Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Apa aku sedang bermimpi?


__ADS_3

Jam istirahat..


"Aku akan pergi menemui Putri, apakah kamu mau ikut?" Tanya Intan pada Bunga. Bunga pun mengangguk mengiyakan.


Intan dan Bunga segera bangkit dari bangkunya dan akan menuju ke kelas Putri.


"Intan mau kemana? Gak nungguin kakak-kakak posesif itu datang?" Tanya Ifa yang heran karna Intan tak menunggu Setya.


"Aku mau ke kelas sebelah. Kamu bisa menunggu mereka datang dan menyusulku nanti." Jawab Intan, kemudian kembali meneruskan perjalanannya.


"Apa yang ingin Intan lakukan di kelas sebelah?" Gumam Ifa bingung.


Di kelas Putri sendiri, murid-murid lain juga sudah mulai berhamburan untuk ke kantin, termasuk teman-teman Putri. Tapi, tak ada dari mereka yang mengajak Putri untuk keluar. Toni meliriknya sekilas, sebelum pergi meninggalkan Putri seorang diri.


Intan dan Bunga sampai juga di depan kelas Putri. Mereka berpapasan dengan Toni.


"Ada apa kau kemari?" Tanya Toni bingung.


"Aku ingin menemui Putri, dia ada masalah dengan teman-temannya. Aku datang untuk menemaninya." Jawab Intan dengan senyum lembut.


"Haih, ternyata ini benar ... Lebih baik jangan kau yang menjemputnya. Dia akan jauh lebih dibully nanti." Ucap Toni mengingatkan.


"Kau tau dia dibully?" Tanya Intan terkejut.


"Teman-temannya terang-terangan menghinanya, walau seperti berbisik tapi itu terdengar jelas. Dia juga tak ada teman dan dikucilkan sendiri. Itu terlihat jelas kalau dia dibully." Jawab Toni sambil melihat Putri yang terus menundukkan kepalanya di dalam kelas.


"Apa yag harus ku lakukan? Dia pasti sangat sedih. Padahal, Putri yang ku kenal anaknya ceria." Seru Intan khawatir.


"Kak, biar aku saja yang mendekati Putri dan mengajaknya ke kantin. Aku juga akan sampaikan ke Putri kalau kakak mencemaskannya." Ucap Bunga mengusulkan.


"Oh, baiklah. Terima kasih ya, aku harap kamu dan Putri benar-benar bisa menjadi teman baik." Ucap Intan dengan senyum tulus. Bunga pun mengangguk mengerti. Setelah itu ia berjalan mendekati Putri dan duduk didepannya.


"Hai, gak ke kantin? Yuk ke kantin denganku." Seru Bunga dengan senyum ramah.


Mendengar ucapan Bunga, Putri segera mendongak dan menatap Bunga dengan tatapan bingung.


"Ak-Aku?" Tanya Putri memastikan.


"Ya. Siapa lagi kalau bukan kamu? Kan yang didepanku cuman kamu doang, Put." Jawab Bunga gemas.


"Ta-Tapi, aku kan..."


"Bunga, ngapain dekat-dekat dengan uler macam dia? Nanti kamu juga bakal di serang dari belakang loh. Gadis seperti ini gak pantes punya teman." Seru salah satu teman Putri yang tak menyukainya.


"Itu sudah masa lalu. Putri sudah tidak lagi melakukan hal itu. Lagian, aku juga gak punya pacar, jadi kenapa takut." Jawab Bunga santai, kemudian ia menarik tangan Putri untuk meninggalkan kelas.


"Kenapa, tiba-tiba Bunga membantu Putri ya?" Bisik-bisik teman-teman sekelas Putri.


Intan terus memperhatikan Putri yang berjalan bersama Bunga dengan pandangan cemas.


"Kamu disini? Kenapa tidak menungguku?" Tanya Setya yang baru datang bersama yang lain.


"Aku hanya ingin melihat keadaan Putri. Maaf.."


"Ada apa dengan Putri?" Tanya Setya bingung. Akhirnya, Intan menceritakannya pada Setya.


Setya juga merasa sedih mendengar itu. Bagaimanapun, Putri sudah dia anggap seperti adiknya sendiri. Tapi, hal ini juga hasil dari perbuatan Putri sendiri dan Setya tak bisa menghentikannya.


