
Setelah drama wisuda, Intan dan yang lainnya harus kembali belajar untuk mempersiapkan ujian masuk ke universitas yang mereka inginkan. Untung saja Universitas Gading memiliki jurusan yang cukup lengkap. Dan jurusan yang diinginkan oleh Intan dan Ifa juga ada disana. Sehingga mereka tak perlu pergi jauh dari Setya dan Bayu. Yah, tapi tentu saja mereka akan pisah gedung. Tapi itu lebih baik karna, mereka masih di universitas yang sama.
Hari itu Setya menemani Intan belajar di perpustakaan kota untuk mencari buku-buku yang ia butuhkan untuk ujian masuknya. Setelah menemukan buku-buku yang ia butuhkan, ia dan Setya memilih bangku didekat jendela untuk mempelajarinya. Setya sendiri juga fokus untuk mengerjakan tugasnya sendiri. Berada disamping Setya seperti ini membuat Intan sulit fokus. Entah kenapa hari itu Intan ingin terus menatap wajah Setya yang terlihat jauh lebih tampan dengan sinar matahari yang menerpa wajahnya.
"Kenapa menatap wajahku terus, hm?" Tanya Setya menatap Intan. Ia sudah tahu kalau Intan terus menatapnya sejak tadi.
"Gatau. Aku lebih tertarik melihat wajah kakak hari ini. Kenapa, kak Setya sangat tampan?" Tanya Intan sambil menopang dagu dengan sebelah tangannya.
"Kamu harus belajar, supaya kamu bisa lebih sering melihat wajahku ketika kita satu kampus." Jawab Setya pengertian.
"Tapi, aku sedang gak mood hari ini." Rengek Intan manja sembari memeluk lengan Setya dan menyandarkan kepalanya dibahu Setya.
"Bukannya kamu harus membaca buku-buku ini?" Tanya Setya sambil mendekatkan buku yang sedang terbuka di atas meja.
"Tapi, aku lagi malas menggerakkan tanganku. Andai, ada alat yang bisa memudahkanku membalikkan buku ini tanpa ku sentuh pasti sangat menyenangkan!"
"Baiklah, aku akan menjadi alat itu. Bacalah, aku akan membalikkan halamannya untukmu." Ucap Setya lembut.
"Sungguh?! Terima kasih." Ucap Intan senang.
Akhirnya, Intan membaca buku dengan tetap bersandar pada Setya. Dan Setya yang dengan perhatian dan kesabaran terus membalikkan halaman buku untuk Intan, disela mengerjakan tugas miliknya sendiri. Para pengunjung perpustakaan lain yang melihat itu pun merasa iri dengam keromantisan yang terjadi disana. Tanpa Setya tahu, ada teman satu kampusnya disana. Dia diam-diam memotret Setya dan Intan yang terlihat sangat romantis itu.
Satu minggu kemudian.
"Setya! Kau sudah melihat majalah kampus kita?" Tanya Bayu dengan tergesa menghampiri Setya.
"Belum. Ada apa?" Tanya Setya bingung.
"Lihatlah! Kau jadi tranding topic! Fotomu bersama Intan jadi sampul utama majalah kampus kita. Kau luar biasa teman." Seru Bayu sambil memperlihatkan foto majalah kampus yang dimaksud oleh Bayu.
"Kenapa bisa begini? Aku gak pernah setuju untuk difoto seperti ini ... Tunggu! Kalau ini menjadi sampul majalah kampus, berarti wajah Intan sudah dilihat seluruh kampus dong?!" Seru Setya seakan baru tersadar.
"Haha. Tentu saja." Jawab Bayu yang tahu saat ini Setya mulai kesal.
"Permisi, Setya ya?" Tanya seorang mahasiswa dengan kaca mata tebal bertengger dihidungnya.
"Ya. Ada apa?" Tanya Setya dingin. Suasana hatinya saat ini sedang buruk.
"Hm, begini ... Ini ada uang kompensasi hasil penjualan majalah kampus. Penjualan kali ini sangat laris karna ada fotomu dengan pacarmu itu. Maaf juga karna aku memotretmu diam-diam. Majalah kampus sedang sepi belakangan ini. Tapi saat melihatmu dan pacarmu waktu itu, aku merasa majalah kampus akan kembali aktif. Benar saja, penjualan kali ini sangat meledak. Jadi ...."
__ADS_1
"Itu bukan alasan untuk memotret orang diam-diam! Aku tak membutuhkan uang kompensasi darimu. Tapi, sebagai gantinya aku tak mau hal ini terulang lagi. Kalau sampai ini terjadi lagi, aku sendiri yang akan melaporkan majalah kampus supaya sekalian saja ditutup!" Ucap Setya dingin sarat akan ancaman.
"Ba-Baik! Maafkan aku!" Ucap mahasiswa itu ketakutan. Sorot mata Setya saat itu seakan bisa meleburkannya. Setelah itu Setya pergi meninggalkan mahasiswa itu dengan Bayu.
"Dia sangat menyeramkan! Sangat posesif terhadap pacarnya.." Gumam mahasiswa itu bergidik ngeri membayangkan sorot mata tajam dari Setya sebelumnya.
Sore harinya saat Setya mengunjungi Intan di rumahnya, wajah tampannya masih saja ditekuk. Seharian ini Setya mendengar banyak mahasiswa yang memuji kecantikan Intan. Dia memang bangga karna Intan memang cantik. Tapi, dia juga tak terima melihat banyak mahasiswa terus memandangi wajah Intan seperti itu.
