Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Ayah tidak akan melepaskan orang yang sudah menyakiti kamu!


__ADS_3

Sekolah dihebohkan dengan kejadian Irhas. Kegiatan classmeet terpaksa dihentikan dan murid lain di izinkan untuk pulang. Saat pak Say menggiring Irhas ke ruang kepala sekolah dengan wajah yang babak belur, semua murid memperhatikannya. Bagi yang sudah mengenal Irhas, apalagi korban yang sama seperti Intan merutuki Irhas dengan sumpah serapah.


"Dia bukannya kakak kelas yang duduk dengan Intan sebelumnya ya? Kenapa dia babak belur seperti itu?!" Gumam Linda bingung. Dharma pun merasakan hal yang sama seperti Linda.


Tak lama setelah pak Say membawa Irhas, tampak Setya yang menggendong Intan menuju ke UKS diikuti oleh Bayu, Ifa dan Toni. Memang UKS sekolah mereka tak jauh dari ruang guru dan kantor kepala sekolah.


Semua semakin berbisik dan penasaran dengan apa yang terjadi. Semua berusaha menebak-nebak kemungkinan yang terjadi. Mereka mulai membicarakan Intan.


"Wah, apakah Irhas melakukan sesuatu pada pacarnya Setya?"


"Berarti pacarnya Setya sudah disentuh oleh orang lain dong. Kasihan sekali Setya harus menerima barang sisa."


Mendengar bisik-bisik itu, Intan semakin mengeratkan pegangannya pada leher Setya. Tubuhnya masih gemetar dan dia masih menangis. Perkataan murid lain cukup membuatnya semakin terisak.


"Tenanglah. Aku disini, aku tidak akan meninggalkanmu lagi." Ucap Setya lembut menenangkan Intan.


"Apakah kalian tidak bisa diam dan mengurusi urusan kalian sendiri?! Ada orang yang menghadapi masalah, kalian malah mengatainya. Pikirkan kalau kalian ada diposisi itu, apakah kalian juga mau dibicarakan seperti itu, huh?!" Teriak Ifa marah.


Semua murid langsung terdiam mendengar ucapan Ifa. Mereka menunduk merasa bersalah. Tapi, tentu saja tak semuanya.


"Kalau sampai aku mendengar hal buruk lagi. Kalian akan berhadapan denganku." Seru Toni dengan nada dingin dan tatapan tajam yang mengerikan. Hal itu semakin membuat nyali murid lain menciut. Walaupun, itu kakak kelas sekalipun.


"Ada apa ini Ton?" Tanya Linda mendekati Toni bersama Dharma.


"Bajingan itu berusaha menodai Intan. Untung pacarnya datang tepat waktu. Huh, rasanya aku ingin menghajarnya juga!" Seru Toni yang masih emosi.


"Ya ampun. Intan pasti sangat ketakutan sekarang." Ucap Linda pelan, ia seperti bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Intan. Karna, dia juga seorang wanita.


"Ayo kita susul mereka. Aku juga ingin mengetahui kondisi Intan." Ucap Dharma yang diangguki oleh Linda dan Toni.


Setelah sampai di UKS, Setya meminta dokter jaga untuk memeriksa keadaan Intan. Ada beberapa bagian tubuhnya yang memar. Seperti pergelangan tangan Intan, karna di cengkram kuat oleh Irhas sebelumnya.


Namun, saat dokter jaga hendak menyentuhnya Intan malah menghindar dan bersembunyi dalam pelukan Setya, ia kembali menangis. Intan terlihat masih sangat syok, hingga tak memepercayai laki-laki lain selain Setya saat itu. Bahkan, Setya masih merasakan tubuh Intan yang gemetar.


"Tidak akan terjadi apa-apa. Tenanglah, aku disini." Ucap Setya lembut sembari mengelus pelan rambut panjang Intan.

__ADS_1


Ifa dan yang lainnya hanya bisa menatap Intan dengan khawatir. Mereka bisa merasakan rasa takut yang dirasakan Intan hanya melihat keadaannya saat ini. Tak lama kemudian, Kepala sekolah datang bersama bu Indri dan pak Pin.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya kepala sekolah pada dokter jaga.


"Secara fisik dia tidak apa-apa. Hanya sedikit memar dipergelangan tangannya. Namun, trauma psikisnya terlihat lebih besar. Dia bahkan tidak mau saya sentuh." Ucap dokter jaga menjelaskan.


"Itu wajar Pak, dia baru saja mengalami kejadian yang mengerikan seorang diri. Psikologisnya pasti terguncang. Tanpa sadar akhirnya, dia membangun benteng dalam dirinya untuk membatasi interaksi dengan orang luar. Hanya orang-orang terpercaya yang bisa mendekatinya, seperti Setya saat ini." Jelas bu Indri mencoba mengamati situasinya.


Mendengar itu kepala sekolah menghembuskan nafas panjang. Ia cukup merasa bersalah karna tidak menepati janji pada ayah Intan.


"Pak Pin, tolong hubungi orang tua Intan agar kesini. Saya juga tadi sudah menyuruh pak Say untuk menghubugi orang tuanya Irhas. Kita harus mengambil tindakan tegas kali ini, agar tidak terjadi hal seperti ini lagi." Seru kepala sekolah tegas.


Pak Pin mengangguk mengiyakan dan segera menghubungi nomor ayah Intan.


...****************...


