Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Apakah, ini akhir hubunganku dengan kak Setya??


__ADS_3

Selama perjalanan Intan hanya diam dengan tatapan kosong. Ayah dan bunda yang melihat itu sebenarnya masih marah dan merasa sesak. Namun, hati nulari mereka sebagai orang tua masih bisa sedikit memahami bagaimana perasaan Irhas. Dia hanya remaja yang salah jalan, masih belum terlambat untuk merubahnya.


Sesampainya di rumah, ayah menuntun Intan untuk memasuki rumah. Di ruang tamu Dika sudah menunggu dengan cemas. Sebelumnya ia sudah dikabari oleh sang bunda.


"Kakak tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?" Tanya Dika sesaat setelah Intan memasuki rumah bersama orang tuanya.


Intan cukup terkejut dengan keberadaan Dika. Tanpa sadar dia reflek bersembunyi dibalik tubuh sang ayah dan mencengkram erat baju ayahnya. Dika, ayah dan bunda cukup terkejut melihat reaksi Intan. Perilaku Intan itu, menunjukkan seberapa terguncangnya dia. Bahkan, pada adiknya sendiri dia menjaga jarak.


"Kak Intan, ini aku Dika." Seru Dika berusaha menyadarkan Intan, bahwa dia bukanlah orang jahat.


"Sayang, coba lihat baik-baik. Dia Dika sayang, adiknya Intan. Apakah Intan tidak mengenalinya?" Tanya ayah lembut sambil menghadap Intan. Bunda kembali berkaca-kaca tak sanggup melihat kondisi Intan. Ia yakin, bahwa putrinya sangat terguncang.


Perlahan Intan menatap pemuda di depannya. Ia memperhatikan Dika dengan takut-takut. Namun, akhirnya dia berhasil mengenali sang adik.


"Maaf.." Ucap lirih Intan.


"Tidak apa-apa. Oh ya, Dika tadi beliin ice cream coklat untuk kakak. Aku ambilkan dulu ya." Seru Dika yang ingin membuat kakaknya kembali ceria. Dia lebih suka bertengkar dengan kakaknya daripada melihatnya seperti ini sekarang.


Namun, Intan dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Aku ingin istirahat ayah." Ucap Intan pelan. Akhirnya, ayah mengangguk menyetujui dan mengantarkan Intan ke kamar.


"Kakak pasti akan segera baik-baik saja bunda. Kak Intan itu gadis yang kuat!" Ucap Dika yakin, ia berusa menenangkan sang bunda yang menangis melihat kondisi Intan. Mendengar ucapan sang putra, bunda sedikit tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Di kamar Intan, sang ayah dengan sabar menemaninya sampai Intan tertidur. Karna, Intan menggenggam tangan sang ayah dengan kuat, seakan takut ketika ayah meninggalkannya, maka akan ada orang jahat yang datang dari kegelapan.


"Apakah Intan sudah tidur?" Tanya bunda yang ikut masuk ke kamar Intan.


"Sudah ... Sayang, kamu tahu betapa hatiku merasa hancur melihatnya begitu rapuh seperti ini. Apakah keputusanku untuk melepaskan bajingan itu adalah sebuah kesalahan?" Tanya ayah sambil mengusap memar ditangan Intan dengan lembut.


"Tidak sayang. Keputusanmu sudah tepat ... Memang benar, kalau boleh jujur sebenarnya aku juga masih merasa kesal dan marah. Hatiku juga hancur melihat putri kita seperti ini. Tapi, itu bukan sepenuhnya kesalahan anak itu. Dia hanyalah korban dari keeogoisan orang tuanya ... Aku harap dia bisa berubah dan tidak melakukan hak yang sama pada putri orang lain ... Sedangkan, untuk Intan kita harus menemaninya melawan trauma itu. Dukungan kita sangat dibutuhkannya saat ini." Ucap Bunda lembut, sembari mengusap punggung suaminya dengan lembut.


Ayah-bunda kembali menatap Intan yang terlelap. Ia meringkuk seperti kelinci yang ketakutan. Dika juga memperhatikan sang kakak dari pintu kamarnya. Melihat kondisi Intan, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat supaya bisa melindungi sang kakak.


...****************...

__ADS_1


Di rumah Setya.


"Assalamu'alaikum, Setya pulang." Ucap Setya sambil berjalan dengan lesu.


Ia melewati ruang keluarga dimana keluarganya tengah berkumpul.Hari sudah malam waktu itu. Sebelumnya, Setya memang tak langsung pulang. Dia menghabiskan waktunya untuk menyendiri di menara hutan bambu. Dia masih belum bisa memaafkan dirinya untuk kejadian yang sudah dialami Intan hari ini.


"Wa'alaikum salam. Kenapa pulang sangat larut, Setya?" Tanya mama khawatir. Pasalnya ia melihat wajah sang anak yang terlihat lesu.


"Mama, apakah aku masih pantas untuk Intan?" Tanya Setya dengan tatapan sayu.


"Ada apa tiba-tiba menanyakan itu?" Tanya mama bingung. Papa dan Tasya juga Setya dengan bingung.


"Hari ini aku sudah gagal untuk melindungi Intan, ma. Aku sudah membuat Intan mengalami kejadian yang mengerikan. Dia pasti merasa hancur saat ini. Aku sama sekali tidak berguna!" Seru Setya frustasi. Ia terduduk disofa sambil dengan kepala tertuduk.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya papa yang akhirnya angkat bicara.


Akhirnya, Setya menjelaskan kejadian mengerikan yang sudah dialami Intan tadi. Ia menjelaskan dengan mata berkaca-kaca dan nada suara yang terdengar lesu. Ia merasa frustasi. Dalam dirinya ada gejolak perasaan bersalah sekaligus amarah yang tak tertahankan.


