
Flashback
"Wah, Intan malam ini terlihat sangat cantik ya?"
"Benar. Lihatlah lipstik merah dibibirnya itu. Sangat menggoda."
Samar-samar Setya mendengar bisik-bisik teman sekelas Intan. Ia merasa sangat kesal dan cemburu mendengar perkataan-perkataan itu. Setya gak mau Intan ditatap seperti itu oleh pria lain.
Kebetulan disaat yang sama Intan mengakui bahwa dia hanya berpura-pura marah padanya selama satu minggu ini. Akhirnya, muncul ide dikepalanya untuk menghukum Intan. Tapi, semua itu hanyalah kebohongan supaya dia bisa menjauhkan Intan dari pria lain yang menatapnya.
Flashback Off
"Ka-Kak Setya ... Mmmm"
Ucapan Intan terpotong, karna dengan gerakan cepat Setya menutup bibir Intan dengan bibirnya. Intan cukup terkejut dengan ciuman itu. Apalagi kini Intan merasakan Setya mulai mengelum pelan bibirnya.
Walaupun, ia merasakan Setya sangat lembut saat melakukannya, tapi ini pertama kalinya Setya menciumnya seperti itu. Intan pun mencengkram jas Setya dengan kencang dan memejamkan matanya rapat.
"Kak Setya!" Panggil Tasya dari luar kamar.
Intan terperanjat mendengar panggilan Tasya itu. Dia menjauhkan kepalanya dari Setya hingga ciuman mereka terlepas sejenak. Namun, Setya kembali menarik tengkuk Intan hingga bibir mereka kembali menyatu. Tangan Setya dengan cepat mengunci pintu kamar agar Tasya tidak masuk.
"Kak Setya! Kak Intan! Kalian ngapain sih?! Acara dansanya mau dimulai.!!" Seru Tasya sembari menggedor-gedor dan berusaha membuka pintu kamar Setya.
Sedangkan, Setya masih tak bergeming dan terus mencium Intan. Intan berusaha melepaskan diri dari Setya, karna Tasya terus memanggil mereka. Namun, dia kalah tenaga dari Setya. Akhirnya, dengan terpaksa Intan menggigit pelan bibir Setya dan barulah ciuman mereka terlepas.
"Iya, kami akan segera keluar, kamu turun duluan saja." Seru Intan dengan nafas naik turun, karna ciuman Setya. Sedangkan Setya sendiri masih memeluk Intan dan menyandarkan kepalanya di bahu Intan, walaupun Intan sudah berusaha melepaskan pelukan Setya itu.
"Kalian sedang apa sih?" Tanya Tasya penasaran.
"Ka-Kami.. Kami sedang mencari kunci kamar. Tadi kakakmu marah dan melempar kunci sembarangan. Kita sedang mencarinya." Bohong Intan.
"Apa perlu Tasya carikan kunci cadangan?" Tanya Tasya menawarkan.
"Tidak perlu. Kita sudah menemukannya. Ini diatas lemari, kita tinggal mengambilnya. Kamu turun duluan saja." Seru Intan.
"Baiklah kalau begitu. Jangan lama-lama." Ucap Tasya mengingatkan sebelum berlalu pergi.
Mendengar langkah Tasya yang semakin menjauh, Intan bisa bernafas lega. Intan segera mendorong tubuh Setya untuk melepaskan pelukannya dan agar ia bisa menatapnya.
"Kak Setya, apa yang kakak Lakukan sih?" Tanya Intan dengan tatapan tajam.
"Maaf.. Maafkan aku.. Aku kehilangan kendali. Aku sangat merindukanmu ... Dan juga, aku tidak suka pria lain menatapmu dengan tatapan seperti ingin menerkammu." Ucap Setya pelan sambil menunduk, ia merasa bersalah dengan tindakannya.
"Maksud kakak apa?" Tanya Intan bingung.
"Tadi, aku mendengar teman-temanmu sedang menganggumi kecantikanmu, apalagi dengan lipstik merah yang kamu gunakan ... Siapa yang suruh kamu berdandan sangat cantik seperti ini, sih? Dan ini kenapa lipstik warna merah? Aku gak suka ada pria lain yang menatapmu berlebihan. Jangan pernah menggunakan lipstik merah lagi mulai sekarang." Ucap Setya, sembari mengusap bibir Intan pelan untuk menghapus sisa lipstik yang masih tertinggal dibibir Intan, setelah cukup terhapus karna ciumannya tadi.
"Aku tidak tahu akan jadi begini, kan aku ingin terlihat cantik untuk kakak. Lagian, kalau mau nyuruh aku hapus lisptiknya kan tinggal bilang, aku bisa menghapusnya sendiri." Jawab Intan lembut. Awalnya dia marah dengan sikap Setya yang agresif seperti tadi, tapi dia juga tahu ternyata dia juga salah karna sudah berdandan berlebihan sampai membuat pria tergoda. Ia pun merasa ngeri sendiri membayangkannya.
