
Di sebuah super market besar, terlihat mama Bayu yang sedang berbelanja sayuran untuk memasak sore itu. Mama ingin membeli jagung, ia melihat hanya tersisa sebungkus jagung saja di rak. Saat ia akan mengambilnya, ternyata dia kalah cepat dengan orang lain.
"Apa tante menginginkan jagung ini? Saya bisa memberikannya pada tante." Ucap orang yang mengambil jagung itu. Ia tak lain adalah Novi.
"Tapi yang mengambilnya kan kamu duluan nak. Tante gak apa-apa kok, jagungnya untuk kamu saja." Jawab mama ramah.
"Oh, gak apa-apa kok tante. Saya bisa mencarinya di supermarket lain nanti. Lagian, saya gak benar-benar butuh kok. Bisa saya ganti dengan sayur lainnya."
"Apa benar begitu? Kalau begitu tante gak akan menolaknya lagi." Ucap mama sambil menerima jagung dari Novi.
Novi tersenyum manis pada mama Bayu. Setelah itu mereka melanjutkan berbelanja bersama sembari mengobrol. Novi bersikap manis dan berusaha membuat mama Bayu merasa nyaman. Novi memang sengaja berbelanja di super market itu padahal jaraknya cukup jauh dari rumahnya.
Hal itu tentu saja dia lakukan untuk mendekati mama Bayu. Sebelumnya, dia tak sengaja melihat Bayu yang menemani mamanya berbelanja di super market itu. Dari sanalah, Novi mengamati kapan tepatnya mama Bayu berbelanja, supaya dia bisa mendekatinya.
"Senangnya bisa berbelanja dengan kamu Novi, lain kali kita berbelanja bersama lagi dengan putri tante juga ya, mau?" Tanya mama ramah sebelum mereka berpisah.
"Tentu saja tante, dengan senang hati." Jawab Novi dengan senyum manis.
Aku baru tau kalau Bayu juga punya adik perempuan. Baguslah, aku juga bisa lebih dekat lagi dengan keluarga Bayu, nanti ...
"Baiklah, nanti tante hubungi lagi. Sampai jumpa." Pamit mama, kemudian berlalu pergi.
Novi menyeringai senang, karna berhasil mendapatkan hati mama Bayu. Dia hanya perlu lebih dekat lagi saja, baru setelah itu dia bisa mulai merubah penilaian mama Bayu tentang Ifa, sehingga mama Bayu akan menyuruh Bayu berpisah dengan Ifa.
"Ifa, berisiap-siaplah untuk berpisah dengan Bayu." Gumam Novi dengan seringai liciknya.
...****************...
Beberapa minggu kemudian..
Akhir pekan itu, Ifa sudah janjian dengan mama Bayu untuk pergi ke salon bersama. Sebelum itu, mama Bayu tak sengaja bertemu dengan Novi.
"Hallo tante, apa tante juga mau berbelanja di mall ini?" Sapa Novi ramah.
"Bukan. Tante mau perawatan di salon."
"Wahh.. Apa Novi boleh ikut tante? Sudah lama sekali Novi gak melakukan perawatan juga." Pinta Novi dengan antusias.
"Boleh saja. Tapi, tante sudah ada janji dengan putri tante."
"Bagus dong tante. Kan selama ini Novi belum pernah bertemu dengan putri tante. Novi hanya mendengarnya dari tante selama ini. Tapi, dari cerita tante, Novi yakin dia gadis yang manis dan baik hati." Ucap Novi dengan senyum manis.
"Tentu saja. Tidak ada yang semanis dan sebaik putri tante itu. Bahkan, Novi kalah lho.." Ucap mama Bayu dengan penuh penekanan dan senyum bangga.
"Hehe. Tentu saja tante. Novi pasti gak bisa dibandingkan dengan putri tante." Jawab Novi sedikit kikuk.
Entah kenapa Novi merasa nada bicara dan tatapan mata mama Bayu seakan menyiratkan kalau dia benar-benar gak selevel dengan putrinya itu. Tapi Novi berusaha menepis pikiran itu dengan mengatakan pada dirinya, kalau wajar seorang ibu mengunggulkan putrinya sendiri. Sembari menunggu, Novi mengajak mama Bayu mengobrol.
"Oh ya tante, kenapa tante gak berangkat bersama saja dengan putri tante, kenapa harus bertemu diluar?" Tanya Novi penasaran.
"Dia ada perlu sebentar, Bayu sedang menjemputnya sekarang." Jawab mama dengan senyum kecil.
Sudah beberapa kali mereka mengobrol dan bertemu, sehingga mama sudah tahu kalau Novi adalah teman Bayu.
