
1 Bulan kemudian..
Di taman kampus, terlihat Intan yang sedang fokus menatap laptop di depannya. Tangannya menari-nari dengan lincah diatas keyboard, mengetikkan kata demi kata untuk memenuhi tugasnya.
"Selesai.!!" Seru Intan menatap pekerjaannya dengan senyum puas.
Sudah hampir 3 jam dia mengerjakan tugas itu, tanpa menyadari matahari sudah mulai tenggelam di ufuk barat. Intan menengadah menatap dedaunan yang tertiup angin, mereka tampak bergoyang-goyang beriringan. Dikala angin berhembus sedikit kencang, dedaunan bewarna kuning akan lepas dari rantingnya. Melayang-layang dan akhirnya jatuh menyentuh bumi.
Intan memejamkan mata sembari memeluk tubuhnya yang mulai merasakan dinginnya angin sore. Saat matanya tertutup satu sosok yang paling dia rindukan selama satu bulan ini langsung terbayang di pelupuk matanya.
"Kak Setya ..."
Sudah satu bulan lamanya setelah kejadian mengerikan hari itu. Kejadian yang cukup mengguncang perasaan Intan. Yah, mungkin orang bisa menilainya berlebihan. Entahlah, Intan tak terlalu memperdulikan itu. Karna, yang paling tahu bagaimana perasaannya adalah dirinya sendiri. Betapa dia kecewa dan sedih saat Setya tak mempercayainya saat itu.
Sebenarnya, Intan sudah memaafkan Setya. Dia berusaha mengerti tindakan Setya waktu itu. Intan juga masih mempercayai Setya, kalau waktu itu dia gak sengaja dan jelas berniat melakukan sesuatu yang buruk padanya. Tapi, entah kenapa setiap kali bertatap muka dengan Setya hatinya masih terasa sakit. Akhirnya, Intan memilih untuk menghindari Setya selama satu bulan ini.
Bisa Intan lihat, bagaimana kondisi Setya saat ini. Dia terlihat suram dan tak bersemangat. Senyum cerah yang selalu menghiasa wajah tampannya seakan hilang dari wajahnya. Intan juga tak jauh beda dari Setya. Dia kembali menjadi Intan yang murung dan tak bersemangat.
"Aku sangat merindukan kak Setya ... Tapi, semakin aku mendekatinya, perasaanku juga semakin sakit dibuatnya ... Apa yang harus ku lakukan kak Setya?"
Tanpa Intan tahu, tak jauh dari tempatnya Setya terus mengamati Intan dengan tatapan penuh kerinduan. Jika, dia bisa ingin rasanya saat itu juga dia berlari dan memeluk Intan. Jarak antara dirinya dan Intan saat ini sangat menyiksanya. Setya tahu mungkin ini hukuman untuk perbuatannya. Tapi jika lebih lama lagi, hatinya gak akan sanggup lagi.
Awal kali Intan menjauhinya, Setya masih bersih keras untuk mendekati Intan dan meminta maaf juga menjelaskan semua yang dia lakukan hari itu. Namun, jelas terlihat dimata Intan saat itu luka yang begitu dalam. Sorot mata kekecewaan dan terluka. Melihat itu, hati Setya terasa tersayat pisau yang tajam. Perlahan, akhirnya Setya memilih untuk mengamati Intan dari jauh. Dia gak ingin membuat Intan semakin sakit karna melihatnya.
"Gak aku sangka, aku akan kembali dititik ini. Titik dimana aku tak bisa mendekatimu dan hanya memandangmu dari jauh ... Bedanya, kali ini akulah penyebab kamu menjauhiku ... Aku sungguh merindukanmu Intan ..."
Intan dan Setya sama-sama terjerat dengan keadaan mereka masing-masing. Mereka terbelenggu dalam kegelapan dan diantara mereka masih belum ada yang menemukan titik terang. Mereka saling merindukan, hingga saling tersakiti. Apa yang harus mereka lakukan?!
...****************...
"Kamu belum pulang?" Tanya Bagas sembari berjalan mendekati Intan.
Intan melirik sekilas kedatangan Bagas dengan tatapan jengah. Dengan cepat dia mulai membereskan laptop dan buku-bukunya.
"Kenapa buru-buru? Aku hanya bertanya.." Seru Bagas yang terkejut melihat Intan mengemasi barang-barangnya.
Intan tak menjawab dan akan beranjak dari duduknya. Dia sudah lelah menghadapi hubungannya yang sedang bermasalah dengan Setya. Ditambah, Bagas yang terus mendekatinya tanpa tahu malu.