"Tenang, lipstiknya sudah terhapus ... Dan juga lain kali kamu hanya boleh terlihat cantik didepanku saja. Kalau didepan pria lain, tampil biasa saja ... Maafkan aku juga sudah bertindak agresif tadi. Aku sungguh menyesal, kamu pasti ketakutan." Ucap Setya merasa bersalah. Intan melihat Setya yang menunduk sedih dan terlihat benar-benar merasa bersalah pun membuat Intan tersenyum kecil.
"Lain kali aku akan lebih hati-hati lagi. Aku memaafkan kakak, karna ini bukan sepenuhnya salah kakak. Jadi, kak Setya harus tersenyum lagi ya. Hari ini ulang tahun kakak." Ucap Intan lembut sambil memeluk Setya untuk meyakinkan Setya agar berhenti merasa bersalah. Ia tahu kalau Setya tidak akan bertindak seperti itu jika tidak ada penyebabnya.
"Yuk, kita turun sekarang. Semua orang pasti sudah menunggu kita." Ajak Intan dengan lembut.
__ADS_1
"Aku akan turun duluan. Kamu, ehm.. Turun 5 menit setelah aku. Ku rasa, kamu harus menunggu beberapa saat dulu." Ucap Setya sedikit salah tingkah. Intan menatap itu dengan heran.
"Kenapa?" Tanya Intan bingung.
"Ehm, ku rasa kamu bisa memperbaiki riasanmu sedikit dulu." Jawab Setya semakin salah tingkah. Akhirnya Intan pun menyetujui, walaupun agak bingung.
Cup ..
Sebelum Setya turun, Intan mencium pipi Setya sekilas.
"Itu untuk hadiah spesial di ulang tahun kakak." Ucap Intan sambil berlalu menuju kamar mandi.
Setya pun tersenyum senang, dia terus memegangi pipinya yang dicium Intan tadi sepanjang jalan menuju taman belakang.
Di dalam kamar mandi, Intan melihat pantulan dirinya di kaca kamar mandi. Ia melihat lipstik merahnya sudah hilang dan bibirnya kini terlihat pink pucat. Untung saja Intan membawa lip ice nya, sehingga dia bisa mengoleskannya agar bibirnya nampak pink cerah.
Namun, Intan cukup terkejut saat melihat lebih seksama lagi bibirnya. Daerah sekitar bibirnya kini sedikit kemerahan. Otomatis dia teringat ciuman agresif dari Setya sebelumnya. Seketika wajah Intan bersemu merah karna malu membayangkan kejadian itu.
"Jadi, untuk ini kak Setya menyuruhku menunggu 5 menit lagi. Lain kali aku harus lebih hati-hati." Gumam Intan pada dirinya sendiri.
Sedangkan Setya kini berjalan menuju taman belakang dengan senyum mengembang lebar di bibirnya. Aura ketampanannya semakin terlihat jelas sekarang.
"Mana kak Intan?" Tanya Tasya yang tak melihat Intan.
"Dia sebentar lagi akan turun. Dia ke kemar mandi dulu." Jawab Setya dengan senyuman yang masih terus tersungging di wajahnya.
"Kau habis ngapain aja sih, lama banget?!" Seru Bayu menatap curiga pada Setya.
"Aku hanya sedang memberinya hukuman." Jawab Setya, terlihat salah tingkah. Bayu semakin menatap Setya curiga. Kebetulan dia tak sengaja melihat bekas gigitan Intan dibibir bawah Setya.
Bayu pun mengerti apa hukuman yang dimaksud Setya. Dia hanya bisa menggelengkan kepala, melihat kelakuan sahabatnya itu.
"Dimana Intan?" Tanya ayah yang berjalan mendekat ke arah kerumunanan remaja itu.
Setya terlihat gugup didepan ayah Intan. Dia tak membayangkan apa yang akan dilakukan ayah Intan saat dia mengetahui bahwa dirinya sudah mencium putri kesayangannya.
"Intan disini ayah." Seru Intan yang berjalan mendekat ke ayahnya.
"Dari mana kamu sayang?" Tanya ayah lembut.
"Dari kamar mandi ayah. Ada apa?" Tanya Intan bingung.
"Ayah ingin berdansa dengan kamu, sayang. Dansa pertama tuan putri harus bersama ayah. Ayah gak akan memberikan pada pria manapun!" Seru ayah dengan menatap Setya tajam.
"Sayang biarkan mereka menikmati pestanya dong. Kamu jangan ganggu mereka. Biarkan Intan berdansa dengan Setya." Ucap bunda mengingatkan.
"Tapi ..."
