Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Berdamai dan menerima ingatan itu?


__ADS_3

1 minggu kemudian ...


Liburan telah usai dan kini, semua harus kembali ke rutinitas seperti biasanya. Hari ini untuk pertama kalinya Intan akan kembali ke sekolah setelah kejadian Irhas waktu itu. Jujur, dia masih takut dan masih terbayang-bayang. Namun, mengingat dia tidak akan sendirian karna disekitarnya banyak orang-orang yang menyanyanginya. Intan menjadi lebih kuat.


"Intan sudah siap? Yakin, uda gak apa-apa?" Tanya ayah memastikan saat mereka sarapan pagi itu.


"Sudah ayah. Intan baik-baik saja. Intan gak bakal menghindar dan kabur lagi. Intan ingin menghadapinya." Jawab Intan pelan.


"Kalau ada apa-apa segera hubungi kami ya, sayang?" Pinta bunda lembut.


"Tentu saja bunda." Jawab Intan dengan senyuman.


"Nih, coklat buat kakakk. Semangat!" Seru Dika sembari memberikan satu kotak kecil coklat kesukaan Intan. Dia memberikannya dengan satu tangan dan tanpa menatap Intan.


"Makasih, adikku sayang!" Ucap Intan sambil mengacak rambut Dika pelan.


"Hei, aku bukan anak kecil lagi.!!" Seru Dika kesal, namun ditanggapi oleh tawa dari semuanya.


Hari itu, ayah meminta untuk mengantarkan Intan. Setya, tentu saja tak keberatan. Dia sampai terlebih dulu di sekolah dan menunggu Intan di gerbang. Saat mobil ayah Intan berhenti di depan sekolah, Setya mendekat dan membantu membukakan pintu untuk Intan.


"Terima kasih." Ucap Intan dengan senyuman.


"Sayang, ingat untuk langsung mengabari ayah kalau terjadi sesuatu ya ... Setya, om titip putri kesayanganku padamu. Jangan macam-macam." Ucap ayah lembut pada Intan namun dingin pada Setya.


"Baik paduka raja."


"Tentu saja, om."


Akhirnya, Intan dan Setya berjalan memasuki sekolah dengan saling bergandengan. Seperti biasa mereka masih menjadi pusat perhatian. Yah, masih ada beberapa yang menatapnya dengan pandangan tak suka dan mengejek. Namun, Intan sama sekali tak mendengar bisikan yang menjelekkannya. Ia pun teringat ancaman tegas dari Setya saat KTS waktu lalu. Ia yakin, hal itu cukup membuat yang lainnya takut.


"Selamat datang Intan!!" Sambut Ifa, Bayu, Linda, Dharma dan Toni di depan kelas.


"Wah, terima kasih." Seru Intan dengan senyum lebar di wajahnya.


Setelah itu, Setya ikut mengantarkan Intan ke dalam kelas, begitupun Bayu. Alhasil, kelas Intan pun menjadi ramai. Banyak teman wanita di kelasnya yang merupakan penggemar Setya dan Bayu, menjadi histeris karna bisa melihat Setya dan Bayu dari dekat.


"Kak Setya bisa kembali ke kelas saja. Sebentar lagi juga bel masuk." Ucap Intan pelan.


"Hm, baiklah. Aku akan menjemputmu saat istirahat nanti. Jadi tetap tunggu di kelas, ok?" Seru Setya tegas.


"Siap!" Jawab Intan dengan memberi hormat pada Setya. Setya mengusap lembut puncak kepala Intan dengan sayang, sebelum pergi meninggalkan kelas. Hal itu semakin membuat gadis-gadis di kelas itu histeris karna iri dengan Intan.


"Aku juga akan kembali ke kelas. Tunggu bersama Intan di kelas, aku juga akan menjemputmu bersama Setya nanti." Ucap Bayu sebelum pergi menyusul Setya.


Setelah itu Setya dan Bayu pun pergi meninggalkan kelas Intan.


"Pagi-pagi sudah membuat keributan saja!" Gerutu Toni kesal.

__ADS_1


"Intan-Ifa, kalian benar-benar beruntung bisa berkencan dengan idola sekolah."


"Benar, kami sangat iri pada kalian."