Setelah itu mereka segera menuju ke kantin untuk membeli makanan. Putri dan Bunga sudah sampai terlebih dulu. Mereka juga sudah duduk di salah satu bangku di kantin itu. Walau bangku itu panjang tak ada seorang pun yang mau bergabung dengan mereka. Murid-murid yang lain memang sengaja tak mau bergabung dengan mereka, karna ada Putri.

__ADS_1


"Kenapa membantuku? Kamu juga jadi dijauhi teman-teman.." Ucap Putri merasa tak enak hati.


"Aku yang seharusnya meminta maaf, karna selama ini aku diam saja melihatmu diganggu teman-teman ... Memang benar, kamu sudah melakukan kesalahan sebelumnya, tapi kamu juga berhak untuk mendapatkan maaf dan kesempatan kedua. Itu yang dikatakan kak Intan padaku." Ucap Bunga dengan senyuman.


"Kak Intan mengatakannya padamu?" Tanya Putri mengulangi kembali perkataan Bunga.


"Ya. Kak Intan sudah memaafkanmu dan dia juga sangat mengkhawatirkanmu saat tahu kalau kamu dijauhi oleh teman-teman." Jawab Bunga memberitahu.


"Kak Intan memang sangat baik. Aku yang salah, betapa buruknya aku waktu itu ... Aku ..."


"Sudahlah jangan mengungkit masa lalu, fokus saja pada masa depan. Kamu sudah meminta maaf dan menyesalinya. Aku juga sudah memaafkanmu. Sekarang yang perlu kamu lakukan hanya fokus pada masa depan saja." Ucap Intan lembut sembari duduk disebelah Putri diikuti yang lain, termasuk Toni.


"Ka-Kakak?" Ucap Putri terkejut karna mereka semua tak menjauhinya dan justru malah mau semeja makan dengannya.


"Sudahlah, makan saja jangan banyak omong lagi." Seru Toni yang kemudian fokus pada makanannya.


"Te-Terima kasih." Ucap Putri tulus dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.


"Sudah jangan menangis. Kamu terlihat jelek." Ucap Intan lembut sembari memberi Putri tissu.


Melihat bagaimana Intan dan Setya mendekati Putri, banyak murid yang semakin mencibir Putri tak suka. Putri tau akan hal itu, tapi dia memilih untuk mengabaikannya saja. Dia tahu, perbuatannya di masa lalu memang salah dan wajar jika ada banyak orang yang tidak menyukainya.


Tapi, sekarang dia baik-baik saja karna dia tahu sekarang ada orang-orang baik yang menyanyanginya disekelilingnya. Putri merasa sangat senang dan berterima kasih pada Intan, karna tanpa kebaikannya mungkin sampai sekarang ia akan tetap seorang diri.


Taman belakang.


"Kakak kenapa liatin aku terus sih?" Seru Intan menutup wajahnya dengan tangan karna malu. Bagaimana tidak dari tadi Setya menatapnya begitu dalam.


"Apa gak boleh? Aku hanya menatap pacarku sendiri." Jawab Setya santai dan masih terus menatap Intan.


"Tentu saja boleh. Tapi, kalau kakak menatapku terus seperti itu, ku rasa wajahku bisa berlubang." Ucap Intan malu.


"Benar juga. Baiklah, kalau begitu aku juga akan memandangi kakak juga." Seru Intan sambil sedikit mencondongkan wajahnya ke arah Setya untuk menatap Setya.


"Aku sangat beruntung mendapatkan kekasih seperti kamu. Ku harap, kita akan selalu bersama." Ucap Setya dengan tatapan hangat. Intan mengangguk mengiyakan.


"Aku juga sangat beruntung mendapat kekasih seperti kakak. Aku merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia ini karna cinta dari kakak. Ku harap, cinta itu gak memudar seiring berjalannya waktu." Ucap Intan penuh harap.


"Tentu saja. Bahkan, aku merasa cintaku semakin hari semakin besar untukmu." Jawab Setya dengan nada menggoda.


"Hahaha. Gombal.!!" Ledek Intan sambil tertawa geli.


"Aku tidak bercanda. Aku mencintaimu Intan ... Sangat mencintaimu .." Ucap Setya dengan sorot mata penuh keyakinan.


"Aku juga ... Sangaattt mencintai kakak." Jawab Intan dengan wajah bersemu merah.


Setya mendekatkan wajahnya pada Intan, Jantung Intan berdegup dengan kencang dan ia sudah menutup matanya ...


