
Keesokan paginya, seperti biasa Intan bangun terlebih dulu sebelum membangunkan suaminya untuk menunaikan sholat shubuh.
"Kak Setya.. Ayo bangun! Sudah pagi." Panggil Intan sembari menggerak-gerakkan selimut yang membungkus tubuh suaminya itu.
"Hmm?"
"Ayo bangun kak!" Seru Intan lagi yang hanya melihat Setya menggeliat dibalik selimutnya.
"Hm, aku masih capek sayang. Apa kamu gak capek? Padahal kan kita sama-sama tidur dini hari tadi?" Gumam Setya dengan seringai diwajahnya.
"Tentu saja capek! Itu semua kan gara-gara kakak!" Seru Intan sambil mendelik menatap Setya.
"Hahaha. Sini-sini. Jangan marah gitu dong. Kamu juga menikmatinya semalam." Goda Setya sambil menarik Intan mendekat ke arahnya.
"Ih kak Setya! Aku uda wudhu! Hahh.. Batal kan gara-gara kakak." Seru Intan sambil mencubit lengan Setya.
"Aduh-aduh. Ampun ratu. Jangan marah-marah ke aku dong, nanti dicontoh anak kita. Ya kan sayang?" Ucap Setya sembari mengusap lembut perut Intan yang sudah mulai menonjol itu. Mendengar itu, Intan mau tak mau menjadi luluh.
"Iya-iya. Gak marah lagi. Tapi, kak Setya buruan bangun! Keburu habis shubuhnya, tau!" Seru Intan sambil berusaha menarik tubuh Setya agar bangun.
"Iya aku bangun. Muachh!! Morning kiss sayang." Seru Setya sembari mencium pipi Intan sebelum berlari ke kamar mandi.
"Dasar! Kak Setya ada-ada aja deh!" Gumam Intan sambil menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya itu.
Kemudian, Intan mulai merapikan tempat tidur yang sangat berantakan saat itu. Sampai tiba-tiba ponsel Setya berbunyi dengan nyaring. Intan segera mengambil ponsel Setya di atas nakas. Alisnya berkerut saat melihat nama di layar ponsel 'Widia'.
"Kenapa wanita ini menelpon suamiku pagi-pagi begini?!" Seru Intan tak suka. Dia pun mengangkat panggilan itu untuk mendengarkan apa tujuan wanita itu.
"Hallo, pak Setya. Maaf menghubungi anda pagi-pagi begini. Saya hanya ingin menawarkan ke anda untuk bermain tenis bersama. Apakah anda bisa?" Tanya Widia dengan nada lembut setelah panggilannya diangkat.
Intan tak menjawab, tapi ekspresi wajahnya terlihat sangat jelas kalau dia tak suka.
"Hallo?" Panggil Widia sekali lagi, karna tak mendengra jawaban dari Setya.
"Maaf, sepertinya tak bisa." Jawab Intan pada akhirnya.
Widia sangat keheranan karna mendengar suara wanita. Dia memastikan bahwa nomor yang dia hubungi benar nomor Setya.
"Hallo, ini siapa ya? Bukankah ini nomor Setya?" Tanya Widia tak suka.
"Perkenalkan aku ..."
"Sayang!! Tolong ambilkan aku handuk. Aku lupa gak bawa handuk tadi..!" Teriak Setya dari dalam kamar mandi.
"Iya sayang. Tunggu sebentar!! ... Ah, maaf. Kak Setya, memerlukan bantuanku. Untuk ajakanmu tadi, kak Setya gak bakal bisa. Karna, dia harus mengantarku. Aku harus pergi, aku tutup dulu. Sampai jumpa." Ucap Intan dengan tenang, kemudian memutus panggilan telponnya tanpa menunggu jawaban dari Widia.