"Aku juga ingin berdansa denganmu." Ucap bunda lembut memotong kalimat ayah. Akhirnya, ayah pun luluh. Bunda menatap Intan seperti mengatakan 'selamat bersenang-senang'.
"Mari tuan putri?" Ucap Setya sambil mengulurkan tangannya pada Intan. Intan tentu saja menerimanya dengan senang hati.
"Ayo cantik?" Ajak Bayu pada Ifa untuk menyusul Setya dan Intan.
Akhirnya, kedua pasangan itu berdiri di tengah taman. Musik diputar dan mereka memulai dansanya. Semua tamu memandang cemburu pada kedua pasangan itu. Lalu, perlahan untuk yang memiliki pasangan ikut menyusul pasangan Setya dan Bayu.
__ADS_1
"Ayo!" Ajak ayah pada bunda.
"Apa?" Tanya bunda bingung.
"Katanya mau berdansa denganku?" Jawab ayah menggoda.
Bunda tidak tahu kalau suaminya menganggap perkataannya serius. Ia malu harus ikut berdansa diantara anak muda itu. Namun, sesaat kemudian orang tua Setya ikut berdansa diantara anak muda itu. Akhirnya, bunda pun menerima uluran tangan ayah.
Tasya menatap Bayu dan Ifa yang terlihat bahagia bisa berdansa bersama. Semua juga terlihat bahagia, kecuali beberapa orang disudut yang tidak bisa berdansa karna tidak ada pasangan. Termasuk author🙄😌
"Itu bukannya adik Setya ya?"
"Benar. Dia cukup cantik. Bagaimana kalau kita ajak dia berdansa?"
Bisik-bisik beberapa pria sambil menatap Tasya. Tasya sama sekali tidak menyadari itu. Sedangkan Dika mendengar bisik-bisik itu. Entah kenapa ia merasa kesal dan tanpa pikir panjang dia menarik tangan Tasya mendekati orang-orang yang berdansa. Dika langsung menarik pinggang Tasya agar merapat pada dirinya, lalu ia meletakkan tangan Tasya di kedua bahunya.
"Ada apa? Kau gila ya?!" Seru Tasya yang terkejut dengan tindakan Dika.
"Aku hanya tidak ingin terlihat menyedihkan disudut tanpa pasangan. Bekerja sama lah. Kau juga mendapatkan keuntungan." Ucap Dika santai.
Tasya melihat sekeliling, memang ada beberapa orang yang hanya bisa melihat dari sudut. Bahkan dia tadi juga menatap Bayu dan Ifa. Jika, dipikir-pikir memang dia tadi terlihat menyedihkan. Akhirnya, Tasya tak lagi protes dan mulai berdansa dengan Dika.
"Aku tidak akan berterima kasih. Karna kau juga memanfaatkanku!" Seru Tasya sambil memalingkan wajahnya dari Dika. Dika tak menjawab dan hanya menatap Tasya yang begitu dekat dengannya sekarang.
Ternyata, gadis bodoh ini terlihat cantik dari dekat ... Dika
Beralih lagi ke pasangan Setya dan Intan, mereka sangat menikmati waktu kebersamaan mereka saat itu. Namun, Intan masih sedikit gugup saat melihat bibir Setya di depannya saat ini. Ia terus teringat ciuman sebelumnya. Wajahnya pun terus merasa memanas setiap kali ia teringat ciuman itu.
"Ada apa?" Tanya Setya menatap Intan yang terlihat gugup dengan kedua pipi kemerahan.
"Ti-Tidak ada apa-apa." Jawab Intan terbata.
Setya mendekatkan wajahnya pada Intan sampai membuat Intan memejamkan matanya.
"Apa kamu terus memikirkan ciumanku tadi? Apa masih terasa sampai sekarang?" Bisik Setya dengan nada menggoda di telinga Intan
Intan membuka matanya dengan kesal karna Setya ternyata menggodanya. Dia memukul pelan dada bidang Setya, sampai membuat Setya tertawa bahagia. Hal itu membuat keluarga mereka juga ikut tersenyum bahagia dibuatnya. Sedangkan gadis-gadis lain tentu saja semakin terbakar cemburu.
"Apakah kak Setya sudah tidak marah lagi pada Intan?" Gumam Ifa menatap Setya dan Intan yang terlihat sangat bahagia.
"Tentu saja tidak. Dia sudah menghukum Intan dengan keras." Jawab Bayu sedikit kikuk.
"Hukuman apa itu?" Tanya Ifa penasaran, dia menatap Bayu meminta jawaban.
"Nanti aku akan menunjukkannya padamu." Jawab Bayu dengan senyum jahil. Ifa gak paham apa yang dimaksud Bayu, tapi melihat senyum Bayu, ia bisa menebak kalau Bayu merencanakan sesuatu.
Dan akhirnya malam itu terlewati dengan penuh kebahagiaan ...
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1