"Kalian mau apa di sekolah?" Seru Ifa yang baru datang bersama Bayu menganggetkan Setya dan Intan. Setya dan Intan segera menjauh satu sama lain.


"Ahahaha ... Ti-Tidak mau ngapa-ngapain kok. Hanya mengobrol saja." Jawab Intan salah tingkah.


"Hanya orang bodoh yang akan mempercayai perkataanmu, Intan. Kamu ini gak bisa bohong." Ejek Ifa santai sambil duduk di depan Intan.


Sedangkan Setya menatap tajam pada Bayu seakan bertanya 'untuk apa kalian datang kemari?'


"Jangan memelototi aku seperti itu, matamu akan keluar nanti." Ucap Bayu santai. Kedua sejoli itu memang sangat serasi, mereka sangat cocok, sama-sama nyebelin.


"Ngomong-ngomong ada apa kamu dan kak Bayu kesini?" Tanya Intan bingung.

__ADS_1


"Hey, ini tempat umum. Apa kami tidak boleh disini? Merasa terganggu dengan kedatangan kami?" Sindir Ifa sambil menatap Intan dan Setya bergantian.


"Tentu saja boleh, aku serius hanya bertanya. Kenapa kamu terus memojokkan ku?!" Dengus Intan kesal.


"Gak ada alasan khusus sih, hanya ingin saja. Tapi, karna sudah disini sekalian aja deh aku tanya kamu. Kamu beneran sudah yakin kalau Putri tidak akan berbuat ulah lagi?" Tanya Ifa memastikan.


"Tidak. Dia sungguh sudah berubah. Sebenarnya dia itu gadis yang baik, hanya saja dia sempat mengambil jalan yang salah. Kamu juga harus mulai bersikap baik padanya, jangan dingin terus, kamu tahu kan wajah dinginmu itu menyeramkan." Ucap Intan memberitahu.


"Kata siapa wajah dingin Ifa menyeramkan? Itu sangat berkharisma. Auranya lebih terpancar, jika dia seperti itu." Seru Bayu memotong percakapan Intan dan Ifa.


"Baiklah tuan bucin. Bagi kakak semua yang ada pada diri Ifa tentu akan membuat kakak semakin cinta dengannya." Ejek Intan sambil memutar bola matanya malas.


"Kamu benar. Apapun yang dia lakukan dia terlihat cantik. Aku semakin mencintainya." Jawab Bayu santai sambil menatap Ifa penuh cinta. Intan hanya melongo melihat itu.


Namun, Setya tiba-tiba menggenggam tangannya dengan lembut. Intan pun menatap Setya dan tersenyum padanya.


"Hm, baiklah kalau kamu sudah yakin. Aku juga merasa dia sudah benar berubah. Aku akan juga akan perlahan merubah sikapku padanya." Jawab Ifa kembali pada topik.


...****************...


Hari terakhir UTS


Semua murid merasa senang setelah ujian berakhir. Banyak dari mereka mulai merencanakan untuk refreshing, seperti teman-teman Putri.


"Akhirnya, hari terakhir UTS sudah selesai."


"Benar rasanya aku bisa bernafas lega."


"Kita harus merayakan hari ini, bagamana kalau kita ke karaoke?"


"Ide bagus. Kita ajak si ular bagaimana? Dia pasti mau membayari tagihannya. Hehe."


"Setuju!!"


Akhirnya mereka sepakat untuk memanfaatkan Putri. Mereka segera menuju bangku Putri untuk mengajaknya.


"Hai ular, maksudku Putri. Ikut kami yuk ke karaoke. Kita akan bersenang-senang disana untuk melepas lelah setelah UTS." Ajak Sherly salah satu teman Putri yang tak menyukainya.


"Ma-Maaf.. Aku tidak bisa. Aku harus ..."


"Kamu mau menolak ajakan kami?" Seru Sherly tajam. Putri sudah mulai gemetar ketakutan.


"Ak-Aku ..."


"Kalau dia tidak mau jangan dipaksa. Lagipula, dia akan pergi denganku." Seru Toni sambil menarik tangan Putri agar berdiri disampingnya.


Sedari tadi Toni sudah mendengarkan obrolan teman-teman Putri, termasuk niat buruknya. Dia ingin mengabaikan itu, tapi tidak bisa. Apalagi, melihat Putri yang terlihat ketakutan.


"Ka-Kak Toni?!" Gumam Putri yang menatap Toni disampingnya dengan heran.


Kak Toni membantuku? Apa aku sedang bermimpi?


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2