marah pada kakak. Itu hak kakak untuk menolakku dan aku gak menyalahkan itu. Yang membuatku marah adalah diriku sendiri. Karna, aku begitu bodoh menyia-nyiakan perasaanku untuk kakak selama 3 tahun lamanya ... Tapi, itu gak akan aku ulangi lagi sekarang. Kakak tahu, perasaan itu seperti kaca, sekalinya pecah retaknya gak mungkin hilang. Begitu juga perasaanku pada kakak. Semua itu masa lalu dan Masa lalu gak akan pernah menjadi masa depan.."
"Intan, tapi ..."
"Aku tidak akan menyerah! Walaupun, kamu mengusir dan mengataiku tidak punya malu, aku tidak akan menyerah! Selama kamu belum sah milik siapapun, aku tidak akan menyerah! Aku akan terus menunggumu, seperti kamu menungguku dulu!" Teriak Bagas dengan penuh keyakinan.
"Huh! Lakukan saja semau kakak! ... Tapi, aku akan menunjukkan akhir yang sama seperti yang kakak berikan waktu itu padaku ... Penolakan!" Ucap Intan dengan diakhir katanya dia menatap dingin pada Bagas. Sangat dingin seakan tak ada perasaan apapun yang tertinggal disana. Setelah, itu dia benar-benar meninggalkan Bagas seorang diri.
Setelah mengeluarkan perasaannya, Intan merasa jauh lebih lega. Rasa sesak yang sebelumnya ia rasakan telah menghilang. Perasaan aneh dan ketakutan yang selama ini masih menghantuinya, seakan terangkat. Sebelumnya, perkataan Bagas selalu membuatnya takut, takut dia akan melakukan hal bodoh sekali lagi.
Tapi, setelah tadi menatap mata Bagas, ia sadar bahwa perasaannya pada Bagas benar-benar sudah lenyap. Orang yang ia cintai hanyalah Setya. Sekarang, Intan gak akan takut lagi, bagaimanapun Bagas berusaha dia tahu, kalau hatinya gak akan berpaling lagi. Memikirkan Setya, membuat Intan merindukan Setya. Dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Setya.
"Hallo sayang, apakah wawancaranya sudah selesai?" Tanya Setya setelah ia mengangkat panggilan dari Intan. Intan tersenyum mendengar suara Setya. Seakan ia sudah lama tak mendengarnya.
"Kakak dimana?" Tanya Intan tanpa menjawab pertanyaan Setya.
"Aku masih di kampus. Baru saja selesai kelas. Kamu dimana? Kalau sudah selesai aku akan menjemputmu."
"Aku sudah selesai. Kakak ke hutan bambu saja sekarang. Aku juga perjalanan kesana. Kita ketemu di hutan bambu ya.." Ucap Intan dengan senyum diwajahnya.
"Kenapa tiba-tiba kesana? Apa ada masalah? Kamu dimana, aku akan menjemputmu saja." Seru Setya panik.
__ADS_1
"Aku di dalam taxi kak. Sebentar lagi sampai. Kakak cepat kesini saja. Aku akan menunggu kakak.."
"Baiklah. Aku akan segera kesana." Jawab Setya, kemudian menutup telponnya.
"Mau kemana kau, kenapa buru-buru?" Tanya Bayu yang melihat Setya seperti tergesa-gesa.
"Aku akan menemui Intan. Dia baru saja melakukan wawancara dengan pria itu. Sepertinya terjadi masalah. Aku harus menemui Intan sekarang."
"Dia masih belum menyerah ya?! Lelaki itu sepertinya gak mudah disingkirkan seperti serangga-serangga sebelumnya."
"Kau benar. Dia bukan lagi serangga, tapi hama!" Seru Setya geram.
"Sudahlah. Pergi sana, Intan pasti sudah menunggumu. Kalau ada apa-apa kamu katakan saja padaku atau Ifa. Kami akan membantu kalian." Ucap Bayu sambil menepuk bahu Setya.
"Tentu saja. Terima kasih ya Bay." Ucap Setya dengan senyum diwajahnya. Bayu mengangguk sebagai jawaban.
Kemudian, Setya segera berangkat menuju hutan bambu dimana Intan berada. Tak berselang lama, Setya pun sampai. Intan sendiri sudah sampai disana dan sedang menikmati pemandangan dan angin semilir dari puncak menara bambu.
"Intan.." Panggil Setya sesampainya dia dimenara bambu. Intan pun menoleh dan menatap Setya dengan senyum lebar.
"My hero, akhirnya kamu datang!" Seru Intan sembari berlari ke pelukan Setya. Dia melingkarkan tangan di leher Setya.
"Ada apa, apa dia melakukan sesuatu lagi?" Tanya Setya yang bingung dengan sikap Intan saat itu.
"Aku merindukan kakak.." Ucap Intan lembut di dekat telinga Setya.
Walaupun, Setya gak mengerti apa yang terjadi, tapi dia bisa tersenyum saat mendengar Intan mengatakan hal itu padanya.
"Mulai sekarang, apapun yang dilakukannya aku gak peduli lagi. Yang aku tahu adalah aku hanya mencintai kakak! ... Hanya kak Setya, my hero.." Ucap Intan lembut sembari menatap Setya dalam.
"Aku juga mencintaimu, tuan putriku sayang.." Jawab Setya sembari mengusap lembut pipi Intan.
Kemudian, Intan mendekati Setya dan menciumnya lebih dulu. Setya cukup terkejut dengan sikap Intan, tapi akhirnya dia membalas ciuman Intan.
Aku mencintaimu kak Setya ...
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..