
Di ruang kepala sekolah Irhas sedang diintrogasi oleh kepala sekolah dan pak Say, sembari menunggu orang tuanya datang.
"Irhas, kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan itu adalah sebuah tindak asusila?!" Tanya kepala sekolah dengan nada tinggi, karna menurutnya tindakan Irhas sudah tidak bisa ditoleransi lagi.
Irhas hanya diam tak menjawab. Ia malah dengan santai membersihkan sisa darah disudut bibir dan hidungnya akibat pukulan Setya sebelumnya.
Disaat yang sama ayah Intan telah sampai di kantor kepala sekolah bersama yang lain. Saat melihat Irhas, ayah tak lagi bisa menahan emosinya. Dengan langkah cepat ia mendekati Irhas dan ...
Plak ...
Ayah Intan langsung menampar Irhas dengan sangat keras hingga ia tersungkur ke lantai.
"Apa yang anda lakukan?!" Pekik wanita paruh baya yang baru saja tiba dengan pria paruh baya disebelahnya. Mereka adalah orang tua Irhas.
"Pak, tolong tahan emosi anda. Kami tahu anda sangat marah saat ini tapi tolong lihat keadaannya, dia sudah babak belur karna dipukuli oleh Setya sebelumnya. Kita pasti akan mendapatkan keadilan untuk putri anda. Tolong bersabar." Ucap pak Pin berusaha menenangkan ayah Intan yang terlihat tak segan untuk membunuh Irhas saat itu juga.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi disini?" Tanya pria paruh baya yang tak lain adalah ayah Irhas.
"Selamat datang pak-bu. Mohon untuk tenang dulu, saya akan menjelaskan apa yang terjadi." Ucap kepala sekolah dengan tenang.
Akhirnya, semua orang tua dan guru duduk di kursi yang sudah disediakan. Sedangkan Irhas, Setya dan yang lain berdiri dibelakang para orang tua.
"Begini pak-bu , saya memanggil anda kesini untuk memberitahukan perilaku putra anda Irhas. Sangat disesalkan hari ini Irhas hampir saja melecehkan seorang siswi di sekolah. Dan beliau adalah ayah dari siswi itu." Ucap kepala sekolah menjelaskan.
"Apa? Melecehkan seorang gadis?!" Pekik ibu Irhas tak percaya.
Plakk ..
"Anak kurang ajar!!" Seru ayah Irhas yang langsung berdiri dan menampar putranya.
Ia merasa malu sekaligus kecewa dengan kelakuan bejat putranya. Jelas saja kalau tadi ayah Intan memukulnya, siap yang akan terima jika anak gadisnya dilecehkan. Ia sebagai ayah dari tersangka saja merasa tak terima, apalagi ayah dari korban.
"Pak, tenang mohon bersabar!" Seru pak Say melerai ayah Irhas yang hendak memukul Irhas lagi.
"Jangan hentikan dia pak. Biarkan dia memukulku sampai puas! Supaya dia ingat kalau aku adalah putranya!" Seru Irhas dengan senyum kecut.
Plakk..
__ADS_1
Satu tamparan keras lagi mengenai Irhas, kini ibunya yang memberi tamparan itu.
"Tidak kah kamu merasa bersalah karna hampir saja melecehkan seorang gadis? Sekarang perkataanmu tidak ada sopan santunnya pada orang tua!" Seru ibu dengan nada tinggi.
"Kenapa aku harus merasa bersalah? Justru aku sangat menyesal karna tidak berhasil menyelesaikan keinginanku." Jawab Irhas santai.
Setya tak dapat menahan emosinya lagi. Dia bergerak cepat menuju Irhas dan meninjunnya lagi hingga tersungkur. Sebenarnya ayah Intan juga sangat emosi mendengar perkataan Irhas, ia juga hendak memukul Irhas lagi, namun terhenti saat melihat Setya bergerak lebih dulu.
"Apa yang kau katakan huh?! Aku akan menghabisimu saat ini juga!" Seru Setya marah dan memukul Irhas lagi. Bayu dan Toni berusaha menghentikan Setya dibantu para guru disana.
"Setya, tenang dan jaga sikap kamu! Kalau tidak kami terpaksa juga menghukummu!" Seru pak Say mengingatkan.