"Suatu saat, kalian pasti juga akan mendapatkan kekasih yang mencintai kalian dengan tulus." Jawab Intan dengan senyum ramah.


"Sudah, teman-teman. Ayo segera kembali ke tempat duduk masing-masing. Pelajaran akan segera dimulai." Seru Dharma mengingatkan.


Akhirnya, semua segera membubarkan diri dan kembali ke tempat duduknya masing-masing. Intan dengan lancar melewati semua pelajaran pagi itu. Akhirnya, jam istirahat pun berbunyi.


Sesuai janji Intan dan Ifa tetap di kelas, menunggu Setya dan Bayu menjemput mereka. Tak lama kemudian Setya dan Bayu pun datang menjemput. Dengan senyuman, Intan dan Ifa mendekat pada mereka.


"Yuk, ke kantin. Aku sudah lapar!" Rengek Ifa manja.


"Baiklah, ayo!" Jawab Bayu dengan senyum di wajahnya. Dengan lembut ia menggandeng tangan Ifa. Begitupun Setya.


"Apa pelajaran tadi berjalan lancar?" Tanya Setya lembut.


"Ya. Semuanya lancar." Jawab Intan dengan senyuman. Setya pun juga ikut tersenyum senang, melihat Intan baik-baik saja.


Namun, ketika mereka sampai di depan gedung olah raga Intan mendadak teringat kejadian saat dia dibekap dan ditarik paksa oleh Irhas. Intan menghentikan langkahnya, ia melepaskan genggaman tangan Setya untuk menutup telinganya. Ia memejamkan mata dengan kuat, seakan berusaha menghilangkan ingatan mengerikan itu.


"Intan, kamu kenapa?" Tanya Setya panik.


Ifa dan Bayu yang berjalan di depan mereka pun menghentikan langkah dan ikut menoleh melihat Intan.


"Intan, ada apa?" Tanya Ifa juga panik mendekati Intan.


Setya terkejut mendengar teriakan Intan. Ia pun sadar, kalau saat ini Intan teringat kembali kejadian tadi, karna posisi mereka ada di depan gedung olah raga. Dengan cepat Setya memeluk Intan untuk menenangkannya.


"Tidak apa-apa, Intan. Ada aku disini, tidak akan ada yang berani menyakitimu. Tenanglah.." Ucap Setya lembut. Ia mendekap Intan dengan kuat sembari mencium puncak kepala Intan beberapa kali untuk menenangkannya.


Hal itu tentu saja menjadi pusat perhatian. Bisik-bisik yang dari tadi pagi teredam, kini mulai kembali terdengar.


"Pergi.!! Apa kalian pikir ini tontonan?!" Teriak Ifa marah.


"Kalian pergi atau aku akan melaporkan kepada kepala sekolah?!" Ancam Bayu dengan tatapan tajam.


Akhirnya, semua murid yang saling berbisik itu pun mulai membubarkan diri. Mereka, sebelumnya memang sudah diperingatkan pihak sekolah untuk tidak mengungkit masalah Intan lagi.


"Aku akan membelikan Intan minum!" Seru Ifa berlari menuju kantin, Bayu pun memilih untuk menemani Ifa.


Intan yang masih ketakutan mulai menangis di pelukan Setya. Melihat tempat kejadian waktu itu membangkitkan ingatan buruknya. Intan merasa kembali ditarik ke waktu kejadian itu terjadi. Rasa takut tiba-tiba menguasai dirinya.


"Tenanglah. Semua baik-baik saja sekarang. Semua hal itu sudah berlalu." Ucap Setya berulang kali, berusaha membuat Intan tenang.


Karna Intan tak juga berhenti menangis, akhirnya Setya memutuskan untuk menggendong Intan menuju ke UKS, ia berharap mungkin dokter jaga bisa sedikit membantu. Ifa yang sudah selesai membeli minum, melihat Setya menggendong Intan mengikutinya dari belakang bersama Bayu. Ifa terus menatap tajam pada orang-orang yang menatap Intan dengan tatapan mengejek. Walaupun sedikit itu berhasil mengusir para murid itu.