"Intan! Sampai kapan kamu akan menghindariku? Tidak bisakah kamu memberiku satu kesempatan?" Pinta Bagas sambil menghadang jalan Intan.
"Pergi. Aku sibuk!" Seru Intan dengan nada tajam, sarat ketidak sukaan.
"Dengarkan aku dulu. Aku bisa membuatmu bahagia, Tan. Aku bisa membuatmu bahagia lebih dari pacarmu itu. Atau, mungkin mantan ya? Bukankah kamu terus menghindarinya selama satu bulan ini? Daripada kamu terus menghindarinya dan terluka seorang diri, datanglah padaku dan aku janji akan membuatmu bahagia." Ucap Bagas dengan percaya dirinya.
__ADS_1
Dari tempatnya, Setya terlihat mengepalkan tangan menahan emosi untuk tak mendekati dan menghajar Bagas saat itu. Di lain sisi dia juga mengkhawatirkan jawaban Intan. Setya, takut Intan akan sungguh meninggalkannya. Jika ... Jika itu terjadi, entahlah apa yang akan terjadi padanya.
"Kakak sungguh gak ada kerjaan ya? Kenapa kakak terus menggangguku?! Aku sudah katakan berulang kali, aku gak bakalan punya perasaan lagi pada kakak! ... Dan juga jangan sok tahu tentang hubunganku dan kak Setya. Walaupun, aku menghindarinya ... Walaupun, saat ini aku dan kak Setya gak saling bertemu ... Tapi, hubunganku dan kak Setya belum berakhir! Jadi, kakak jangan ikut campur lagi dan menyingkir dari jalanku!" Seru Intan dengan nada tajam. Setelah itu dia pergi meninggalkan Bagas yang masih terdiam mendengar ucapannya.
"Sialan! Seberapa besar perasaanmu pada Setya sampai kamu gak mau sama sekali memberiku kesempatan?!" Umpat Bagas kesal sambil menatap punggung Intan yang mulai menjauh.
Setya juga masih terdiam mendengar ucapan Intan pada Bagas. Nyatanya, Intan sama sekali gak membencinya. Perasaannya masih sama, hanya saja melihatnya saat ini akan membuat hatinya sakit. Bahkan, Intan juga melindunginya dengan menyembunyikan kejadian itu dari kedua keluarga, karna tak ingin hubungan mereka benar-benar berakhir.
"Haaahh! Aku sangat bodoh! Aku sendiri yang sudah merusak kepercayaan Intan padaku! Bagaimana aku bisa memperbaiki kesalahanku itu?!" Gumam Setya merasa frustasi.
"Aku gak bisa berdiam lagi. Kalau jalan yang paling ekstrim adalah jalan terbaik. Maka aku akan melakukannya. Aku akan datang sekali lagi padamu Intan. Ku mohon, jangan menolakku." Ucap Setya dengan penuh tekad.
Sebenarnya, kedua keluarga juga sudah tahu kalau Intan dan Setya sedang ada masalah dan sedang perang dingin. Tapi, mereka tak tahu penyebabnya apa. Karna, baik Intan maupun Setya memilih bungkam. Setya mengikuti permintaan Intan untuk tetap diam. Mau gak mau Setya menuruti permintaan Intan itu. Dia gak mau membuat Intan kecewa lagi padanya. Tapi, jika itu adalah jalan terbaik yang harus diambil agar permasalahan segera selesai, maka Setya rela melakukannya.
...****************...
Rumah Setya.
Plakkk
"Apa yang kamu katakan, Setya?! Kenapa baru mengatakannya sekarang?!" Teriak papa marah. Dia menampar Setya dengan keras, hingga sudut bibirnya berdarah.
Malam itu setelah selesai makan malam bersama. Setya membulatkan tekadnya untuk menceritakan kejadian itu pada orang tuanya. Dan tentu saja sesuai dengan dugaannya, orang tuanya sangat marah dan jelas sangat kecewa pada Setya.
"Papa kan sudah mengatakannya padamu sewaktu pertama kali kamu mengajak Intan kesini. Kalau sampai kamu membuat anak gadis orang menangis, papa sendiri yang akan memberikan perhitungan pada kamu! Dan sekarang, bukan hanya membuatnya menangis!. Tapi, kamu hampir saja ...?! Huh! Apa kamu gak sadar jika perbuatanmu itu sama dengan pria brengsek waktu itu?! ... Wajar saja jika Intan menjauhimu! Dimatanya, mungkin kamu sekarang sama dengan pria brengsek itu!" Seru papa dengan emosi.
