Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
11. Luka Kekira


__ADS_3

SEJAK hari itu, Kekira menghindar dari Akbi.


Bahkan telepon, SMS, whatsapp juga tidak direspon.


Berkali-kali dicari ke gedung Sastra, Cinay bilang Kekira tidak masuk.


Akbi mulai khawatir.


Ia melajukan motor dengan kecepatan tinggi, hendak ke rumah gadis itu.


Di lampu merah, ia berhenti dan melamun lagi.


Kenapa Kekira jadi menghindar?


Apa terjadi sesuatu?


Ia jadi cemas. Tangannya meremas stang motor.


Tiba-tiba ia melihat mobil yang berhenti dari arah jam tiga.


“Itu? Bukannya mobil tunangannya Kekira?”


Ia menyipitkan mata dan kaget.


“Lho itu ada Kekira juga? Tapi kenapa dia malah duduk di belakang?”


Makin menajamkan penglihatan, bikin ia tambah heran melihat ada cewek yang duduk di bangku depan.


Karena curiga, ia mengikuti mereka.


Mobil berhenti di sebuah mal.


Akbi mengawasi setiap gerak-gerik mereka.


Ia melihat situasi yang janggal.


Dari dalam mobil keluar Kekira, bersama seorang cewek seksi, dan Riga. Diam-diam ia membuntuti mereka.


Dan yang terjadi selanjutnya di luar dugaan.


Laki-laki yang disebut tunangan Kekira, bergandengan dengan cewek misterius sambil berbicara akrab.


Sedangkan Kekira berjalan di belakang mereka. Ekspresinya menandakan dia tidak baik-baik saja.


“Katanya dia tunangan Kekira, kenapa dia malah mesra sama tu cewek di depan Kekira?” Akbi makin bingung.


***


Kekira benar-benar diperlakukan tidak baik.


Bahkan ketimbang tunangan, dia lebih kentara diperlakukan sebagai pembantu.


Ketika masuk ke beberapa toko, peran Kekira hanya membawakan kantong-kantong belanjaan yang segunung.


Namun Kekira menurut saja.


Sementara Riga dan ceweknya yang berambut dicat pirang, menyuruh-nyuruhnya tanpa perasaan.


Akbi geram namun tidak dapat berbuat apa-apa, karena Kekira tidak menjelaskan apapun padanya.


Ketika mereka masuk ke restoran, Kekira hanya menunggu di depan restoran, tidak diajak makan.


Kesempatan itu dimanfaatkan Akbi.


Mengendap-endap ia mendekati Kekira.


“Ssstt…”


Kekira menoleh dan kaget. “Akbi?”


Tanpa menunggu, ia menarik tangan Kekira menjauh dekat lift.

__ADS_1


Kekira panik. “Akbi kamu kok ada di sini?”


“Kenapa kamu ngehindarin aku, Ki?”


Ditanya begitu, Kekira gugup dan menunduk.


“Kenapa, Kekira?” desak Akbi tidak sabar.


“Dan kenapa kamu nggak cerita kalo kamu udah…?” Akbi tidak sanggup melanjutkan dan menghela nafas.


Bahu Kekira terguncang.


Akbi kaget dan menyentuh kepalanya.


Kepala Kekira terangkat.


“Ki, kamu kenapa nangis?” Akbi makin panik.


Kekira tidak menjawab, makin terisak.


Pintu lift di dekat mereka terbuka, kosong.


Akbi menarik Kekira memasuki lift.


***


“Please.. kamu cerita sama aku, Ki. Karena aku nggak ngerti yang terjadi sama kamu.”


Akbi memegang kepala Kekira dan kaget.


“Lho, ini apa?”


Kekira gelagapan. “Ngg.. bukan apa-apa.”


“Eh serius, itu perban kan? Kepala kamu luka? Kok bisa? Emang kamu abis ngapain?”


Tangis Kekira meledak, ia terisak-isak dan menangis di bahu Akbi.


“Aku bakal nunggu, sampe kamu siap cerita.” Akbi menyentuh bahu Kekira. “Aku anter pulang aja ya?”


Kekira menggeleng cepat. “Aku harus balik ke restoran. Kalo nggak, nanti Mas Riga bakal…”


“Bakal apa?” potong Akbi cepat. “Dia bakal ngelakuin apa sama kamu?”


Kekira terdiam. Matanya memancarkan ketakutan.


“Pokoknya aku harus pergi.” Kekira berbalik.


Akbi menahan tangannya. “Oke, kamu boleh pergi, tapi jangan pernah ngehindarin aku lagi.”


Akhirnya Kekira mengangguk.


Pintu lift terbuka, Kekira bergegas keluar.


***


“Mas Riga itu anaknya Pak Reza, atasannya Ayah. Atas dasar itu juga, perjodohan kami terjadi. Ayah dan Bunda nggak bisa menolak lamaran Mas Riga. Tiga bulan lalu, kami bertunangan. Dan rencananya, akhir tahun ini kami akan menikah.” Kekira menjelaskan dengan mata berkaca-kaca.


