Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Kamu datang saja tante sudah senang kok sayang..


__ADS_3

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sudah satu minggu setelah kabar menghebohkan hubungan dari Intan-Setya dan Ifa-Bayu. Kehebohan itu kini menjadi sindiran dan gunjingan untuk Intan. Kenapa hanya untuk Intan? Karna, Ifa tak lari seperti Intan. Dia berani menunjukkan perlawanan jika ada yang berkata buruk tentangnya.


Ifa tak segan-segan akan menatap dengan tajam orang-orang itu. Termasuk pada siswi kegajenan yang sebelumnya menyukai Bayu. Bayu sendiri juga tak meninggalkan kegiatannya seperti sebelum terbongkar bahwa dia berpacaran dengan Ifa. Dia masih ikut tim basket saat istirahat berlangsung.


Tentu ini sangat berbeda dengan Setya dan Intan. Intan yang masih takut untuk menghadapi tatapan dan sindiran gadis-gadis itu pun memilih lari dan bersembunyi. Dan Setya tentu menemaninya. Sehingga, mereka selalu bersama disaat jam istirahat. Hal itu semakin membuat penganggum Setya sebelumnya tak suka pada Intan. Mereka juga mengecap Intan sebagai penghasut Setya untuk tidak menggunakan bakatnya lagi.


Setya sendiri, masih belum mau memaksa Intan untuk melawan. Karna sekuat apapun ia mendorong, sepanjang apapun tangannya terulur, jika dari diri Intan sendiri tak mau meninggalkan ketakutannya, maka semua itu akan sia-sia. Tapi, tentu saja Setya tak diam. Dia terus menemani Intan dan perlahan menyelipkan motivasi untuk Intan agar perlahan Intan bisa keluar dari kegelapan dalam hatinya.


...****************...


"Assalamu'alaikum, tante." Ucap Setya yang datang menjemput Intan.



Akhir, pekan itu Setya mengajak Intan untuk mengujungi rumahnya. Karna, sang mama sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Intan. Selama seminggu ini Setya selalu direcoki sang mama yang terus bertanya kapan membawa Intan ke rumah.


"Wa'alaikum salam. Masuk dulu Setya. Intan sepertinya masih bersiap-siap. Dia terlihat sangat gugup." Ucap bunda lembut.


Bunda mengingat kehebohan Intan saat tau kalau Setya mengajaknya untuk berkunjung ke rumah. Dia sangat gugup juga takut membayangkan bagaimana respon keluarga Setya terhadap dirinya juga hubungannya dengan Setya.


"Bagaimana karakter orang tua mu? Apakah dia akan menyiksa atau memarahi putriku?" Tanya ayah yang khawatir.


"Tenang saja om. Orang tua saya sama seperti om dan tante. Saya mengajak Intan kesana, karna mama saya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Intan. Saya sudah menceritakan banyak hal tentang Intan pada mama saya, maka dari itu mama saya ingin segera bertemu dengan Intan." Ucap Setya meyakinkan.


"Baiklah kalau begitu." Ucap ayah sedikit lega.


Tak lama kemudian, Intan datang dan ikut bergabung dengan ayah-bunda juga Setya yang sudah menunggu di ruang tamu.


"Apakah penampilanku sudah bagus? Apakah aku terlihat sopan? Atau aku perlu ganti pakaian lagi? Bagusnya rambut ku , aku apain ya? Apakah begini bagus atau perlu aku kuncir?" Tanya Intan beruntun. Jelas sekali ia sangat gugup.



"Cantik.." Ucap ayah dan Setya bersamaan. Bunda tersenyum geli melihat kekompakan suaminya dan Setya.


"Tuan putri ayah sudah sangat cantik. Apapun pakaian dan gaya rambut yang digunakan tuan putri ayah, selalu cantik kok." Ucap ayah lembut.


"Dimataku kamu memang sudah yang paling cantik." Ucap Setya menambahi.

__ADS_1


"Aku tanya bunda saja deh. Ayah dan kak Setya selalu memujiku. Aku ingin penilaian yang jujur." Seru Intan pada bunda.


"Ayah hanya mengatakan yang sejujurnya, sayang." Seru ayah yakin.


"Aku juga." Tambah Setya. Ayah melotot pada Setya karna merasa Setya selalu mengikutinya. Dan Setya hanya membalasnya dengan senyuman.


"Bunda, gimana penampilan Intan?" Tanya Intan pada sang bunda. Ia mengabaikan perkataan ayah dan Setya.


"Pendapat bunda sama seperti ayah dan Setya, sayang. Putri bunda memang cantik. Bunda hanya menambahi, kecantikan Intan juga berasal dari sifat Intan. Jadi, bunda yakin kalau keluarga Setya pasti akan menerima kamu, sayang." Ucap bunda lembut yang diangguki oleh ayah dan Setya.