"Astagfirullah ... Kasian sekali Intan. Dia pasti merasa terguncang saat ini. Tidak ... Bukan, hanya terguncang, dia pasti juga merasa hancur." Seru mama terkejut, ia juga merasa sedih.


Mama mengingat senyum manis Intan sebelumnya, namun setelah mendengar cerita Setya ia bisa membayangkan wajah Intan sedang menangis dan ketakutan.


"Papa juga merasa prihatin dengan kejadian yang baru saja dialami oleh Intan. Tapi, papa setuju dengan apa yang dikatakan adikmu. Kamu tidak salah, Setya. Kamu, sudah melakukan yang terbaik untuk melindungi Intan selama ini. Kejadian ini diluar prediksi kita semua." Ucap papa pengertian.


"Tapi, aku merasa telah gagal menepati janjiku untuk mejaga Intan pada om. Dia juga hanya diam saja tadi. Aku merasa, sekarang dia tidak akan mempercayaiku lagi ... Apakah aku masih pantas bersama Intan? Apakah hubunganku dengan Intan harus berakhir seperti ini?" Tanya Setya semakin frustasi.


"Diamnya ayah Intan bukan berarti dia marah padamu Setya. Papa bisa memahami perasaan ayah Intan, karna papa juga memiliki seorang putri. Dia hanya berusaha menahan emosinya, dia juga pasti sangat hancur melihat keadaan putri kesayangannya dengan keadaan seperti itu. Kalau kamu serius pada Intan, ketika kamu merasa bersalah pada orang tua Intan. Harusnya kamu bersikap gentle dan tidak melarikan diri seperti ini. Kamu itu laki-laki, Setya." Ucap papa bijak.


"Mama setuju dengan yang dikatakan papamu. Kamu tahu, kalau kamu memilih meninggalkan Intan saat ini, maka dia akan jauh lebih hancur. Mama yakin, Intan pasti merasa tak layak untuk bersamamu lebih dari yang kamu rasakan. Bayangkan, dia hampir disentuh laki-laki lain. Dia pasti merasa dirinya sudah tidak pantas untukmu. Kalau kamu meinggalknnya, dia akan merasa kalau kamu sudah membuangnya karna dia tidak layak. Dia akan lebih hancur. Apakah kamu, mau melihat Intan seperti itu?" Tanya mama dengan serius.


Setya terdiam dan mengolah perkataan sang mama. Ia hampir saja melakukan kebodohan dengan meninggalkan Intan. Dia sangat egois hanya memikirkan dirinya sendiri dan mau melarikan diri. Padahal yang dibutuhkan Intan saat ini adalah support dari dirinya dan dari orang-orang yang dia sayang.


"Mama dan papa benar. Aku yang terlalu egois dan gegabah. Hampir saja aku membuat Intan lebih merasa buruk. Terima kasih ma-pa. Sekarang, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku akan menemani Intan untuk melawan traumanya ini. Dan aku akan pastikn dia bisa tersenyum seperti semula." Tekad Setya dengan yakin.


...****************...

__ADS_1


Tengah malam di kamar Intan.


Intan nampak gelisah dalam tidurnya. Ia mengernyitkan alis seperti kesakitan. Bahkan, keringat sudah membasahi tubuhnya. Sepertinya dia tengah bermimpi buruk.


"Tidak!! Lepaskan aku!! Tolong!!" Teriak Intan dalam tidurnya.


Dika yang kamarnya memang bersebelahan dengan Intan, samar-samar mendengar teriakan dari kakaknya. Dengan cepat ia berlari menuju kamar kakaknya dan menyalakan lampu kamar. Dia melihat kakaknya tengah berteriak dalam tidurnya.


"Kak! Kak Intan! Kakak!" Panggil Dika berusaha membangunkan Intan.


"Ada apa dengan Intan?" Tanya ayah yang datang bersama bunda dengan tergesa-gesa. Mereka juga mendengar keributan dari lantai dua.


"Kakak sepertinya bermimpi buruk." Seru Dika yang masih berusaha membangunkan Intan.


"Intan sayang, bangun nak. Intan!!" Panggil ayah sembari mengguncang pelan tubuh Intan. Dia duduk ditepi tempat tidur Intan.


"Ayah!! Hiks.. Intan takut!!" Seru Intan yang berhasil dibangunkan. Ia segera memeluk ayahnya dengan kencang dan kembali terisak.


"Tidak ada orang yang aka menyakiti Intan disini ... Disini Intan aman, ayah janji gak bakalan ada yang jahat pada Intan lagi. Tenang ya sayang ... Tuan putri ayah kan kuat. Tuan putri ayah pasti bisa melawan ketakutannya." Ucap ayah dengan lembut sembari mengelus rambut panjang sang putri dengan sayang.


Bunda dan Dika hanya bisa menatap dengan sedih pada Intan. Intan, masih terlihat sangat terguncang.


Akhirnya, malam itu Intan tidur ditemani sang bunda. Dia tidur seperti anak kecil dalam pelukan sang bunda, mencari kehangatan dan rasa aman. Dalam otaknya, Intan masih bisa melihat dengan jelas kejadian yang baru saja ia alami tadi. Bagaimana, Irhas menatap dan menyentuhnya membuatnya merasa jijik dan kembali menangis.


Aku sangat menjijikkan..


Aku sudah tidak pantas lagi untuk bersama dengan kak Setya..


Apakah, ini akhir hubunganku dengan kak Setya??


Padahal aku ... Aku sangat mencintai kak Setya..


.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2