
Kring ... Kring ... Kring
Bunyi jam alarm diatas nakas meraung-raung ke seluruh ruangan. Tapi, itu tak membuat sang pemilik berkutik. Gadis itu masih tertidur pulas di balik selimut tebal bewarna ungu mudanya.
Tok ... Tok ... Tok
"Intan?!"
"Hmm, kenapa berisik sekali?!" Gumam seorang gadis dari balik selimutnya.
Suara alarm dan ketukan pintu juga suara yang samar-samar memanggil namanya secara bersamaan, mulai menganggu tidurnya. Gadis itu adalah Intan.
"Intan sayang?! Kamu gak ada kelas pagi kah? Kenapa belum bangun?" Seru bunda dari luar kamarnya.
Dengan malas Intan meraba-raba nakas di sebelah tempat tidurnya. Mematikan alarm dan mengambil ponsel yang tergeletak disana.
"Ahh!! Jam berapa ini?! Aku bisa terlambat!" Seru Intan panik saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Dia ada kelas jam 8 dan dia belum bersiap untuk berangkat.
Intan segera bangun dari tempat tidurnya dan bergegas hendak ke kamar mandi, tapi karna keseimbangannya belum penuh, Intan pun jatuh tersungkur karna kakinya menyangkut di selimut.
Bughh!!
"Intan sayang, ada apa?" Tanya Bunda khawatir saat mendengar sesuatu jatuh dengan keras.
"Intan gak apa-apa bunda, hanya terjatuh. Intan akan bersiap, bunda sudah gak perlu menunggu di depan pintu lagi." Seru Intan dari dalam kamarnya.
Dia berjalan tertatih menuju kamar mandi, karna kakinya masih sakit karna terjatuh sebelumnya.
Bunda hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya itu. Sudah beberapa tahun berlalu, tapi Intan masih terlihat sama.
"Putriku memang masih lama untuk bisa jadi dewasa sepenuhnya.." Gumam bunda sambil tersenyum kecil.
Intan segera mandi dan bersiap dengan kecepatan kilat. Dia juga gak sempat sarapan. Dengan cepat dia berlari ke halte dan memilih naik taxi agar lebih cepat sampai. Hari ini dia gak dijemput oleh Setya, karna Setya ada survey untuk persiapan KKN nya. Dia juga sudah tak bisa pergi berangkat bersama sang ayah, karna arah kampus dan kantor sang ayah gak sama.
Intan sedang mengecek semua barang bawaannya, memastikan sudah tak ada yang ketinggalan. Tiba-tiba ponselnya berdering nyaring, senyum segera terbit dibibir ranum Intan saat melihat nama pemanggil 'My Hero' alias Setya.
"Hallo, tuan putri. Sudah sampai kampus dengan aman kan?" Tanya Setya setelah Intan mengangkat panggilannya.
"Intan masih dijalan kak. Tadi bangun kesiangan." Jawab Intan sedikit malu.
"Kamu ya, ada-ada aja. Padahal ini hari pertama di semester baru."
"Iya-iya. Intan salah, tadi malam Intan tidur telat karna keasyikan baca novel. Hehe."
"Yasudah, hati-hati. Setelah ini aku juga kembali ke kampus. Nanti, kita makan siang bersama." Ucap Setya lembut.
__ADS_1
"Baiklah. Kakak juga hati-hati yaa. Love you, muach.." Ucap Intan dengan senyum lebar. Namun, dia menjadi malu saat melihat pak supir tersenyum ke arahnya dari spion. Intan lupa kalau saat ini dia sedang ada di dalam taxi.
Gak berselang lama Intan pun sampai di kampus. Dia segera berlari menuju gedung fakultasnya yang cukup jauh dari gerbang utama. Kakinya masih sedikit sakit karna terjatuh sebelumnya. Ternyata, kakinya terbentur cukup keras sehingga masih terasa sakitnya.
Karna, terlalu tergesa-gesa saat Intan akan memasuki ruang kelas ia tak sengaja menabrak mahasiswa lain yang juga akan memasuki kelas. Karna, kakinya yang sakit Intan sedikit kehilangan keseimbangan dan akan jatuh kebelakang. Namun, dengan sigap mahasiswa yang tak sengaja ia tabrak sebelumnya menangkap tubuhnya. Dan akhirnya mata keduanya bertemu. Intan membelalak terkejut dengan sosok didepannya itu.
