Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
31. Mulai Menyadari Rasa Berubah


__ADS_3

SUASANA kantor sepi.


Ada dua penjaga di pos depan.


Kekira dan Akbi mengendap-endap lewat belakang.


“Sebenernya kamu mau cari apa?” bisik Akbi.


“Rekaman CCTV waktu Veni dateng kemarin. Siapa tau ada petunjuk Veni ke mana.”


“Tapi hati-hati. Kalo kita kesorot CCTV, bahaya.”


“Ya makanya aku lewat belakang. Dulu aku pernah ke sini jadi tau sudut mana aja yang dipasangin CCTV.”


Setelah membongkar pintu belakang, mereka masuk melewati pantry yang gelap dan melewati pintu penghubung memasuki lobi.


Duukkk!!


“Ki, hati-hati!” Akbi kaget karena Kekira membentur tiang.


“Duuuhh…” Kekira menutup dahinya.


Akbi memegang kepala Kekira. “Hati-hati dong jalannya.”


Kekira meringis sakit.


“Sini aku liat.” Akbi mengamati dahi Kekira. “Sampe merah begini.”


Langsung saja Akbi mendekatkan kepalanya dan mengusap-usap dahi Kekira, sambil meniup-niupnya.


Tanpa sadar tindakannya itu menyebabkan jantung Kekira deg-degan, sampai berkeringat dingin.


Kekira memalingkan muka. “Udah nggak sakit kok.”


“Beneran? Keras banget lho tadi.”


“Udah nggak pa-pa.” Kekira menahan sakit, dan berharap rona wajahnya tidak terlihat.


“Kamu di belakang aja. Biar aku cek keadaan.”


Mereka bergegas menuju ruang pengawas.


Untungnya kosong.


Akbi mengunci pintu dan membantu Kekira mengecek CCTV dalam layar komputer utama.


“CCTV yang masih aktif sekarang cuma di depan dan dari lantai dua ke atas. Kira-kira Veni kerekam di CCTV mana?”


“Ngg kayaknya sekitaran ruangannya Mas Riga. Di lantai tiga.”


Akbi mencari-cari file rekaman sehari sebelumnya.


“Yang itu kayaknya, Bi.”


Klik.


Begitu video diputar, Kekira *******-***** tangan, gelisah.


Diam-diam Akbi menatapnya. Gue nggak nyangka hatinya selembut ini. Meski udah disakitin, dia tetep cemasin orang yang nyusahin dia, batinnya kagum.


“Eh Bi, itu dia!” pekik Kekira tertahan.


Akbi tersadar dan melihat monitor.


“Mana? Eh tu Veni, lagi marah-marah sama Riga? Tapi suaranya nggak kedengeran.”


Cukup lama video diputar.


Tiba-tiba terputus.


“Ada yang aneh. Kenapa Veni nggak kesorot lagi setelah masuk ruangan Riga? Videonya berhenti satu jam sampe jam pulang kantor. Setelah itu, ruangan kosong cuma ada cleaning service yang bersih-bersih.”


“Serius? Kok bisa keputus videonya?”


“Kayaknya ada yang sengaja matiin dalam rentang waktu satu jam.”

__ADS_1


“Duuhh jadi Veni ada di mana?” Kekira menggigit jari cemas.


“Mungkin dia udah pulang.”


“Nggak mungkin, Bi. Kalo dia pulang, mana mungkin keluarganya ngelaporin dia hilang. Duuhh tau begini aku nggak kasih alamat kantor ini.”


“Jadi sekarang gimana?”


“Kita ke ruangan Mas Riga. Di lantai tiga.”


Akbi terdiam sejenak. “Kalo gitu aku matiin CCTV di lantai tiga.”


Akbi mengetik komputer dengan cepat.


“Kita lewat tangga aja.”


Melewati tangga darurat lebih gelap lagi.


Kekira memegang erat lengan Akbi.


“Kalo kamu takut, tunggu di sini aja. Biar aku yang ke sana.” Akbi khawatir karena pegangan Kekira jelas gelisah.


“Jangan dong, aku tambah ngeri kalo nunggu di sini.” Kekira mempererat pegangannya.