"Baiklah, kalau begitu." Ucap Intan sedikit lega.


"Kalau begitu, kita berangkat sekarang?" Tawar Setya pada Intan. Dan Intan mengangguk setuju.


"Ayah-bunda, kami berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum." Pamit Intan.


"Menyetir yang benar dan hati-hati. Jaga putriku dengan baik. Dan jangan pulang terlalu malam." Pesan ayah tegas.


"Baik om. Saya mengerti." Jawab Setya dengan senyuman.


Tak lama kemudian, sampailah Setya dan Intan di rumah Setya. Saat memasuki pekarangan rumah Setya, jantung Intan semakin berdebar. Ia sangat gugup. Bahkan, dapat ia rasakan tangannya terasa sangat dingin.


"Kak Setya, aku sangat gugup. Apa yang harus aku lakukan?" Keluh Intan menatap Setya, sebelum mereka memasuki rumah.


"Jangan khawatir. Orang tuaku pasti menerimamu. Kamu cukup menjadi diri kamu sendiri." Ucap Setya sembari mengelus pipi Intan dengan lembut.


"Akhirnya kalian sampai juga. Kenapa tidak masuk?" Seru mama Setya yang keluar dari rumah.


Sebelumnya mama sudah mendengar suara sepeda motor Setya, namun Setya tak juga masuk rumah. Akhirnya, mama tak sabar dan keluar sendiri untuk menjemput Setya dan Intan.


Intan cukup terkejut melihat kemunculan mama Setya yang terlihat heboh dan ramah. Intan sedikit tersenyum dibuatnya.


"Wah, Intan sayang. Kamu terlihat lebih cantik daripada foto yang ditunjukkan Setya pada tante." Seru mama antusias melihat Intan yang cantik.


"Assalamu'alaikum, tante. Tante terlalu memuji. Hehe ... Oh, iya tante. Ini titipan dari bunda." Ucap Intan sembari memberikan bingkisan pada mama Setya.


"Haduh, kenapa repot-repot begini. Kamu datang saja tante sudah senang kok sayang. Yuk-yuk masuk ke rumah. Tante baru saja memasak kue bolu coklat. Kata Setya kamu suka coklat kan?" Ucap mama antusias, sembari merangkul bahu Intan dan mengajaknya masuk.

__ADS_1


Setya mengikuti kedua wanita kesayangan didepannya itu dengan senyuman.


Intan langsung diajak mama Setya menuju meja makan. Ia segera menyiapkan bolu coklat yang masih terlihat panas dan menggiurkan dimata Intan. Setya, tersenyum melihat mata Intan berbinar menatap bolu coklat itu.


"Ayo dicicipi bolu buatan tante dan ini ada ice cream coklat juga. Tante gatau rasanya seenak buatan bundanya Intan atau enggak, tapi dicoba dulu ya." Ucap mama Setya antusias menyodorkan sepiring bolu dan sekotak besar ice cream.


"Terima kasih, tante." Ucap Intan tulus. Kemudian, perlahan Intan mulai memakan bolu buatan mama Setya.


"Bagaimana?" Tanya mama dengan mata berbinar.


"Enak tante. Gak kalah sama masakan bunda kok." Jawab Intan jujur.


"Syukurlah, kalau gitu makan yang banyak. Tante nanti bisa buat lagi." Seru mama senang.


"Baik. Pasti Intan habiskan, terima kasih tante ... Kak Setya juga makan dong." Ucap Intan pada Setya. Setya segera mendekatkan wajahnya pada Intan sembari membuka mulutnya. Pertanda kalau mau disuapi.


"Kak Setya!!" Seru Intan malu, pasalnya ada mama Setya disana yang tengah menatap mereka dengan mata berbinar.


Modus banget putraku. Siapa yang mengajarkan dia seperti itu coba?! ... Mama


"Tante gak apa-apa. Anggap saja tante patung disini." Ucap mama sembari menutup wajahnya dengan tangan, namun dia tetap mengintip diantara sela jarinya.


"Aaaa..." Seru Setya yang masih membuka mulutnya menunggu Intan menyuapi. Perlahan Intan mulai menyuapi Setya dengan malu-malu.


"Manisnya." Ucap Setya sembari menatap Intan. Seketika, wajah Intan terasa memanas. Walaupun, dia tak tahu untuk siapa kata manis itu, untuknya atau untuk bolu.


"Kakak!! Hari ini ayo jalan-jalan.." Rengek seorang gadis cantik yang tiba-tiba datang dan memeluk Setya dengan manja. Mata Intan membulat melihat itu.


Siapa dia? ... Intan


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2