"Cukup hentikan." Ucap ayah Intan datar pada Setya. Akhirnya, Setya pun menurut.
"Seperti yang anda lihat pak-bu, seperti inilah kelakuan putra anda. Sebenarnya, sudah beberapa kali Irhas masuk ke BK dengan kasus yang sama. Hanya saja tak separah ini. Tapi, untuk kali ini sudah tidak bisa kami maafkan. Dengan berat hati, Irhas harus dikeluarkan dari sekolah." Ucap kepala sekolah sopan.
"Apakah dengan mengeluarkannya dari sekolah akan menyelesaikan masalah?! Lalu bagaimana anda akan mengatasi trauma putriku?! Kejadian hari ini pasti akan meninggalkan luka yang besar untuk putriku!! Belum lagi cemooh murid lain yang merendahkan putriku. Apakah kalian bisa mengatasi itu?!" Seru ayah dengan nada tinggi.
Setya yang mendengar itupun mengepalkan tangan dengan erat. Ia teringat kembali akan sorot mata Intan yang tak mengenalinya tadi. Itu sangat menyesakkan baginya. Begitupun dengan Toni dia teringat perkataan buruk tentang Intan sebelumnya dan itu membuat kondisi Intan semakin buruk.
"Kami sangat menyesal untuk kejadian yang telah menimpa putri bapak. Saya bisa membayar psikolog untuk membantu kesembuhan trauma putri bapak." Ucap ayah Irhas. Mendengar itu Irhas tersenyum kecut.
Orang tua Irhas terdiam mendengarkan penjelasan ayah Intan.
"Saya setuju dengan yang dikatakan ayah Intan. Ketika Irhas dikeluarkan dari sekolah ini tak akan menjamin dia tidak akan melakukan perilaku ini lagi. Perilaku Irhas ini sudah menjadi moralnya. Hal ini tak lepas dari pengaruh lingkungan. Saya dengar anda berdua selama ini terlalu sibuk bekerja hingga tak memperdulikan putra anda. Anda hanya memenuhi kebutuhan finansial saja, padahal diusia mereka saat ini pendampingan dan kasih sayang orang tualah yang terpenting." Ucap bu Indri menjelaskan.
"Biarkan saja mereka bu! Bagi mereka aku sudah mati. Mereka tak pernah memiliki putra!" Seru Irhas terlihat emosi.
Apa yang dikatakan oleh bu Indri semuanta benar. Perilaku Irhas adalah bentuk pelampiasan karna tak mendapat kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Sayangnya Irhas memilih pelampiasan yang salah.
Mendengar itu orang tua Irhas pun merasa tersadar akan perilakunya. Mereka sangat menyesal bahwa mereka juga mengambil andil akan perilaku Irhas itu.
"Maafkan kami nak. Kami tak menyangka jika perilaku kami ternyata mempengaruhi kamu. Maafkan kami, telah menjadi orang tua yang gagal selama ini." Ucap ibu Irhas dengan derai air mata. Ia mendekati putranya dan membelai luka-luka diwajah Irhas dengan lembut.
Melihat ibunya menangis dan juga permintaan maaf yang tulus dari sang ibu, Irhas pun akhirnya luluh dan ikut menangis.
"Aku tak menginginkan apapun. Aku hanya ingin kalian memperhatikanku. Merawatku ketika aku sakit, datang ke pertemuan wali murid, memujiku saat nilaiku bagus, mendengarkan ceritaku di sekolah dan melakukan semua yang dilakukan orang tua dengan anak. Aku ingin memiliki orang tua, karna selama ini aku tak merasakan kalau aku memiliki orang tua." Ucap Irhas dengan menangis.
__ADS_1
Mendengar suara hati Irhas membuat semua yang ada disana terdiam. Bahkan, perkataan itu cukup membuat emosi ayah Intan dan Setya sedikit berkurang. Karna, kini mereka tahu ada alasan dibalik perilaku buruk Irhas.
"Saran saya, bapak dan ibu mendampingi Irhas untuk melakukan rehabilitasi. Diusianya saat ini masih memiliki kesempatan untuk diubah. Ini demi kebaikan Irhas dan juga tidak akan membahayakan gadis di sekolah lain yang akan dimasuki oleh Irhas. Saya harap juga dengan kejadian ini membuat ibu dan bapak sadar akan pentingnya waktu bersama putra kalian." Ucap bu Indri memberi saran.