Tutt ... Tutt ... Tutt
"Siapa wanita tadi?! Kenapa dia di rumah Setya pagi-pagi? ... Sayang? Panggilan itu ... Ah, dia pasti pacar Setya waktu itu ... Cih, ternyata dia wanita murahan juga. Dia menjual tubuhnya untuk menggaet lelaki. Tapi, kalau Setya memang suka yang seperti itu, ku rasa aku bisa mencobanya?" Gumam Widia dengan seringai licik.
Intan terus menatap layar ponsel Setya dengan tatapan tajam. Saat Setya keluar dari kamar mandi, dia terlihat heran melihat layar ponselnya dengan tatapan seperti itu. Dia pun mendekati sang istri.
"Sayang ada apa?" Tanya Setya bingung.
"Huhh! Kakak baru dapet panggilan." Jawab Intan dengan nada ketus.
__ADS_1
"Dari siapa?" Tanya Setya sembari mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang sudah menghubunginya.
"Pelakor!" Jawab Intan singkat dengan nada tajam sarat akan ketidaksukaan. Setya sampai menelan salivanya dengan susah payah melihat mode marah sang istri.
"Duhduh. Istriku yang cantik. Jangan buat hari kamu jadi buruk karna wanita itu yaa.. Kamu tenang saja, bagaimanapun wanita itu merayuku, aku gak bakal tergoda." Ucap Setya sambil menggenggam tangan Intan dan berlutut di depannya.
"Aku gak takut kakak tergoda. Karna, aku percaya sama kak Setya. Tapi, aku gak suka aja dia terus-terusan ingin menggoda suamiku!" Jawab Intan dengan ekspresi manja.
"Baiklah. Sepertinya dia gak tahu kalau aku suda menikah dan bahkan akan menjadi ayah. Hari ini kalau dia berusah mendekatiku lagi, aku akan mempertegas padanya. Kamu tenang saja ya sayang." Ucap Setya sambil mengusap pipi Intan dengan lembut. Intan tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.
"Ehm, kak Setya tadi uda wudhu?" Tanya Intan menatap sang suami yang menyentuhnya.
"Oh ya. Aku sampai lupa. Haahh.. Istriku ini memang godaan terbesar." Seru Setya menggoda Intan.
"Hahaha. Sudah yuk, kita wudhu lagi setelah iti sholat shubuh. Kita berdo'a pada Allah, untuk menjauhkan pengganggu yang ingin merusak hubungan kita." Ucap Intan dengan senyum manis.
"Tentu saja sayang ..." Jawab Setya dengan lembut.
...****************...
Jam makan siang.
"Pak, apakah pekerjaan anda masih banyak? Perlu bantuan?" Tanya Bayu sembari memasuki ruangan Setya.
"Ada beberapa yang belum. Kau makan dulu saja. Aku akan selesiakan ini dulu." Jawab Setya tanpa mengalihkan pandangannya pada berkas-berkas di depannya.
"Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu." Ucap Bayu sembari berlalu pergi.
"Haahhh.. Aku gak bisa makan siang dengan Intan nih. Padahal aku sangat merindukannya." Gumam Setya sambil menatap foto Intan. Kemudian, Setya segera menghubungi Intan untuk mengabari kalai dia tak bisa makan siang bersama.
"Wah, siapa wanita itu? Dia cantik sekali."
"Benar. Tubuhnya juga terlihat sangat seksi."
Para karyawan pria mulai berbisik menatap Widia. Widia memang menggunakan pakain kerja, tapi itu sangat minim dan ketat, hingga memperlihatkan kaki jenjang dan lekuk tubuhnya. Bagi pria hidung belang, tentu saja akan terpesona melihat itu.
"Permisi. Di mana ruangan pak Setya ya?" Tanya Widia di meja resepsionis.
"Maaf, apakah anda sudah membuat janji?" Tanya resepsionis sopan.
"Belum. Hubungi saja pak Setya. Katakan kalau Widia yang datang. Dia pasti tak akan menolakku." Jawab Widia dengan nada sombong.
"Baiklah, tunggu sebentar." Ucap resepsionis dan segera menghubungi ke ruangan Setya.