"Kak Setya kenapa? Apa terjadi sesuatu di kampus hari ini?" Tanya Intan setelah mengambilkan minuman untuk Setya. Dia heran melihat wajah Setya yang terlihat kusut.
"Lihatlah ini.." Ucap Setya sembari memberikan majalah kampus yang ada foto mereka berdua.
"Ini kan foto kita waktu di perpustakaan seminggu yang lalu? Kenapa foto kita jadi foto sampul majalah kampus kakak?" Tanya Intan heran.
"Ada pengurus majalah itu yang melihat kita dan memotret kita diam-diam. Dia melakukannya untuk menyelamatkan majalah kampus yang hampir ditutup, karna penjulannya selalu menurun. Tapi dengan foto kita ini, penjualan langsung meningkat pesat." Jawab Setya dengan wajah masih cemberut.
"Bagus dong. Berarti kita sudah membantunya secara tidak langsung. Lalu kenapa kak Setya terlihat kesal begitu?" Tanya Intan heran.
"Bagaimana aku gak kesal? Satu kampus sudah melihatmu. Bahkan, seharian ini aku mendengar banyak pujian dan pandangan kagum mahasiswa lain padamu. Melihat mereka memandangi fotomu membuatku benar-benar kesal." Jawab Setya dengan kesal.
Intan hanya bisa menatap Setya bingung, ternyata hal yang membuatnya kesal adalah karna dia merasa cemburu. Intan pun hanya bisa tersenyum kecil dibuatnya.
Setya terdiam dan memikirkan ucapan Intan. Yang dikatakan Intan memang benar, tapi tetap saja ia masih tak rela. Akhirnya, untuk membuat suasana hati Setya kembali ceria, Intan mengajak Setya bermain game di rumahnya. Yang kalah, mereka harus mau di foto dengan pose yang jelek. Setya pun menyetujuinya.
Mereka bertanding dengan sengit. Sampai akhirnya, Intan yang kalah. Mau tidak mau dia harus berfoto dengan jelek. Ia memilih melakukan selfie di dalam kamarnya seorang diri, setelah itu baru ia kirim pada Setya. Sebenarnya dia sangat malu, tapi ini sudah menjadi kesepakatannya.
"Hahahaha. Kamu lucu sekali." Tawa Setya puas, melihat hasil foto Intan.
"Berhenti menertawakanku!" Seru Intan cemberut.
"Kamu sangat menggemaskan!" Seru Setya melihat Intan, ia mencubit kedua pipi Intan dengan gemas.
Walaupun, kesal Intan juga ikut senang bisa melihat suasana hati Setya yang membaik.
"Sudah jangan cemberut lagi. Tadi sewaktu kamu selfie, aku juga ikut berfoto. Aku akan mengirimkannya padamu juga." Ucap Setya yang melihat Intan masih cemberut.
__ADS_1
"Hahaha. Kak Setya konyol! Pantas saja rambut kakak jadi berantakan gitu." Intan merasa geli juga melihat hasil foto Setya. Ia juga membantu merapikan rambut Setya yang berantakan.
"Makasih sudah membuat suasana hatiku membaik." Ucap Setya dengan senyuman.
"Sama-sama.. Hm, tapi aku ada 1 permintaan ke kakak. Kak Setya mau mengabulkannya kan? Mau ya, sayang?" Pinta Intan dengan mata berbinar penuh harap.
"Katakan saja, aku pasti mengabulkannya.." Jawab Setya lembut. Seketika senyum Intan berubah jadi senyum jahil. Setya melihat itu dengan tatapan heran. Ia curiga Intan sedang merencanakan sesuatu.
Benar saja dugaan Setya. Intan memintanya memakai piayama tidur berbentuk dinasurus milik Dika yang sudah tak pernah dipakai. Setya merasa malu mengenakan itu. Tapi, melihat Intan yang tertawa begitu lepas akhirnya, ia pun juga luluh.
"Apa aku terlihat menggemaskan?" Tanya Setya sembari berpose saat Intan mengarahkan kamera untuk mengambil fotonya.
"Sangattt menggemaskan!" Jawab Intan dengan senyum lebar.
"Kak Setya?!"
Setya dan Intan pun menoleh ke arah tangga disana ada Dika yang baru saja datang dan terlihat terkejut saat melihat penampilan Setya saat itu.
"Ini ...."
"Hahahahahaha.. Kau cocok sekali mengenakan itu. Sini biar om foto!" Seru ayah yang juga baru saja pulang kerja. Ia akan menemui Intan, tapi sangat mengejutkan saat ia melihat Setya mengenakan kostum itu.
"Ada apa? Kenapa sangat ramai?" Tanya bunda yang ikut naik ke lantai atas untuk memberitahukan bahwa makan malam sudah siap.
"Hahaha. Setya, tante gatau kalau kamu juga bisa terlihat menggemaskan seperti itu." Ucap bunda menahan senyum.
Setya sampai kehilangan kata-katanya saat melihat keluarga Intan yang memergokinya mengenakan kostum kekanakan saat itu. Intan juga sangat terkejut dengan kedatangan keluarganya. Ia melirik ke Setya yang terlihat mematung dengan wajah memerah.
"Kak Setya.." Panggil Intan pelan.
Hilang sudah wibawaku di depan keluarga Intan.. Teriak hati Setya meratapi nasibnya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..