"Wah, Bayu ternyata sangat sayang dengan adiknya ya tante. Sangat beruntung wanita-wanita yang bersamanya. Seperti tante, putri tante dan pacarnya ..."
__ADS_1
Dan Ifa sangat tidak pantas mendapatkan kasih sayang itu. Seharusnya aku yang lebih pantas! ... Seru hati Novi tak terima.
"Yah, kamu benar." Jawab mama santai.
"Tapi, tante, ehmm.. Bukannya apa-apa ya tante, Novi gak tahu tante sudah tahu atau belum tentang sifat buruk pacarnya Bayu ..." Ucap Novi dengan hati-hati.
Saat dia tidak melihat penolakan dari mama Bayu, akhirnya Novi meneruskan kata-katanya.
"Novi mengatakan ini hanya karna khawatir saja, Novi sangat menyayangkan jika kasih sayang Bayu akan sia-sia kalau diberikan pada pacarnya itu, tante. Novi hanya mengharapkan yang terbaik saja untuk Bayu." Imbuh Novi dengan senyum manisnya.
"Memang sifat buruk seperti apa yang kamu maksud itu?" Tanya mama penasaran.
"Pertama kali Novi bertemu pacar Bayu, dia begitu sombong tante. Dia datang ke kampus dan membuat keributan. Bahkan, dia juga sangat tidak memiliki etika dengan bermanja-manja dengan Bayu didepan umum. Apalagi, dia juga meminta Bayu untuk menciumnya juga. Bukankah itu sifat yang sangat buruk tante?" Ucap Novi menjelaskan. Dia melihat ekspresi mama Bayu yang terlihat sedikit terkejut. Dia pun merasa sangat senang.
"Bayu menciumnya di depan umum? Dibagian mana?" Tanya mama dengan manatap Novi dalam.
"Di pipi tante. Tapi, Novi yakin kalau didepan umum aja Ifa berani minta cium, pasti kalau berdua saja mereka juga berciuman bahkan lebih dari pipi." Jawab Novi memanas-manasi.
"Kamu benar juga ... Tante baru tahu informasi ini ..."
"Assalamu'alaikum tante." Ucap Ifa yang baru saja datang dengan Bayu.
"Wa'alaikum salam, sayang." Jawab mama dengan senyuman.
"Ouh, kak ular juga disini? Ada perlu apa?" Tanya Ifa saat melihat Novi.
"Kau memaggilku apa?! ... Lihat kan tante, dia benar-benar gak memiliki etika. Bisa-bisanya dia memanggilku ular dihadapan tante." Ucap Novi mengadukan Ifa.
Ifa dan Bayu saling menatap bingung. Walaupun, Novi sudah mengadukan Ifa, Ifa sama sekali tak terlihat takut. Dia masih terlihat sangat santai dan tenang.
"Benarkah tante?" Tanya Novi tak percaya.
"Iya." Jawab mama singkat.
"Ta-Tapi, kenapa tante? Kalau tante sudah tahu itu, bukankah berarti akhirnya tante setuju tentang sebarapa buruknya Ifa?!" Seru Novi bingung.
"Tante sudah mendengar kisah lengkapnya dari Bayu dan Ifa, sebelum kamu menceritakan pada tante tadi. Gak ada alasan untuk gak mempercayai anak tante kan? Bayu juga sudah menunjukkan forum kampus hari itu ke tante ... Lagian itu bukan sesuatu yang buruk, jika ingin melawan pengganggu yang ingin merusak hubungan orang." Jawab mama dengan penuh penekanan, sembari meminum kopi pesanannya dengan santai. Ifa tersenyum mencibir pada Novi.
Sialan, wanita ini sudah membuatku kehilangan muka didepan mamanya Bayu!
Lihat saja, aku juga akan membuatmu dibenci oleh mamanya Bayu!!
"Kalau tentang ciuman itu bagaimana tante? Apakah tante akan membiarkannya begitu saja?" Tanya Novi dengan senyum liciknya.
"Oh iya benar. Kalau itu nanti tante akan mengurusnya, kamu gak perlu ikut campur. Makasih sudah memberitahu tante." Ucap mama dengan senyum diwajahnya.
"Tante akan melakukan apa pada mereka? Apakah tante akan menyuruh mereka berpisah?" Tanya Novi yang masih berharap.