Tiba-tiba terdengar langkah kaki.


“Eh ada yang dateng!”


Kekira panik. “Gimana dong?”


“Ssssttt…” Akbi membekap mulutnya dan bersembunyi di sudut.


“Jangan berisik.”


Pintu besi terbuka.


Ada satpam mengecek keadaan, menyorotkan senter.


Kekira memejamkan mata takut.


Mereka menghela nafas lega.


Menyadari sejak tadi Akbi memeluk bahunya erat-erat sampai ia menyandar di dada bidang Akbi, dia langsung menjauh.


“Sorry…” ucap Akbi. “Aku nggak bermaksud macem-macem. Barusan cuma…”


Kekira menggigit bibir, tidak menjawab.


“Kamu marah?”


Jantungnya berdegup cepat, membuat Kekira tidak berani bersuara.


Akbi memaklumi. “Kamu duluan. Biar aku di belakang.”


Tiba di lantai tiga, hanya ada cahaya remang-remang.


“Aman?”


“Kayaknya aman.”


Bergegas mereka menuju ruangan di ujung kanan.


“Ini ruangannya.”


Masuk ruangan gelap, bulu kuduk Kekira merinding.


“Apa yang mau kita cari?” tanya Akbi.


“Apa aja.” Kekira menelusuri meja dan lemari.


Akbi memeriksa sofa dan lantai.


Matanya menyipit melihat benda terselip di sela sofa.


“Ki, aku nemuin sesuatu.”

__ADS_1


Kekira menghampirinya. “Apa?”


“HP.”


HP mahal dengan casing manik-manik merah muda itu bikin Kekira kaget.


“Ini kan punya Veni.”


“Kamu yakin?”


“Iya ini punya dia.”


“Oke. Kita udah dapet petunjuk. Sekarang kita pergi dari sini.”


Kekira membersihkan sisa debu biar tidak dicurigai dan menyusul Akbi.


***


HP Veni dalam keadaan mati.


Begitu dinyalakan, diperlukan pola pembuka kunci.


“Duhh pake pola, lagi.” Akbi mengeluh. “Gimana bisa dibuka?”


Kekira coba mengingat. “Kayaknya aku pernah liat dia buka pola.”


“Kok bisa? Biasanya yang kayak gini kan rahasia.”


“Kalo lagi jalan bertiga aku duduk di belakang. Jadi bisa liat.”


“Trus polanya apa?”


“Kalo nggak salah, polanya huruf R.”


Akbi mencoba, dan terbuka. “Pas nih. Coba kita cari SMS, whatsapp, sama recent call.”


Mata Kekira menyipit. “Bi, coba buka pesan whatsapp nomor 367 itu.”


Begitu dibuka, isi whatsapp nomor itu hanya video.


Dan mereka shock melihat isi video itu semua.


“Gila! Ternyata Veni komplotan penculik wanita muda!” Akbi tidak habis pikir.


Kekira merinding melihat video berisi penyiksaan para korban perempuan yang dijambak dan dipukuli.


Namun sosok penculik tidak terlihat karena memakai topeng.


Persis deskripsi dari Kekira waktu diculik.


Tubuh Kekira gemetar.


Akbi langsung mematikan HP.


“Udah cukup. Jangan diliat lagi.” Akbi menggenggam tangannya. “Sekarang kita nggak perlu cari dia sebagai korban, tapi sebagai pelaku!”


“Kita harus berbuat apa, Bi?”


Akbi tidak habis pikir pelaku ada di depan mata. Dan pelakunya orang yang mereka kenal.


“Kita ke kantor polisi. Kita serahin bukti ini dan biar polisi yang proses.”


“Tapi…”


“Ki, dengerin aku. Ini nggak main-main. Ini super serius. Dan kalo kamu nekat lanjutin, bahaya buat kamu. Aku nggak mau kamu kenapa-napa.”


Mata Kekira berkaca-kaca.


“Yuk.” Akbi mengulurkan tangannya.


Kekira masih ragu.


Akbi menatapnya dengan senyuman.


Akhirnya Kekira meraih tangan Akbi dan menuju kantor polisi.

__ADS_1


***


__ADS_2