30 menit kemudian, ayah Intan sudah datang ke sekolah bersama bunda. Sekolah sudah cukup sepi, hanya tersisa beberapa murid saja di sekolah. Setelah memarkirkan mobilny ayah dan bunda segera bergegas menuju ke UKS dengan sedikit berlari.


Tampak jelas kemarahan di wajah ayah. Rahangnya mengeras dengan sorot mata dingin penuh emosi. Sedangkan, bunda sangat khawatir dengan keadaan putrinya.


"Dimana Intan?" Tanya ayah langsung.


"Intan ada di dalam bersama kak Setya, ayah " Jawab Ifa.


Tanpa basa-basi lagi ayah segera masuk ke dalam UKS. Di sana msih ada dokter jaga, pak Pin dan bu Indri. Namun, pandangan ayah hanya langsung mengarah pada Intan dipelukan Setya. Tubuhnya sudah tidak segemetar sebelumnya, tangisannya juga sudah berhenti. Tapi, Intan masih memeluk Setya dengan erat seakan takut jika ia lepskan maka akan ada yang menyerangnya lagi.


"Intan ..." Panggil ayah pelan sambil mendekati putrinya. Hatinya hancur melihat begitu rapuhnya Intan saat itu.


Merasa familiar dengan suara yang memanggilnya, Intan pun menoleh ke sumber suara. Ia melihat sang ayah yang sangat disayanginya. Dengan segera Intan melepaskan pelukannya pada Setya dan berganti pada ayah.


"A-Ayah!! ... Intan takut!! ..." Ucap Intan terbata disela isak tangisnya. Ia kembali terisak setelah berada dipelukan sang ayah. Namun, rasa aman yang ia rasakan dari sang ayah lebih besar daripada Setya.


"Tenang sayang. Semua baik-baik saja. Ayah ada disini sekarang! Ayah tidak akan melepaskan orang yang sudah menyakiti kamu sayang." Ucap ayah lembut sembari menepuk kepala Intan dengan lembut.


Tubuh kecil sang putri tampak sedikit bergetar. Suara isak tangisnya juga terdengar memilukan bagi ayah. Bunda, bahkan sudah menangis melihat kondisi putrinya. Dia bjsa membayangkan betapa takutnya Intan saat itu.

__ADS_1


"Ada yang bisa menjelaskan bagaimana ini bisa terjadi pada putriku?!" Seru ayah dengan sorot mata yang tajam.


"Mohon maaf pak. Ini kelalaian kami, setelah 2 minggu mengawasi Irhas dan terlihat dia tidak menunjukkan keanehan, maka kami secara tidak langsung menurunkan kewaspadaan kami. Kami sama sekali tak menyangka akan terjadi seperti ini. Kami selaku guru di sekolah ini meminta maaf." Ucap pak Pin dengan kepala tertunduk.


"Saya sudah katakan sebelumnya untuk mengawasi murid anda itu! Saya sangat menyesal telah mempercayakan putri saya pada sekolah ini." Seru ayah dengan nada tinggi.


"Maafkan saya juga om. Saya gagal melindungi Intan. Saya benar-benar payah!! Tidak berguna!!" Seru Setya sambil memukuli diri sendiri, bahkan matanya sudah berkaca-kaca. Ia benar-benar merasa seperti sampah saat itu. Emosi dalam dirinya berkecamuk hebat.


"Ifa juga salah ayah, karna sudah meninggalkan Intan sendiri. Seharusnya, Ifa gak pernah ninggalin Intan seorang diri. Maafkan, Ifa ayah." Ucap Ifa dengan linangan air mata. Bayu berdiri disampingnya dan mengelus punggung Ifa memberi kekuatan.


Ayah tidak menjawab perkataan Setya dan Ifa. Dan itu semakin membuat Setya dan Ifa merasa bersalah.


"Dimana dia?! Dimana bocah ingusan yang berani menyakiti putriku?!" Seru ayah dengan sorot mata yang tajam.


"Dia ada di kantor kepala sekolah pak. Kami akan segera mengambil tindakan tegas untuk masalah ini." Jawab pak Pin.


"Intan sayang, Intan bersama bunda dulu ya disini. Ayah akan mengurus bocah kurang ajar yang sudah menyakitimu sebentar." Ucap ayah lembut pada Intan. Perlahan Intan melepaskan pelukannya pada sang ayah dan beralih pada bunda di sebelahnya.


"Bunda..!!" Seru Intan pada sang bunda. Ia juga menangis dalam pelukan sang bunda.


"Antarkan saya pada murid kurang ajar itu!!" Seru ayah pada pak Pin.


Akhirnya, pak Pin bersama bu Indri mengantarkan ayah Intan ke kantor kepala sekolah. Setya memilih mengikuti ayah Intan bersama Bayu dan Toni. Sedangkan Ifa, Linda dan Dharma memilih menemani Intan, karna mereka juga tidak bisa bersaksi untuk Intan.


"Maafkan Ifa tante. Ifa harusnya tadi tidak meninggalkan Intan seorang diri. Maaf!!" Ucap Ifa pada bunda dengan terisak. Linda menepuk bahu Ifa pelan untuk menenangkannya.


"Kamu tidak salah Ifa sayang. Semuanya terjadi diluar pengetahuan kamu. Hal ini memang tidak terprediksi, yang patut disalahkan dan dihukum saat ini adalah anak kurang ajar itu!!" Jawab bunda penuh kehangatan. Namun, Ifa masih tetap merasa bertanggung jawab akan kejadian itu.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2