"Kenapa harus seperti itu? Kalau Bayu sampai menciumnya dan bahkan lebih dari pipi seperti yang kamu katakan tadi, bukankah itu artinya Bayu justru harus bertanggung jawab pada Ifa? ... Justru itu akan menjadi alasan yang kuat untuk Bayu tak bisa meninggalkan Ifa. Karna, jika Bayu sampai meninggalkan Ifa, tante sendiri yang akan akan turun tangan!" Jawab mama yang terlihat santai, namun penuh penekanan sembari melirik pada Bayu dan Ifa. Melihat tatapan itu, Bayu dan Ifa pun seakan menciut.
Sedangkan, Novi merasa syok dan gak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Rencana yang ia buat untuk memisahkan Bayu dan Ifa, justru berbalik semakin menguatkan hubungan mereka berdua.
"Sudah ya, tante mau ke salon. Kamu jadi ikut atau tidak? Keburu antri jika semakin siang." Tanya mama ke Novi yang masih syok.
"Tapi, putri tante kan belum datang?" Tanya Novi heran.
__ADS_1
"Dia sudah datang dari tadi." Jawab mama santai.
"Ma-Maksud tante Ifa?" Tanya Novi tak percaya.
"Tentu saja. Kalau bukan Ifa siapa lagi? Dia pacar putraku satu-satunya, jadi dia sudah ku anggap sebagai putriku sendiri. Lagian, cepat atau lambat dia akan tetap menjadi putriku." Jawab mama sembari tersenyum lembut pada Ifa.
Semua sudah berakhir!!
Seru hati Novi yang menyadari kalau dia sudah kalah. Dia tak mungkin lagi mendapatkan hati mama Bayu sekarang.
"Novi gak jadi ikut deh tante. Lain kali saja." Ucap Novi yang merasa malu sekaligus kesal.
"Baiklah. Tante pergi dulu, sampai jumpa." Pamit mama Bayu sembari pergi meninggalkan kafe.
"Dadah kak ular. Selamat menikmati bisa neracun dari gigitanmu sendiri." Ucap Ifa penuh penekanan sebelum dia pergi mengikuti langkah mama dengan menggandeng lengan Bayu dengan manja. Novi hanya bisa terdiam mendengar ucapan Ifa itu. Semuanya sudah berakhir.
"Tante sangat keren. Aku sangat puas melihat ekspresi kak ular tadi. Hehe." Ucap Ifa sambil tertawa puas. Bayu juga tersenyum senang sembari mencubit pelan ujung hidung Ifa.
Tawa mereka berhenti saat melihat mama Bayu berdiri dengan tangan dilipat didada dan tatapan tajam pada mereka berdua.
"Kak, tante marah ya?" Bisik Ifa yang ketakutan melihat wajah mama Bayu.
"Ehm, mungkin. Kita dekati saja dulu." Jawab Bayu yang juga takut melihat sang mama. Perlahan Bayu dan Ifa mendekati mama Bayu dengan kepala tertunduk.
"Kalian berdua, apa yang mama katakan tadi bukan main-main. Sekarang kalian berdua gak ada alasan lagi untuk berpisah. Bayu kamu harus bertanggung jawab!" Seru mama dengan nada tegas.
"Tanpa hal ini pun Bayu juga gak akan meninggalkan Ifa, ma. Bayu kan cintanya cuman sama Ifa ... Maaf juga Bayu melakukan itu diam-diam tanpa sepengetahuan mama." Ucap Bayu dengan tatapan serius dan rasa bersalah.
"Ifa juga minta maaf tante, sudah mengecewaka tante." Jawab Ifa sambil menunduk merasa bersalah.
"Sudahlah. Toh, sudah terjadi. Mama juga pernah muda, jadi mama tahu rasanya. Tapi, jangan sampai lebih dari itu lagi. Jangan buat merusak kepercayaan mama. Mama percaya pada kalian." Ucap mama Bayu lembut.
"Baik ma." Bayu.
"Makasih tante." Ifa.
"Sudah yuk, sekarang kita ke salon! Duh, sudah banyak waktu yang terbuang sia-sia karna penganggummu itu Bay." Seru mama kesal.
"Haha. Salah siapa mama punya anak setampan Bayu." Ucap Bayu percaya diri.
Ifa dan mama hanya memutar bola mata dengan malas, mendengar ucapan Bayu.
"Bersiaplah cabiku sayang, sekarang kamu benar-benar gak bisa lari dariku. Cepat atau lambat aku akan menjadikanmu milikku sepenuhnya." Bisik Bayu saat mereka berjalan mengikuti mama menuju salon.
"Memang siapa yang mau melarikan diri dari ka Bayu? Aku akan menunggu hari itu." Jawab Ifa dengan senyum diwajahnya.
Sekarang, semakin tidak ada keraguan dihatinya. Ia yakin, Bayu adalah pria yang terakhir dan satu-satunya yang disiapkan Tuhan untuknya.
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1