Setya hanya terdiam mendengar semua perkataan sang papa. Semua yang dikatakan papanya memang benar. Dia memang sudah jadi lelaki brengsek! ... Tapi, walaupun tahu begitu. Dia ingin menjadi egois, dan berharap Intan mau memaafkannya untuk sekali ini saja.
"Mama juga kecewa sama kakak. Mama gak pernah mengajarkanmu seperti itu. Mama tahu kamu kehilangan kendali. Tapi, apa harus sampai seperti itu?! ... Saat melakukan itu, apa kamu gak mengingat mama atau adik kamu. Bagaimana, jika hal serupa terjadi pada adikmu. Apa kamu gak akan marah dan seperti ingin menghambisi pria yang melakukanya pada Tasya?!"
"Tentu saja ma! Setya akan melakukannya! Siapa berani menganggu adikku?!" Jawab Setya menggebu. Tak perlu ditanya lagi, Setya pasti akan memghajar pria itu dengan kuat.
"Itu juga yang dirasakan oleh Dika, jelas sekali kalau dia marah padamu. Dan apalagi ayahnya Intan. Mungkin kemarahannya lebih dari papamu saat ini. Maka dari itu Intan melindungimu dengan gak menceritakan ini pada ayahnya." Ucap mama tegas.
"Iya, Setya tahu itu ma. Tapi, Setya gak bisa lagi menyembunyikan ini. Setya tahu salah. Dan Setya akan bertanggung jawab akan kesalahan yang sudah Setya lakukan." Jawab Setya dengan sorot mata penuh tekad. Jelas sekali saat ini dia terlihat sangat serius.
"Apa yang mau kamu lakukan?!" Tanya sang papa menatap Setya penuh selidik. Emosinya sudah cukup reda, karna Tasya berusaha menenangkannya.
"Aku butuh persetujuan papa dan mama ..."
...****************...
Rumah Intan.
__ADS_1
"Tuan putri ayah, kenapa belakangan ini jarang tersenyum. Ada apa sih?" Tanya ayah sembari mengusap lembut rambut panjang Intan. Saat itu mereka sedang menikmati waktu berkumpul bersama keluarga.
"Gak apa-apa kok paduka raja. Nih, tuan putri uda tersenyum kan?" Jawab Intan dengan berusaha menunjukkan senyumnya.
"Apa masalahmu dengan Setya belum selesai juga?" Tanya bunda penasaran.
"Ehm, yah begitulah. Kami masih butuh waktu sendiri dulu." Jawab Intan dengan senyum dipaksakan.
Mendengar nama Setya dari orang lain saja, membuat hatinya sakit. Karna, itu akan mengingatkannya akan jarak yang ada diantara dia dan Setya. Seakan, Setya begitu jauh darinya. Intan pun menunduk dengan sedih. Dika menatap itu dengan tak suka. Andai saja Intan tak memohon padanya, pstinya dia sudah menceritakan pada orang tuanya.
"Sebenarnya ada masalah apa sih antara kamu dan Setya sayang? Apa dia menyakitimu?" Tanya ayah penuh selidik.
"Ehm ...."
..Assalamu'alaikum..
Pembicaraan mereka terhenti saat bel rumah berbunyi. Bunda segera bangkit dan melihat siapa yang datang, malam-malam begini.
"Bunda siapa yang datang?" Tanya ayah yang bangkit dari duduknya untuk menyusul sang istri.
Tapi, sebelum dia berjalan langkahnya terhenti saat sang istri sudah kembali ke ruang keluarga, diikuti oleh Setya dan keluarganya. Ayah menatap itu dengan bingung. Dika yang kebetulan melihat itu juga ikut berdiri dan membulatkan mata tak percaya. Melihat ekspresi Dika yang terkejut, Intan pun ikut menoleh ke arah pandangan Dika. Seketika, mata Intan juga membelalak karna terkejut.
"Kak Setya?!" Gumam Intan pelan.
Pandangan Setya dan Intanpun bertemu setelah sekian lama. Setya tersenyum kecil pada Intan dengan tatapan yang begitu sendu.
"Wan, ada apa kamu sekeluarga kesini malam-malam?" Tanya ayah bingung.
Belum sempat papa menjawab, tiba-tiba Setya berlutut di depan ayah Intan. Tentu saja hal itu membuat semua orang terkejut, apalagi Intan. Dia menggelangkan kepala dengan kuat seakan melarang Setya melakukan itu. Intan bisa menebak apa yang akan dilakukan Setya.
"Maafkan saya om ..."
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1
(Chapter selanjutnya update nanti sore pukul 17.00 WIB)