"Lama gak bertemu, Intan.." Ucap mahasiswa itu dengan senyum diwajahnya. Dia adalah Bagas, cinta pertama Intan.
Kak Bagas?!
Intan terlalu terkejut melihat Bagas di depannya. Tubuhnya seakan lumpuh, bahkan gak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Intan. Dulu sewaktu belum ada Setya dalam hidupnya, Intan sudah beberapa kali berlatih seandainya saja dia bertemu lagi dengan Bagas. Tapi, tidak terpikirkan sama sekali akan bertemu Bagas disaat ini. Jujur saja, setelah bersama Setya. Ia tak pernah lagi berpikir untuk bertemu dengan Bagas lagi.
"Apa kalian tidak ingin masuk kelas dan terus menghalangi jalan?" Seru Dosen yang akan mengajar kelas pagi itu.
Intan dan Bagas terkejut dengan kedatangan dosen itu. Intan juga seakan tersadar dari rasa terkejutnya. Dia pun menjauh dari Bagas.
"Maaf Pak" Ucap Intan sembari memberi jalan pada dosennya.
Setelah itu ia juga masuk ke dalam kelas menyusul dosennya itu. Di belakangnya Bagas mengikuti. Bagas memilih tempat duduk di belakang Intan. Itu membuat Intan merasa lebih gak nyaman.
Kenapa dia ada di kelas ini?! Apakah dia juga akan menjadi guru?! Tunggu!! Semenjak kapan dia jadi mahasiswa di kampus ini?!
Berbagai pertanyaan berputar-putar di kepala Intan. Dia bingung sendiri dengan apa yang harus ia lakukan. Hal ini terlalu mendadak dan membuat perasaannya merasa gak nyaman. Intan sama sekali gak membayangkan ini akan terjadi. Saat semua terasa tenang dan terlihat baik-baik saja. Tiba-tiba orang dari masa lalunya, orang yang paling gak ingin dia temui kembali datang. Rasanya, Intan ingin segera kelas itu berakhir.
Abaikan saja dia, Tan! Dia gak penting!
Seru hati Intan dengan tegas. Intan gak ingin berlarut dalam kebingungannya. Gak ada untungnya juga untuknya. Maka dari itu dia memutuskan untuk fokus dan mengabaikan Intan. Bagas sendiri yang duduk di belakang Intan, terus menatap Intan dengan tatapan penuh kerinduan.
Aku merindukanmu Intan ..
Hari itu kelas terasa sangat lama bagi Intan. Waktu seakan terasa lama berputar. Sekeras apapun Intan mencoba untuk fokus, saat mengingat Bagas ada dibelakangnya membuat konsentrasinya hilang. Sampai akhirnya, kuliah pun berakhir. Intan dengan cepat segera membereskan buku dan alat tulisnya untuk bergegas pergi. Namun, tangannya ditahan oleh Bagas.
"Bisakah kita mengobrol sebentar saja?" Tanya Bagas penuh harap.
Intan sama sekali gak menatap Bagas, ia juga merasa risih saat Bagas memegang tangannya. Dia pun menarik tangannya dari Bagas.
"Gak ada yang perlu dibicarakan lagi." Jawab Intan dan berlalu pergi. Bagas menatap kepergian Intan dengan kecewa.
"Intan, apa kamu sungguh gak ingin menatapku lagi? Aku merindukan tatapan matamu yang selalu berbinar menatapku dulu ..." Gumam Bagas sedih.
Intan berjalan dengan cepat menuju taman kampus yang cukup sepi. Dia duduk dibangku kayu dengan meja disana. Intan merasakan jantungnya berdebar dengan kencang, bukan karna suka tapi debaran itu membuatnya sesak dan sakit. Rasa marah, sedih, kecewa bercampir jadi satu.
"Huh! Kenapa dia harus muncul disini?! Lalu apa itu tadi, dia ingin mengajakku mengobrol?! Huh! Lucu sekali. Setelah dulu meninggalkanku seperti itu, sekarang dia ingin mengajakku mengobrol?!Lelucon macam apa itu?!" Seru Intan meluapkan emosi dalam dirinya. Tapi, anehnya air matanya mulai menetes membasahi pipinya.
"Kenapa ini?! Kenapa air mataku keluar lagi untuk pria seperti dia?! Intan, apa kau sudah gila?! Kau gak pantas menangis lagi untuk pria seperti itu Intan! Sekarang kamu punya kak Setya. Kak Setya yang sangat mencintaimu. Iya benar! Aku ada kak Setya ... Tapi, kenapa hatiku terasa sakit sekali."