__ADS_1


"Dasar serangga penganggu!! Ingin rasanya ku basmi mereka semua!!" Gerutu Ifa yang terlihat sangat kesal.


"Tenanglah. Kita hadapi bersama, jangan gegabah." Ucap Bayu mengingatkan. Ifa pun mengangguk mengerti.


Saat sampai di UKS, Setya segera mendudukkan Intan di kasur rawat dan dia duduk disebelahnya masih terus mendekap tubuh Intan. Karna Intan mencengkram seragamnya dengan sangat erat.


"Ada apa ini?" Tanya dokter jaga mendekat ke arah Setya dan Intan.


"Intan, dia sepertinya mengingat kejadian waktu itu dan kembali ketakutan seperti ini." Jawab Ifa khawatir.


"Hmm.. Itu bisa saja, apalagi kalau dia melihat hal-hal yang berhubungan dengan kejadian itu. Berarti alam bawah sadarnya masih merekam jelas kejadian waktu itu. Apalagi, sepertinya dia masih belum bisa berdamai dengan ingatan buruknya. Dia, belum bisa menerimanya, sehingga ia masih tersiksa dengan ingatan itu." Ucap dokter menjelaskan.


"Lalu, apa yang harus dilakukan?" Tanya Setya bingung. Ia tak tega dan tak suka melihat Intan seperti ini.


"Penyembuhan itu hanya bisa dilakukan oleh dirinya sendiri. Semakin cepat dia bisa menerima dan berdamai dengan ingatan buruk itu, maka dia akan semakin cepat sembuh. Tapi, melihat bagaimana kejadian itu dan kondisinya saat ini, sepertinya akan sulit ... Walaupun sulit, tapi bukan berarti tidak bisa, semua bergantung dari pilihannya." Jawab dokter menatap Intan dengan tatapan prihatin.


Beberapa saat kemudian, Intan sudah mulai tenang. Ifa dengan segera memberikan minum pada Intan.


"Ma-Maaf. Aku membuat kalian kerepotan Kalian juga jadi gak bisa makan ..." Ucap Intan dengan suara parau.


"Apa'an sih Tan, itu bukan masalah besar. Kami baik-baik saja, kan kami sudah bilang padamu. Kami akan selalu menemanimu." Ucap Ifa kesal, karna Intan masih saja menyalahkan dirinya sendiri.


"Jangan pikirkan itu, kita semua baik-baik saja. Bagaimana, perasaanmu sekarang? Sudah lebih baik?" Tanya Setya lembut.


"Pikiranku masih kacau. Dan tubuhku terasa lelah." Jawab Intan sambil menunduk. Ketakutan itu cukup menyita banyak tenaganya.


"Kalau gitu kamu istirahat saja disini. Aku akan menyampaikannya pada guru ... Dokter, bolehkan kalau begitu?" Tanya Ifa yang diangguki oleh sang dokter.


"Aku akan menemanimu." Ucap Setya lembut.


"Tidak kak. Lebih baik semuanya kembali ke kelas saja. Nanti, kalau kelas sudah selesai, bisa jemput aku disini ... Aku akan baik-baik saja kok disini." Ucap Intan pelan dengan senyum diwajahnya.


Walau berat, akhirnya Setya menuruti perkataan Intan.


"Baiklah kalau begitu. Istirahatlah, nanti aku akan menjemputmu." Ucap Setya dengan lembut sebelum pergi meninggalkan Intan bersama yang lain


"Dokter, kalau saya berusaha melawan ketakutan saya denga mendekati sumber trauma, apakah itu akan baik-baik saja?" Tanya Intan pada dokter setelah semuanya pergi. Intan ingin segera bisa sembuh agar tidak selalu merepotkan yang lain.


"Tidak masalah. Tapi sebelum itu, kamu harus berdamai dan menerima ingatan buruk itu. Anggap kalau semua itu sudah berlalu. Dan kamu tidak berada diposisi itu, kamu sudah aman karna berada disini bersama teman-teman yang menyayangimu. Setelah kau bisa berdamai dan menerima ingatan buruk itu. Kamu bisa perlahan mendekati sumber traumamu itu." Ucap dokter menjelaskan.


Berdamai dan menerima ingatan itu?


Bagaimana??


.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2