"Saya sepakat dengan bu Indri. Beliau cukup mengetahui tentang psikologis. Dan untuk masalah gunjingan yang akan menimpa putri bapak, saya akan mengatasinya. Saya akan menetapkan himbauan kepada semua murid untuk tidak mengungkit masalah ini. Dan saya akan memberikan hukuman bagi yang sengaja mengungkit ini di depan putri bapak ... Saya juga akan lebih memperketat keamanan di sekolah ini agar kedepannya tidak terjadi hal seperti ini lagi." Ucap kepala sekolah dengan bijak.
"Om, saya minta maaf atas perilaku saya. Saya sangat menyesal sekarang. Saya mohon maaf. Saya juga ingin menemui Intan untum meminta maaf secara langsung padanya." Ucap Irhas, kali ini ia terlihat bersungguh-sungguh.
"Aku tidak bisa memaafkanmu. Tindakanmu pada putriku masih belum bisa ku terima. Membanyangkan betapa hancurnya putriku saat ini masih membuatku emosi, bahkan aku masih ingin menghajarmu. Apalagi dengan putriku, dia akan semakin ketakutan melihatmu. Ataupun dengan lelaki lain yang mendekatinya. Ini akan menjadi trauma yang besar untuknya." Ucap ayah dengan sorot mata tajam dan nada bicara yang dingin.
Irhas menunduk mengerti. Wajar memang kalau ayah Intan ataupun Intan masih belum bisa memaafkannya mengingat perilaku bejat yang hampir ia lakukan tadi. Begitupun semua yang ada di ruangan itu, mereka juga tak bisa memaksa ayah Intan untuk memaafkan Irhas akan perilakunya. Setya pun juga masih belum bisa memaafkan Irhas, ia juga masih sangat emosi setiap kali mengingat kejadian tadi.
"Tapi aku tidak akan menuntutmu atau memnta kompensasi lebih. Aku hanya berharap kau bisa berubah dan tidak mencelakai orang lain dari sekarang. Dan untuk anda, jadilah orang tua yang bisa membimbing anak anda. Karna, yang mereka butuhkan bukan hanya uang." Ucap ayah Intan bijak.
Setelah semua sudah diputuskan. Ayah Intan segera kembali ke UKS untuk melihat Intan. Intan sudah jauh lebih tenang bersama istrinya.
"Semua sudah selesai. Orang yang menyakitimu dia sudah dikeluarkan dari sekolah. Semua sudah aman. Tidak akan ada yang akan menyakiti tuan putri ayah lagi. Jadi, tuan putri ayah harus kuat dan perlahan melupakan kejadian hari ini ya. Ayah akan selalu melindungi kamu sayang." Ucap ayah lembut sambil berlutut didepan Intan.
Intan menatap ayah dengan mata sembabnya. Senyum kecil mulai terlihat di bibir Intan.
"Sekarang kita pulang ya. Nanti sampai di rumah bunda akan membuatkan puding coklat yang enak untuk Intan." Ucap bunda lembut, Intan mengangguk pelan.
Setelah itu, ayah memapah Intan menuju ke mobil untuk pulang. Setya yang berdiri tak jauh dari pintu UKS menatap Intan. Namun, Intan sama sekali tak melihatnya. Tatapannya terlihat kosong saat itu. Melihat itu, dada Setya merasa sesak lagi.
"Ifa juga pulang ya sayang. Nak, Bayu tolong antarkan Ifa pulang dengan selamat ya ... Setya, kamu juga pulang dulu hari ini ... Dan untuk kalian semua, terima kasih untuk bantuan kalian hari ini ya ... Untuk beberapa hari ini biarkan Intan tenang dulu, Setelah kondisi Intan membaik, kalian bisa bertemu dengan Intan lagi nanti." Ucap bunda lembut, kemudian ia menyusul suaminya dan Intan menuju mobil.
Bayu mendekati Setya dan menepuk bahunya pelan. Ia mengerti perasaan Setya saat ini.
Intan ... Apakah aku masih pantas bersamamu?
Aku sudah gagal melindungimu dan membiarkanmu mengalami kejadian mengerikan itu ..
Masih pantaskah aku?!
.
.
__ADS_1
.
Bersambung..