Akbi menatapnya lekat. “Tapi kamu nggak kelihatan bahagia sama sekali. Dia perlakukan kamu nggak baik.”


“Mas Riga memang begitu. Dia pemarah, emosian, egois, bahkan kerap kasar sama aku.”


Kekira tidak tahan untuk menangis.


“Tapi aku nggak bisa nolak, karena Mas Riga selalu mengancam akan mencelakai Ayah.”


Akbi kaget. “Celakain Ayah? Maksudnya?”


“Jabatan Ayah sebagai Manager Finance beresiko tinggi, dengan posisi itu Mas Riga mengancam akan menyabotase keuangan perusahaan, dan Ayah yang akan jadi tersangka. Mas Riga bisa nekat ngelakuin apapun. Aku nggak mau hasil kerja Ayah belasan tahun ini harus kandas. Aku harus jaga supaya Ayah selalu aman.”


Akbi tercengang.

__ADS_1


Jadi itu masalahnya.


“Pasti Ayah Bunda nggak tau tentang perlakuan Riga sama kamu?”


Kekira menggeleng. “Aku takut kalo jantung Ayah sampe kumat. Makanya aku selalu nurutin yang Mas Riga minta. Walau itu nyakitin aku.”


“Dan ini..”


Akbi menyentuh kepala Kekira tepat di benjolan perban.


“Luka ini, apa gara-gara Riga?”


Kekira mengangguk. “Gara-gara liat aku dibonceng motor sama kamu, dia marah, bahkan sampe ngedorong aku. Kepalaku ngebentur kaca mobil, dan… berdarah.”


Akbi langsung emosi sampai tangannya terkepal.


“Kenapa kamu diem aja?? Apa Bunda tau tentang ini?”


“Mas Riga.. paling pinter memutar balikkan fakta.”


“Maksud kamu?”


“Mas Riga bilang kalau aku jatuh dari motor waktu dibonceng sama kamu. Makanya kepalaku luka.”


Akbi jadi geram.


“Maafin aku, Bi. Aku bukannya nggak mau bela kamu. Tapi Mas Riga…”


“Udah udah enggak usah dilanjutin. Aku nggak pa-pa. Yang paling penting itu kamu. Aku yang nggak terima dengan perlakuan dia ke kamu.”


Kekira menggigit bibir. “Nggak ada yang bisa aku perbuat selain nurutin kemauan dia.”


Akbi jadi emosi. “Aku bakal bilang sama Bunda!”


“Jangan, Bi!” sergah Kekira panik.


“Kenapa, Ki?! Kamu diperlakukan nggak sehat, bahkan ketimbang calon istri, aku lihat dia lebih perlakukan kamu sebagai budak! Emangnya aku terima liat kamu bawain belanjaan pacarnya, nggak dikasih makan?”


Kekira menggeleng. “Itu belum seberapa dibanding konsekuensinya. Karir Ayah bisa hancur. Bahkan bisa-bisa jantung Ayah kumat lagi. Aku mohon, Bi… jangan beritahu Bunda. Aku.. rela ngelakuin apa aja untuk kebahagiaan Ayah Bunda. Walau harus ngorbanin kebahagiaanku sendiri.”


“Kekira, emangnya kamu pikir, Ayah Bunda bakal bahagia liat kamu tersiksa?”


Kekira menangis keras dan menarik-narik jaket Akbi.


“Aku mohon, jangan pernah kasih tau Ayah Bunda. Aku percaya sama kamu, makanya aku cerita semua. Tapi aku mohon, kamu ngertiin posisi aku, Bi… aku nggak mau Ayah sampe kenapa-napa.”


Akbi luluh dan menggenggam tangan Kekira.


“Aku mohon, Bi..” Kekira menunduk sambil menangis di bahu Akbi.


Akbi menyentuh kepalanya. “Udah, Ki.. jangan nangis lagi. Oke, aku nggak ungkap semua. Asalkan kamu jangan tutupin apapun dari aku. Aku akan lindungin kamu dengan cara apapun.”


Kekira mengangguk pelan. “Makasih ya, Bi.”


“Ya udah, kamu pulang gih. Tadi ijin sama Bunda cuma mau ke minimarket. Kalo kelamaan ntar Bunda khawatir.”


Akbi mengusap kepalanya.


“Aku tunggu kamu di kampus.”


“Kamu juga hati-hati.”


“Kamu pulang, aku akan liatin kamu dari sini, mastiin kamu aman.”


Kekira berbalik meninggalkan taman.


Akbi memandanginya sampai memasuki rumah.


Ia duduk tercenung.


Gue harus ngelakuin sesuatu untuk nyelametin Kekira. Riga bukan cowok tepat buat jadi suaminya. Tapi gimana caranya??

__ADS_1


***


__ADS_2