__ADS_1
Intan tahu kalau dia gak seharusnya menangisi pria seperti Bagas. Lagipula, hatinya sudah milik Setya sepenuhnya. Dia mencintai Setya dan Setya juga sangattt mencintainya. Tapi, bagaimanapun juga Bagas adalah masa lalunya, bagian dari perjalanan hidupnya dulu, ada dikenangannya. Dan kenangan itu adalah kenangan buruk yang paling gak ingin Intan ingat. Karna, mengingat kenangan itu seperti mengorek luka lama.
Setelah menenangkan dirinya yang masih terkejut dengan kedatangan yang tiba-tiba setelah sekian lama. Akhirnya, Intan sudah berhenti menangis. Mungkin, tadi dia sangat terkejut saja. Setelah memikirkannya baik-baik Bagas benar-benar gak pantas untuk ia tangisi lagi. Sekarang yang terpenting adalah membuat orang-orang yang mencintainya merasa bahagia. Seperti, Setya orang yang sangat mencintainya dan juga sangat dia cintai.
"Duh, tenagaku terkuras habis, perutku lapar. Kak Setya masih lama gak ya?" Gumam Intan sambil mengirim pesan pada Setya, untuk mengabari posisinya.
Setelah itu Intan memilih untuk mengerjakan tugas daripada memikirkan hal-hal yang gak penting. Gak lama kemudian, Intan merasa mengantuk. Mungkin karna lapar dan kurang tidur sebelumnya. Tak jauh dari tempat Intan, ternyata Bagas memperhatikan Intan. Sebelumnya dia sengaja membelikan beberapa camilan untuk Intan karna ia mengamati Intan yang terus memegang perutnya selama kelas tadi.
Bagas melihat Intan yang mengantuk dengan kepala terkantuk-kantuk. Perlahan Bagas mendekati Intan. Tepat saat itu Intan akan terjatuh karna tertidur, Bagas langsung menangkap kepala Intan dengan tangannya. Intan pun langsung tersadar dan melihat Bagas disampingnya, Intan reflek berdiri dan menjauh dari Bagas. Ia menatap tajam pada Bagas.
"Tenanglah, aku gak berniat buruk. Aku hanya menolong kamu agar tak jatuh tadi." Ucap Bagas saat melihat reaksi penolakan dari Intan. Intan gak menjawab, ia segera membereskan barang-barangnya dan akan pergi.
"Tak bisakah kita mengobrol sebentar? Sudah lama kita gak bertemu." Pinta Bagas sekali lagi.
"Sudah ku katakan, gak ada yang perlu dibicarakan lagi." Jawab Intan dengan nada dingin.
"Kamu masih marah padaku?!" Tanya Bagas sambil menatap Intan dalam.
Intan cukup terkejut dengan pertanyaan itu. Dia kesulitan menjawabnya. Intan memang masih marah pada Bagas. Tapi, jika ia mengatakan masih marah, kenapa seoalah Bagas sangat penting sampai Intan harus memendam amarah begitu lama padanya.
"Baiklah, kamu gak perlu menjawab. Aku kemari hanya ingin memberikan beberapa camilan ini. Ku lihat kamu sedang lapar." Ucap Bagas sambil memberikan bungkuan ditanganya dengan senyum lembut.
Intan akan menolak, tapi tiba-tiba Setya dan dan mengembalikan bungkusan itu pada Bagas dengan keras. Intan cukup terkejut melihat kedatangan Setya itu. Intan juga bisa melihat tatapan tajam Setya pada Bagas. Jelas sekali Setya sedang menahan emosinya saat ini.
"Gak perlu membelikan hal seperti ini lagi pada pacarku! Kebutuhannya bisa aku penuhi sendiri.!" Seru Setya dengan nada tajam.
Kemudian, Setya menggenggam tangan Intan dan meninggalkan Bagas sendiri. Bagas menatap Setya yang membawa Intan pergi dengan tatapan tak suka.
"Intan, aku yakin kamu masih memiliki perasaan padaku. Saat ini mungkin kamu masih marah padaku, tapi setelah aku membuatmu gak marah lagi padaku, kamu akan kembali padaku .."
.
.
.
Bersambung..
(Chapter selanjutnya akan update nanti sore jam 17.00 WIB yaa😁✌️)
...----------------...
>>Bagas<<
__ADS_1