"Hallo pak Setya. Maaf, ini ada tamu yang ingin bertemu dengan bapak. Namanya Widia."
"Widia?"
Untuk apa wanita itu datang kesini hari ini?! Huhh.. Baiklah, aku akan mempertegas padanya hari ini.
"Baiklah. Suruh dia naik ke ruanganku." Jawab Setya dengan tegas.
"Baik pak ... Silahkan nona naik ke lantai teratas. Ruangan pak Setya ada di sebelah kiri." Ucap resepsionis dengan sopan.
"Baik. Terima kasih." Ucap Widia kemudian, dia berlalu menuju ke lift.
__ADS_1
"Wah, ternyata dia tamu pak Setya."
"Kira-kira ada hubungan apa ya dengan pak Setya? Atau jangan-jangan itu selingkuhannya?!"
"Jangan katakan begitu. Pak Setya bukan orang seperti itu. Dia sangat mencintai istrinya."
"Tapi, kita kan gak tahu. Laki-laki tetap laki-laki. Kalau lihat yang lebih, dia bisa saja jadi binatang liar."
Para pegawai mulai berbisik-bisik tak menentu. Bertepatan dengan papa Setya yang baru saja akan pergi makan siang. Dia mengerutkan dahi karna heran dengan gosip itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi?!" Gumam papa bingung. Dia segera bertanya pada salah satu pegawainya. Dia terlihat terkejut setelah mendengarnya.
Hm, papa percaya padamu Setya. Tapi, kalau kau sampai mengkhianati menantu papa. Lihat saja bukan ayah Intan saja yang menghabisimu. Tapi, papa juga.
Di lain sisi, Widia sudah sampai di depan ruangan Setya. Sebelum mengetuk pintu, Widia mengecek penampilan dan riasannya dulu.
Kamu pasti akan terpesona padaku Setya ..
Tok ... Tok ... Tok
"Masuk."
"Selamat siang pak Setya. Apakah anda sedang sibuk?" Tanya Widia sambil berlenggok masuk ke ruangan Setya.
"Yah, seperti yang anda lihat. Ada perlu apa anda kesini tanpa membuat janji terlebih dulu?" Tanya Setya tanpa beranjak dari tempatnya.
"Ah. Maafkan saya. Saya kebetulan ada keperluan didekat sini sebelumnya. Lalu, terpikir untuk mengajak anda makan siang. Apakah anda bisa meluangkan waktu anda dengan saya?" Tanya Widia sembari duduk di kursi hadapan Setya.
"Hm, maaf bu Widia. Sepertinya tidak bisa. Seperti yang anda lihat, pekerjaan saya masih begitu banyak." Jawab Setya dengan sopan. Dia tak mentap Widia, karna sekilas tadi dia melihat pakaian Widia yang tak pantas. Dia ingin menjaga pandangannya.
"Sayang sekali. Baiklah mungkin lain kali ... Tapi, pak Setya, jika anda duduk terus seperti itu bahu dan punggung anda akan sakit ..." Ucap Widia sambil berdiri da mendekati Setya.
"Apa yang anda lakukan?" Tanya Setya reflek menghindar saat Widia ingin menyentuhnya.
"Saya hanya ingin membantu anda melemaskan bahu anda ..."
"Tidak perlu. Saya bisa sendiri." Tolak Setya sembari berdiri dari duduknya.
"Pak Setya sangat pemalu. Anda tak perlu sungkan dengan saya. Saya bisa membantu anda.." Ucap Widia sembari berusaha mendekati Setya dan menyudutkannya di dinding.
Brakk..
"Setya!!"
"Papa, Intan?!" Seru Setya saat melihat papa dan Intan datang.
Setya bisa melihat tatapan tajam dari sang papa. Sedangkan, Intan mentapnya dengan pandangan terkejut. Melihat posisinya saat ini memang sangat mudah disalah pahami.
Intan jangan salah paham. Percayalah padaku!!
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..